Menjadi Narasumber Berdua Dengan Istri

Baru pertama kali mengisi acara workshop menjadi narasumber berdua, berduet dengan istri. Rasanya seru juga, sekalian jalan jalan bareng. Jadi ceritanya istri mendapatkan undangan untuk sharing di workshop penulisan karya ilmiah untuk jurnal nasional dan internasional dari Politeknik Negeri Pontianak (Polnep). Yang mengundang adalah jurusan Teknik Elektro. Berhubung keilmuan istri tidak langsung berhubungan dengan elektro, maka dia menawarkan ke panitia untuk didampingi saya sebagai lulusan Teknik Elektro (dan Informatika), biar nanti kalo ada pembahasan materi penelitian spesifik di area tersebut, narasumber bisa memberikan feedback langsung.

Acara workshop berjalan ramai dan seru, banyak pertanyaan dari peserta yang semuanya adalah dosen dosen Polnep. Setelah sesi presentasi dan tanya jawab mengenai teknis dan tips penulisan publikasi, acara dilanjutkan dengan sesi pembahasan / pemberian masukan ke publikasi yang sedang dibuat oleh para dosen. Disini acara berjalan seru, dengan diskusi yang cukup dalam. Semoga ilmu yang kami share bisa bermanfaat buat para peserta.

Oh ya, kebetulan kita berdua belum pernah berkunjung ke kota Pontianak sebelumnya, alhasil kita bukan hanya pergi berdua saja, tapi  langsung bawa sekalian si sulung dan si bungsu. Jadi Kita sekeluarga berempat pergi ke Pontianak. Setelah acara workshop, kita menginap dua hari (selama weekend) untuk menjadi turis di Pontianak. Kesan saya terhadap Pontianak adalah kota kuliner yang luar biasa. Pulang ke Bandung, berat badan tambah 2kg

Berikut foto foto acara workshop (bukan acara jalan jalannya). 

36745661 10156220991090202 5496537186499035136 n

36786390 10156220990750202 5429958020815650816 o

36677969 10156220990990202 4002202379276517376 n

36684843 10156220990395202 1481557966711685120 n

36826267 10156220990570202 6329781831428210688 n

36675033 10156220990775202 3316560783759900672 n

Mudik Lebaran 2018

Musim mudik lebaran 2018 ini diramaikan dengan berfungsinya tol tol fungsional sepanjang jalur mudik pulau jawa. Tol fungsional adalah tol sementara melewati jalur jalur yang nantinya akan digunakan sebagai jalur tol jawa. Beberapa ruas seperti Batang-Semarang, Salatiga-Solo, Nganjuk-Jombang masih berupa jalan jalan temporer (beton, aspal kasar, dll). Bahkan jembatang Kalikuto di Jawa Tengah yang menghubungkan tol fungsional tesebut baru selesai dibuat 2 hari menjelang lebaran. Saya dan keluarga tahun ini mudik jalur Bandung-Malang jadi bisa sedikit sharing / review mengenai jalur jalur yang kami lewati tersebut.

Kami berangkat dari Bandung tanggal 11 Juni 2018 pagi hari setelah sahur atau H-5 lebaran. Perjalanan menuju kota Malang menggunakan jalur selatan dengan rencana menginap semalam di sekitaran pantai Gunung Kidul (sebelah timur kota Jogja). Kami sengaja  tidak melakukan reservasi tempat menginap, karena tidak bisa memperkirakan dengan pasti jam berapa sampai di lokasi. Perjalanan dilakukan menusuri Nagrek, Tasikmalaya, menuju Kebumen, sebelum masuk kota Kebumen kami berbelok ke selatan, mengambil jalur pantai selatan jawa yang sangat indah dan sepi menuju Wates (Jogja). Dari Wates kami teruskan ke arah pantai Gunung Kidul. Kami sampai di pantai menjelang maghrib, sehingga agak kesulitan mencari penginapan yang sesuai dengan harapan (harapan kami penginapan yang menghadap ke pantai). Saat mencari kami sampai ke pantai Sundak, dan menemukan penginapan murah Omah Sundak. Biaya semalam adalah 350 ribu / kamar untuk 4 orang. Karena keburu capek dan harga yang masuk akal, kami tidak menawar lagi. Jadilah kami mengambil penginapan tersebut. Saya sendiri langsung tertidur pulas sehabis seharian nyupir … 

Bangun pagi hari kami dikagetkan pemandangan indah ke arah pantai dari tempat kami menginap. Lihat fotonya berikut, indah khan ?. 

