Event Lari Harus Cepat – 80 mins to 10K

Dari berbagai event lari yang biasanya kami (saya dan istri) ikuti, umumnya hanya berdasarkan perhitungan jarak saja. Misal event lari jarak 5km (5K), 10km (10K), 21,1km (Half Marathon / HM), ataupun 42,2km (Full Marathon / FM). Biasanya pula pada lomba lomba tersebut ditetapkan waktu maksimal untuk menyelesaikan lomba yang disebut sebagai Cut Off Time (COT), misalkan untuk 5K COT nya adalah 90 menit, sedangkan 10K 150 menit, dan seterusnya. Nah kali ini kami mengikuti lomba yang cukup unik, yaitu lomba lari menyelesaikan jarak 10K dengan COT 80 menit, nama lombanya adalah 80minsto10 yang diadakan oleh Run.ID, salah satu event organizer lari yang cukup ternama. Kalo dihitung kecepatan paling lambat untuk bisa menyelesaikan lomba ini adalah 8 menit per kilometer. Lewat dari 80 menit, maka tidak akan mendapatkan medali finisher maupun kaos finisher.

Dengan requirement cukup tinggi maka tentu saja peserta tidak sebanyak lomba lomba lari pada umumnya. Dan para pesertanya pun tergolong pelari pelari cepat. Lomba ini diadakan di Alam Sutra, Tangerang, yang terkenal dengan trekldatar tanpa tanjakan. Benar saja, saat kami mulai start dan berlari, pelari pelari lain sangat cepat melewati kami, tidak terasa kamipun dalam beberapa km awal sudah masuk kedalam rombongan pelari agak terakhir. Akhirnya kamipun berhasil menyelesaikan jarak 10K dengan sukses dibawah COT. Catatan waktu saya adalah 66 menit (dengan kecepatan 6.33 menit per kilometer), sedangkan istri 68 menit, masih 10 menit lebih cepat dari COT. Berikut foto foto kami di lomba tersebut.

58441276 10156911674340202 2767102031284928512 o58916969 10156911674190202 6936425775641919488 o58419355 10156911674495202 6145533592765202432 o58383009 10156911674595202 8037576981413363712 n

58383623 10156911674740202 1431883367103594496 o58787537 10156911674920202 3172297449377103872 o

 

 

 

Mobil Cina Bernama Wuling Almaz

Berkomuter di kota besar seperti Bandung bukan merupakan hal yang nyaman dan efisien, apalagi jika kita tinggalnya di area Bandung coret. Kami sekeluarga berempat setiap hari mempunyai aktivitas di kota Bandung, sementara lokasi tinggal kami adalah sekitar 25-30 km di luar kota bandung, dimana jarak ini harus melewati jalan tol. Bisa dibayangkan bahwa kendaraan pribadi saat ini merupakan opsi terbaik dari semua pilihan yang ada, seperti naik bis, naik angkot, naik gojek, maupun naik grab. Apalagi lokasi sekolah anak anak, kantor saya, dan kantor istri berbeda semuanya. Kadang saya iri dengan rekan yang bisa bike to work ke kantor, jangankan naik sepeda, saya naik motor ke kantor (tidak melalui tol) itu membutuhkan waktu hampir 2 jam, jadi tidak efektif untuk mendukung pekerjaan. Kesimpulannya kebutuhan mobil bagi keluarga kami adalah keharusan.

Entry blog ini merupakan lanjutan dari entry blog otomotif saya di tahun 2014 tentang review Suzuki Splash 2014, dan tahun 2016 tentang review Kia Sportage 2013. Tahun ini Splash sudah berusia 5 tahun, dengan odometer mencapai 95rb km, sedangkan sedangkan Sportage sudah berumur 6 tahun, dengan odometer 82rb km. Kami merasa perlu melakukan penyegaran, karena dengan jarak tempuh yang tinggi, kaki kaki dan goncangan mobil berasa tidak senyaman dahulu. Yang utama perlu diremajakan adalah Splash, sedangkan Sportage masih cukup enak untuk mobil seusianya, mungkin 2-3 tahun lagi kami akan remajakan juga. 

