Menjadi Narasumber Berdua Dengan Istri

Baru pertama kali mengisi acara workshop menjadi narasumber berdua, berduet dengan istri. Rasanya seru juga, sekalian jalan jalan bareng. Jadi ceritanya istri mendapatkan undangan untuk sharing di workshop penulisan karya ilmiah untuk jurnal nasional dan internasional dari Politeknik Negeri Pontianak (Polnep). Yang mengundang adalah jurusan Teknik Elektro. Berhubung keilmuan istri tidak langsung berhubungan dengan elektro, maka dia menawarkan ke panitia untuk didampingi saya sebagai lulusan Teknik Elektro (dan Informatika), biar nanti kalo ada pembahasan materi penelitian spesifik di area tersebut, narasumber bisa memberikan feedback langsung.

Acara workshop berjalan ramai dan seru, banyak pertanyaan dari peserta yang semuanya adalah dosen dosen Polnep. Setelah sesi presentasi dan tanya jawab mengenai teknis dan tips penulisan publikasi, acara dilanjutkan dengan sesi pembahasan / pemberian masukan ke publikasi yang sedang dibuat oleh para dosen. Disini acara berjalan seru, dengan diskusi yang cukup dalam. Semoga ilmu yang kami share bisa bermanfaat buat para peserta.

Oh ya, kebetulan kita berdua belum pernah berkunjung ke kota Pontianak sebelumnya, alhasil kita bukan hanya pergi berdua saja, tapi  langsung bawa sekalian si sulung dan si bungsu. Jadi Kita sekeluarga berempat pergi ke Pontianak. Setelah acara workshop, kita menginap dua hari (selama weekend) untuk menjadi turis di Pontianak. Kesan saya terhadap Pontianak adalah kota kuliner yang luar biasa. Pulang ke Bandung, berat badan tambah 2kg

Berikut foto foto acara workshop (bukan acara jalan jalannya). 

36745661 10156220991090202 5496537186499035136 n

36786390 10156220990750202 5429958020815650816 o

36677969 10156220990990202 4002202379276517376 n

36684843 10156220990395202 1481557966711685120 n

36826267 10156220990570202 6329781831428210688 n

36675033 10156220990775202 3316560783759900672 n

Mudik Lebaran 2018

Musim mudik lebaran 2018 ini diramaikan dengan berfungsinya tol tol fungsional sepanjang jalur mudik pulau jawa. Tol fungsional adalah tol sementara melewati jalur jalur yang nantinya akan digunakan sebagai jalur tol jawa. Beberapa ruas seperti Batang-Semarang, Salatiga-Solo, Nganjuk-Jombang masih berupa jalan jalan temporer (beton, aspal kasar, dll). Bahkan jembatang Kalikuto di Jawa Tengah yang menghubungkan tol fungsional tesebut baru selesai dibuat 2 hari menjelang lebaran. Saya dan keluarga tahun ini mudik jalur Bandung-Malang jadi bisa sedikit sharing / review mengenai jalur jalur yang kami lewati tersebut.

Kami berangkat dari Bandung tanggal 11 Juni 2018 pagi hari setelah sahur atau H-5 lebaran. Perjalanan menuju kota Malang menggunakan jalur selatan dengan rencana menginap semalam di sekitaran pantai Gunung Kidul (sebelah timur kota Jogja). Kami sengaja  tidak melakukan reservasi tempat menginap, karena tidak bisa memperkirakan dengan pasti jam berapa sampai di lokasi. Perjalanan dilakukan menusuri Nagrek, Tasikmalaya, menuju Kebumen, sebelum masuk kota Kebumen kami berbelok ke selatan, mengambil jalur pantai selatan jawa yang sangat indah dan sepi menuju Wates (Jogja). Dari Wates kami teruskan ke arah pantai Gunung Kidul. Kami sampai di pantai menjelang maghrib, sehingga agak kesulitan mencari penginapan yang sesuai dengan harapan (harapan kami penginapan yang menghadap ke pantai). Saat mencari kami sampai ke pantai Sundak, dan menemukan penginapan murah Omah Sundak. Biaya semalam adalah 350 ribu / kamar untuk 4 orang. Karena keburu capek dan harga yang masuk akal, kami tidak menawar lagi. Jadilah kami mengambil penginapan tersebut. Saya sendiri langsung tertidur pulas sehabis seharian nyupir … 

Bangun pagi hari kami dikagetkan pemandangan indah ke arah pantai dari tempat kami menginap. Lihat fotonya berikut, indah khan ?. 

