Pilpres dan Fanatisme (Film Sexy Killers)

Pilpres tinggal beberapa hari lagi. Generasi saya (X, Y dan generasi lebih tua) sibuk sekali berantem membela jagoannya masing masing. Sementara saya ditunjukan satu video / film dokumenter yang dibuat oleh WatchDog, berjudul Sexy Killers. Saya peroleh video ini dari anak saya yang dia juga peroleh dari lingkungan pertemanannya di generasi milenial. Saya malu sekali dengan generasi anak saya, generasi saya sangat naif melihat masing masing paslon sebagai “orang suci” yang tidak tahunya mereka termasuk aktor aktor utama dalam bisnis penambangan batubara untuk keperluan PLTU. Batubara yang murah sudah banyak merusak lingkungan ekosistem di Indonesia. Inikah yang kita wariskan ke anak kita ? 

Simak film lengkapnya disini (1,5 jam)

Education 4.0

Banyak artikel dan riset yang menunjukkan teknologi menganggu / merubah secara revolusioner suatu proses, termasuk proses bisnis dan proses hubungan sosial. Industry 4.0 atau revolusi industri 4.0 menunjukkan bagaimana teknologi merubah secara drastis praktek bisnis dari industri. Di bidang lain juga kita kenal ada Health 4.0, dan juga Education 4.0 yang jadi bahasan di entry blog ini. 

Saya diundang menjadi narasumber pada acara seminar Education 4.0 yang dihadiri oleh kepala sekolah SD, SMP, SMA / SMK. Para kepala sekolah ini merupakan garis depan pendidikan dasar dan menengah generasi masa depan bangsa. Sebagai dosen, saya sering menghadapi mahasiswa yang tidak berkarakter, dalam konteks tidak tahu tujuan / maunya apa, tidak tahu passionnya, tidak terlibat dalam diskusi di kelas, tidak kritis, bahkan beberapa tidak jujur (fair). Nah, kalau kita runut ulang, perilaku perilaku tersebut muncul karena karakter tersebut kurang dipentingkan di pendidikan sekolah dasar dan menengah.

Education 4.0 adalah konsep yang menunjukkan bahwa dengan kemajuan teknologi, siswa sebagai pusat pembelajaran mempunyai kemampuan untuk mengakses materi pembelajaran, dan menerapkannya ke industri dalam bentuk magang, atau melakukan riset berkolaborasi dengan peneliti lain. Untuk itu diperlukan karakter yang kuat agar siswa mampu memanfaatkan teknologi yang ada.

Pada kepala sekolah tersebut, saya tekankan perlunya pendidikan holistik, yaitu pendidikan yang menitik beratkan kepada nilai siswa sebagai manusia. Siswa paham peran diri dalam ekosistemnya, memahami efek positif dan negatif dari setiap tindakan terhadap lingkungan, baik hubungan antar manusia maupun hubungan dengan lingkungan (menjaga kebersihan lingkungan, tidak membuang sampah  sembarangan, dll).

Walaupun bukan seorang ahli pendidikan, saya bercerita berdasarkan pengalaman mendidik anak yang pernah bersekolah dasar di sekolah holistik kemudian sekarang masuk ke SMA negeri dan pengalaman mengajar mahasiswa. Pengalaman praktis ini banyak bermanfaat untuk para kepala sekolah. Saya ceritakan anak saya sekarang di SMA Negeri mempunyai karakter yang lebih kuat dibanding teman temannya, karena mereka selama ini berkutat ke pendidikan akademis saja, sehingga nilainya bagus dan bisa masuk ke SMA Negeri favorit. Pendidikan karakter banyak diabaikan. Menurut saya ini adalah masalah terbesar bangsa kita. Hal ini sudah terpotret dari karakter mahasiswa dan juga nantinya karakter lulusan (generasi muda pada umumnya)

Saya juga bercerita pentingnya siswa mempunyai karakter yang kuat (kritis, jujur, logis, dan obyektif), karena di masa depan mereka akan bersaing dengan otomatisasi (tenaga robot), sehingga jika memiliki keunikan maka mereka akan dengan mudah akan tergantikan oleh robot (otomatisasi)

 