35058177 10156162078570202 5272774617352634368 n

Pemandangan Pantai Sundak dari Balkon Kamar

Dilihat dari harga yang dibayarkan, maka penginapan tersebut sangatlah murah. Kami habiskan pagi itu bermain di pantai sampai tidak terasa sudah pukul 11 siang.  Setelah check out perjalanan kami teruskan ke arah kota Solo untuk mencoba tol Solo – Surabaya. Jalan tol yang kami lalui sangat memperlancar perjalanan kami, sayangnya saat mencapai Nganjuk, kami diminta keluar dari jalan tol fungsional tersebut. Ditengah keheranan kami baca sekilas pemberitahuan kalau tol fungsional dibuka dari jam 6 pagi sampai 5 sore, wah tahu gitu tadi berangkat dari pantainya ga usah siang siang. Berhubung sudah keluar tol, maka perjalanan Nganjuk-Malang via Jombang terasa lama, karena selain kepadatan jalan, simpang lampu merah, dan juga kondisi aspal yang banyak keriting.

Tidak mau mengulangi kesalahan saat arus mudik, perjalanan arus balik Malang-Bandung, kami rencanakan sebaik mungkin. Kami berangkat setelah subuh dari malang menuju Surabaya pada tanggal 19 Juni.  Rencananya kami akan terus berada di jalan tol (biasa dan fungsional) mulai dari Surabaya sampai Bandung. Di Jawa Timur dari Surabaya menuju Jombang, jalan tol resmi dan sangat bagus (nama resminya Jalan Tol Salatiga-Kertosono). Jalan tol ini termasuk baru, beberapa rest area masih dibangun ala kadarnya, namun toilet, mushola, mini market, warung, bahkan sampai ATM pun tersedia. Di jalan tol ini kami bisa melaju 130-140 kpj dengan santainya. Setelah Jombang, kami melewati jalan tol fungsional yang berbentuk jalan darurat terbuat dari beton cor, dan beberapa jalan tanah. Di ruas ini mobil hanya bisa melaju 40-60 kpj. Ruas ini berhenti di Nganjuk dan berganti jalan tol biasa, sehingga kami bisa memacu mobil kembali diatas kecepatan 100 kpj.

Tol biasa rute dari Nganjuk hanya sampai kota Solo, selebihnya kami harus keluar jalan tol untuk menuju Salatiga.  Akibatnya dengan menggunakan jalan raya biasa, jarak sekitar 40 km kami tempuh dalam waktu cukup lama (2.5 jam). Sesampai di Salatiga kami kembali memasuki jalan tol biasa menuju tol lingkar Semarang. Selanjutnya dari Semarang – Batang kami melewati kembali tol fungsional dengan berbagai macam jenis jalan, tapi overall kami masih bisa berjalan rata rata sekitar 80 kpj. Perjalanan dilanjutkan menuju tol Pejagan, tol PaliKanci, tol Cipali, dan akhirnya tol Purbaleunyi sampai ke kota Bandung. Sepanjang tol PaliKanci sampai tol Cipali diberlakukan kebijaksanaan contra flow, sehingga arus balik berjalan sangat lancar. 

Total perjalanan Malang – Bandung tahun ini adalah 15 jam, ini merupakan rekor tersendiri karena pada mudik mudik sebelumnya kami biasanya membutuhkan waktu 24 jam lebih. Bravo manajemen transportasi mudik tahun ini  !! Perjalanan jadi lebih lancar dan lebih tidak capek …

 