35058177 10156162078570202 5272774617352634368 n

Pemandangan Pantai Sundak dari Balkon Kamar

Dilihat dari harga yang dibayarkan, maka penginapan tersebut sangatlah murah. Kami habiskan pagi itu bermain di pantai sampai tidak terasa sudah pukul 11 siang.  Setelah check out perjalanan kami teruskan ke arah kota Solo untuk mencoba tol Solo – Surabaya. Jalan tol yang kami lalui sangat memperlancar perjalanan kami, sayangnya saat mencapai Nganjuk, kami diminta keluar dari jalan tol fungsional tersebut. Ditengah keheranan kami baca sekilas pemberitahuan kalau tol fungsional dibuka dari jam 6 pagi sampai 5 sore, wah tahu gitu tadi berangkat dari pantainya ga usah siang siang. Berhubung sudah keluar tol, maka perjalanan Nganjuk-Malang via Jombang terasa lama, karena selain kepadatan jalan, simpang lampu merah, dan juga kondisi aspal yang banyak keriting.

Tidak mau mengulangi kesalahan saat arus mudik, perjalanan arus balik Malang-Bandung, kami rencanakan sebaik mungkin. Kami berangkat setelah subuh dari malang menuju Surabaya pada tanggal 19 Juni.  Rencananya kami akan terus berada di jalan tol (biasa dan fungsional) mulai dari Surabaya sampai Bandung. Di Jawa Timur dari Surabaya menuju Jombang, jalan tol resmi dan sangat bagus (nama resminya Jalan Tol Salatiga-Kertosono). Jalan tol ini termasuk baru, beberapa rest area masih dibangun ala kadarnya, namun toilet, mushola, mini market, warung, bahkan sampai ATM pun tersedia. Di jalan tol ini kami bisa melaju 130-140 kpj dengan santainya. Setelah Jombang, kami melewati jalan tol fungsional yang berbentuk jalan darurat terbuat dari beton cor, dan beberapa jalan tanah. Di ruas ini mobil hanya bisa melaju 40-60 kpj. Ruas ini berhenti di Nganjuk dan berganti jalan tol biasa, sehingga kami bisa memacu mobil kembali diatas kecepatan 100 kpj.

Tol biasa rute dari Nganjuk hanya sampai kota Solo, selebihnya kami harus keluar jalan tol untuk menuju Salatiga.  Akibatnya dengan menggunakan jalan raya biasa, jarak sekitar 40 km kami tempuh dalam waktu cukup lama (2.5 jam). Sesampai di Salatiga kami kembali memasuki jalan tol biasa menuju tol lingkar Semarang. Selanjutnya dari Semarang – Batang kami melewati kembali tol fungsional dengan berbagai macam jenis jalan, tapi overall kami masih bisa berjalan rata rata sekitar 80 kpj. Perjalanan dilanjutkan menuju tol Pejagan, tol PaliKanci, tol Cipali, dan akhirnya tol Purbaleunyi sampai ke kota Bandung. Sepanjang tol PaliKanci sampai tol Cipali diberlakukan kebijaksanaan contra flow, sehingga arus balik berjalan sangat lancar. 