57097016 10156870491085202 1739220528041820160 o

berikut ini adalah materi presentasi saya

Mobil Cina Bernama Wuling Almaz

Berkomuter di kota besar seperti Bandung bukan merupakan hal yang nyaman dan efisien, apalagi jika kita tinggalnya di area Bandung coret. Kami sekeluarga berempat setiap hari mempunyai aktivitas di kota Bandung, sementara lokasi tinggal kami adalah sekitar 25-30 km di luar kota bandung, dimana jarak ini harus melewati jalan tol. Bisa dibayangkan bahwa kendaraan pribadi saat ini merupakan opsi terbaik dari semua pilihan yang ada, seperti naik bis, naik angkot, naik gojek, maupun naik grab. Apalagi lokasi sekolah anak anak, kantor saya, dan kantor istri berbeda semuanya. Kadang saya iri dengan rekan yang bisa bike to work ke kantor, jangankan naik sepeda, saya naik motor ke kantor (tidak melalui tol) itu membutuhkan waktu hampir 2 jam, jadi tidak efektif untuk mendukung pekerjaan. Kesimpulannya kebutuhan mobil bagi keluarga kami adalah keharusan.

Entry blog ini merupakan lanjutan dari entry blog otomotif saya di tahun 2014 tentang review Suzuki Splash 2014, dan tahun 2016 tentang review Kia Sportage 2013. Tahun ini Splash sudah berusia 5 tahun, dengan odometer mencapai 95rb km, sedangkan sedangkan Sportage sudah berumur 6 tahun, dengan odometer 82rb km. Kami merasa perlu melakukan penyegaran, karena dengan jarak tempuh yang tinggi, kaki kaki dan goncangan mobil berasa tidak senyaman dahulu. Yang utama perlu diremajakan adalah Splash, sedangkan Sportage masih cukup enak untuk mobil seusianya, mungkin 2-3 tahun lagi kami akan remajakan juga. 

Waktu itu pilihan pertama pengganti splash adalah Nissan Livina. Kami pilih Livina, karena terkenal empuk dan nyaman, walaupun tenaga pas pasan. Tapi kami tidak mau membeli mobil baru, karena rasanya sayang beli mobil baru, padahal Livina bekas lumayan banyak dengan harga yang relatif terjangkau. Saat hunting kami tidak tahu kalo Livina bakal keluar versi baru. Mencari Livina bekas yang bagus ternyata tidak mudah. Saya beberapa kali test drive, sering kali yang saya temukan bahwa pemilik Livina tidak merawat mobilnya di bengkel resmi dengan alasan beres mahal dan banyaknya bengkel alternatif di sekitar Bandung. Dari sini saya mulai ragu … tapi masih terus hunting Livina.

Suatu saat beberapa bulan kemudian (tepatnya akhir Januari 2019), masuk pesan WA dari sales Wuling (merk mobil cina), yang mengabarkan bakal ada SUV baru dari Wuling. Saya kenal sales ini karena saya pernah lihat pameran mobil MPV Wuling Cortez di suatu mall. Berbekal kepuasan saya akan mobil SUV semacam Sportage, maka saya bilang sales tersebut untuk mengabari jika sudah ada unit test drive Wuling SUV itu, yang ternyata bernama Almaz.

Saat tulisan ini dibuat pilihan SUV setara Sportage, dalam konteks value for money tidak ada yang cocok. Produk produk Honda (CRV dan HRV) saya coret, karena selain harganya mahal, dan berbekal pernah punya jazz dan freed, menurut saya Honda itu mahal dalam segala hal (servis, spare parts dll), dengan kata lain overprice. Produk Toyota (Fortuner dan Rush), sama sekali tidak meningkatkan gairah saya untuk beli mobil tersebut. Produk Chevrolet (Captiva dan Trax), saya agak suka, tapi ga rela untuk beli. Produk Mazda (CX5) saya suka banget, tapi harganya terlalu mahal, bahkan harga bekasnyapun masih luar biasa mahalnya.

Akhirnya hari yang ditunggu untuk testdrive Almaz pun datang. Saya sengaja ajak anak anak. Saya perhatikan ekspresi mereka. Tidak ada excitement saat test Livina atau beberapa mobil lainnya, tapi saat test Almaz langsung beda banget ekspresinya. Ya jelas beda karena Almaz pake head unit macam tablet ipad, terus ditambah panoramic roof, terus ditambah sound system infinity yang luar biasa jernih. Diluar itu space akomodasi Almaz  yang membuat saya langsung suka karena sangat lega, dan killer factornya adalah mesin Turbonya. Saya suka dengan tarikan mesin Turbo Almaz. Ini seperti kembaran Sportage saya tapi dengan mesin lebih kecil dan Turbo, jadi harusnya lebih irit, atau paling tidak menyamai Sportage, jadi saya tidak masalah dengan konsumsi BBM. Masih banyak sebenernya fitur fitur lain, tapi menurut saya yang lain lainnya itu nice to have lah. Killer factorsnya sudah saya sebutkan diatas.