Waktu itu pilihan pertama pengganti splash adalah Nissan Livina. Kami pilih Livina, karena terkenal empuk dan nyaman, walaupun tenaga pas pasan. Tapi kami tidak mau membeli mobil baru, karena rasanya sayang beli mobil baru, padahal Livina bekas lumayan banyak dengan harga yang relatif terjangkau. Saat hunting kami tidak tahu kalo Livina bakal keluar versi baru. Mencari Livina bekas yang bagus ternyata tidak mudah. Saya beberapa kali test drive, sering kali yang saya temukan bahwa pemilik Livina tidak merawat mobilnya di bengkel resmi dengan alasan beres mahal dan banyaknya bengkel alternatif di sekitar Bandung. Dari sini saya mulai ragu … tapi masih terus hunting Livina.

Suatu saat beberapa bulan kemudian (tepatnya akhir Januari 2019), masuk pesan WA dari sales Wuling (merk mobil cina), yang mengabarkan bakal ada SUV baru dari Wuling. Saya kenal sales ini karena saya pernah lihat pameran mobil MPV Wuling Cortez di suatu mall. Berbekal kepuasan saya akan mobil SUV semacam Sportage, maka saya bilang sales tersebut untuk mengabari jika sudah ada unit test drive Wuling SUV itu, yang ternyata bernama Almaz.

Saat tulisan ini dibuat pilihan SUV setara Sportage, dalam konteks value for money tidak ada yang cocok. Produk produk Honda (CRV dan HRV) saya coret, karena selain harganya mahal, dan berbekal pernah punya jazz dan freed, menurut saya Honda itu mahal dalam segala hal (servis, spare parts dll), dengan kata lain overprice. Produk Toyota (Fortuner dan Rush), sama sekali tidak meningkatkan gairah saya untuk beli mobil tersebut. Produk Chevrolet (Captiva dan Trax), saya agak suka, tapi ga rela untuk beli. Produk Mazda (CX5) saya suka banget, tapi harganya terlalu mahal, bahkan harga bekasnyapun masih luar biasa mahalnya.

Akhirnya hari yang ditunggu untuk testdrive Almaz pun datang. Saya sengaja ajak anak anak. Saya perhatikan ekspresi mereka. Tidak ada excitement saat test Livina atau beberapa mobil lainnya, tapi saat test Almaz langsung beda banget ekspresinya. Ya jelas beda karena Almaz pake head unit macam tablet ipad, terus ditambah panoramic roof, terus ditambah sound system infinity yang luar biasa jernih. Diluar itu space akomodasi Almaz  yang membuat saya langsung suka karena sangat lega, dan killer factornya adalah mesin Turbonya. Saya suka dengan tarikan mesin Turbo Almaz. Ini seperti kembaran Sportage saya tapi dengan mesin lebih kecil dan Turbo, jadi harusnya lebih irit, atau paling tidak menyamai Sportage, jadi saya tidak masalah dengan konsumsi BBM. Masih banyak sebenernya fitur fitur lain, tapi menurut saya yang lain lainnya itu nice to have lah. Killer factorsnya sudah saya sebutkan diatas.

Saya langsung pesen, padahal harga mobilnya belum ada …

Nunggu dua minggu setelah pemesanan baru harga resmi keluar, dan untungnya harganya masih terjangkau, jauh dibawah CRV, CX5, dan bahkan sama dengan mobil yang fiturnya dibawahnya (HRV, Trax). 

Sempet galau pemilihan warna, apakah pilih abu atau hitam, akhirnya saya pilih warna hitam, karena saya lihat warna item Almaz sangat keren, dan saya belum pernah punya mobil warna item. Akhirnya mobil dikirim awal Maret 2019.

Akang sales Wuling cerita kalau saya adalah pemakai Almaz nomer dua di Bandung. WOW, jadi inget dulu punya Yamaha NMax termasuk dalam pembeli pembeli awal juga.

Setelah seminggu dipake, kesan Almaz dibandingkan dengan Sportage ada 2, yaitu:  1). mesin biasa aja, 2). fitur luar biasa. Untuk nilai minusnya, mesin menurut saya biasa aja karena tenaganya ngepas untuk bermanuver di jalan tol dengan nyaman, serta adanya turbo lag namun dengan cerdik ditutupi oleh transmisi CVT yang halus. Kalau saya pake sportage dengan tenaga lebih besar  rasanya masih banyak tenaga tersimpan untuk bermanuver. FYI Sportage 166hp sedangkan Almaz hanya 140hp. Alangkah nikmatnya kalo misalkan tenaga Almaz ini dilebihkan sedikit, supaya juga sesuai dengan tampangnya yang macho. Selain itu transmisi manualnya tidak seresponsif di sportage. Untuk nilai plusnya menurut urutan prioritas saya adalah 1). panoramic roof, 2). head unit, 3). kelegaan kabin yang luar biasa, 4). sound sistem jempolan. 5). kamera 360.