Total perjalanan Malang – Bandung tahun ini adalah 15 jam, ini merupakan rekor tersendiri karena pada mudik mudik sebelumnya kami biasanya membutuhkan waktu 24 jam lebih. Bravo manajemen transportasi mudik tahun ini  !! Perjalanan jadi lebih lancar dan lebih tidak capek …

 

35817921 10156181204445202 7116037605698830336 n

Sunset di tol Palimanan

Posisi Manajerial

Posisi manajerial atau struktural manajerial pada suatu organisasi adalah posisi inti (pemimpin / nahkoda) pada bidangnya masing masing untuk mendukung keberlangsungan operasional organisasi. Demikian juga pada organisasi pendidikan (kampus). Posisi manajerial tentunya bertolak belakang dengan posisi dosen biasa. Walaupun pengisi posisi tersebut biasanya diambil dari dosen biasa juga. Namun ada perbedaan signifikan adalah, dosen biasa hanya cukup memikirkan beban kerja pribadi, apakah aktivitasnya sudah memenuhi syarat minimal pada pengajaran, riset, dan pengabdian masyarakat. Tidak jarang beberapa dosen pandai mengatur waktu sehingga, mereka bisa berkarya lebih seperti mempunyai waktu untuk membuat riset lebih banyak, menulis buku, proyek pengabdian masyarakat dan lain sebagainya. Namun semua itu masih terpusat pada target pribadi. Bahkan mungkin malah banyak juga yang tidak tahu (tidak memperoleh informasi) mengenai kondisi strategis kampus, day to day atau month to month operation, karena aktivitas berpusat pada masing masing individu dosen. 

Jabatan manajerial membuat kita berpikir lebih luas (makro), membuat kebijaksanaan, menjalankan pelaksanaan kegiatan, melakukan pengawasan, dan evaluasi kegiatan berkerja sama dengan organ fungsi lain di kampus. Tujuannya adalah untuk pengembangan kampus dan “sustainibility”nya. Saya sendiri bukan orang yang belajar khusus mengenai organisasi, tapi rasanya saya bisa memperkirakan bagaimana caranya mendukung tujuan (visi dan misi) kampus. 

Tulisan ini berkaitan dengan kabar terbaru “agak mengejutkan” yang saya terima beberapa hari yang lalu, yaitu promosi untuk mengisi salah satu jabatan manajerial di kampus. Menjadi bagian dari manajemen bukan merupakan pekerjaan mudah. Akan terjadi perubahan paradigma, dari yang terbiasa prioritas kerja dosen biasa, sekarang saya harus berpikir lebih luas. Tugas saya di research center, yang artinya lebih banyak fokus kepada “enhance” aktivitas riset dalam bentuk kolaborasi, hibah, kemudian juga aplikasinya ke dalam dunia nyata. Salah satu output nyatanya adalah Non Tuition Fee. Cukup berat, tapi rasanya tidak perlu kuatir, karena potensi dosen di kampus cukup besar untuk mendukung hal hal diatas, tinggal dikondisikan saja.

Tapi sepertinya nanti saya tidak akan bisa sering sering untuk update blog seperti sebelumnya, but lets see ..

 

IMG 5653

Membiasakan Review Tempat Makan

Saya dan keluarga punya hobi cukup boros yaitu makan di luar, ini lebih karena saya dan istri sama sama sibuk dengan aktivitas sehari hari, sehingga tidak selalu punya waktu untuk masak. Solusi praktisnya adalah cari tempat makan diluar (makan di restoran). Di kota Bandung sendiri banyak sekali bertebaran tempat makan dalam berbagai ukuran, mulai cafe kecil sampe restoran besar, menu dan temanya pun bermacam macam, ada yang menjual kualitas masakan, dan ada juga yang hanya menjual suasana.

Kalo dilihat lihat sepertinya banyak juga profil keluarga seperti saya, yaitu suka makan di luar, namun hal yang menganggu adalah sulit mencari informasi tempat makan yang diinginkan. Beberapa ingin mencari tempat makan khas negara / daerah tertentu, beberapa ingin restoran khusus menu tertentu, beberapa hanya ingin tempat nongkrong (hanya mencari suasana, dan tidak perduli rasa), beberapa mencari tempat makan dengan harga terjangkau. Mencari informasi / review tempat makan bukan hal yang mudah, selama ini mencari ide tempat makan  tujuan biasanya diperoleh dari instagram, berupa promosi tempat dengan foto foto bagus, namun kurang berisi review tempat makan tersebut.

