Fenomena Big Data di Berbagai Sektor (Tulisan Koran PR)

Setelah terbit tulisan pertama saya (bersama bu Lia) mengenai Big Data di koran Pikiran Rakyat, kali ini terbit lagi tulisan kami berdua di koran Pikiran Rakyat tanggal 2 Juli 2018. Ide dari tulisan kali ini adalah mengenai implementasi / fenomena Big Data dalam berbagai sektor kehidupan. Tidak tanggung tanggung tulisan dibagi menjadi 5 artikel yang terdiri dari: 1. Pengenalan fenomena Big Data. 2. Big Data pada sektor pemerintahan. 3. Big data untuk akademisi. 4. Big Data untuk bisnis. 5. Big Data untuk kehidupan sosial masyarakat.

Semoga tulisan kami bermanfaat dan mencerahkan rekan rekan yang sedang memahami / mempelajari Big Data.

Berikut cuplikan beberapa artikel tulisan kali ini.

36521298 10156211065935202 4165800217611862016 n

36604941 10156211065940202 4676668873615867904 n

36457855 10156211065910202 4103679945241264128 n

36499878 10156211065920202 814148846669004800 n

36448091 10156211066040202 2485560933552750592 n

36544839 10156211066070202 9026254680308580352 n

 

Posisi Manajerial

Posisi manajerial atau struktural manajerial pada suatu organisasi adalah posisi inti (pemimpin / nahkoda) pada bidangnya masing masing untuk mendukung keberlangsungan operasional organisasi. Demikian juga pada organisasi pendidikan (kampus). Posisi manajerial tentunya bertolak belakang dengan posisi dosen biasa. Walaupun pengisi posisi tersebut biasanya diambil dari dosen biasa juga. Namun ada perbedaan signifikan adalah, dosen biasa hanya cukup memikirkan beban kerja pribadi, apakah aktivitasnya sudah memenuhi syarat minimal pada pengajaran, riset, dan pengabdian masyarakat. Tidak jarang beberapa dosen pandai mengatur waktu sehingga, mereka bisa berkarya lebih seperti mempunyai waktu untuk membuat riset lebih banyak, menulis buku, proyek pengabdian masyarakat dan lain sebagainya. Namun semua itu masih terpusat pada target pribadi. Bahkan mungkin malah banyak juga yang tidak tahu (tidak memperoleh informasi) mengenai kondisi strategis kampus, day to day atau month to month operation, karena aktivitas berpusat pada masing masing individu dosen. 

Jabatan manajerial membuat kita berpikir lebih luas (makro), membuat kebijaksanaan, menjalankan pelaksanaan kegiatan, melakukan pengawasan, dan evaluasi kegiatan berkerja sama dengan organ fungsi lain di kampus. Tujuannya adalah untuk pengembangan kampus dan “sustainibility”nya. Saya sendiri bukan orang yang belajar khusus mengenai organisasi, tapi rasanya saya bisa memperkirakan bagaimana caranya mendukung tujuan (visi dan misi) kampus. 

Tulisan ini berkaitan dengan kabar terbaru “agak mengejutkan” yang saya terima beberapa hari yang lalu, yaitu promosi untuk mengisi salah satu jabatan manajerial di kampus. Menjadi bagian dari manajemen bukan merupakan pekerjaan mudah. Akan terjadi perubahan paradigma, dari yang terbiasa prioritas kerja dosen biasa, sekarang saya harus berpikir lebih luas. Tugas saya di research center, yang artinya lebih banyak fokus kepada “enhance” aktivitas riset dalam bentuk kolaborasi, hibah, kemudian juga aplikasinya ke dalam dunia nyata. Salah satu output nyatanya adalah Non Tuition Fee. Cukup berat, tapi rasanya tidak perlu kuatir, karena potensi dosen di kampus cukup besar untuk mendukung hal hal diatas, tinggal dikondisikan saja.

Tapi sepertinya nanti saya tidak akan bisa sering sering untuk update blog seperti sebelumnya, but lets see ..