Saya langsung pesen, padahal harga mobilnya belum ada …

Nunggu dua minggu setelah pemesanan baru harga resmi keluar, dan untungnya harganya masih terjangkau, jauh dibawah CRV, CX5, dan bahkan sama dengan mobil yang fiturnya dibawahnya (HRV, Trax). 

Sempet galau pemilihan warna, apakah pilih abu atau hitam, akhirnya saya pilih warna hitam, karena saya lihat warna item Almaz sangat keren, dan saya belum pernah punya mobil warna item. Akhirnya mobil dikirim awal Maret 2019.

Akang sales Wuling cerita kalau saya adalah pemakai Almaz nomer dua di Bandung. WOW, jadi inget dulu punya Yamaha NMax termasuk dalam pembeli pembeli awal juga.

Setelah seminggu dipake, kesan Almaz dibandingkan dengan Sportage ada 2, yaitu:  1). mesin biasa aja, 2). fitur luar biasa. Untuk nilai minusnya, mesin menurut saya biasa aja karena tenaganya ngepas untuk bermanuver di jalan tol dengan nyaman, serta adanya turbo lag namun dengan cerdik ditutupi oleh transmisi CVT yang halus. Kalau saya pake sportage dengan tenaga lebih besar  rasanya masih banyak tenaga tersimpan untuk bermanuver. FYI Sportage 166hp sedangkan Almaz hanya 140hp. Alangkah nikmatnya kalo misalkan tenaga Almaz ini dilebihkan sedikit, supaya juga sesuai dengan tampangnya yang macho. Selain itu transmisi manualnya tidak seresponsif di sportage. Untuk nilai plusnya menurut urutan prioritas saya adalah 1). panoramic roof, 2). head unit, 3). kelegaan kabin yang luar biasa, 4). sound sistem jempolan. 5). kamera 360.

Review pemakaian seminggu ini mungkin belum terlalu akurat, nanti saya akan update lagi kalo ada pengalaman pengalaman baru. Secara keseluruhan, menimbang nilai plus dan minusnya, menurut saya Almaz sangat sangat worth to have. Saat saya beli Almaz tidak ada mobil sekelasnya yang mempunyai value for money lebih baik dari Almaz. Ada sih merk DFSK, tapi kok ga minat ya .. Oh ya konsumsi BBM mungkin belum optimal, saat ini saya memperoleh nilai 1:10 – 1:13 … lumayan irit 🙂

 

IMG 20190312 194159

  

Kejar Target Membaca dibantu Kindle

Jadi ceritanya kesibukan yang ga ada abisnya di kantor membuat kesempatan membaca menjadi hampir tidak ada. Sering sudah diniatkan untuk membaca (dan tentunya sudah dapet/beli format digital bukunya), ternyata malah ga kesampean bacanya. Beberapa topik/buku ingin saya baca setelah baca review review mengenai buku terbaik jadi terbengkalai. Diantara topik/buku favorit yaitu tentang Artificial Intelligence, Human + Machine, Industry 4.0, Life, Blockchain / Cryptocurrency, dan masih banyak lagi. Sebelumnya saya pernah punya target membaca 2-3 jam sebelum tidur malam, dengan harapan tidur pukul 12 malam, tapi ternyata jam 9 juga udah tewas :P. 

Ceritanya terpaksa, biar bisa baca dimana aja akhirnya nitip beli kindle ke istri pas lagi ada konferensi di Jepang. Amazon kindle yang dipilih adalah paperwhite 8th gen, 32GB. Dengan sedikit usaha maka saya konvert koleksi buku pdf dan epub, menjadi format mobi supaya bisa dibaca di Kindle. Sebenernya 4 tahun yang lalu saya juga udah pernah pake kindle, namun waktu itu, kindle belum begitu nyaman buat baca format pdf, jadi ga dipake lama. Nah, ternyata Kindle versi baru ini cukup enak untuk membaca buku pdf.