35817921 10156181204445202 7116037605698830336 n

Sunset di tol Palimanan

Posisi Manajerial

Posisi manajerial atau struktural manajerial pada suatu organisasi adalah posisi inti (pemimpin / nahkoda) pada bidangnya masing masing untuk mendukung keberlangsungan operasional organisasi. Demikian juga pada organisasi pendidikan (kampus). Posisi manajerial tentunya bertolak belakang dengan posisi dosen biasa. Walaupun pengisi posisi tersebut biasanya diambil dari dosen biasa juga. Namun ada perbedaan signifikan adalah, dosen biasa hanya cukup memikirkan beban kerja pribadi, apakah aktivitasnya sudah memenuhi syarat minimal pada pengajaran, riset, dan pengabdian masyarakat. Tidak jarang beberapa dosen pandai mengatur waktu sehingga, mereka bisa berkarya lebih seperti mempunyai waktu untuk membuat riset lebih banyak, menulis buku, proyek pengabdian masyarakat dan lain sebagainya. Namun semua itu masih terpusat pada target pribadi. Bahkan mungkin malah banyak juga yang tidak tahu (tidak memperoleh informasi) mengenai kondisi strategis kampus, day to day atau month to month operation, karena aktivitas berpusat pada masing masing individu dosen. 

Jabatan manajerial membuat kita berpikir lebih luas (makro), membuat kebijaksanaan, menjalankan pelaksanaan kegiatan, melakukan pengawasan, dan evaluasi kegiatan berkerja sama dengan organ fungsi lain di kampus. Tujuannya adalah untuk pengembangan kampus dan “sustainibility”nya. Saya sendiri bukan orang yang belajar khusus mengenai organisasi, tapi rasanya saya bisa memperkirakan bagaimana caranya mendukung tujuan (visi dan misi) kampus. 

Tulisan ini berkaitan dengan kabar terbaru “agak mengejutkan” yang saya terima beberapa hari yang lalu, yaitu promosi untuk mengisi salah satu jabatan manajerial di kampus. Menjadi bagian dari manajemen bukan merupakan pekerjaan mudah. Akan terjadi perubahan paradigma, dari yang terbiasa prioritas kerja dosen biasa, sekarang saya harus berpikir lebih luas. Tugas saya di research center, yang artinya lebih banyak fokus kepada “enhance” aktivitas riset dalam bentuk kolaborasi, hibah, kemudian juga aplikasinya ke dalam dunia nyata. Salah satu output nyatanya adalah Non Tuition Fee. Cukup berat, tapi rasanya tidak perlu kuatir, karena potensi dosen di kampus cukup besar untuk mendukung hal hal diatas, tinggal dikondisikan saja.

Tapi sepertinya nanti saya tidak akan bisa sering sering untuk update blog seperti sebelumnya, but lets see ..

 

IMG 5653

Lari Pagi Hari Saat Puasa, Siapa Takut?

Pada saat bulan puasa, kita cenderung menghemat tenaga agar supaya bisa bertahan puasa seharian, dengan indikasi badan masih kuat pada saat menjelang berbuka puasa. Banyak yang cenderung melakukan olah raga (termasuk lari) pada saat menjelang berbuka atau malam hari. Saya berhitung tentang hal ini, saya tahu batas kekuatan badan saya. Jadi harusnya kita akan kuat berlari kalau asupan karbohidrat berlimpah, kemudian berlari dengan kecepatan rendah, agar supaya heart rate rendah. Heart rate rendah mencegah keluar tenaga berlebih (tak terkontrol). Menurut saya ini hanya masalah optimasi dan kontrol penggunaan tenaga aja, agar supaya tenaga cukup untuk beraktivitas seharian.

Pagi ini dengan kondisi badan ga enak karena kebanyakan makan pada saat berbuka puasa kemarin, ditambah ngemil malam hari, terus makan sahur super nikmat, jadinya porsi over. Semua faktor tersebut berkontribusi terhadap kenaikan berat badan sebesar 1kg dari berat normal. Penambahan berat bikin badan lemes dan otot kaku, jadinya saya putusin lari pagi tapi dengan kecepatan sedikit dipelankan. Kecepatan (pace) normal saya antara 6-7 menit/km, saya targetkan turun menjadi 8-9 menit/km.

Akhirnya pukul 7 pagi saya mulai berlari sepanjang 10km, dengan pace 7,44 menit/km. Ternyata perhitungan saya cukup akurat, saya tidak merasa capek dan keringat tidak keluar berlebih, namun otot tetap berlatih. Di akhir lari, saya tidak merasa kelelahan, malah badan berasa jauh lebih segar. Dapet bonus pula berat badan turun 2kg hehehe.