Review pemakaian seminggu ini mungkin belum terlalu akurat, nanti saya akan update lagi kalo ada pengalaman pengalaman baru. Secara keseluruhan, menimbang nilai plus dan minusnya, menurut saya Almaz sangat sangat worth to have. Saat saya beli Almaz tidak ada mobil sekelasnya yang mempunyai value for money lebih baik dari Almaz. Ada sih merk DFSK, tapi kok ga minat ya .. Oh ya konsumsi BBM mungkin belum optimal, saat ini saya memperoleh nilai 1:10 – 1:13 … lumayan irit 🙂

 

IMG 20190312 194159

  

Wisdom is …

satu quote yang saya suka saat ini, terutama berkaitan dengan keriuhan suasana politik indonesia menjelang pilpres 2019.

wisdom is breadth. the essence of wisdom is not having a narrow view. its a broad framing. most human is narrow and noisy thinkers

semoga quote diatas bisa dimaknai oleh bangsa kita, semoga semuanya mencapai tingkat bijak yang wajar 🙂 ..

Penyimpanan Publikasi di Academia

Sudah sejak beberapa tahun yang lalu, Academia.edu merupakan pilihan saya untuk menyimpan hasil karya / publikasi ilmiah saya dan rekan rekan lab. Pemilihan Academia karena platform ini cukup sederhana dan mudah diakses oleh rekan rekan yang tidak mempunyai latar belakang akademis. Academia sendiri bukan merupakan tempat penyimpanan ideal, bahkan menurut saya tidak ada tempat penyimpanan publikasi yang benar benar sesuai dengank einginan saya.  Beberapa tempat lainnya dimana saya ikutan daftar adalah adalah Researchgate, Arxiv.org, dan Mendeley. Menurut saya ketiganya tidak sesederhana Academia sebagai  tempat “hanya” untuk penyimpanan. Kalau ada masukan yang lain mohon dikasih tahu ya.

Sudah sejak beberapa lama juga Academia menyediakan layanan berbayar.  Saya selalu berusaha untuk tidak berbayar, karena kebutuhan saya yang sederhana untuk penyimpanan saja. Namun berhubung jumlah publikasi sudah mencapai angka 50an lebih, maka mau tidak mau saya mulai melirik layanan berbayar Academia, terutama layanan web nya. Akhirnya saya pun berlangganan, sambil melihat lihat apakah layanan ini bisa membantu atau memberikan, Nanti kita lihat selama setahun kedepan. Anyway alamat web academia saya adalah:

https://andryalamsyah.academia.edu/

Tampilannya cukup simpel tapi cukup bagus ya .. 

Screen Shot 2018 11 25 at 19 09 00  2Screen Shot 2018 11 25 at 19 09 12  2Screen Shot 2018 11 25 at 19 09 22  2

Palembang Kota Panas tapi Keren

Palembang itu panas, semua juga pasti setuju. Namun Palembang itu kota yang keren menurut saya, apalagi melihat jalur monorail yang membelah kota, sehingga menjadikan perjalanan dari ujung ke ujung kota menjadi sangat efisien. Saya yang domisili di Bandung jadi sangat iri dengan dengan keberadaan alat transportasi masal tersebut. Kunjungan perdana saya ke Palembang ini memang sangat singkat. Hanya 3 hari itupun 1,5 harinya dipenuhi dengan jadwal acara kantor. Bahkan sayapun ga sempat naik monorailnya. Beberapa rekan kantor yang sudah mencoba monorail komentarnya angkutan ini sangat nyaman dan cepat. Lagi lagi saya ngiler ..