Sekarang setelah punya kindle, mulai lagi kejer target membaca 2-3 jam tiap hari, anytime and anywhere … berkat buku digital di kindle. Dengan membaca, banyak penyegaran tentang ilmu, ide, filosofi, kreatifitas, dan lain sebagainya. Apalagi dalam sebagai dosen dan juga tukang ngamen (pembicara keliling), membaca itu perlu untuk jadi selingan dan bahkan bahan pada saat ngajar di kelas.

Selamat membaca

WhatsApp Image 2019 03 12 at 17 31 29WhatsApp Image 2019 03 12 at 17 31 29 1

Workshop Claim Data Behaviour Analysis untuk Aktuaris

Tanggal 12 dan 13 Februari 2019, saya diundang oleh Persatuan Aktuaris Indonesia untuk memberikan materi dalam workshop dengan tema “Claim Data Behavior Analysis”. Materi yang saya berikan adalah seputar Data Analytics dengan menggunakan R. Informasi acaranya bisa dilihat di link ini. Acara ini sangat menarik bagi saya pribadi karena saya belum begitu paham dengan pekerjaan profesi aktuaris ini, walaupun secara garis besar saya paham bahwa pekerjaan utamanya adalah perhitungan resiko berdasarkan profile pelanggan. Dari perhitungan profile resiko tersebut baru deh ditentukan premi asuransi yang harus dibayarkan pelanggan. Baik asuransi jiwa maupun asuransi kerugian lainnya. Namun data dan model apa yang digunakan, bagaimana konstruksi model dan informasi lain lainnya masih merupakan tanda tanya besar bagi saya. 

Aktuaris mempunyai pengetahuan yang mumpuni dalam bidang matematika dan statistik, namun masih perlu belajar mengenai prinsip kerja data analytics dan machine learning. Dengan latar belakang cukup mumpuni, oleh karenanya materi yang saya berikan bisa dicerna dengan mudah oleh para peserta. 

Saya sendiri masih belajar bagaimana membuat model resiko dan rekan rekan aktuaris membutuhkan pembelajaran metode metode baru untuk melengkapi model model yang mereka punyai. Nah klop khan, semoga kolaborasi risetnya lekas terwujud, amin

berikut ini foto foto dokumentasi kegiatan tersebut. 

 

51675113 10156739161625202 5371719136160251904 n52464375 10156739161680202 8982137214330732544 o51699188 10156739161860202 3065142572302204928 o51795584 10156739161930202 324344449746337792 o51833953 10156739161795202 3808156461217873920 o51982105 10156739162010202 315653076616740864 o52020673 10156739162110202 1696963440033136640 o52053758 10156739161740202 8232804530874482688 o52328353 10156739162405202 5456512334728003584 n52513939 10156739162170202 9189932916136738816 o

 

Wisdom is …

satu quote yang saya suka saat ini, terutama berkaitan dengan keriuhan suasana politik indonesia menjelang pilpres 2019.

wisdom is breadth. the essence of wisdom is not having a narrow view. its a broad framing. most human is narrow and noisy thinkers

semoga quote diatas bisa dimaknai oleh bangsa kita, semoga semuanya mencapai tingkat bijak yang wajar 🙂 ..

Relaunch Asosiasi Ilmuwan Data Indonesia

Pada bulan November 2016, kami para founder bersama sama mendeklarasikan berdirinya Asosiasi Ilmuwan Data Indonesia (AIDI), cerita lengkapnya ada di entry blog ini. Seiring berjalannya waktu, dan bersamaan kesibukan antar founder, sehingga AIDI belum bisa membuka pendaftaran anggota baru. Untungnya kami diberikan kesempatan untuk relaunch AIDI dan membuka pendaftaran anggota baru pada tanggal 5 februari 2019 di Jogjakarta.

Mimpi AIDI adalah mengawal kedaulatan data Indonesia. Data sebagai komoditas strategis, maka AIDI mencakup keilmuan yang luas, contohnya seperti big data, machine learning, artificial intelligence, computational linguistic, statistik, bioinformatics, sampai juga ke keilmuan sosial seperti bisnis, politik, dan komunikasi

Sambutan saya pada relaunch AIDI ini adalah sebagai berikut :

Asosiasi Ilmuwan Data Indonesia atau disingkat AIDI atau dalam bahasa inggris adalah Indonesia Data Scientist Society adalah suatu perkumpulan stakeholder yang terdiri dari individu, komunitas, dan perusahaan yang berkepentingan dan peduli pada perkembangan keilmuan data, serta implementasi dari manfaat data tersebut.  AIDI secara resmi dideklarasikan pada bulan november 2016, mendapatkan ijin dari Kementrian Hukum dan HAM pada tahun 2017. Di awal tahun 2019 ini, baru terbentuk kepengurusan harian AIDI dalam acara re-launch yang diselenggarakan di Jogja, 5 Februari 2019.