Saya hanya baru menemukan satu aplikasi untuk review tempat makan, yang rasanya perlu saya bagi, sehingga rekan rekan semua bisa menuliskan pengalaman / review mengenai suatu tempat makan. Aplikasinya bernama QRAVED. Aplikasi ini tersedia pada versi mobile untuk IOS dan Android. Saya rasa dengan banyaknya review yang dituliskan, maka kita bisa saling bertukar pengalaman mengenai rasa makanan, pelayanan, suasana, dan harga tempat makan tertentu. Saya membiasakan diri melakukan review tempat makan. By the way, saya tidak berafiliasi dengan aplikasi tersebut. Silahkan dicoba, kalau ada aplikasi / website review tempat makan lainnya, mohon diinfokan.

edit tanggal 9 juni 2018, saya baru tahu kalo kita juga bisa memberikan review lokasi di google, termasuk lokasi tempat makan. jadi bisa menambah pengetahuan baru 

 

 

IMG 5495

Diwawancara Radio PRFM tentang Big Data dan Politik

Salah satu rekan di Labtek Indie menanyakan ke saya: apakah saya bersedia mengisi acara talk show di Radio PRFM News mengenai pilkada. Kebetulan beberapa riset Big Data yang terakhir saya lakukan di lab. SCBD adalah mengenai kondisi politik di Indonesia menjelang tahun pemilu 2019. Tanpa pikir panjang saya langsung iyakan saja. Menurut saya ini adalah peluang untuk memperkenalkan metode Social Computing (kuantifikasi perilaku sosial) atau Computational Social Science sebagai alternatif atau pelengkap metode survei dan perhitungan cepat (quick count) sebagai metode legacy yang umum dilakukan pada pelaksanaan pemilihan umum (daerah) di Indonesia. Sebagai informasi Radio PRFM News adalah salah satu radio di Bandung yang konsisten memunculkan isu isu sosial masyarakat sebagai bahan kajian acara. Labtek Indie sendiri mempunyai program peningkatan awareness dan edukasi ke masyarakat luas, jadi kesediaan diwawancara mengisi talk show adalah untuk diseminasi pengetahuan dan membantu awareness masyarakat akan program riset Labtek Indie.  

Di beberapa negara maju eksploitasi data media sosial sudah wajar dilakukan dengan tujuan untuk menjalankan proses microtargeting, yaitu profiling demografi pemilih sampai sedetail mungkin, contohnya hobi, afiliasi partai politik, pekerjaan, lingkaran teman dekat dan lain sebagainya. Seperti pada umumnya aktivitas bisnis, terutama aktivitas marketing, microtargeting mengelompokkan pasar agar organisasi bisnis bisa menawarkan produk / program iklan dengan lebih akurat ke sasaran pasar. Ingat kasus Cambridge Analytica dan Facebook, sebagai salah satu contoh usaha microtargeting untuk kepentingan politik.

Diskusi dengan kang Basith sebagai pembawa acara berjalan seru, beliau menanyakan mengenai beberapa hal, antara lain: 1. Bagaimana memanfaatkan data media sosial untuk kepentingan politik dan bisnis, 2. Perbandingan metode survei (termasuk perhitungan cepat) dengan metode Big Data, 3. Pembahasan perubahan pola interaksi manusia karena kemajuan teknologi, 4. Apakah kemajuan teknologi berpengaruh besar terhadap proses politik di Indonesia, 5. Opini mengenai random sampling yang dilakukan lembaga riset Charta Politika yang menggunakan sampel “hanya” sebesar 2000 orang, 6. Cara pengumpulan data dan penjelasan singkat mengenai metode Big Data yang saya usulkan.

