end year holiday (with video)

Mencari lokasi liburan akhir tahun bukanlah perkara mudah, peak season menjadi alasan terbesar dimana transportasi dan akomodasi ke tempat wisata yang umum dalam negeri maupun luar negeri sangatlah mahal. Hal ini juga jadi pemikiran saya, padahal liburan akhir tahun ini waktunya tepat karena, saya, intan, sandra dan sarah sudah libur jauh hari sebelum hari natal dan tahun baru. Setelah berdiskusi akhirnya kita putuskan untuk berlibur ke pantai, tapi kita gak mau ke pantai yang padat dan bejubel pengunjung, dan itu bukan masalah yang mudah di saat peak season mencari pantai yang relatif sepi.

Akhirnya saya putuskan untuk berlibur ke Ujung Genteng yang terletak di Sukabumi, kebetulan tahun lalu saya pernah berkunjung bersama beberapa rekan photographer. saya sangat terkesan dengan Ujung Genteng karena belum terlalu ramai, lokasi yang tidak terlalu jauh, dengan pantai pasir putih yang indah dan air laut berwarna biru-hijau segar, selain itu ada pusat pengembang biakan penyu dan juga air terjun cikaso yang yang menurut saya merupakan salah satu air terjun tercantik yang pernah saya kunjungi. Jarak pantai ujung genteng dengan Bandung sebenernya cuma sekitar 250 km saja, tapi ruas Sukabumi-Surade (kecamatan terkahir sebelum pantai Ujung Genteng) sepanjang 100km, kita tidak bisa memacu kendaraan melebihi 35 km/jam karena kondisi jalan yang kurang bagus. Jadi perjalanan dari Bandung-Ujung Genteng menghabiskan waktu sekitar 6-7 jam.

Berikut ini saya upload 2 buah video yang pertama adalah video di pantai akuarium, dimana kita bisa berjalan diatas karang pada saat laut surut dan bisa melihat ikan dan binatang laut lainnya berkeliaran di sana. Sedangkan video kedua adalah video di tempat pelepasan anak penyu ke laut dan video air terjun cikaso yang indah dan air sungainya yang berwarna hijau.

citizen journalism

pagi tadi saya baru berpartisipasi di seminar yang diadakan UKM photography imtelkom ‘capture’ @captureimtelkom yang mengangkat tema “Citizen Journalism”. acara ini cukup menarik dan dihadiri banyak peserta mahasiswa imtelkom dan yayasan pendidikan telkom lainnya, padahal acara ga gratis lho. nara sumber acara ini adalah kang dudi sugandi, redaktur harian ‘Pikiran Rakyat’, dan saya sendiri menjadi […]

rush blood to the head (deadline)

beberapa hari kemarin saya ngerasain ‘rush blood to the head’ , ini bukan judul albumnya coldplay, tapi ketegangan karena beberapa deadline berdekatan. seperti yang pernah saya tulis di postingan sebelumnya, saya sedang mengikuti pelatihan PEKERTI atau singkatan dari peningkatan ketrampilan dasar teknik instruksional, atau kata lainnya kita para dosen diajarkan bagaimana merancang materi perkuliahan buat mahasiswa. pelatihan ini sangat bermanfaat, terutama sebelumnya kalo mau bikin materi kuliah selalu berdasarkan asumsi dari dosen, disini banyak proses yang dilakukan sebelum akhirnya jadilah materi kuliah untuk mahasiswa. di pelatihan ini kita diberikan tugas yang lumayan berat, dan karena beratnya akhirnya beres at the last minute padahal gak pake sks lho sistem kebut semalam. oh yah pelatihan ini berlangsung tiap weekend selama 4 kali, jadi lumayan juga perjuangannya ijin ke keluarga :p

pada saat yang hampir bersamaan, beda 2 hari sesudah deadline pekerti, saya juga harus mengumpulkan draft buku yang saya tulis untuk bahan ajar mata kuliah ‘mobile content development’. selama ini saya cuman punya bayangan apa aja yang akan saya tulis di buku, tapi belum pernah sama sekali menuliskannya, akhirnya dalam waktu 48 jam with barely sleeping ngetik mulai dari nol, bisa juga menyelesaikan draft 4 bab dari buku tersebut sebanyak 48 halaman. goshhhhh !!! lewat deadline hari senin siang terasa lega banget, langsung bayar utang kurang tidur šŸ˜€

seminggu ini berasa tenang sekali, saya bisa otak atik website photography saya dan nambah upload beberapa foto disana. tapi deadline besar udah menunggu di pertengahan januari. final version dari buku yang saya tulis harus beres tanggal 15 januari, yang artinya 8 bab lagi. dan juga 2 penelitian harus beres akhir januari, padahal semuanya masih berupa konsep di kepala dan belum dikerjakan sama sekali.