Saya ga sempat nyicipin monorail karena saya memilih peruntungan mencoba berlari di suhu kota yang panas. Kebeneran ada rekan kantor yang antusias untuk berlari bersama sore itu. Lumayan jadi saya ada teman lari. Kami start lari pukul 4 sore, pada saat yang bersamaan rekan rekan lain memilih mencicipi naik monorail. Kami menginap di Wyndham hotel, jaraknya sekitar 5.5 km dari jembatan ampera. Tujuan lari adalah mengunjungi ikon kota Palembang tersebut dengan rute pulang pergi, jadi total jarak 11km. Kesimpulan saya lari 11km di palembang mungkin sama beratnya dengan lari 21km di Bandung. Hawa panas membuat badan jadi cepat lelah, kecepatan lari juga melambat, tubuh berjuang untuk tetap mempunyai tenaga dan tidak dehidrasi hanya untuk jarak 11km saja. 

Selain suhu, beberapa titik di kota Palembang, apalagi menjelang dekat jembatan ampera, lalu lintas sangat padat. Beberapa ruas trotoar sudah dijajah oleh sepeda motor, sehingga pelari tidak mempunyai ruang untuk lari. Alhasil kami berjalan saja disela sela puluhan motor yang jalan di trotoar. Beberapa orang menyarankan saya untuk mengunjungi benteng kutobesar, sekitar 2 km sesudah jembatan ampera dari arah kami lari, namun setelah berfoto di jembatan, kami sadar kalau tenaga kami sudah mau habis, jadi harus simpan tenaga untuk lari pulang menuju hotel. Semoga lain kali bisa lebih banyak yang dikunjungi. tidak lupa kami juga mampir ke kompleks fasilitas olahraga Jakabaring fasilitas olahraga yang dibangun sejak SEA games 2011. 

Saya merasa kalo kita biasa lari dengan suhu seperti di Palembang, maka lari di suhu Bandung akan membuat lari kita menjadi kencang. Palembang boleh juga sebagai tempat latihan, sambil mencicipi pempek candy atau vico, celimpungan, martabah HAR, mie celor dll … hmm jadi laper deh

45320349 10156508877875202 4508721637863981056 o

lari di jembatan ampera

45506160 10156513216020202 3015474561173946368 n

ga lupa foto bareng pak de jokowi di bandara

Osaka in a Few Days

Pada setiap peringatan hari sumpah pemuda 28 Oktober, ForMind (Forum Peneliti Muda Indonesia) mengadakan kegiatan konferensi tahunan. Tahun lalu saya ikutan di Sorong – RajaAmpat. Sedangkan tahun ini acara diadakan di Osaka. Acaranya dinamakan JIISC (Japan – Indonesia International Scientific Conference), yang merupakan kerjasama ForMind dengan I4 (Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional), Universitas Indonesia, dan PPI Jepang. Acaranya cukup padat, Saya dan Intan berangkat tanggal 26 Oktober pagi dan kembali tanggal 29 Oktober malam.  Kami (bersama rekan ForMinder lainnya :  Rino dan Anna) menyewa rumah melalui layanan AirBnb, harga cukup terjangkau dan cantik rumahnya. Rumah yang kami sewa adalah model rumah tradisional lengkap dengan tempat tidur model Tatami, rumah tersebut dominan yang berbahan kayu seperti rumah tradisional jepang pada umumnya.

Walaupun Osaka kota besar dan ramah terhadap orang asing, secara umum saya cukup kesulitan juga nyasar sana sini melihat beberapa petunjuk jalan tanpa huruf latin. Ada pengalaman pada saat kami naik taksi menuju kampus Universitas Osaka, malah nyasar ke arah berlawanan, karena sopir tidak paham bahasa inggris dan juga tidak paham menggunakan google maps (udah sepuh). Alhasil meteran taksi mencapai 8000Yen, tapi untung sopirnya baik, karena merasa itu adalah kesalahan dia, jadi kami cukup membayar 4000Yen. Pengalaman lain karena “buta huruf” adalah saat kami tiba di Osaka menjelang tengah malam, tidak bisa membaca tulisan kanji, kamipun kesulitan mencari kartu telpon (data) lokal untuk sekedar cek lokasi via google maps, sehingga terpaksa roaming data sejenak. 

