Big Data Jalur Pelari

Sebagai seorang yang tertarik dengan data dan menyukai lari, maka sering sekali muncul pertanyaan di kepala saya, jalur lari mana yang populer di lingkungan sekitar kita. Sebagai contoh di kota Bandung (dan kota kota lainnya juga), kita bisa mengamati daerah atau jalur mana yang menjadi favorit para pelari. Strava sebagai jejaring sosial para atlit profesional dan hobbyist tentunya mempunyai big data perilaku penggunanya, makanya dengan mudah dapat dibuat global heatmap, yang menunjukkan daerah yang sering dilewati para atlit tersebut. Ada tersedia jalur lari, jalur bersepeda, dan juga jalur berenang.

Saya hanya tertarik pada jalur pelari, yang ada di  daerah kota Bandung, dan area lingkungan tempat saya tinggal (KBP di Bandung Barat). Berikut  heatmap  dari Kota Bandung dan sekitarnya. Terlihat para pelari lebih suka lari di tengah kota Bandung, di Bandung Utara, dan di area KBP

Screen Shot 2020 08 06 at 13 03 17

Lebih mendetail gambar level jalan raya di area tengah kota Bandung

Screen Shot 2020 08 06 at 13 03 49

Dan yang terakhir adalah jalur di area dalam kompleks perumahan Kota Baru Parahyangan (KBP), daerah tempat saya lari sehari hari

Screen Shot 2020 08 06 at 13 04 12

Cukup mengasyikkan bukan, tahu daerah daerah populer untuk berlari. Kalo misalnya kita ingin pergi ke suatu kota dimana kita gak tahu enaknya lari di daerah mana, mungkin bisa dicoba info seperti diatas. Boleh juga dicoba untuk kategori bersepeda, dan berenang, tergantung hobi masing masing.

Anak Motor Sejak Dulu

Barusan lihat foto foto jadul pada saat akhir SMA sampai dengan masa kuliah, banyak sekali nemu foto saya naik motor. Jadi sebenernya memang saya anak motor sejak jaman dulu. Kalo ngikutin blog ini dari dulu, mungkin bisa dicek sekitar tahun 2015-2017 saya rajin sekali posting aktivitas touring, bahkan sempat sampai ke bromo, ciletuh, dan lampung .Rentang tahun 2015-2017 ini adalah saat saya aktif di komunitas motor nmax.

Banyak juga aktivitas dengan motor yang tidak terdokumentasi / terliput untuk foto maupun untuk blog. Saat SMA saya naik vespa, kemudian pindah ke Bandung untuk kuliah ganti motor Yamaha Alfa, biar lebih murah ngerawatnya daripada vespa. Sempet saat akhir kuliah saya ganti dengan Honda Tiger. Saat awal awal pulang ke Indonesia abis merantau di eropa, saya beberapa kali membeli motor Kymco. Sayang tidak semua dokumentasinya lengkap terfoto. Setelah aktif touring dengan Nmax versi 1, saya coba pake motor klasik kawasaki W175, nah pas pake motor ini saya malah jarang naik motor / touring. Saat ini saya ganti kawasaki tersebut kembali ke Nmax versi 2 (versi 2020).

Photo6167871550624213316

motor terakhir sedang saya pake nyari takjil, bulan puasa 2020

Photo6167871550624213308

Yamaha Alfa, foto tahun 1990, didepan kost daerah titimplik dalam, belakang pasar titiran

Photo6167871550624213315

masih dengan Yamaha Alfa, tahun 1991, abis ospek jurusan matematika (masa semai)

Photo6167871550624213314

ini lebih awal lagi, tahun 1989 saat pertama kali berkunjung ke bandung, ngider keliling pake motor GL 100 punya om

9 Jam Berlari #TahuraTrailMarathon

Setelah menuntaskan misi Virgin Full Marathon di Pocari Sweat Run Bandung tahun 2019 kemarin, saya mulai memikirkan bagaimana rasanya lari Full Marathon pada trek trail. Seperti diketahui lari trail karakternya sangat berbeda dengan trek jalan raya (road). Banyak faktor yang membuat trek trail jauh lebih berat, misal permukaan tanah ga rata, bahkan cenderung bervariasi seperti jalan setapak, jalan tanah, jalan hutan, belum lagi elevasi yang biasanya lebih luar biasa daripada trek road. Tahura Trail Run 2020 merupakan kesempatan sempurna buat saya memecahkan telor Virgin Full Marathon (FM), iya FM 42K lari di jalur trail. Tahura Trail saya pilih karena memang tingkat kesulitan medan yang cenderung bersahabat dan lokasinya di kota Bandung, tentu memudahkan saya untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk menghadapi FM trail ini. 