Sore ini rencananya saya ngabuburit nonton bioskop, sepertinya dengan kesibukan tersebut, rasanya ga akan kepikir rasa haus dan lapar yang mungkin muncul akibat aktivitas lari pagi ini. Ayo guys, mari lari, jangan males gerak ya !!

berikut foto foto pagi ini ..

PRO vs KONTRA TOPIK POLITIK #2019GantiPresiden #DiaSibukKerja

Hashtag #2019GantiPresiden sangat ramai beberapa saat yang lalu di Twitter. Hal ini merefreksikan kampanye yang dilakukan sekelompok masyarakat dalam aktivitas online maupun offline. Untuk aktivitas offline, Inget kasus di Car Free Day jakarta pada tanggal 29 April 2018, dimana terjadi kampanye dua kelompok yang bertentangan #2019GantiPresiden untuk yang kontra JKW dan #DiaSibukKerja untuk yang pro JKW. Gerakan ini cukup jadi trending topic di Twitter, menunjukkan studi kasus dinamika polarisasi opini masyarakat Indonesia. Sebetulnya saya bukan peneliti politik, tapi karena ingin melihat dinamika polarisasi tersebut, maka studi kasus yang paling ramai (mewakili) adalah di bidang politik, apalagi menjelang pemilu 2019. 

Periode pengumpulan data adalah 27 April – 5 Mei 2018. Topik pro dan kontra JKW untuk maju lagi di pilpres 2019 dengan hashtag sebagai berikut : 

Kontra : #2019gantipresiden #2019presidenbaru #gantipresidenyuk #gantipresiden #gantipresiden2019 #asalbukanjkw #2019gantirezim #2019wajibgantipresiden #2019asalbukanjokowi

Pro : #jokowi2periode #JKW2P #jokowipresiden2019 #2019tetapjokowi #jokowisekalilagi #rakyatmaujokowi2019 #jokowiduaperiode #salam2jari #ogah2019gantipresiden #diasibukkerja

Diperoleh: Data Kontra sebanyak 373885 Tweets dan Data Pro sebanyak 63267 Tweets. Dari jumlah data udah keliatan gerakan ganti presiden lebih ramai daripada yang pengen presidennya tetap. Dari analisa lebih dalam juga diperoleh bahwa kepadatan kelompok kontra jauh diatas kelompok pro, yang artinya percakapan lebih banyak terjadi antar sebarang aktor yang menjadi anggota masing masing opini. 

Dari pengelompokan percakapan masing masing opini, diperoleh kelompok terbesar berwarna ungu, sedangkan kedua terbesar berwarna hijau. Setelah menghilangkan banyak aktor tidak penting, akhirnya diperoleh aktor aktor inti (masing masing 100 aktor di tiap kelompok) yang jadi penggerak masing masing kelompok. Lihat gambar untuk kumpulan aktor inti ini. 

Apakah hasil ini bisa dipercaya?, paling tidak ini menjadi indikasi. Saya sih percaya mayoritas masih diam (belum menuliskan opininya).

Analisa teks dan pencarian topik tidak jadi dilakukan, komputernya keburu sibuk dipake riset yang lain 😛 ..

Contrascreenshot

Semesta percakapan kontra JKW

Proscreenshot

Semesta percakapan pro JKW

Contra1stcom

Komunitas kontra JKW terbesar

Contra2com

Komunitas kontra JKW terbesar ke 2

Pro1stcommunity

Komunitas pro JKW terbesar

Pro2community

Komunitas pro JKW terbesar ke 2

Narasumber Big Data

Semenjak lulus sidang terbuka (ujian promosi doktor) bulan januari 2018 kemarin, saya merasa jauh lebih bebas memikirkan riset, memikirkan keilmuan, dan memikirkan hal hal lain termasuk topik Big Data. Dulu boro boro mau mikirin banyak hal, kalo urusan disertasi belum beres rasanya ga mau mikirin yang lain. Ini lebih karena takut yang dikerjakan di disertasi jadi lupa ..hehe. Karena lagi masa “tenang”, eh Ndilalah (ini basa jawa artinya tiba tiba) kok banyak datang tawaran jadi narasumber topik Big Data. Berhubung kebebasan mencari ide dan bercerita soal Big Data lagi banyak, maka saya iyain tawaran tersebut, lagian tawarannya deket, cuman di bandung dan jakarta, sebenernya ada satu tawaran lagi di jogja, terpaksa saya tolak, karena bentrok dengan acara yang di bandung. 