 

IMG 5653

Quora: Aplikasi Tanya Jawab Bahasa Indonesia

Penyedia layanan tanya jawab secara crowdsourcing sudah sejak lama ada. Quora adalah salah satunya. Aplikasi Tanya Jawab Crowdsourcing, tidak berbeda jauh dengan aplikasi penulisan katalog pengetahuan melalui crowdsourcing seperti Wikipedia. Crowdsourcing adalah mekanisme dimana netizen dengan cara demokratis bekerja sama secara peer untuk menghasilkan konten yang bagus. Mekanisme bisa berupa voting, dimana konten atau jawaban dengan voting terbanyak merupakan konten atau jawaban yang paling baik. Dengan mekanisme tersebut, maka konten atau jawaban melalui proses crowdsourcing akan konvergen menuju jawaban terbaik. 

Di Quora terdapat banyak sekali pertanyaan pertanyaan yang akhirnya juga bisa memperluas pengetahuan. Kita selain berpartisipasi memberikan jawaban, juga bisa bertanya mengenai segala hal, mulai hal hal yang ringan, sampai hal hal yang bersifat akademis atau filosofis yang lebih serius. Fitur yang menarik dari Quora terakhir ini adalah tersedianya layanan dalam bahasa Indonesia, sehingga hal ini sangat bagus untuk membantu mencerdaskan netizen Indonesia. Silahkan ditengok

Oh ya sebelum bisa mengakses Quora bahasa Indonesia, kita harus mendaftar dulu, mungkin ini masih sementara, selanjutnya rasanya kita akan otomatis bisa akses langsung fitur bahsa Indonesianya. Berikut contoh Quora bahasa Indonesia di Iphone. Selamat mencoba

 

IMG 5525

Membiasakan Review Tempat Makan

Saya dan keluarga punya hobi cukup boros yaitu makan di luar, ini lebih karena saya dan istri sama sama sibuk dengan aktivitas sehari hari, sehingga tidak selalu punya waktu untuk masak. Solusi praktisnya adalah cari tempat makan diluar (makan di restoran). Di kota Bandung sendiri banyak sekali bertebaran tempat makan dalam berbagai ukuran, mulai cafe kecil sampe restoran besar, menu dan temanya pun bermacam macam, ada yang menjual kualitas masakan, dan ada juga yang hanya menjual suasana.

Kalo dilihat lihat sepertinya banyak juga profil keluarga seperti saya, yaitu suka makan di luar, namun hal yang menganggu adalah sulit mencari informasi tempat makan yang diinginkan. Beberapa ingin mencari tempat makan khas negara / daerah tertentu, beberapa ingin restoran khusus menu tertentu, beberapa hanya ingin tempat nongkrong (hanya mencari suasana, dan tidak perduli rasa), beberapa mencari tempat makan dengan harga terjangkau. Mencari informasi / review tempat makan bukan hal yang mudah, selama ini mencari ide tempat makan  tujuan biasanya diperoleh dari instagram, berupa promosi tempat dengan foto foto bagus, namun kurang berisi review tempat makan tersebut.

Saya hanya baru menemukan satu aplikasi untuk review tempat makan, yang rasanya perlu saya bagi, sehingga rekan rekan semua bisa menuliskan pengalaman / review mengenai suatu tempat makan. Aplikasinya bernama QRAVED. Aplikasi ini tersedia pada versi mobile untuk IOS dan Android. Saya rasa dengan banyaknya review yang dituliskan, maka kita bisa saling bertukar pengalaman mengenai rasa makanan, pelayanan, suasana, dan harga tempat makan tertentu. Saya membiasakan diri melakukan review tempat makan. By the way, saya tidak berafiliasi dengan aplikasi tersebut. Silahkan dicoba, kalau ada aplikasi / website review tempat makan lainnya, mohon diinfokan.

edit tanggal 9 juni 2018, saya baru tahu kalo kita juga bisa memberikan review lokasi di google, termasuk lokasi tempat makan. jadi bisa menambah pengetahuan baru 

 

 