AIDI dibangun dengan semangat kebersamaan antara para pemimpin dan pakar dari stakeholder yang bergerak di ekosistem yang berhubungan dengan Data Science dan Data Analytic untuk mencari sebuah wadah yang dapat menyatukan suara.  Misi dari AIDI adalah Membangun Ekosistem Data Science Indonesia yang Bermanfaat, Aman, Sejahtera, Berdaya-saing dan Berkesinambungan untuk mendukung kedaulatan data Indonesia. Seperti kita ketahui Data adalah komoditas strategis bangsa, yang mempunyai nilai  mencakup banyak kepentingan dan melewati batas berbagai ilmu pengetahuan.  

Salah satu aktivitas yang dicanangkan oleh AIDI adalah berpartisipasi dalam pembuatan regulasi atau peraturan perundangan terkait dengan Data sebagai komoditas strategis, karena regulasi atau peraturan perundangan akan membentuk dan mengatur arah IIndustri yang melibatkan Data Science dan Data Analytics di masa mendatang. Masih banyak regulasi yang akan dibutuhkan untuk mengatur Industri jasa Data Mining ataupun Analytics, di mana Industri harus berperan dan terlibat memberikan masukan, pandangan dan saran agar Data Science bisa bermanfaat bagi masyarakat Indonesia. Tercipta iklim industri dan ekosistem yang mendukung kemandirian dan berkelanjutan. 

Sampai saat ini tercatat ada 350 anggota AIDI, yang terdiri dari berbagai bidang keahlian seperti machine learning, artificial intelligence, big data, data mining / data analytics, computational language, statistika, bioinformatics bahkan bidang non teknis seperti bisnis, politik, dan komunikasi. Dengan keberagaman latar belakang keilmuan yang dimiliki anggotanya, diharapkan AIDI mempunyai kapabilitas tinggi dalam bersinergi dan berkarya untuk kepentingan pembangunan Indonesia.

Terdapat beberapa aktivitas yang berafiliasi dengan AIDI, diantaranya adalah Workshop, Seminar, Kompetisi, dan Eksibisi National Data Days, Konferensi Ilmiah ICODIS (International Conference on Data and Information Science) dan ICADEIS (Internasional Conference on Advacement in Data Science, E-Learning, and Information Systems), Sertifikasi Internasional Big Data Analitik, Konferensi Big Data Indonesia, idBigData Meetup, dan lain lain

Sedangkan beberapa komunitas yang terlibat dalam pembentukan AIDI serta mempunyai afiliasi aktivitas dengan AIDI adalah Data Science Indonesia, Tau-data Indonesia, Komunitas Big Data Indonesia, Lab. Social Computing dan Big Data, Machine Learning ID, dan R Indonesia. Beberapa Industri yang terlibat dalam inisiasi dan kepengurusan AIDI adalah Solusi247, NoLimit, Mediawave, Zamrud Technology, dan Bahasa Kita.

Beberapa ilmuwan yang terlibat di AIDI antara lain adalah dari Telkom University, Universitas Padjajaran, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, LIPI, BPPT, Politeknik Statistika, dan Universitas Widyatama.

Demikian dapat kami sampaikan sekilas mengenai AIDI. kami berharap AIDI bisa menjadi wadah bertemu dan kolaborasi bersama antar ilmuwan data dalam berbagai bidang untuk membuat solusi untuk kepentingan bangsa. untuk itu  kami mengajak rekan rekan semua untuk bergabung di AIDI. 

Untuk bergabung bisa mendaftar pada tautan di bawah ini. 