Narasumber pertama adalah di SBM-ITB dalam rangka pembukaan (Kick-Off) Seminar Lab. Big Data Analysis dan Social Simulation. Kebetulan nama lab nya mirip dengan lab saya (Social Computing dan Big Data). Ternyata memang ruang lingkupnya pun mirip, jadi asyiknya sekarang saya punya rujukan untuk kolaborasi riset tentang studi manusia / sosial menggunakan Big Data. Kebetulan ketua lab tersebut adalah teman waktu sama sama kuliah S1 di Matematika ITB. Jadi memang networking itu benar adanya. Saya yakin dengan kemampuan rekan saya (yang sealmamater ini) dalam membawa lab ini menjadi sukses. Sekali lagi selamat SBM ITB. 

Topik seminar SBM adalah “Big Data Development in Education and Business Practice”, dari topik besar tersebut saya jadi memikirkan kembali kenapa edukasi Big Data di Indonesia belum kedengaran gaungnya, padahal industri / bisnis lagi banyak mencari info dan talenta. Dari pemikiran tersebut maka muncul pemetaan kelimuan dan profesi Data Scientist yang saya tulis di blog ini. Dipikir pikir semakin sering jadi narasumber dan disodorin topik topik tertentu berkaitan dengan keahlian kita, maka semakin kita menguasai topik yang kita “rasa” kuasai dari berbagai sudut pandangan. 

Narasumber kedua adalah menjadi pembicara di acara BMKG (Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika). BMKG sedang menyambut hari jadi ke 68 hari meteorologi dunia. Untuk menyambut hari tersebut, mereka mengadakan seminar ilmiah dengan tema “Implementasi Big Data dan Artificial Intelligence untuk Peningkatan Layanan Kecepatan dan Akurasi Layanan Informasi BMKG”. Pembicara yang diundang adalah dari LIPI, UI, ITS, Grab, Solusi247, Telkom Indonesia, Schumberger, dan saya sendiri mewakili Telkom University. Materi yang saya bawakan berkaitan dengan peran Big Data dalam memahami perilaku manusia. Sepertinya topik saya tidak bersinggungan langsung dengan BMKG, akan tetapi ternyata misi dari BMKG sendiri adalah melihat kemajuan terkini terkait penelitian Big Data dalam segala bidang. 

Menjadi narasumber dalam suatu acara merupakan kesempatan bagus untuk menjalin jaringan dengan orang orang yang satu rumpun keilmuan dengan kita, atau bisa juga yang keilmuan tidak sama tapi mempunyai minat yang sama. Oh ya ngomong ngomong kenapa saya yang dipilih jadi narasumber di BMKG, rupanya alasannya sama dengan yang SBM, lagi lagi di BMKG ada rekan sesama almamater di S1 Matematika dulu.  ternyata oh ternyata .. eh tapi bukan hanya karena pertemanan lho saya diundang, tapi pertemanan bisa membantu menemukan siapa teman kita yang punya kemampuan seperti yang kita inginkan

Next Narasumber ? .. ada deh bulan bulan depan, nanti diupdate lagi beritanya.

Foto fotonya …

 

IMG 9170IMG 9284IMG 91636f520024 7198 43f1 80a6 ac297618d74e

 

 

Review Honda PCX vs Yamaha NMax (2018)

Hari minggu pagi ini, saya kedatangan temen riding saya kang Firman yang baru saja memperoleh motor Honda All New PCX 2018 (PCX 2018) warna merah. PCX 2018 ini adalah motor CKD dari Honda yang diluncurkan bulan desember 2017 kemarin. Karena dirakit di Indonesia, maka Honda PCX ini harganya menjadi sangat murah (yaitu 30.8 juta untuk Bandung), padahal Honda PCX tahun tahun sebelumnya diimport dari Thailand mempunyai bandrol harga mencapai 42 juta. Dengan harga tersebut maka Honda PCX berkompetisi langsung dengan Yamaha NMax di kelas matic premium. Yamaha NMax saat ini pas berusia 3 tahun di Indonesia, kebetulan Yamaha NMax saya adalah keluaran pertama pada bulan februari/maret 2015.  Saya akan coba review singkat bagaimana performansi Honda PCX dibandingkan dengan Yamaha NMax saya.  