Tahun ini adalah  ketiga kalinya saya ikut serta di event Tahura Trail. Tahun 2018 saya ikut kelas family 7K dan tahun 2019 saya ikut kelas HM (21K). Salah satu persiapan saya untuk FM ini adalah mengikuti event Cikole Forest Run, tepat sebulan sebelum event Tahura. Saya tidak mempersiapkan diri dengan latihan khusus untuk menghadapi lari FM ini karena kesibukan kantor yang lumayan padat di akhir 2019 dan awal tahun 2020.

Start lari FM dilakukan pada hari sabtu 18 januari 2020.  Sekitar 700an pelari FM start pukul 7:00 pagi. Jalur 3km awal langsung ketemu tanjakan elevasi lumayan, namun mayoritas adalah jalur aspal dan beton. Baru setelah lewat km 5 kita masuk ke jalan tanah yang tanjakanannya juga masih menggila. Saya berlari santai, dengan pace antara 8-10 menit/km, kadang kadang mencapai 17 menit/km kalo jalur sangat menanjak. Ada sekitar 4 WS sejak dari start sampai km 17.5

Di km17.5 pelari FM ketemu water station (WS) terakhir sebelum masuk hutan menuju ke km 30. Di sepanjang km 17.5-30 ini sama sekali tidak ada WS. Ditengah hujan tanjakan juga tidak lupa selalu hadir, jalan becek cenderung tidak bisa dilariin akibat hujan yang datang dan pergi hari itu. Beberapa parit dan sungat kecil juga harus kita lalui. Alhasil bagian bawah sepatu trail sudah penuh dengan tanah liat. Kaos kaki sampai ganti tiga kali karena air, pasir, dan tanah liat rebutan masuk ke sepatu. Akhirnya karena stok kaos kaki habis, saya terpaksa lari tidak pakai kaos kaki lagi. Saya melihat banyak peserta yang sudah mulai menyerah menaklukkan ganasnya jalur hutan tersebut, dan minta diangkut panitia,

Setelah mencapai km 30, perjalanan selanjutnya menuju finish di km 42 terasa sangat lama, walaupun jalur cenderung turunan , mungkin karena badan sudah sangat lelah. Kami berjalan dan berlari melewati perkampungan dan perkebunan penduduk di daerah maribaya – lembang.

Cut off time (COT) FM adalah 10 jam, jadi pelari harus bisa finish sebelum jam 17:00 sore. Kalo tidak bisa lebih cepat dari COT maka pelari dinyatakan Did Not Finish (DNF) dan diangkut oleh panitia. Saya mencapai garis finish pada pukul 15:59, jadi total saya berlari sejauh 9 jam kurang 1 menit. Ini rekor lari saya terlama, bahkan lebih lama dari perjalanan saya mudik Bandung-Malang yang hanya 8 jam di akhir tahun 2019. 

Saat berlari di tengah hutan saya juga sempat berpikir “ngapain saya ada disini”, kok mau maunya berlari berjam jam menyiksa diri. Tapi setelah menyelesaikan tantangan rasanya sangat memuaskan, bahwa saya bisa menyelesaikan tantangan mengalahkan kemalasan diri sendiri #gabolehmales. Oh ya .. entry blog ini ditulis 3 hari setelah menyelesaikan lari trail FM tersebut, saat ini saya sudah tidak merasakan sakit sakit atau pegal pegal lagi. Semuanya aman … ga sabar menunggu event trail selanjutnya 😉 ..

82902116 10157647138015202 4779708935797997568 o82605321 10157647138115202 7264254650751123456 o83118426 10157647138265202 1238432323490283520 o82797837 10157647138200202 4634408899389161472 o
83138664 10157647138545202 6629258807077765120 o84080412 10157647138320202 7160078904726650880 o

Lari Trail di Hutan Cikole

Cikole Forest Run diadakan pada akhir 2019 (tepatnya tanggal 8 Desember 2019). Lari 15K di tengah hutan ini adalah latihan pemanasan saya untuk ikut event lari trail Tahura Trail Run pada bulan januari 2020 yang mana kebetulan saya akan ambil kelas Full Marathon. Meskipun embel embel kelas 15K adalah Fun Run akan tetapi kalo dilihat elevasinya mengerikan juga (menurut level saya lho yah). Profil elevasinya bisa dilihat disini . Saya merasakan sendiri begitu start, kita langsung dihadapkan ke jalan setapak satu jalur langsung menuju elevasi tinggi ke arah gunung Tangkuban Prahu dari hutan Cikole. Jalan satu jalur ini membuat kita harus berlari agak kencang, supaya tidak menghambat lari pelari cepat dibelakang kita. Alhasil, 2-3 km pertama saya cukup kelelahan.

