Hecitc di Akhir Tahun

Menjelang akhir tahun kesibukan luar biasa menimpa saya, tapi bisa dibilang alhamdulilah masih dikasih kesibukan luar biasa ya. Beberapa riset dan project punya deadline di bulan desember 2020 ini, mungkin totalnya ada 10 parallel project/riset. Cukup wajar, mengingat tutup tahun anggaran semuanya ada di bulan desember. Jadi mohon maaf tidak bisa sering update blog seperti yang saya harapkan. Beberapa cerita penting yang rencananya saya tulis pun masih manteng di local draft :p .. okay semoga nanti ada waktu luang untuk menuliskannya sesudah badai deadline berlalu

tetap sehat semuanya ya..

7a0791d7fd1b468aa33ec9ea01d34eca

Akhirnya Lolos SBMPTN 2020 ke FTI ITB

Pandemi covid 19 membuat sekolah si sulung terhenti sejak maret 2020 kemarin, seperti semua sekolah lainnya. Kalo dipikir kasian juga masa masa terakhir SMA nya cut short , tiba tiba aja sudah lulus SMA. Si sulung ini sekolah di SMA 2, salah satu sekolah negeri favorit di Bandung,  dimana persaingan untuk merebut ranking di kelas cukup berat. Akibatnya dia tidak mendapatkan jatah jalur raport (SNMPTN), kalau tidak salah dia ranking 20an di kelas, jadi sangat jauh untuk menembus seleksi raport. Meskipun agak sedih, ternyata ini justru membawa berkah tersendiri, Temen temennya yang lolos SNMPTN ternyata tidak bisa bebas memilih jurusan yang diinginkan. Sekolah memberikan acuan dan strategi supaya murid murid tersebut keterima di PTN, walaupun di jurusan yang tidak begitu populer.

Si sulung ini sangat bertekad masuk ke jurusan Teknik Industri (tidak mau jurusan lainnya), dengan incaran utamanya adalah FTI ITB. Saya dan istri jadi ngerasa ngeri ngeri sedap, karena FTI ITB termasuk target yang sangat tinggi untuk ditembus. Sebenarnya dia sudah saya daftarkan ke Telkom University, dan sudah di terima di jurusan Teknik Industri sejak akhir 2019. Saya sudah lega, paling tidak cadangan sudah ditangan, walaupun nantinya dia akan berusaha untuk masuk jalur SBMPTN ke ITB melalui ujian tulis (UTBK).  

Karena pandemi covid 19 tidak kunjung selesai, maka banyak terjadi perubahan jadwal, dan juga sampai perubahan jenis tes yang akan diujikan saat UTBK. Si sulung sendiri mendapatkan perubahan jadwal dan tempat, tadinya ujian di ITB, terus berpindah ke SMA 5. Dia memantapkan pilihan pertama adalah FTI ITB, dan pilihan kedua adalah TI Universitas Brawijaya. Kebetulan di Malang ada orang tua saya, jadi kalo dia keterima, bisa tinggal dengan kakek neneknya. Pandemi membawa berkah juga, karena berbulan bulan tidak kemana mana, maka si sulung sangat serius mempersiapkan diri menghadapi UTBK.

Setelah selesai UTBK (tanggal 11 juli), kami menunggu sebulan lebih, sampai diumumkan hasil UTBK pada tanggal 14 Agustus 2020, jam 15:00 sore. Saya dan istri sudah sangat deg degan menunggu hasil tersebut. Tapi semuanya sudah kami rencanakan dengan baik, termasuk backup plan jika tidak diterima di SBMPTN. Tepat pukul 15:00, si sulung tidak berani membuka situs pengumuman, jadinya saya dan istri yang buka barengan di laptop kami. 

Terpampang tulisan, selamat, anda diterima di FTI ITB 

Saya dan istri langsung berpelukan, sementara si sulung masih di kamarnya di lantai atas tanpa tahu hasilnya seperti apa. Kami berdua berlari ke kamarnya. Dan langsung memeluk dengan suka cita. We are the #proudparent.