Pendengar siaran radio juga diajak untuk berdiskusi melalui telepon, twitter, dan sms. Pertanyaan paling menarik menurut saya adalah mengenai akurasi metoda quick count (perhitungan cepat) dengan menggunakan jumlah sampel terbatas dibandingkan dengan metoda usulan saya. Pertanyaan ini bukan pertanyaan yang bisa dijawab secara sederhana mana yang lebih unggul, karena banyak faktor yang berpengaruh pada metode Big Data, diantaranya yang paling penting adalah kualitas data. Namun hasil metode Big Data ini bisa menjadi pelengkap / verifikasi dari metode legacy dan juga tentunya metode Big Data lebih cepat dan lebih murah, seiring kemajuan teknologi.  Tantangan dalam berdiskusi dengan khalayak umum seperti di radio, adalah saya harus bisa menjelaskan dengan bahasa awam agar supaya mudah dipahami. Semoga kemarin pada pendengar radio tidak kesulitan memahami ide yang saya sampaikan.

Berikut foto fotonya:

 

33156243 10156113101665202 8816779869628137472 n

33135315 10156113102140202 5984036100811784192 n33098191 10156113102000202 9154226117110923264 n33089695 10156113101815202 6617659208512831488 n33076828 10156113102205202 5004784768504561664 n

Tulisan Big Data di Koran Pikiran Rakyat

Sudah sekian lama tidak menulis di media massa, akhirnya pada tanggal 23 April 2018 tulisan saya bersama dengan bu Lia Yuldinawati muncul di koran Pikiran Rakyat. Judul tulisan ini adalah “Di Era Big Data Internet Menjadi Kebutuhan Mendasar”. Tulisan ini menggambarkan bagaimana Big Data dapat diimplementasikan dalam segala lini kehidupan masyarakat untuk mendapatkan gambaran akurat mengenai gejolak sosial yang ada. Selama ini saya punya hardcopy artikelnya jadi belum sempet saya tuliskan di blog, tapi berkat bantuan rekan rekan dari Labtek Indie akhirnya saya mendapatkan softcopy tulisan tersebut. Monggo silahkan di klik gambar di bawah ini (ukuran 6 MB) untuk membaca artikelnya.

Image uploaded from iOS31144055 10156048637080202 7372322053127628631 n31143894 10156048637110202 6074305054173965283 n

Ga Percaya Indonesia Cantik ? Datang Aja ke Raja Ampat

Pada suatu kesempatan saya mengikuti konferensi ilmiah di kota Sorong, Papua Barat. Bersama rombongan dosen dosen muda yang mayoritas adalah dosen ITB. Konferensi di Papua merupakan hal yang spesial karena secara geografis lokasinya jauh, akan tetapi masyarakat lokal membutuhkan kegiatan akademis seperti workshop atau konferensi ilmiah seperti ini. Konferensi ini diadakan oleh Forum Peneliti Muda Indonesia (ForMIND). Setelah seharian wokshop dan seminar, besoknya dilanjutkan dengan perjalanan berkunjung ke Raja Ampat yang terkenal sebagai surga tersembunyinya Indonesia.

Raja Ampat merupakan kepulauan yang terletak di sebelah barat utara kota Sorong. Daerah ini memang sedang jadi primadona pariwisata Indonesia. Dari kota Sorong, Raja Ampat bisa dicapai menggunakan kapal boat selama 2 jam menuju Pulau Pianemo. Di Pianemo kita bisa melihat pemandangan Raja Ampat dan sekitar dari ketinggian bukit yang ada. Oh ya sepanjang perjalanan pulang dan pergi ke Pulau Pianemo, kami beberapa kali berhenti mencari spot bagus untuk snorkeling. Sebelum kembali ke Sorong, kami juga mampir ke Pulau Waigeo, Pulau terbesar di kawasan Raja Ampat, ngobrol dan mancing bersama penduduk setempat.

Satu catatan yang menarik dari snorkling di Raja Ampat, adalah orang lokal lumayan cerewet memperingatkan kita untuk tidak menginjak karang. Selama pengalaman saya snorkling di Karimun Jawa, Gili Trawangan, Pulau Belitung, dan Pahawang Lampung, tidak pernah rasanya dicerewetin guide atau penduduk lokal tentang karang. Oh ya menurut penelitian karena pemanasan global dunia, membuat laut menjadi lebih asam dari sebelumnya, yang berakibat saat ini terumbu karang menjadi lebih rapuh dan gampang rusak. Walaupun kunjungan singkat, tapi saya sangat terkesan dengan Raja Ampat, suatu saat nanti saya bisa kembali untuk sengaja berlibur dengan keluarga.