Sisa jalur yang dihadapi sangat indah dan menantang karena tidak seperti di tahura, jalur lari cikole ini hampir 80 persen berada di tengah hutan. Begitu tenaga diperas pada 3 km awal, selanjutnya saya mencoba berlari agak santai sampai foto foto, karena jalurnya sendiri sudah tidak sesempit jalur awal. Ada beberapa spot yang menarik sepanjang jalur lari, seperti ngarai kecil di tengah hutan, jalur trekking land rover, dan puncak bukit (saya ga tau namanya, tapi kota bandung keliatan sangat jelas dari sana).

Berikut foto foto selama acara tersebut. 

79356429 10157520831585202 997517076597833728 o79458365 10157520831970202 1468322724341350400 o78534868 10157520833060202 4103387917529907200 o73539170 10157520832365202 3638879005374939136 o79904745 10157520832750202 5730841349146542080 o78950939 10157520834590202 8061730296938102784 o80025834 10157520833645202 3127354121317777408 o79320379 10157520833335202 5446383247065874432 o

 

Borobudur Marathon 2019

Dari banyak event lari marathon di Indonesia, hanya sedikit yang bereputasi istimewa, salah satunya adalah Borobudur Marathon (BorMar), yang diadakan pada tanggal 17 november 2019. Saya dan Intan tentu tidak melewatkan kesempatan lari ini, padahal untuk mengikuti event ini peserta tidak cukup hanya bayar langsung bisa ikutan. BorMar adalah sedikit dari event lari Indonesia yang mengimplementasikan sistem ballot, seperti event event marathon terkenal di dunia. Jadi begitu kita daftar belum tentu kita mendapatkan kesempatan untuk lari, harus diundi dulu. Saya adalah salah satu pendaftar yang tidak beruntung karena tidak mendapatkan ballot, sedangkan Intan mendapatkan ballot lari untuk jarak 10K. Karena tidak kebagian ballot tersebut, maka saya berpikir ya sudah saya usah ikutan lari, tapi saya berencana tetap datang saat race day untuk menemani Intan, paling ga, saya ikutan motretin sambil menikmati keramaian acara.

1 bulan sebelum hari H, tiba tiba dari salah satu grup WA lari yang saya ikuti, muncul info kalau ada yang mau jual bib BorMar kelas 21K, tanpa pikir panjang saya langsung mengontak yang bersangkutan dan membelinya. Padahal ini bib untuk cewek, tapi ya sudah yang penting saya bisa ikutan lari, walaupun pake nama cewek :P. Semakin mendekati hari H, ternyata Intan mendapatkan tawaran dari temannya untuk membeli bib 21K. Kebetulan kita ingin berlari bareng sebagai #couplerunner di 21K, jadi Intan beli bib temennya (yang kebetulan nama cowok), jadi kami masing masing pake bib nama yang sesuai, Intan pake nama yang cewek, dan saya pake nama yang cowok untuk kelas 21K, walaupun bukan nama kami sebenarnya. Asyik, akhirnya jadi lari bareng walopun awalnya pesimis untuk bisa ikutan lari di BorMar 2019 ini.

Kembali ke bib Intan yang 10K, ternyata ada teman yang ingin pengen beli, luar biasa volume permintaan dan jual beli bib saat mendekati hari H ini. Untungnya yang membeli bib Intan tersebut berbaik hati juga untuk mengambil race pack kita di hari sabtu tanggal 16 November, karena hari sabtu itu pesawat kita dari bandung mengalami delay, jadi sampai penginapan di sekitaran borobudur sudah jam 9 malam. phew, untung race packnya sudah diambilkan.

Race day, kami bangun jam 3:30 pagi, jam 4 pagi kami sudah otw menuju garis start di pelataran Candi Borobudur.  Jaraknya sekitar 2km dari penginapan kami. Lumayan kami pemanasan lari lari kecil menuju garis start. Kami tidak mau pengalaman hadir start terlambat seperti di Bali Marathon 2019 terulang kembali, jadi berangkat lebih awal. Seperti yang bisa diduga, karena ini adalah salah satu race yang istimewa, maka pesertanya juga membludak.