Saya jadi ingat memory 30 tahun yang lalu, saat diterima di kampus gadjah, saya di Malang, dan hasil UMPTN waktu itu di print di koran, yang melihat hasil UMPTN saya adalah orang tua saya, karena saya ga berani lihat sendiri 😀

Screenshot dari halaman SBMPTN dan nilai yang diperoleh (rata rata 631)

Alhamdulilah 

117824291 10158339769850202 8231967697812149285 o

WhatsApp Image 2020 08 15 at 10 57 33 PM

Literasi Big Data untuk Anak dari Anak Bertanya

Anak Bertanya asuhan Prof Hendra Gunawan selalu konsisten memberikan pencerahan kepada anak anak untuk menjawab sifat keingintahuan mereka yang sangat besar.  Anak Bertanya menghadirkan para ahli di bidangnya masing masing untuk menjawab pertanyaan pertanyaan tersebut. Saya sudah beberapa kali ikut kegiatan, baik sebagai peserta, maupun sebagai pengisi acara (narasumber). Yang ingin saya share disini adalah sharing yang terakhir saya lakukan  mengenai topik “BIG DATA” untuk anak anak.

Berikut tautan videonya, semoga pencerahan yang saya sampaikan, bahasanya bisa mudah dimengerti ya. Mohon diberikan masukan.

Big Data Jalur Pelari

Sebagai seorang yang tertarik dengan data dan menyukai lari, maka sering sekali muncul pertanyaan di kepala saya, jalur lari mana yang populer di lingkungan sekitar kita. Sebagai contoh di kota Bandung (dan kota kota lainnya juga), kita bisa mengamati daerah atau jalur mana yang menjadi favorit para pelari. Strava sebagai jejaring sosial para atlit profesional dan hobbyist tentunya mempunyai big data perilaku penggunanya, makanya dengan mudah dapat dibuat global heatmap, yang menunjukkan daerah yang sering dilewati para atlit tersebut. Ada tersedia jalur lari, jalur bersepeda, dan juga jalur berenang.

Saya hanya tertarik pada jalur pelari, yang ada di  daerah kota Bandung, dan area lingkungan tempat saya tinggal (KBP di Bandung Barat). Berikut  heatmap  dari Kota Bandung dan sekitarnya. Terlihat para pelari lebih suka lari di tengah kota Bandung, di Bandung Utara, dan di area KBP

Screen Shot 2020 08 06 at 13 03 17

Lebih mendetail gambar level jalan raya di area tengah kota Bandung

Screen Shot 2020 08 06 at 13 03 49

Dan yang terakhir adalah jalur di area dalam kompleks perumahan Kota Baru Parahyangan (KBP), daerah tempat saya lari sehari hari

Screen Shot 2020 08 06 at 13 04 12

Cukup mengasyikkan bukan, tahu daerah daerah populer untuk berlari. Kalo misalnya kita ingin pergi ke suatu kota dimana kita gak tahu enaknya lari di daerah mana, mungkin bisa dicoba info seperti diatas. Boleh juga dicoba untuk kategori bersepeda, dan berenang, tergantung hobi masing masing.

Satu Abad ITB

ITB baru saja berulang tahun ke 100 pada tanggal 3 juli 2020. Saya menghabiskan hampir 12 tahun hidup saya menimba ilmu di ITB. Antara tahun 1990-1996 menjadi mahasiswa S1 jurusan Matematika (FMIPA), sedangkan antara 2012 sampai dengan awal tahun 2018 saya adalah mahasiswa doktoral STEI (Sekolah Teknik Elektro dan Informatika). Banyak sekali pengalaman hidup, intelejensia, sosial, dan spiritual tertempa selama saya menjadi anggota civitas academica ITB.

Kini sesudah saya mengarungi dunia saya sendiri, saya ingin mengucapkan terima kasih atas pengalaman yang diberikan. Selamat ulang tahun seabad ITB, semoga sumbangsihmu semakin besar untuk negeri ini. 

Saya sempatkan mampir ke ITB weekend ini dan berpose diantara dua pilar fakultas / sekolah saya, yaitu FMIPA dan STEI

Photo 2020 07 06 09 06 19

Photo 2020 07 06 09 06 25

Photo 2020 07 06 09 06 28

Photo 2020 07 06 09 06 33

 

 

Isu Rasialisme pada Kerusuhan di US

Kerusuhan yang terjadi di Amerika (Riot in USA) beberapa hari terakhir ini diduga karena isu rasial. Setelah ngubek ngubek percakapan di Twitter memang terbukti isu rasial merupakan isu dominan yang melatari demo di kota kota besar di US. Gerakan Black Lives Matter yang muncul sejak beberapa tahun belakangan menjadi semakin intense karena kejadian terbunuhnya George Floyd oleh polisi kulit putih di Mineapolis.  