 

IMG 8569

 

Dibandingkan dengan PCX tahun sebelumnya (PCX CBU), maka PCX 2018 ini bodynya jauh lebih besar. Tepatnya lebih besar dari NMax saya, padahal PCX CBU bodynya lebih kecil dari NMax. Dengan pemekaran body secara signifikan maka kesan skutik gambot pada PCX 2018 sangat berasa. Setelah diamati body PCX 2018 ini sangat rapih, hampir tidak ditemui adanya baut yang kelihatan dari luar. Kerapihan ini membuat sedikit kerepotan pada saat ingin membongkar bodynya. Kang Firman cerita bahwa beliau ingin mencoba mencopot windshield, akan tetapi sulit sekali dilakukan, berbeda dengan NMax atau bahkan PCX CBU sebelumnya yang cukup mudah untuk membuka body. Ground clearance PCX 2018 juga lebih tinggi dari NMax (bisa dilihat dari gambar atas). Walaupun body PCX lebih besar, tapi ternyata motor ini lebih ringan dari NMax terutama terasa pada mekanisme pasang standard ganda, dimana terasa PCX 2018 berasa sangat ringan.

Nah bagaimana dengan posisi duduknya, menurut saya posisi standard PCX 2018 kurang nyaman, karena jok terlalu tinggi, sedangkan stang motornya terlalu rendah. Memang akan perlu sedikit penyesuaian antara jok dipapras atau stang ditinggiin. Penyesuaian ini cukup mudah, menurut saya begitu posisi duduk sudah sempurna maka kenyamanan akan meningkat signifikan. Suara mesin sangat halus, suspensi empuk, jadi ngebayangin untuk touring jarak jauh PCX ini tidak akan berasa capek. Overall kenyamanan berkendaraan menurut saya PCX 2018 lebih unggul dari NMax

IMG 8525

 

Untuk akselerasi NMax jauh lebih unggul, jadi kalo suka speed sebaiknya pake NMax, sedangkan kalau nyantai PCX 2018 jauh lebih unggul. Motor NMax saya sebagai contoh sepertinya ga mau (ga enak) kalau buat riding santai, tetapi jika dipake kecepatan tinggi malah berasa enak motornya. Menurut mas Awal (temen riding saya juga) yang review PCX bareng saya ini, bilang bahwa PCX malah lebih enak buat cornering dibanding NMax, cuman nunggu settingan yang pas aja. Saya sendiri tidak nyobain cornering tadi.

Untuk bagasi, NMax lebih luas dari PCX. Dek bawah bagasi NMax rata sehingga memberikan ruang lebih, sementara untuk PCX ada tonjolan di tengah dan di bagian belakang, sehingga space bagasi berkurang secara signifikan. Akan tetapi daya tampung 1 helm full face sepertinya  juga masih bisa dimasukkan ke bagasi PCX. Untuk fitur PCX lebih lengkap, motor ini sudah dilengkapi dengan keyless starter, juga immobilizer. Bentuk dashboardnya pun jauh lebih futuristik dan keren dari NMax. Mungkin bentar lagi NMax juga akan ada perombakan fitur, melihat fitur PCX yang begitu lengkap. 

Overall jika anda saat ini sedang mencari skutik premium maka PCX merupakan pilihan yang yang paling bagus, kecuali anda mencari yang bagasinya lebih besar,  akselerasi yang lebih cepat, atau aksesoris yang sudah banyak di pasaran, maka NMax merupakan pilihan terbaik. Sebagai pemilik NMax yang sudah berusia 3 tahun maka saya tergoda untuk membeli PCX, ini lebih karena saya sudah bosan lihat NMax, walaupun motornya sendiri masih sangat enak. Tentu saya akan membeli PCX, dengan syarat NMax saya sudah laku terjual ..

Semoga bermanfaat. 