Tidak banyak tempat yang kami eksplorasi karena keterbatasan waktu, namun kami sempat ke kuil di kyoto yang fotogenik (Fushimi Inari Taisha), kuil di Osaka, Dotonbori (downtown osaka), tempat perbelanjaan shinsaibashi, dan yang terpenting kami juga sempatkan tradisi kalau pergi ke tempat baru yaitu lari. Kami sempat lari malam di Dotonbori. Beberapa eks mahasiswa Intan juga menawarkan mengantarkan kami keliling keliling sambil hunting ramen halal yang enaknya kebangeten.

Untuk acara konferensinya sendiri pada tanggal 28 oktober dibagi menjadi 3 chapter yaitu life science, engineering science, dan social science. Mayoritas peserta mempresentasikan posternya, hanya sedikit yang terpilih untuk mempresentasikan dalam bentuk presentasi oral. Saya termasuk yang terpilih untuk presentasi oral di chapter social science. Alhamdulilah saya dapat penghargaan best presenter. Overall di acara ini, selain belajar keilmuan, berkenalan, dan juga membuat perut kenyang banget, bayangkan saja sesudah acara dinner yang diadakan panitia dengan makanan yang super lezat, dilanjutkan dengan dinner lanjutan yang diadakan oleh KBRI. Jadi rasanya lega juga kami berhasil melaksanakan lari karena kalo ga pasti berat badan meningkat secara signifikan hehe. 

Demikian laporan ringkas perjalanan ke Osaka, suatu hari saya ingin kembali eksplorasi Jepang untuk waktu yang lebih panjang.

Foto fotonya : 

 

IMG 20181028 113028IMG 20181029 110648

IMG 20181028 144951

IMG 20181028 160601

IMG 20181027 101926IMG 20181027 095328

 

IMG 20181028 194103 003

 

 

ITB Ultra Marathon 2018 (H-7)

ITB Ultra Marathon adalah acara tahunan lari marathon yang digagas oleh ITB dalam rangka HUT ke 100 ITB yang jatuh pada tahun 2020. Tahun ini adalah tahun ke 2 penyelenggaraan ITB Ultra Marathon (UM). Rute lari UM adalah dari Jakarta ke Bandung melalui puncak dan menempuh jarak total sepanjang 170K. Sponsor acara ini adalah BNI makanya dinamakan #BNIITBUltraMarathon. Acara UM akan berlangsung tanggal 12-13 Oktober 2018, sedangkan tanggal 14 oktobernya adalah fun run 5K dari alun alun kota Bandung ke kampus ITB.

Tahun lalu UM sukses besar, acara ini berhasil mengairahkan silaturahmi dan kebersamaan antar alumni ITB. Banyak program program sosial dan kepedulian lainnya lahir dari inisiasi atau follow up setelah acara UM. UM menjadi ajang para alumni untuk saling berkomunikasi dan bekerja sama dalam mempersiapkan timnya masing masing. Oleh karenanya tahun ini UM diselenggarakan lagi, dan pesertanyapun semakin membludak. Tim UM pun beragam, ada yang tim berdasarkan angkatan, jurusan, himpunan, UKM, dan ada yang campuran juga. UM yang dilombakan adalah kategori solo run dan duo run, sedangkan relay 4, 8, 16, semuanya adalah fun run. Kegairahan dan gaung acara ini membuat UM ITB cukup iconic dikalangan alumni ITB

Read More »

Tidak Perlu Pamer Dukungan ke Capres

Menjelang pilpres tahun depan timeline medsos saya sudah dipenuhi dengan dukungan teman teman ke salah satu pasangan capres. Saya sedikit banyak paham, dukungan di timeline itu mungkin sama saja maksudnya dengan saya pamer foto foto saya liburan. Namun jika ditelaah lebih jauh, kita ini hanya punya pasangan 2 capres, kalo ga pilih nomer 01 ya pilih nomer 02, demikian sebaliknya. Saya lihat temen temen saya mulai terpolarisasi tajam, ini juga alasan saya males pasang status soal pilpres, ga masang aja udah panas, apa saya mau ikut ikutan manas manasin?

Satu hal yang saya pelajari, jarang sekali temen temen medsos yang pintar belum punya pilihan calon. Jadi mengurangi juga manfaat posting di medsos, yaitu siapa tahu bisa menarik orang yang belum punya pilihan mendukung pilihan yang diberikan.