jadi dosen peneliti sama aja ama jadi photographer, sama juga ama memimpin proyek IT, kita gak perlu ngantor kerja administrasi sana sini yang penting kerjaan beres pas deadline, yah bener deadline, itu adalah kata yang paling akrab di telinga saya. saya gak jauh beda ama mahasiswa, setiap saat ketemu deadline. mari beresin deadline …. Semangattt

review karimun estillo

Karimun estillo, mobil yang kita pesan hampir 2 bulan yang lalu akhirnya sampai juga di rumah. Ini merupakan mobil kedua kita, saya dan istri memang memutuskan untuk mempunyai mobil kedua, setelah melihat aktifitas kita masing masing yang padat dan aktifitas sekolah anak anak yang lumayan jauh dari rumah. Mobil pertama kita adalah Honda Freed, dengan […]

pelatihan PEKERTI

PEKERTI adalah Pengembangan Ketrampilan Dasar Teknik Instruksional, merupakan pelatihan bagi para dosen untuk menyiapkan taksonomi dan silabus kurikulum mata kuliah secara lebih terencana dan baik. Kebetulan Institusi saya yaitu Institut Manajemen Telkom, mewajibkan para dosen untuk ikut serta pelatihan dari Kopertis ini. Pelatihan berlangsung selama minimal 45 jam, yang berarti selama 4 kali weekend, saya […]

MACETTTT Pasteur !!!!!!

Sejak 5 tahun yang lalu pulang ke Bandung dari merantau di negeri orang, bisa saya rasakan perubahan pada jalur saya pulang pergi beraktivitas tiap hari yaitu dago-pasteur-tol pasteur-padalarang, perubahan tersebut sangat hebat, jumlah kendaraan yang melalui ruas jalan ini berlipat kali, dan ruas ruas kemacetan bertambah serta waktu yang diperlukan untuk pulang dan pergi bertambah […]

lensa manual CZ (Carl Zeiss Distagon 35/2 Canon Mount) — for sale

foto dari website bhinnekaPosting kali ini adalah tentang lensa, terus terang sudah lama sekali saya tidak menulis hal teknis tentang fotografi, terakhir saya mempersiapkan materi fotografi untuk mahasiswa jurusan film dan fotografi, adalah sebulan yang lalu dan itupun presentasi powerpoint tentang bisnis fotografi. Ok, saya mulai aja, pada dasarnya saya mengenal fotografi sejak awal menggunakan lensa manual, dan menurut saya lensa manual itu “joy to use” .

Setelah memasuki era digital/DSLR sepuluh tahun yang lalu, saya tidak pernah menikmati manual focus mode dari lensa lensa yang ada di pasaran, beberapa penyebabnya adalah : 1. sensor kecil sehingga viewfinder kecil, sehingga kurang nyaman digunakan untuk manual focusing 2. ring manual focusing yang kurang nyaman digunakan, baik karena bahan (karet), putaran yang tidak lembut dan ring terlalu kecil.

Sejak tahun 2007, saya mulai menggunakan Full Frame DSLR , sejak saat itu saya merasa kembali ke masa masa awal saya memakai kamera, Full Frame itu adalah “joy to use” dan saya jelas tidak mau kembali lagi menggunakan sensor kecil, apalagi pada saat itu, fotografi adalah lahan saya mencari uang, sehingga detail hasil yang sempurna, dan kamera yang nyaman digunakan merupakan faktor terpenting. Selama itu saya belum juga menemukan lensa manual focus yang memuaskan, baru pada tahun 2010 saya mendapatkan lensa Carl Zeiss Distagon 35mm f2 Canon Mount.Ā Carl Zeiss adalah jaminan kualitas untuk lensa lensa tingkat atas (premium) sejak sebelum era digital.