IMG 5495

Diwawancara Radio PRFM tentang Big Data dan Politik

Salah satu rekan di Labtek Indie menanyakan ke saya: apakah saya bersedia mengisi acara talk show di Radio PRFM News mengenai pilkada. Kebetulan beberapa riset Big Data yang terakhir saya lakukan di lab. SCBD adalah mengenai kondisi politik di Indonesia menjelang tahun pemilu 2019. Tanpa pikir panjang saya langsung iyakan saja. Menurut saya ini adalah peluang untuk memperkenalkan metode Social Computing (kuantifikasi perilaku sosial) atau Computational Social Science sebagai alternatif atau pelengkap metode survei dan perhitungan cepat (quick count) sebagai metode legacy yang umum dilakukan pada pelaksanaan pemilihan umum (daerah) di Indonesia. Sebagai informasi Radio PRFM News adalah salah satu radio di Bandung yang konsisten memunculkan isu isu sosial masyarakat sebagai bahan kajian acara. Labtek Indie sendiri mempunyai program peningkatan awareness dan edukasi ke masyarakat luas, jadi kesediaan diwawancara mengisi talk show adalah untuk diseminasi pengetahuan dan membantu awareness masyarakat akan program riset Labtek Indie.  

Di beberapa negara maju eksploitasi data media sosial sudah wajar dilakukan dengan tujuan untuk menjalankan proses microtargeting, yaitu profiling demografi pemilih sampai sedetail mungkin, contohnya hobi, afiliasi partai politik, pekerjaan, lingkaran teman dekat dan lain sebagainya. Seperti pada umumnya aktivitas bisnis, terutama aktivitas marketing, microtargeting mengelompokkan pasar agar organisasi bisnis bisa menawarkan produk / program iklan dengan lebih akurat ke sasaran pasar. Ingat kasus Cambridge Analytica dan Facebook, sebagai salah satu contoh usaha microtargeting untuk kepentingan politik.

Diskusi dengan kang Basith sebagai pembawa acara berjalan seru, beliau menanyakan mengenai beberapa hal, antara lain: 1. Bagaimana memanfaatkan data media sosial untuk kepentingan politik dan bisnis, 2. Perbandingan metode survei (termasuk perhitungan cepat) dengan metode Big Data, 3. Pembahasan perubahan pola interaksi manusia karena kemajuan teknologi, 4. Apakah kemajuan teknologi berpengaruh besar terhadap proses politik di Indonesia, 5. Opini mengenai random sampling yang dilakukan lembaga riset Charta Politika yang menggunakan sampel “hanya” sebesar 2000 orang, 6. Cara pengumpulan data dan penjelasan singkat mengenai metode Big Data yang saya usulkan.

Pendengar siaran radio juga diajak untuk berdiskusi melalui telepon, twitter, dan sms. Pertanyaan paling menarik menurut saya adalah mengenai akurasi metoda quick count (perhitungan cepat) dengan menggunakan jumlah sampel terbatas dibandingkan dengan metoda usulan saya. Pertanyaan ini bukan pertanyaan yang bisa dijawab secara sederhana mana yang lebih unggul, karena banyak faktor yang berpengaruh pada metode Big Data, diantaranya yang paling penting adalah kualitas data. Namun hasil metode Big Data ini bisa menjadi pelengkap / verifikasi dari metode legacy dan juga tentunya metode Big Data lebih cepat dan lebih murah, seiring kemajuan teknologi.  Tantangan dalam berdiskusi dengan khalayak umum seperti di radio, adalah saya harus bisa menjelaskan dengan bahasa awam agar supaya mudah dipahami. Semoga kemarin pada pendengar radio tidak kesulitan memahami ide yang saya sampaikan.