Berikut ini adalah foto fotonya

22789189 10155573378435202 4473515980535523794 n

22789044 10155573375860202 4320368276975292896 n

22788935 10155573375870202 8516333978566355723 n

22788835 10155573426495202 2399534056098268904 n

22853340 10155573378570202 1400067681445633542 n

22859679 10155571441255202 5491912419816257917 o

Film Ready Player One dan Masa Depan Dunia adalah Maya

Weekend kemarin saat lagi jalan jalan, ada chat dari teman masuk, isinya kurang lebih ngasih tahu kalau ada film “kayaknya” keren garapan Steven Spielberg. Temen saya ini belum nonton juga, jadi yah kita menduga duga kalau filmnya bagus, biasanya Steven Spielberg sih kalo bikin film ceritanya “beda”. Karena kebetulan lagi di mall maka saya langsung intip ke bioskop Cinemax. Eh langsung ketemu filmya lagi diputer, dan ternyata jam tayangnya setengah jam lagi. Jadi langsung deh kita beli tiket. Judul filmnya Ready Player One. Sebetulnya emang asyik sih masuk ke bioskop tanpa ekspektasi apa apa tentang filmnya, dan tidak baca review sama sekali. Beberapa minggu sebelumnya saya juga masuk ke bioskop “ngasal” pas nonton film RedSparrow. Lumayan bagus filmnya 

Sedikit spoiler, film ini ceritanya dimasa depan tidak jauh dari sekarang, dimana game Virtual Reality tidak hanya sekedar game, tapi menjadi bagian penting dari kehidupan manusia. Kondisi dunia nyata yang jauh dari ideal karena polusi, kemiskinan, korupsi, depresi dan lain lain, membuat manusia lebih betah bersosialisasi di pada dunia maya. Dunia maya yang disebut Oasis merupakan tempat dimana manusia mengumpulkan reputasi, bekerja sama, berkompetisi, dan bekerja layaknya seperti di dunia nyata.

Saya tidak akan membahas tentang cerita filmnya, tapi saya lebih tertarik dengan teknologi yang sebentar lagi terjadi. Fenomena seperti reputation economy, disruptive technology, kemajuan pada game virtual reality yang mendekati kenyataan, UI / UX, dan faktor pendukung lainnya. Dari konvergensi faktor faktor diatas rasanya memang kondisi pada film tersebut tidak lama lagi akan tercapai. Selama ini kita impian kita adalah dunia nyata yang lebih baik, namun bisa jadi yang terbentuk adalah dunia maya yang merupakan idealisasi dunia nyata seharusnya, karena kondisi ekonomi, pemerintahan, politik global pada dunia nyata yang tidak kunjung membaik.

Di saat manusia merasa nyaman dan relevan dengan dunia maya, dengan berbagai macam alasannya, apakah ini yang disebut sebagai dunia parallel (dunia maya dan dunia nyata). Disaat manusia memimpikan dunia (nyata) yang lebih baik, dimana kemungkinan tidak tercapai, maka dunia maya adalah jawabannya.  Malah mungkin dunia masa depan kita dibentuk oleh industri game hari ini, dimana aktivitas ekonomi dan produktivitas yang ideal terletak pada dunia maya. Jadi bagaimana kita menyikapinya, rasanya cukup exciting melihat dunia masa depan anak cucu kita nanti. 