Jalur 21K yang kami lalui cukup lumayan menantang, walaupun awalnya banyak jalur turunan, namun di tengah dan akhir malah justru banyak tanjakan. Sepanjang jalurpun kami banyak disuguhi atraksi tarian tradisional, modern, dan juga nyanyian / paduan suara dari penduduk desa yang dilewati jalur lari. Anak anak kecil TK/SD, remaja SMP/SMA, sampai orang dewasa  semuanya terlibat meramaikan acara dari pinggir jalan raya. Mirip sekali keramaiannya dengan Bali Marathon, walaupun suguhan atraksinya berbeda. Dihadapkan dengan banyaknya atraksi yang keren gini, maka kami tentu saja tidak bisa lari cepet, kami dikit dikit foto foto, lagian rugi juga kalo lari cepet cepet tanpa menikmati suguhan yang ditawarkan. Alhasil catatan waktu kami jauh dari ideal, lebih parah dari Bali Marathon yaitu 3 jam lebih sedikit untuk jarak 21K. 

Catatan penting di BorMar adalah panasnya luar biasa, rasanya malah lebih panas dari Bali Marathon. Sampai garis finish Intan sampai tiduran di rumput saking telernya. tapi overall event lari yang ambiancenya luar biasa. tidak lupa kami jepret jepret dulu di candi brorobudur sesudah lari. Saya rekomendasikan yang hobi lari, untuk sekali sekali mencoba ikutan race ini.

76913774 10157457815375202 4974496955485913088 n79379385 10157512194210202 4302873162560831488 o79527047 10157512194295202 8717584309982068736 o78153643 10157484808625202 7792174494423973888 o75572106 10157457816555202 4955757506367324160 n75412241 10157457815610202 8160160351678103552 n74566480 10157457816205202 3549892230804144128 n76769624 10157457815960202 4181492370254069760 n75348977 10157457817890202 2977547165271851008 n74701595 10157457818520202 83718516145913856 n77079443 10157457816735202 2576138864657694720 n 

 

Cerita Bali Marathon 2019

Salah satu gelaran marathon yang paling terkenal di Indonesia adalah Maybank Bali Marathon (MBM), selain gelaran marathon lainnya seperti Pocari Sweat Bandung Marathon (PSBM), Borobudur Marathon (BorMar), dan juga Jakarta Marathon (JakMar). MBM 2019 diadakan pada hari minggu tanggal 8 september 2019. Saya dan Intan emang sudah lama pengen ngerasain suasana lari di MBM yang kondang itu. Kami bersama dengan temen temen Intan di angkatan 93 menyewa villa di daerah pantai Sanur. Saya dan Intan berangkat dari Bandung, hari jumat tanggal 6 september, dan terpaksa harus ke bandara Kertajati untuk naik pesawat ke Bali. Berangkat jam 02:00 dini hari, untuk mengejar pesawat jam 06:00 pagi, akhirnya kami berdua tiba di Bali jumat pagi sekitar pukul 10:00 pagi, kami merupakan orang  pertama check in ke villa yang disewa.

Begitu checkin ya leyeh leyeh enjoy villa. Sebelum leyeh leyeh kami koordinasi pemilihan kamar via WA (karena yang lain akan nyampe jumat malem dan sabtu pagi). Kami terdiri dari 7 orang dan ada 3 kamar, yang berpasangan hanya saya dan Intan saja. Villa yang kami sewa keren banget, namanya Ellora Villas. Saya sampai ketiduran karena keasyikan leyeh leyeh di kursi males di depan kolam renang. Hari jumat itu kami bersantai saja seharian, paling keluar untuk cari makan. Hari sabtu keesokan harinya, dengan personil yang sudah lengkap, kami pergi ke tempat pengambilan race pack (RPC) yang lokasinya lumayan jauh dari villa kami, yaitu  di Taman Bhagawan, Nusa Dua. Oh ya tidak lupa sebelum pergi sabtu pagi tersebut, kami sempat melakukan tappering run sejauh 5km di sepanjang pantai Sanur. Di lokasi RPC, lokasi sangat ramai, banyak booth sponsor, tempat nongkrong dan juga DJ yang memainkan musik musik asoy untuk joget… mulai deh beberapa dari kami ga bisa nahan untuk ikutan joget. Hari sabtu ini diakhiri dengan hunting ice cream gelato di Seminyak dan melihat matahari terbenam, terus sesegera mungkin kembali ke villa untuk tidur lebih awal.