50 tahun yang lalu US masih implementasi hukum segregasi, ini sudah menjadi budaya yang mengakar di masyarakatnya, tidak akan mudah dihilangkan begitu saja. Seperti di Indonesia, jaman diponegoro masyarakat kita sudah terkenal murah senyum, sampai sekarangpun (sudah ratusan tahun), kita tetap murah senyum. Ini menunjukkan bahwa 50 tahun itu masih terhitung sebentar untuk merubah budaya.

Anyway hasil discourse network analysis, diperoleh kata kata dominan berikut. Terdapat juga tweet dari Trump, namun tidak terlalu dominan, walaupun tweet Trump malah tidak “wise”, alias tidak membuat demo menjadi semakin reda. Bersyukur di Indonesia, kita tidak begitu. Warna ungu dan warna hijau merupakan kumpulan kata kata dominan. yang kata kata tidak dominan tidak saya tunjukkan. 

Screen Shot 2020 05 30 at 13 37 18

Project otak atik Discourse Network Analysis (DNA) Skala Besar pada Berita Global Coronavirus

DNA digunakan untuk mencari maksud/tujuan, agenda, motivasi, selain juga aktor advokasi, dan koalisi /persekongkolan (bisa yang tertulis pada dokumen, bisa dari debat verbal, dan bisa juga dari pidato). DNA merupakan kombinasi studi kualitatif analisa konten dan studi kuantitatif analisa struktur jejaring sosial (SNA) / aktor. Analisa kualitatif dokumen skala besar sangat sulit dilakukan, maka dari itu dimulai dari analisa kuantitatif dulu untuk menyaring/mereduksi dokumen menjadi topik topik penting menggunakan analisa jejaring teks.

Sumber data : https://blog.aylien.com/free-coronavirus-news-dataset/

Jumlah berita : 550.000 berita bahasa inggris

Durasi : 1 november 2019 – 5 april 2020

Topik / tema : berita yang berkaitan dengan coronavirus

Sumber : 400 media internasional

Ukuran file : 7.6 GB

Dari sumber berita diatas diperoleh jejaring teks sebesar 270.616 kata dan 14.277.297 hubungan antar kata tersebut, wow sangat besar jaringannya. Sepertinya butuh HPC atau pake kekuatan komputer cloud. Berhubung lagi WFH, sehingga ga bisa ke lab kampus, yah udah dikerjain perhitungannya di rumah pake modifan koding setengah inget setengah lupa pas disertasi dulu (python dan neo4J).

Topik 1 (kata dominan china-pandemic-public) : menceritakan bagaimana pandemic diawali di china, kemudian muncul anjuran social-distancing, karena ada isu dengan emergency-healthcare yang overload. yang menarik dari topik ini ada pola dibelakang yang tidak terlihat jelas (non-obvious), yaitu trump-political-law dan necessary-measures-serious-risk menunjukkan berita pernyataan trump menanggapi munculnya pandemic saat itu.

Topik 2 (kata dominan market-global-economy-business ) : isu ekonomi dominan pada topik ini sebagai akibat dari lockdown yang terjadi hampir diseluruh negara di dunia. ada dua klaster berdekatan america-shares-domestic dan investment-interest-expect menunjukan harapan iklim investasi di USA (growing) meskipun ada ancaman pandemic. selain itu terdapat klaster berita negatif, dengan kata decline-reduce aktivitas ekonomi yang berakibat unemployment, sayang kata tersebut tidak mencapai Top50 di topik ini.

Topik 3 (kata dominan coronavirus-medical-health-infected-quarantine) : isu kesehatan dominan pada topik ini, termasuk berita kematian, dan upaya untuk mereduksi penyebarannya government-flight-suspended dan school-hospital-isolation. berita banyak memunculkan kondisi kesehatan pada beberapa kota/negara di dunia, seperti wuhan-london-italy-australia.

Topik 4 (kata dominan provided-mask-food-important) : fokus pada anjuran untuk pencegahan penyebaran virus dan menjaga daya tahan tubuh muncul dari kata kata distance-touch-directly, check-physical-app, keeping-healthy-sense-clean, dan wearing-protective-cover. Akhirnya ketemu 4 topik atau agenda utama yang dominan dari ratusan ribu berita diatas.

Analisa aktornya belum dilakukan, monggo yang berminat silahkan barengan ngulik dataset diatas. kalo dapat cerita menarik, kita jadikan publikasi ilmiah. cara analisanya aktornya bebas, barangkali ada yang mempunyai ide ide brilian untuk data skala besar tersebut, tapi jangan minta saya untuk ngajarin lho ya, biar ketemu cara yang berbeda (bahkan lebih baik mungkin).