Berikut foto fotonya:

 

33156243 10156113101665202 8816779869628137472 n

33135315 10156113102140202 5984036100811784192 n33098191 10156113102000202 9154226117110923264 n33089695 10156113101815202 6617659208512831488 n33076828 10156113102205202 5004784768504561664 n

Konferensi Big Data Indonesia dan IWBIS 2018

Konferensi Big Data Indonesia (KBI) adalah salah satu kegiatan besar komunitas idBigData yang dilaksanakan rutin setahun sekali. KBI 2018 tahun ini dilaksanakan pada tanggal 12 dan 13 Mei 2018 di Balai Kartini Jakarta. Dalam kegiatan ini komunitas idBigData bekerja sama dengan Fasilkom Universitas Indonesia, sehingga pelaksanaannya dijadikan satu dengan gelaran akademis International Workshop on Big Data and Information Security (IWBIS 2018). Acara ini didukung oleh Bekraf, sehingga untuk pertama kalinya acara keren ini berlangsung gratis, sebagai akibatnya pendaftaran peserta jadi membludak dan banyak juga yang ga kebagian tiket untuk mengikuti acara. Wajarlah acara bagus dan digratiskan maka pada berlomba lomba untuk datang ke acara :).

Saya mengikuti acara KBI 2018 mewakili FEB Telkom University dan Asosiasi Ilmuwan Data Indonesia (AIDI). Banyak topik menarik yang dibawakan pada gelaran kali ini, dalam bentuk seminar dan pelatihan kilat (crash course) dari akademisi, industri, maupun pemerintahan. Daftar topik dan pembicara ada disini. Pada kesempatan yang sama, satu paper saya bersama mahasiswa (Dian) juga diterima untuk dipublikasikan pada gelaran IWBIS 2018. Paper tersebut berjudul “The Dynamic of Banking Network Topology – Case Study : Indonesia Presidential Election Event”. Alhamdulilah Dian yang mempresentasikan paper tersebut menyabet penghargaan Best Presenter

Rencananya KBI 2019 akan diadakan di ITS Surabaya, jadi sampai bertemu di Surabaya tahun depan ya .

IMG 4090

mewakili AIDI (Asosiasi Ilmuwan Data Indonesia)

IMG 4008

IMG 4017IMG 4100

IMG 4099

IMG 4043

Presentasi Dian di IWBIS

3B00C3AA 9E72 4914 82B1 10A2DF04250B

31632025 10156097913275202 4184739807911477248 n

Labtek Indie

Sekitar 2-3 bulan yang lalu saya berkenalan dengan Labtek Indie, suatu organisasi bisnis (startup) yang unik dan menarik, karena dalam menyediakan solusi ke klien, mereka menggunakan prinsip riset akademis berdasarkan teknologi terkini, bahkan state-of-the-art pada berbagai bidang contohnya Artificial Intelligence, Internet of Things, Human Centered Design, dll. Data Analytics dan Big Data merupakan satu area yang juga menggoda untuk dikuasai sebagai pelengkap riset riset yang ada. Ketika ditawarkan untuk berkolaborasi memperkuat riset yang ada, maka saya dengan senang hati membantu berkolaborasi dalam bidang Data Science dan Machine Learning. Peran saya adalah meningkatkan awareness akan utilitas data, mengarahkan riset dan solusi berbasis data, mengkaji pilihan model, melatih storytelling berdasarkan data, serta melihat peluang implementasi bisnis atau produk dari solusi berdasarkan data analytics.

Labtek Indie mempunyai budaya organisasi dengan memegang kuat tiga kata kunci : Human Centered Design (HCD), Agile Methodology, Lean StartUp. Dimana masing masingnya dijelaskan secara garis besar sebagai berikut:

HCD adalah pendekatan solusi yang berorientasi kepada kebutuhan klien (human) atau perspektif manusia (pengguna), berbeda dengan pendekatan solusi IT klasik yang memberikan solusi berdasarkan aspek kemampuan teknis / sistem. HCD mempertanyakan kebutuhan dan kenyamanan user atas produk / solusi yang akan dibuat. Pada prosesnya HCD membutuhkan tahap observasi masalah melalui pencarian konteks, brainstorming, konseptualisasi, pengembangan solusi, dan implementasinya

Agile Methodology adalah pendekatan pembuatan solusi dimana kebutuhan dan solusi yang ditawarkan bisa berubah secara dinamis selama proses pembuatan solusi tersebut berlangsung. Perubahan ini bisa terjadi karena ada interaksi kolaboratif pengorganisasian tim, tim yang berisi orang dengan keahlian yang heterogen, dan perubahan nilai / sikap dari klien. Metode ini mendukung pembelajaran adaptif, pengembangan kontinu, pengiriman solusi cepat, dan respon yang fleksibel terhadap perubahan.