2019 02 14 22 36 11

51231751 10156722442250202 619563343279030272 n51510822 10156722442305202 5379348316632907776 n51342227 10156722442600202 763510641083285504 n51838878 10156722442465202 833664250349092864 n

Math & Big Data

Suatu hari saya dikontak oleh himpunan mahasiswa matematika (Himatika) dari salah satu perguruan tinggi swasta (PTS) di Bandung Utara, yaitu Universitas Islam Bandung (Unisba). Mereka berencana mengadakan seminar yang idenya adalah bertanya belajar matematika itu untuk apa, atau dipermudah dengan bahasan peran matematika dalam dunia kerja. Karena saya lulusan matematika dan kebetulan menggeluti bidang yang lagi hype yaitu Big Data, maka saya diminta tolong untuk mengisi acara seminar tersebut.

Biasanya permintaan mengisi acara seminar tidak serta merta saya terima, tetapi kali ini karena temanya Math & Big Data maka saya tertarik untuk mengisinya dan share beberapa pengalaman saya. Bahasan materi lebih kearah menyadarkan para mahasiswa bahwa kuantifikasi fenomena, pembuatan model, machine learning, ketersediaan data dalam skala besar, ternyata membutuhkan peran ilmu matematika, baik dalam hal logika, formulasi, abstraksi, dan verifikasi. Profesi Data Scientist merupakan jembatan untuk mewujudkan hal tersebut.

Acara diadakan pada hari sabtu tanggal 16 februari 2019. Beberapa dosen Unisba juga ikut serta hadir, serta mengajukan pertanyaan, diantaranya adalah bagaimana membuat lulusan matematika ini mempunyai ketrampilan atau skill yang bisa langsung diaplikasikan ke dunia kerja. Bagaimana susunan kurikulum yang baik untuk adopsi kebutuhan tersebut. Saya menjawab sebaiknya diberikan porsi SKS yang cukup besar (sekitar 12-15 SKS) bagi mahasiswa untuk mengambil matakuliah peminatan dari jurusan luar, sehingga mahasiswa matematika mendapatkan sebagian skill dunia kerja sesuai dengan peminatan profesi yang nanti mereka inginkan. 

Karakteristik orang matermatika adalah sibuk dengan dunianya sendiri, tanpa mengetahui ilmu yang mereka miliki itu sebenarnya dibutuhkan banyak oleh masyarakat luas. Kemampuan abstraksi, menurunkan formula, berpikir logis (deduktif dan induktif), merupakan kemampuan yang sangat dibutuhkan di dunia kerja. Dunia kerja tidak hanya melulu mengenai ketrampilan atau skill tapi juga pemahaman mendalam tentang suatu domain. 

Beberapa foto dari acara tersebut

52460344 10156747525190202 6297495724745555968 n51960792 10156747525210202 492616256176783360 n51747281 10156747525305202 5919647295434915840 n52586331 10156747525260202 3617584875348951040 o52846898 10156747525335202 6589775026696749056 n

Tahura Trail 2019

Tahura Trail Run adalah salah satu kegiatan lari yang terkenal di Indonesia, kegiatan ini dilaksanakan di area kawasan Taman Hutan Raya Dago Bandung. Gelaran tahunan ini berkelas internasional, dengan peserta datang dari berbagai manca negara. Lari trail adalah lari melalui jalan tanah (setapak, berbatu, yang penting bukan jalan aspal). Tahura Trail Run rute larinya melalui sepanjang kawasan hutan dan pegunungan di Bandung Utara. Tahura Trail Run 2019 ini merupakan kali kedua saya bertisipasi, setelah sebelumnya pada tahun 2018. Saat itu saya ajak keluarga lengkap untuk lari trail  di kelas family 7K.

Tahun 2019 ini, Tahura Trail Run dilaksanakan pada tanggal 20-21 Januari 2019. Kami (saya hanya berdua dengan Intan) ikut kelas trail 21K. Gelaran ini diselenggarakan selama dua hari. Hari pertama khusus untuk kelas Full Marathon  (42K) dan Half Marathon (21K). Hari kedua kelas 17K, 10K, dan kelas family (7K). Kondisi lari hari pertama jauh dari ideal, karena malam sebelumnya kawasan Bandung Utara diguyur hujan deras, alhasil medannya berubah menjadi becek dan basah. 

Start dimulai pukul 5 pagi, kami berlari dengan pace santai, namun di rute awal sudah disuguhi beberapa rute jalan menanjak yang cukup dahsyat, sehingga mau ga mau kami sudah kehabisan nafas lari saat jarak lari masih dibawah 5K. Setelah tanjakan rute berubah ke jalan tanah (persawahan) di lereng bukit dan area perkebunan sayuran penduduk. Jalur ini cukup nyaman, walaupun sempat terjadi antrian karena sempitnya jalur sehingga kami kesulitan menyalip pelari di depan kami yang berlari lambat.