Modularity0blacklogoModularity1blacklogoModularity2blacklogoModularity3blacklogo

Expanding The View – Monitor LG29WK600

Salah satu efek pandemi covid19 adalah semakin lama durasi kita melakukan aktivitas dari rumah. Work From Home (WFH) membuat kita makin sering mantengin komputer (dan layar monitor) di rumah. Tercatat sehari hari mulai aktivitas meeting, riset, mengajar, administrasi, dan hiburan (nonton netflix, nonton youtube, dll) menggunakan komputer. Hal ini berakibat monitor yang ada di rumah jadi berasa sempit untuk memenuhi semua tuntutan aktivitas tersebut, yang tentu membutuhkan ruang kerja yang lebih luas, sehingga muncul kebutuhan buat saya untuk “expand” kemampuan monitor.

Saya pengguna macbook pro 2017, sehari hari menggunakan layar monitor lawas Dell S2340L (23inch) dan Samsung UA22H5000 (22inch). Meskipun dua monitor tersebut mumpuni, saya ngerasa viewnya makin lama makin kurang lebar, apalagi mata udah mulai sedikit sedikit nambah plusnya, oleh karenanya saya mulai hunting monitor lebar (atau super lebar). Pilihannya tidak terlalu banyak di Indonesia, tinggal milih super lebar flat atau super lebar curve. Layar curve harganya sudah tidak masuk ke budget sayangnya.

Setelah browsing sana dan sini akhirnya dapet monitor lebar dengan harga masuk akal, yaitu LG 29WK600 (29 inch) dengan harga 3.5 juta. Layar ini punya ukuran yang ajaib, dengan screen ratio 21:9, jadi kalo nonton film full screen maka garis hitam di bagian bawah dan atas layar akan hilang (nice). Kemudian untuk baca dokumen, montior ini bisa membuka 3 dokumen pdf  dijajarkan sekaligus dengan dengan zoom ratio 100%. Resolusi monitor ini adalah 2560×1080. Monitor ini juga menyertakan aplikasi bernama “OnScreen Control” agar kita bisa mengatur pembagian ruang di monitor secara efektif. Anyway saya seneng dengan monitor baru ini, jadi tambah semangat untuk WFH.

begini penampakannya. 

Photo 2020 04 07 20 00 43

Photo 2020 04 07 20 00 49

Photo 2020 04 07 20 00 52

Photo 2020 04 07 20 00 55

Screen Shot 2020 04 07 at 20 10 43  2

 

 

 

Work From Home karena Pandemic Corona

Sebenarnya banyak entry blog yang mengantri untuk dituliskan, akan tetapi kejadian luar biasa seminggu terakhir ini lebih pantas untuk dituliskan duluan. Berkenaan dengan Pandemik Corona Virus sejak akhir tahun 2019 di Cina, maka sejak tanggal 16 Maret 2020 ada himbauan dari pemerintah untuk bekerja dari rumah dalam upaya mensukseskan gerakan Social Distance, yang dipercaya efektif mencegah penularan virus Corona yang lebih luas. Tanda tanda gerakan ini sudah mulai saya rasakan sejak beberapa minggu sebelumnya, diantaranya adalah penundaan / cancel beberapa kegiatan yang melibatkan kumpulan massa. Beberapa acara dimana saya akan menjadi pengisi materi sudah memberitahukan untuk tidak meneruskan acara. Beberapa event lari besarpun sudah mulai melakukan hal yang sama. Akan tetapi saya dan Intan masih agak nyantai, karena event lari Binloop Ultra pada tanggal 14-15 Maret masih belum ditunda, dan kami masih sempat ikut race disana. Rencananya setelah race ini saya akan mengisi acara di Bogor tanggal 16-17 Maret, tiba tiba saya diinfokan kalau acara tersebut juga di tunda / cancel, walhasil saya kembali ke Bandung lagi. Begitu tiba di Bandung, dapat kabar kalau sekolah anak anak juga diliburkan, padahal si Sulung lagi ujian sekolah SMA. Berarti ini adalah suatu kejadian yang luar biasa. 