Lean Startup menurut saska (CEO Labtek Indie) adalah prinsip yang dianut organisasi dalam menghadapi ketidakpastian (kompetisi) yaitu Build, Measure, Learn. Build artinya membuat prototype dengan prioritas kecepatan daripada detail produk. Measure artinya mengukur performansi protoype dan melihat arah pengembangan selanjutnya. Learn artinya proses pembelajaran dari proses measure untuk perbaikan selanjutnya. Ketiga prinsip diatas bersifat cycle (berulang). 

Untuk tahu lebih lanjut mengenai labtek indie, bisa kontak via facebook, IG, twitter : labtekindie 

 

Screen Shot 2018 05 25 at 10 49 32  2

Tulisan Big Data di Koran Pikiran Rakyat

Sudah sekian lama tidak menulis di media massa, akhirnya pada tanggal 23 April 2018 tulisan saya bersama dengan bu Lia Yuldinawati muncul di koran Pikiran Rakyat. Judul tulisan ini adalah “Di Era Big Data Internet Menjadi Kebutuhan Mendasar”. Tulisan ini menggambarkan bagaimana Big Data dapat diimplementasikan dalam segala lini kehidupan masyarakat untuk mendapatkan gambaran akurat mengenai gejolak sosial yang ada. Selama ini saya punya hardcopy artikelnya jadi belum sempet saya tuliskan di blog, tapi berkat bantuan rekan rekan dari Labtek Indie akhirnya saya mendapatkan softcopy tulisan tersebut. Monggo silahkan di klik gambar di bawah ini (ukuran 6 MB) untuk membaca artikelnya.

Image uploaded from iOS31144055 10156048637080202 7372322053127628631 n31143894 10156048637110202 6074305054173965283 n

Seminar Big Data Bank Indonesia Agustus 2017

#latepost blog entry. Awal Agustus 2017 dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Indonesia, Bank Indonesia mengadakan seminar nasional Big Data dengan tema “Globalisasi Digital: Optimalisasi Pemanfaatan Big Data untuk Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi”. Saya beruntung diundang untuk menghadiri acara ini, karena selain pembicaranya adalah orang orang penting perekonomian baik dari internal Bank Indonesia, pemerintahan maupun dari pelaku pasar digital, tapi juga karena seminar ini menunjukkan keseriusan bank sentral dalam mengadopsi big data. Adopsi big data berarti adopsi metode dan teknologi pendukungnya. Bukanlah hal yang mudah untuk industri perbankan mengadopsi cara baru seperti big data.

Diantara penbicara adalah keynote speech dari Gubernur BI.  Pembicara panel pertama, Gubernur DKI Pak Djarot, Walikota Makasar Pak Ramdhan, dan Prof Soehono guru besar ITB. Pada sesi kedua pembicara panel adalah Direktur Statistik Bank Indonesia, Direktur Digital Strategic Pt Telkom, Direktur Transformasi TIK direktorat Pajak. Dilanjutkan keynote speech dari Menteri perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala Bappenas. Sesi ketiga diisi oleh Direktur Digital Banking Bank Mandiri, CEO Modalku, dan CEO Midtrans (VeriTrans). Sesi keempat diisi oleh CEO Tokopedia, Perwakilan Google Indonesia, dan CEO Gojek. 

Acara ini sangat menarik terutama pada segmen financial technology dan digital industry pada sesi ke 3 dan ke 4, dimana para pembicara dengan detail menceritakan suka duka industri digital indonesia serta tips dan trick untuk survive. Sedangkan pada sessi pertama tentang smart city, karena yang berbicara adalah para pemimpin pemerintahan (gubernur dan walikota), maka materi yang dibawakan agak kurang greget (terlalu global). 

IMG 8457IMG 8471IMG 8495IMG 8474IMG 8484IMG 8486IMG 8489 IMG 8498