Jalur berganti ke berlari di dalam hutan, beberapa area hutan cukup tebal sehingga matahari tidak bisa menembus masuk. Dalam suasana agak gelap karena kekurangan cahaya, kami beberapa kali jatuh terpeleset, untung tanahnya sangat empuk, sehingga kami terhindar dari cedera. Beberapa kali pula kami srodotan, sliding jatuh meluncur mengikuti alur tanah. Kalau biasanya saya lari 21K di jalan raya membutuhkan waktu selama 2,5 jam sampai 3 jam, maka lari trail 21K membutuhkan waktu hampir 6 jam. Kami mencapai finish tepat 5 menit sebelum COT (Cut Off Time). Alhamdulilah bisa dapet medali finisher 🙂

Berikut foto fotonya dari gelaran Tahura Trail Run 2019

50853162 10156679638720202 1206485901476102144 o50423328 10156679640475202 1613217152628686848 o50299937 10156686409740202 7416018050299723776 n50127086 10156679641400202 501557802561437696 o50681595 10156698607820202 4320129181514989568 o50269983 10156679642145202 5559287285758820352 o50307112 10156679639220202 60581681941184512 o

 

 

Bromo Marathon 2018

[latepost] blog entry yang sangat sangat telat, karena event larinya sendiri pada tanggal 23 september 2018, tapi baru sempat dituliskan sekarang. Kami (saya dan istri) mendaftar di ajang lari Bromo Marathon 2018. Sebenernya kami iseng juga mendaftar di event ini, alasannya karena kami ketinggalan pendaftaran beberapa event lari besar di bulan bulan selanjutnya seperti 2XU, jakarta marathon,  borobudur marathon, maupun bali marathon.

Kami berangkat sehari sebelumnya event, nyubuh naik pesawat dari Bandung kemudian mendarat di Juanda Surabaya. Begitu sampai kami langsung cari sarapan, nasi rawon adalah makanan pertama yang saya cari, sambil menunggu panitia yang menyediakan shuttle untuk menuju Desa Tosari, Kabupaten Pasuruan, di area lereng Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru. Shuttle berangkat tepat pukul 10 pagi, dan sampai di Tosari sekitar pukul 14. Setelah cek in di penginapan rumah rumah penduduk di sekitar desa Tosari, kami langsung menuju ke kawasan hotel Plataran untuk mengambil race pack (RPC). Oh ya lomba kali ini kami hanya mengikuti kelas 10km, saya sendiri merasa beruntung tidak mengambil rute lebih jauh, karena saat itu lutut sedang cedera. 

Selesai urusan RPC, kami sewa motor untuk melihat sunset disekitar Pananjakan. berikut ini adalah foto foto sore itu (RPC di Plataran dan perjalanan ke Pananjakan). 

42304114 10156409313405202 2641323218236866560 n42344881 10156409313615202 2333978579760578560 n42281435 10156409313835202 2814353672337620992 n

Pulang dari Panjakan matahari sudah terbenam, kami mencari makan malam di rumah rumah penduduk, lumayan dapatnya nasi sayur lodes, sambal, tempe dan ikan asin. Selanjutnya kami beristirahat lebih awal menyiapkan tenaga untuk lari besok subuh.

Saya persingkat ceritanya saja langsung ke kesan berlari di event bromo marathon ini: Event ini cukup keren, dan pesertanyapun dari manca negara, menunjukkan bahwa event ini adalah event bergengsi, ditambah udara super segar membuat lomba lari ini sangat menyenangkan. Kelas yang ambil (jarak 10km) cukup menantang, komposisinya 50% trail dan 50% jalan aspal.  Untuk trail rute yang diambil sangat indah, di lereng bukit perkebunan warga. Sayangnya rute tersebut tidak melalui lereng bromo secara langsung. Yang melalui lereng bromo hanya di kelas Full Marathon. 

Berikut foto foto kami berlari di  Bromo Marathon:

42422353 10156411300860202 4471492307291471872 n42410259 10156411567615202 7596705164073893888 n42356605 10156411564905202 2144117321352871936 n42322677 10156411704040202 5119154645175894016 n42823299 10156424446440202 5005446790468599808 n