70009162 10157250814840202 5594367298732294144 n69543703 10157253068710202 5346526644708311040 o69914896 10157253069340202 421911692801212416 o69547583 10157253069565202 1956364827462991872 o69975444 10157253068975202 187647129752174592 o

Hari H, kami berangkat jam 03:00 pagi menuju lokasi start MBM 2019 di Bali Safari Marine Park. Tidak terduga mendekati lokasi, jalanan macet sekali, sehingga kami tertahan, sampai menjelang start kelas HM pukul 05:00 WITA. Pukul 04:45 kami terpaksa turun dari mobil dan berlari sepanjang kurang lebih 3km an untuk menuju garis start. Seperti diduga maka kami telat start sekitar lebih kurang 5 menit. Tapi yah lari diteruskan saja mengejar barisan depan kita yang sudah start duluan.

Melihat banyak sekali atraksi di sepanjang rute lari, maka saya dan Intan berlari dengan speed santai. Kami melihat penari, masyarakat desa, termasuk anak anak sekolah yang menyambut kami di sepanjang jalur rute berlari. Banyaknya atraksi tersebut, membuat kami sedikit sedikit berhenti untuk ambil foto foto. Suasana yang sangat keren, sayang kalau tidak di foto foto. Alhasil kami menyelesaikan HM ini dalam waktu 3 jam, atau 30 menit lebih lambat dari durasi saya biasa berlari jarak HM.

70206760 10157255673505202 1325570746000343040 n70281552 10157255673620202 7993368311804985344 n70262147 10157255675120202 3837201130312433664 n71082500 10157255674745202 3071077628694757376 n70365180 10157255675740202 7945350521601130496 n69763600 10157255673795202 8411882754194538496 n69716389 10157255675040202 3555145937879826432 n69660926 10157255674455202 2528477595394113536 n69536053 10157255674015202 6423874072278466560 n

Kami puas mengikuti MBM2019, atmosfer lombanya sangat menyenangkan, semoga kami bisa kembali di MBM2020. Foto menjelang garis finish.

70684900 10157266471290202 1001271762777800704 n70449717 10157266471350202 4090922848695091200 o69876966 10157266471420202 4005207494879084544 o

Dan ini berpose dengan medali, sesudah finish.

69614843 10157255675385202 577281245675782144 n69877987 10157255674150202 7376448636860760064 n

Big Bad Wolf

Big Bad Wolf adalah pameran (dan jualan) buku buku yang diambil dari sisa stok distributor internasional. Untuk pertama kalinya tanggal 6-16 september 2019 Big Bad Wolf diadakan di Bandung, tepatnya di Mason Pine, Kota Baru Parahyangan yang kebetulan lokasinya dekat rumah. Acara ini termasuk sukses dilaksanakan. Antusiasme pengunjung untuk menghadiri acara ini sangat membludak, padahal pameran sudah dibuka selama 24 jam pada periode tanggal tersebut. Saya datang sampai 3 kali, pertama belanja 12 buku, kedua belanja 8 buku, dan ketiga belanja 10 buku. Sepertinya acara seperti ini harus sering dilaksanakan, terlihat minat baca anak anak cukup besar, atau mungkin karena sulit mencari buku buku berkualitas di toko buku mainstream?. Oh ya harga buku buku yang dijual termasuk terjangkau. Berikut ini adalah buku buku yang saya (dan keluarga) beli. 

WhatsApp Image 2019 09 15 at 6 09 48 PM

Gimana Rasanya Menembus Jarak Full Marathon ?

Salah satu ultimate goal pelari amatir atau pelari hore macam saya adalah mampukan kita menembus jarak sakral yaitu jarak marathon (42,195km). Ada pelari yang mampu mencapainya kurang dari 1 tahun, atau 2 tahun, atau lebih sejak awal melakukan hobi lari muncul, dan bahkan ada juga yang tidak berani mencoba menembus jarak tersebut. Pertama kali saya lari adalah pada event ITB Ultra Marathon Oktober 2017 sebagai pelari hore kelas family 5km saja, jadi total saya berlari masih dibawah 2 tahun. Setelah mengikuti 5 kali race jarak Half Marathon (21,1km) akhirnya saya memberanikan naik kelas menuju jarak Marahon (atau sering disebut sebagai Full Marathon (FM)). Event yang saya dan intan pilih adalah event yang dilakukan di kota sendiri yaitu Bandung Pocari Sweat Run 2019 pada tanggal 28 juli 2019.