Lensa ini sangat luar biasa (menurut saya), saya jarang sekali memberikan pujian bagus ke suatu lensa. Foto yang dihasilkan begitu hidup, mempunyai efek “3D”, bokeh yang khas (walaupun cuman f2), dan warna yang enak dilihat. Dan yang terpenting lensa ini tidak pernah memberikan masalah terhadap kamera canon saya, baik masalah metering ataupun misfocus.

Setelah memakai lensa ini selama setahun, Ā kesulitan saya mulai timbul, saya baru menyadari kalau sudah tidak lagi terlatih menggunakan lensa manual focus, padahal salah satu hobi saya adalah street photography yang membutuhkan kecepatan tangan untuk mencet tombol shutter dan memainkan fokus dalam mengantisipasi moment. Saya beberapa kali memakai lensa ini di Car Free Day Dago, hampir 50% foto saya gagal karena memakai diaragma paling lebar (f2), memang kita bisa antisipasi hal ini dengan memakai diagragma kecil (f5.6-f8) untuk amannya, tapi memang karena foto sekedar “hobi” saya tidak suka maen aman :D. Saya memutuskan untuk menjual lensa ini dan ganti dengan lensa auto focusing seperti Canon 35/1.4 atau Canon 50/1.2 untuk street photography

beberapa contoh foto foto saya yang menggunakan lensa CZ :

portrait blue tint
prewed
street photography (converting b&w)
street photography (converting b&w)

kalau berminat sms/call 08562070375 atau twitter @andrybrew. kondisi pemakaian wajar, box dan kelengkapan lainnya lengkap. soal harga yang wajar aja, harga barunya bisa dilihat disiniĀ bhinneka

konten lokal

pernahkah anda merasa susahnya mencari konten indonesia ( dalam artian berbahasa indonesia, produk/jasa yang dibuat atau ada di indonesia ). konten lokal memang sesuatu hal yang kita rasakan sangat penting, selain sebagai pemberdayaan akses internet biar tidak banyak akses situs situs luar negeri (hemat biaya dan lebih cepat aksesnya) dan juga supaya informasi yang kita dapatkan relevan dengan apa yang ada disekitar kita.

sebagai contoh saya ketik kata kunci “review suzuki apv” di google.co.id kita akan mendapatkan hasil pencarian yang tidak banyak membantu kita untuk mendapatkan review yang berkualitas dan akurat tentang produk ini. padahal mobil ini adalah salah satu mobil yang populer dan banyak kita temui di jalanan, bagaimana bisa kita tidak menemukan hasil yang komprehensif dan memuaskan dari hasil pencarian kita ?

disini kita mulai merasakan kurangnya konten lokal, dari hasil pencarian diatas kita hampir semua hasil adalah review dari situs jual beli mobil, yang notabene bukan merupakan review obyektif dari pengguna dan lebih banyak menulis ulang spek mobil dari brosur. hal seperti ini yang sering membuat saya dan beberapa rekan frustasi dalam mencari informasi lokal di web. beberapa contoh yang lainnya adalah pencarian info sekolah, tempat pariwisata, sejarah indonesia, transportasi, dan lain lainnya.

“but things get any better” — situasi konten lokal bertambah baik akhir akhir ini, twitter dengan zillions practical information seperti @infobdg @TMCPoldaMetro @AdaDiskon maupun hashtag #lalulintas dan yang lainnya. review produk baik peorangan maupun komunitas, games lokal, geotagging commerce (jualan berdasarkan lokasi pembeli/market), blog dan juga komunitas komunitas baru lainnya (terutama komunitas hobi) yang terbentuk dari internet.

situasi yang sangat menyenangkan tentunya jika semua informasi apapun tentang sekitar kita bisa kita cari dengan mudah, mari ngeblog, mari perkaya wikipedia, mari kita isi twitter dengan info info yang berguna. dalam hal konten more is much better than less . tentunya yang saya tuliskan diatas adalah konten positif bukan konten negatif apalagi konten konten kreatif-curang yang sempet heboh beberapa saat yang lalu diprotes oleh banyak pengguna mobile phone.