 

RPO 620x349 IT

Narasumber Big Data

Semenjak lulus sidang terbuka (ujian promosi doktor) bulan januari 2018 kemarin, saya merasa jauh lebih bebas memikirkan riset, memikirkan keilmuan, dan memikirkan hal hal lain termasuk topik Big Data. Dulu boro boro mau mikirin banyak hal, kalo urusan disertasi belum beres rasanya ga mau mikirin yang lain. Ini lebih karena takut yang dikerjakan di disertasi jadi lupa ..hehe. Karena lagi masa “tenang”, eh Ndilalah (ini basa jawa artinya tiba tiba) kok banyak datang tawaran jadi narasumber topik Big Data. Berhubung kebebasan mencari ide dan bercerita soal Big Data lagi banyak, maka saya iyain tawaran tersebut, lagian tawarannya deket, cuman di bandung dan jakarta, sebenernya ada satu tawaran lagi di jogja, terpaksa saya tolak, karena bentrok dengan acara yang di bandung. 

Narasumber pertama adalah di SBM-ITB dalam rangka pembukaan (Kick-Off) Seminar Lab. Big Data Analysis dan Social Simulation. Kebetulan nama lab nya mirip dengan lab saya (Social Computing dan Big Data). Ternyata memang ruang lingkupnya pun mirip, jadi asyiknya sekarang saya punya rujukan untuk kolaborasi riset tentang studi manusia / sosial menggunakan Big Data. Kebetulan ketua lab tersebut adalah teman waktu sama sama kuliah S1 di Matematika ITB. Jadi memang networking itu benar adanya. Saya yakin dengan kemampuan rekan saya (yang sealmamater ini) dalam membawa lab ini menjadi sukses. Sekali lagi selamat SBM ITB. 

Topik seminar SBM adalah “Big Data Development in Education and Business Practice”, dari topik besar tersebut saya jadi memikirkan kembali kenapa edukasi Big Data di Indonesia belum kedengaran gaungnya, padahal industri / bisnis lagi banyak mencari info dan talenta. Dari pemikiran tersebut maka muncul pemetaan kelimuan dan profesi Data Scientist yang saya tulis di blog ini. Dipikir pikir semakin sering jadi narasumber dan disodorin topik topik tertentu berkaitan dengan keahlian kita, maka semakin kita menguasai topik yang kita “rasa” kuasai dari berbagai sudut pandangan. 

Narasumber kedua adalah menjadi pembicara di acara BMKG (Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika). BMKG sedang menyambut hari jadi ke 68 hari meteorologi dunia. Untuk menyambut hari tersebut, mereka mengadakan seminar ilmiah dengan tema “Implementasi Big Data dan Artificial Intelligence untuk Peningkatan Layanan Kecepatan dan Akurasi Layanan Informasi BMKG”. Pembicara yang diundang adalah dari LIPI, UI, ITS, Grab, Solusi247, Telkom Indonesia, Schumberger, dan saya sendiri mewakili Telkom University. Materi yang saya bawakan berkaitan dengan peran Big Data dalam memahami perilaku manusia. Sepertinya topik saya tidak bersinggungan langsung dengan BMKG, akan tetapi ternyata misi dari BMKG sendiri adalah melihat kemajuan terkini terkait penelitian Big Data dalam segala bidang. 

Menjadi narasumber dalam suatu acara merupakan kesempatan bagus untuk menjalin jaringan dengan orang orang yang satu rumpun keilmuan dengan kita, atau bisa juga yang keilmuan tidak sama tapi mempunyai minat yang sama. Oh ya ngomong ngomong kenapa saya yang dipilih jadi narasumber di BMKG, rupanya alasannya sama dengan yang SBM, lagi lagi di BMKG ada rekan sesama almamater di S1 Matematika dulu.  ternyata oh ternyata .. eh tapi bukan hanya karena pertemanan lho saya diundang, tapi pertemanan bisa membantu menemukan siapa teman kita yang punya kemampuan seperti yang kita inginkan

Next Narasumber ? .. ada deh bulan bulan depan, nanti diupdate lagi beritanya.