Persiapan khusus menjelang race marathon sendiri tidak ada, bahkan sehari sebelum marathon saya baru selesai mengikuti kegiatan konferensi di Malaysia, jadi kalo diliat persiapannya sih sebenernya tidak terlalu istimewa. Beberapa bulan yang lalu saya dan Intan sebenarnya sudah mencoba berlari jarak marathon pada salah satu sesi long run di weekend. Waktu itu kita mampu menempuh jarak marathon dengan susah payah, karena energi sudah habis pada saat melewati jarak 30km. Maka untuk persiapan kali ini, saya usahakan carbo loading sebanyak mungkin mulai beberapa hari sebelum pelaksanaan race.

Dan akhirnya kami berhasil menaklukkan jarak Marathon, kami sebagai pelari Virgin FM ini berhasil menyesaikan waktu 5 jam lebih (saya) dan intan selama 6 jam lebih. Tidak terlalu jelek untuk pelari pemula. Rata rata pace saya masih dikisaran 7,51 menit per km. Pada sesi latihan jarak marathon sebelumnya saya mendapatkan 8,02 menit per km. Ini merupakan pencapaian yang bagus karena saya bisa mempertahankan pace sepanjang jarak tersebut sakral pace 7. Saat race sendiri saya bilang ke Intan kalau saya akan memulai lebih cepat, makanya saya terpisah meninggalkan Intan, untung Intan lari santai ditemani temannya. Saya berlari konstan dengan pace 7 sampai kira kira di km 6, setelah itu saya menjadi lebih cepat ke pace 6 di km 8 sampai km 17, dan setelahnya saya turun menjadi pace 7 lagi sampai kira kira di km 25, nah selanjutnya saya melorot ke pace 8, bahkan beberapa kali menembus pace 9 karena kecapean.

Ada postingan saya di IG, pengalaman di km 35:

“Km 35, menjelang pukul 10 pagi di jalan cihampelas bawah sebelum belokan ke wastukencana. Matahari sudah tinggi dan kemacetan jalan makin menjadi. Panas, capek, haus udah campur aduk rasanya membuat semangat lari semakin turun. Tiba tiba ngeliat kumpulan supporter di pinggir jalan lengkap dengan semprotan, gayung, dan air dingin untuk mengguyur para pelari.

Beberapa pelari enggan disiram air, mungkin takut earphone atau HPnya jadi rusak. Ga pake pikir panjang saya langsung minta diguyur air untuk mendinginkan kepala dan badan. Sayang fotonya hanya ada pas selesai diguyur air, tapi saya sertakan foto foto pelari lain yang kena guyur. Thanks to @ourstori.es yang mengcapture kemeriahan di spot ini. Foto foto yang keren.

Abis diguyur berasa air asin disekitar mulut, baru nyadar keringet campur air dingin… nikmat juga, nambah semangat menuju garis finish #pelaribandung #ceritaFM #virginFM #psbm2019 #gabolehmales #ayolari#marilari “

 

Tapi yang terpenting adalah NOW, I’m Officially Marathoner ..

67467872 10157150303240202 1026184093513023488 n67298131 10157155536235202 5819104219864498176 n
67364935 10157159355150202 6182250774257467392 n67404501 10157150303540202 4248780914210897920 n67610469 10157150303570202 4716912790193831936 n67621602 10157155536070202 8330858393723994112 n67321536 10157155536185202 3763816271120957440 n68260769 10157155536035202 6710500196540743680 n67769093 10157159355085202 8479190483770277888 n67751074 10157150303415202 1392895883078533120 n67676137 10157150303085202 9036980368992894976 n67740890 10157155536315202 8126780888055808000 n67838016 2395596050530720 2177686240277561344 n68288006 1224076557779958 1601840316837527552 o

BNI UI Half Marathon 2019

BNI-UI Half Marathon 2019 adalah ajang lari yang diadakan di area kampus Universitas Indonesia, Depok. Tahun 2019 ini adalah kali pertama saya ikutan lomba ini, saya ambil race Half Marathon (HM). Acara diadakan tanggal 7 Juli 2019, kebetulan saya juga pas ada acara workshop summer school machine learning seminggu kedepannya (tanggal 8-12 juli) di kampus UI Depok, jadi saya mulai nginep dari tanggal 6 juni untuk mengikuti lomba lari ini dan sekaligus summer school.