 

IMG 8570

IMG 8518

IMG 8519

Kebawa Demam Lari tapi Susah Naik Kelas

sudah sekitar sebulan terakhir saya lagi keranjingan lari. hobi yang sangat telat, kenapa ga dari dulu dulu, padahal yang ngajakin banyak banget. terus terang dulu saya baru lari 100 meter nafas udah abis, bahkan sering diketawain istri yang larinya lebih lambat tapi tahan jarak jauh, sedangkan saya sering “gaspol” di awal lari tapi cepet abis bensin duluan

lihat temen temen bisa lari 1km tanpa henti, saya terkagum kagum. bahkan ada yang dulunya persis kaya saya, tapi sekarang bisa lari 5km (5K) tanpa henti. akhirnya saya coba dengan kecepatan yang lebih lambat, dan ternyata bisa juga 1km, 2km, dan sampai 5km tanpa henti. prosesnya tentu ga langsung, perlu beberapa kali lari sampai akhirnya bisa 5K tanpa henti.

kebetulan saya beli gelang murah (mi band) untuk monitor langkah perhari dan heartrate. jadi kalo ada hari dimana saya ga memenuhi target 8000 langkah, rasanya kok jadi ga enak, sehingga mau ga mau dipaksakan lari buat memenuhi target. sekarang target saya tiap 2 hari sekali harus lari 5K. so far, target ini bisa terpenuhi.

jarak terjauh yang bisa saya capai nonstop adalah 7K. pace selalu di sekitar 8 menit an per km, ada satu dua kali bisa mencapai pace 7 koma sekian menit pada kondisi luar biasa. saya perhatiin kecepatan dan kenyamanan lari berbanding lurus dengan kesiapan tubuh. saat badan kurang siap, maka lari jadi berat. kurang siap biasanya terjadi kalo lari sore hari pulang kantor, dimana badan belum sempat istirahat atau minum yang cukup. kalo larinya pagi sebelum berangkat kantor biasanya lari berasa nyaman, dan seringnya saya bisa merasakan meditasi dari lari yang nyaman.

sekarang targetnya mau naik kelas, yaitu meningkatkan pace atau menambah jarak menjadi 10K, doakan semoga bisa tercapai dengan nyaman (bukan tercapai dengan maksa)

kalau sudah naik kelas nanti saya tulis entry blog lagi ..

Supaya Tetap Waras di Media Sosial

filosofi yin-yang (cina), the unity of opposite (yunani), atau sejenisnya mengajarkan pada kita bagaimana bersikap dalam kehidupan kita sehari hari. harus dipahami bahwa dua kubu yang berlawanan sebenarnya saling melengkapi, saling terhubung, dan tidak terpisahkan.

capek dan bosan kalo kita baca riuhnya medsos saat ini, kebanyakan adalah dua kubu yang polarisasi opininya berbeda saling gontok gontokan. ga sebelah sana dan sebelah sini sama aja kelakuannya, akibatnya orang awam yang setuju pada salah satu opini jadi kebawa juga ikutan bully bully kelompok seberang. social media is contagious.

saya sering kasih nasihat ke mahasiswa, hidup itu janganlah ekstrim kanan atau kiri, coba hidup ditengah, pahami setiap sisi kehidupan, niscaya hidup jadi penuh toleransi dan ketenangan. memang ga semua bisa terima opini saya tersebut. tapi yang penting saya sudah share obat saya supaya tetap waras,

bagaimana dengan anda ?? ..

sumber gambar : http://insights.berggruen.org/issues/issue-6/institute_posts/147

National Data Days 2017

kegiatan tahunan data days diluncurkan pertama kali bulan november tahun lalu oleh fakultas eknomi dan bisnis (FEB), universitas telkom. tahun 2017 ini, data days 2017 diberi nama lengkap sebagai national data days 2017 (NDD17). NDD17 terdiri dari kegiatan seminar, workshop, kompetisi, dan eksibisi. tema NDD17 ini adalah “data for better indonesia”.

seminar akan menghadirkan pembicara seperti pak gadang ramantoko (ekonomi digital), pak setia pramana (data di bidang kesehatan), pak mahmoud syaltout (data bidang politik dan bisnis), dan mas kamal hasan (praktisi data). workshop menghadirkan pemateri pemateri handal dari akademisi seperti pak taufik sutanto, dari industri data seperti midtrans, i-811, mediawave, presentasi beberapa hasil riset mhs FEB dan mahasiswa sekolah tinggi ilmu statistika.

silahkan datang tanggal 21-22 november 2017