Foto fotonya …

 

IMG 9170IMG 9284IMG 91636f520024 7198 43f1 80a6 ac297618d74e

 

 

Polarisasi Opini dan Mekanisme Perpecahan Bangsa

Bicara mengenai keramaian di medsos tentang berbagai isu tidak akan pernah ada habisnya. Mudah sekali melihat postingan saling hujat, permusuhan, gosip, kecemburuan dan hal hal negatif lainnya terlontar. Menjelang Pemilu 2019, situasi ini menjadi lebih tidak karuan, bahkan makin kompleks. Kalau kita mengikuti alur opini yang ada tentu akan sangat menghabiskan waktu dan tenaga. Saya pernah share di entry ini mengenai bagaimana seharusnya kita bersikap. Saya tulis bukan berarti kita harus ignorant, akan tetapi saya menyarankan untuk memahami kelompok yang mempunyai pendapat berlawanan dengan kita atau kelompok kita. Sebelum kita menceburkan diri dalam suatu kelompok/opini yang ada, ada baiknya kita juga pahami kelompok lawan. 

Pada saat saya kuliah S2 di Prancis, bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Prancis, akibatnya saya cukup kerepotan memahami percakapan sehari hari. Secara tidak langsung, terbentuk kelompok pertemanan diantara temen kuliah, yaitu kelompok berbahasa native , dan kelompok mahasiswa asing yang bahasa Prancisnya pas pasan. Pembentukan kelompok secara natural ini disebut sebagai Homophily dalam metode jejasing sosial ( Social Network Analysis ). Singkat kata jurang pembeda antara kami mahasiswa asing dan mahasiswa lokal menjadi semakin jauh waktu itu, karena komunikasi kami yang tidak lancar (dan cukup merepotkan / perlu usaha besar)

Homophilly terjadi karena persamaan hobi, bahasa, budaya, dan motif lainnya. Contoh lebih mudah disekitar kita adalah contoh orang jawa dan orang sunda. Guyonan orang jawa akan terasa lucu bagi orang jawa, jika diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia jadi ga lucu, apalagi ke dalam bahasa sunda. Makanya kalo orang jawa bikin guyonan, yang ketawa hanya orang jawa. Demikian pula dengan orang sunda. Perbedaan bahasa dan budaya ini membuat orang jawa lebih suka berkumpul dengan orang jawa, demikian juga dengan orang sunda. Sangat sedikit jejaring sosial berbentuk Heterophilly (lawan Homophily).

Kembali ke medsos, saat ini analogi Homophily sedang terjadi, banyak diantara kita yang tidak setuju opini teman kita, maka dengan mudah melakukan unfriend, kita hanya menerima pertemanan dari orang orang yang seide dengan kita. Akibatnya opini akan bergaung (amplify) di dalam kelompoknya sendiri. Sementara diseberang sana kelompok lawan juga mengalami hal yang sama. Jurang opini antar kelompok semakin besar, sehingga membahayakan persatuan organisasi (termasuk negara). Saya amati jika seseorang sudah punya opini, maka yang dilakukan adalah mencari persetujuan diantara lingkungan sosialnya akan opininya tersebut. Ini disebut sebagai predefined opinion. Orang orang dengan predefined opinion umumnya sudah sulit diubah opininya. Oleh kerena sebenarnya adu argumentasi di medsos dengan tujuan merubah pandangan orang lain menurut saya sia sia saja.

Gambar berikut ini contoh visualisasi Homophily pada studi anak anak SMP di Amerika, yaitu pertemanan antara anak anak kulit putih dan kulit hitam dan berwarna lainnya. Terlihat polarisasi pengelompokan antara dua kubu. Hal ini menunjukkan Homophily adalah fenomena umum. Gambar diambil dari buku Newman (Network: An Introduction).

Screen Shot 2018 02 26 at 18 40 07  2

Terus solusinya gimana dong. Ide saya sih adalah bagaimanapun perilaku jaringan adalah agregasi dari perilaku individu, jadi edukasi / literasi tentang bahaya perpecahan ini layak diberikan. Dengan pemahaman tersebut, maka saya yakin polarisasi yang ekstrim tidak akan terbentuk. Terdengar mudah yah, padahal susah prakteknya … ya saya tahu .. memang susah mencari solusi mudah supaya tidak terjadi perpecahan bangsa. Cara lain yah dari tokoh atau pemimpin kelompok supaya meredam jurang pemisah antar kelompok.