Memang saya beberapa kali sempat tergoda posting tentang pilpres, tapi kemudian mikir lagi gimana perasaan temen saya yang pilihannya lain, sehingga akhirnya saya ga jadi posting. Menurut saya posting dukungan kurang gitu bermanfaat dalam kondisi masyarakat kita yang gampang panas begini. Sebaiknya sih kita cari info netral sendiri sendiri aja, menetapkan pilihan, tanpa perlu pamer …. itu kalo saya lho .. 😛 ..

 

sumber gambar : google

Bandos Kembali Tampil

Setelah hiatus hampir satu tahun lebih, Bandos (Band Dosen) FEB akhirnya tampil kembali. Kali ini di acara malam apresiasi rektor Telkom University tanggal 30 Agustus 2018. Setelah sekian lama absen, ternyata berasa kangen juga ngeband lagi. Saya, bu Irni, pak Brady, pak Yudi, dan pak Asep mulai berlatih untuk acara tersebut. Berhubungan kesibukan masing masing personil yang lumayan, maka mencari jadwal latihan yang cocok merupakan tantangan sendiri. Tapi akhirnya toh berhasil juga latihan beberapa kali dan akhirnya tambil. Menurut saya sih penampilan Bandos sangat bagus, malah rasanya lebih bagus dari pada saat latihan.

Karena tema acara adalah perpisahan, maka lagu yang kami bawakan adalah lagu lagu nostalgia yaitu Andaikan Kau Tahu (Koes Plus) dan Jogjakarta (Kla Project). Berikut video dan fotonya dengan menggunakan kamera hape :

https://www.instagram.com/p/BnKb9SfjE1d/

https://www.instagram.com/p/BnNdWERjD9o/

Menjadi Juri “Indonesia Best eMark Award 2018”

Sudah agak lama rupanya saya tidak update isi blog ini, masalah klasik kesibukan dan lain sebagainya berakibat sulitnya mencari waktu luang untuk ngeblog. Memang menulis itu tidak mudah, apalagi menulis blog yah, padahal post foto di instagram dan post status di twitter / facebook jalan terus lho. Baiklah, saya update aktivitas terakhir yang menurut saya sangat meningkatkan pengetahuan diri, terutama dalam hal pemahaman kemampuan perusahaan di Indonesia dalam implementasi TIK untuk mencapai tujuan bisnisnya. Saya diminta untuk menjadi juri dalam acara penghargaan Indonesia Best eMark Award 2018 yang diselenggarakan oleh majalah SWA dan Telkom University. Penghargaan ini sendiri sudah berlangsung sejak tahun 2015. Tapi baru tahun ke 4 ini (2018), saya bergabung menjadi juri.

Acara penghargaan ini diikuti oleh banyak perusahaan terkemuka di Indonesia, mulai dari sektor perbankan dan keuangan, BUMN, asuransi, kesehatan, otomotif, ekspedisi, startup teknologi, kuliner, dan lain lainnya. Hal utama yang dinilai adalah kemampuan perusahaan bertransformasi dengan memanfaatkan TIK. Terdapat 3 faktor utama yang dinilai yaitu Success Strategy, ICT Governance, dan Business Impact. Dalam penjurian ini kami para juri menilai sekitar 26 perusahaan.

Implementasi TIK untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas operasional perusahaan pun bermacam macam. Ada yang menggunakan solusi kompleks seperti implementasi sistem ERP, mengumpulkan data media sosial untuk mendengarkan suara publik, ada yang menggunakan solusi sensor murah, sampai solusi sederhana hanya menggunakan website atau media sosial untuk promosi. Tidak harus solusi yang lebih kompleks akan menjadi lebih baik, penilaian lebih didasarkan kepada apakah solusi TIK yang dilakukan mempunyai Business Impact yang bagus.

Buat saya pribadi keterlibatan dalam acara ini memberikan pengalaman yang sangat berharga , dalam satu kegiatan saya bisa melihat bagaimana pemahaman TIK di kalangan organisasi bisnis, bagaimana variasi strategi implementasi TIK pada berbagai bidang bisnis, bagaimana organisasi bisnis dan para eksekutifnya menjawab tantangan disrupsi ekonomi, dan juga Business Impact sebagai hadiah transformasi yang mereka lakukan.

 
IMG 20180828 075728
IMG 20180828 073546