Track lari di UI sangat nyaman, kenyamanan pertama adalah jalur yang rindang dan steril dari kendaraan, sehingga pelari bisa fokus berlari tanpa terlalu kuatir akan keselamatan. Peserta lari cukup banyak, mungkin sekitar 5000 an peserta. Kelas HM start pukul 5:30 pagi. Saya lari bareng dengan Intan (istri) dan mas awal (temen lari di bandung). Awalnya saya masih bareng Intan, dan mas awal sudah jauh di depan. Menjelang km 10 saya sudah jauh di depan Intan, walaupun di akhir lomba saya melambat, sehingga finish bareng juga. Saya finish 2 jam 40 menit, belum bisa mengalahkan rekor saya sebelumnya di 2 jam 30 menit.

Overall race ini sangat bagus penyelenggaraannya, dan tempatnyapun sangat nyaman. Apakah saya akan berlari lagi di race ini tahun depan? , sepertinya tidak sih, saya ingin mencoba race race lain yang belum pernah saya coba.

66091954 10157096209325202 7831100684970754048 n65921788 10157096209400202 2044572503556227072 n66142596 10157096209545202 6065275342791114752 n65835723 10157096209435202 3962472827981922304 n66183860 10157096209725202 749205423575269376 n66471864 10157096209780202 8982892737732804608 n

Mobil Cina Bernama Wuling Almaz

Berkomuter di kota besar seperti Bandung bukan merupakan hal yang nyaman dan efisien, apalagi jika kita tinggalnya di area Bandung coret. Kami sekeluarga berempat setiap hari mempunyai aktivitas di kota Bandung, sementara lokasi tinggal kami adalah sekitar 25-30 km di luar kota bandung, dimana jarak ini harus melewati jalan tol. Bisa dibayangkan bahwa kendaraan pribadi saat ini merupakan opsi terbaik dari semua pilihan yang ada, seperti naik bis, naik angkot, naik gojek, maupun naik grab. Apalagi lokasi sekolah anak anak, kantor saya, dan kantor istri berbeda semuanya. Kadang saya iri dengan rekan yang bisa bike to work ke kantor, jangankan naik sepeda, saya naik motor ke kantor (tidak melalui tol) itu membutuhkan waktu hampir 2 jam, jadi tidak efektif untuk mendukung pekerjaan. Kesimpulannya kebutuhan mobil bagi keluarga kami adalah keharusan.

Entry blog ini merupakan lanjutan dari entry blog otomotif saya di tahun 2014 tentang review Suzuki Splash 2014, dan tahun 2016 tentang review Kia Sportage 2013. Tahun ini Splash sudah berusia 5 tahun, dengan odometer mencapai 95rb km, sedangkan sedangkan Sportage sudah berumur 6 tahun, dengan odometer 82rb km. Kami merasa perlu melakukan penyegaran, karena dengan jarak tempuh yang tinggi, kaki kaki dan goncangan mobil berasa tidak senyaman dahulu. Yang utama perlu diremajakan adalah Splash, sedangkan Sportage masih cukup enak untuk mobil seusianya, mungkin 2-3 tahun lagi kami akan remajakan juga. 

Waktu itu pilihan pertama pengganti splash adalah Nissan Livina. Kami pilih Livina, karena terkenal empuk dan nyaman, walaupun tenaga pas pasan. Tapi kami tidak mau membeli mobil baru, karena rasanya sayang beli mobil baru, padahal Livina bekas lumayan banyak dengan harga yang relatif terjangkau. Saat hunting kami tidak tahu kalo Livina bakal keluar versi baru. Mencari Livina bekas yang bagus ternyata tidak mudah. Saya beberapa kali test drive, sering kali yang saya temukan bahwa pemilik Livina tidak merawat mobilnya di bengkel resmi dengan alasan beres mahal dan banyaknya bengkel alternatif di sekitar Bandung. Dari sini saya mulai ragu … tapi masih terus hunting Livina.

Suatu saat beberapa bulan kemudian (tepatnya akhir Januari 2019), masuk pesan WA dari sales Wuling (merk mobil cina), yang mengabarkan bakal ada SUV baru dari Wuling. Saya kenal sales ini karena saya pernah lihat pameran mobil MPV Wuling Cortez di suatu mall. Berbekal kepuasan saya akan mobil SUV semacam Sportage, maka saya bilang sales tersebut untuk mengabari jika sudah ada unit test drive Wuling SUV itu, yang ternyata bernama Almaz.

Saat tulisan ini dibuat pilihan SUV setara Sportage, dalam konteks value for money tidak ada yang cocok. Produk produk Honda (CRV dan HRV) saya coret, karena selain harganya mahal, dan berbekal pernah punya jazz dan freed, menurut saya Honda itu mahal dalam segala hal (servis, spare parts dll), dengan kata lain overprice. Produk Toyota (Fortuner dan Rush), sama sekali tidak meningkatkan gairah saya untuk beli mobil tersebut. Produk Chevrolet (Captiva dan Trax), saya agak suka, tapi ga rela untuk beli. Produk Mazda (CX5) saya suka banget, tapi harganya terlalu mahal, bahkan harga bekasnyapun masih luar biasa mahalnya.

Akhirnya hari yang ditunggu untuk testdrive Almaz pun datang. Saya sengaja ajak anak anak. Saya perhatikan ekspresi mereka. Tidak ada excitement saat test Livina atau beberapa mobil lainnya, tapi saat test Almaz langsung beda banget ekspresinya. Ya jelas beda karena Almaz pake head unit macam tablet ipad, terus ditambah panoramic roof, terus ditambah sound system infinity yang luar biasa jernih. Diluar itu space akomodasi Almaz  yang membuat saya langsung suka karena sangat lega, dan killer factornya adalah mesin Turbonya. Saya suka dengan tarikan mesin Turbo Almaz. Ini seperti kembaran Sportage saya tapi dengan mesin lebih kecil dan Turbo, jadi harusnya lebih irit, atau paling tidak menyamai Sportage, jadi saya tidak masalah dengan konsumsi BBM. Masih banyak sebenernya fitur fitur lain, tapi menurut saya yang lain lainnya itu nice to have lah. Killer factorsnya sudah saya sebutkan diatas.

Saya langsung pesen, padahal harga mobilnya belum ada …

Nunggu dua minggu setelah pemesanan baru harga resmi keluar, dan untungnya harganya masih terjangkau, jauh dibawah CRV, CX5, dan bahkan sama dengan mobil yang fiturnya dibawahnya (HRV, Trax). 

Sempet galau pemilihan warna, apakah pilih abu atau hitam, akhirnya saya pilih warna hitam, karena saya lihat warna item Almaz sangat keren, dan saya belum pernah punya mobil warna item. Akhirnya mobil dikirim awal Maret 2019.

Akang sales Wuling cerita kalau saya adalah pemakai Almaz nomer dua di Bandung. WOW, jadi inget dulu punya Yamaha NMax termasuk dalam pembeli pembeli awal juga.

Setelah seminggu dipake, kesan Almaz dibandingkan dengan Sportage ada 2, yaitu:  1). mesin biasa aja, 2). fitur luar biasa. Untuk nilai minusnya, mesin menurut saya biasa aja karena tenaganya ngepas untuk bermanuver di jalan tol dengan nyaman, serta adanya turbo lag namun dengan cerdik ditutupi oleh transmisi CVT yang halus. Kalau saya pake sportage dengan tenaga lebih besar  rasanya masih banyak tenaga tersimpan untuk bermanuver. FYI Sportage 166hp sedangkan Almaz hanya 140hp. Alangkah nikmatnya kalo misalkan tenaga Almaz ini dilebihkan sedikit, supaya juga sesuai dengan tampangnya yang macho. Selain itu transmisi manualnya tidak seresponsif di sportage. Untuk nilai plusnya menurut urutan prioritas saya adalah 1). panoramic roof, 2). head unit, 3). kelegaan kabin yang luar biasa, 4). sound sistem jempolan. 5). kamera 360.

Review pemakaian seminggu ini mungkin belum terlalu akurat, nanti saya akan update lagi kalo ada pengalaman pengalaman baru. Secara keseluruhan, menimbang nilai plus dan minusnya, menurut saya Almaz sangat sangat worth to have. Saat saya beli Almaz tidak ada mobil sekelasnya yang mempunyai value for money lebih baik dari Almaz. Ada sih merk DFSK, tapi kok ga minat ya .. Oh ya konsumsi BBM mungkin belum optimal, saat ini saya memperoleh nilai 1:10 – 1:13 … lumayan irit 🙂

 

IMG 20190312 194159