Secara beruntun beberapa info tentang penundaan acara saya terima, termasuk acara menguji sidang disertasi di IPB. Sekarang hampir semua lembaga, dan sekolah melakukan aktivitas dari rumah, bahkan kelas kelas pun diubah menjadi kelas online. Saya dan Intan melakukan kuliah online. Si bungsu yang masih SMP pun melakukan kegiatan belajar dengan teman teman dan gurunya secara online. Si sulung yang harusnya cepet lega karena ujian beres, malah sekarang jadi tertunda ujiannya. yah kita ambil hikmahnya aja. 

Salah satu hikmah yang diambil setelah hampir seminggu work from home (WFH) saya jadi makin banyak waktu untuk berolahraga (makin rajin olahraga). Si sulung jadi makin banyak waktu luang untuk menyalurkan hobinya memasak (mungkin punya minat jadi chef), sedangkan si bungsu tetep sibuk sekolah online dan les tari jarak jauh. WFH keliatannya mudah dan nyaman, tapi ternyata malah merepotkan, karena kita harus merubah ritme kerja kita.jadi batasnya terlalu tipis, kapan kerja dan kapan beristirahat, belum lagi godaan cemilan. Semoga pandemik corona ini cepat berlalu, amin. 

 

Photo 2020 03 20 18 35 42

Borobudur Marathon 2019

Dari banyak event lari marathon di Indonesia, hanya sedikit yang bereputasi istimewa, salah satunya adalah Borobudur Marathon (BorMar), yang diadakan pada tanggal 17 november 2019. Saya dan Intan tentu tidak melewatkan kesempatan lari ini, padahal untuk mengikuti event ini peserta tidak cukup hanya bayar langsung bisa ikutan. BorMar adalah sedikit dari event lari Indonesia yang mengimplementasikan sistem ballot, seperti event event marathon terkenal di dunia. Jadi begitu kita daftar belum tentu kita mendapatkan kesempatan untuk lari, harus diundi dulu. Saya adalah salah satu pendaftar yang tidak beruntung karena tidak mendapatkan ballot, sedangkan Intan mendapatkan ballot lari untuk jarak 10K. Karena tidak kebagian ballot tersebut, maka saya berpikir ya sudah saya usah ikutan lari, tapi saya berencana tetap datang saat race day untuk menemani Intan, paling ga, saya ikutan motretin sambil menikmati keramaian acara.

1 bulan sebelum hari H, tiba tiba dari salah satu grup WA lari yang saya ikuti, muncul info kalau ada yang mau jual bib BorMar kelas 21K, tanpa pikir panjang saya langsung mengontak yang bersangkutan dan membelinya. Padahal ini bib untuk cewek, tapi ya sudah yang penting saya bisa ikutan lari, walaupun pake nama cewek :P. Semakin mendekati hari H, ternyata Intan mendapatkan tawaran dari temannya untuk membeli bib 21K. Kebetulan kita ingin berlari bareng sebagai #couplerunner di 21K, jadi Intan beli bib temennya (yang kebetulan nama cowok), jadi kami masing masing pake bib nama yang sesuai, Intan pake nama yang cewek, dan saya pake nama yang cowok untuk kelas 21K, walaupun bukan nama kami sebenarnya. Asyik, akhirnya jadi lari bareng walopun awalnya pesimis untuk bisa ikutan lari di BorMar 2019 ini.

Kembali ke bib Intan yang 10K, ternyata ada teman yang ingin pengen beli, luar biasa volume permintaan dan jual beli bib saat mendekati hari H ini. Untungnya yang membeli bib Intan tersebut berbaik hati juga untuk mengambil race pack kita di hari sabtu tanggal 16 November, karena hari sabtu itu pesawat kita dari bandung mengalami delay, jadi sampai penginapan di sekitaran borobudur sudah jam 9 malam. phew, untung race packnya sudah diambilkan.

Race day, kami bangun jam 3:30 pagi, jam 4 pagi kami sudah otw menuju garis start di pelataran Candi Borobudur.  Jaraknya sekitar 2km dari penginapan kami. Lumayan kami pemanasan lari lari kecil menuju garis start. Kami tidak mau pengalaman hadir start terlambat seperti di Bali Marathon 2019 terulang kembali, jadi berangkat lebih awal. Seperti yang bisa diduga, karena ini adalah salah satu race yang istimewa, maka pesertanya juga membludak.

Jalur 21K yang kami lalui cukup lumayan menantang, walaupun awalnya banyak jalur turunan, namun di tengah dan akhir malah justru banyak tanjakan. Sepanjang jalurpun kami banyak disuguhi atraksi tarian tradisional, modern, dan juga nyanyian / paduan suara dari penduduk desa yang dilewati jalur lari. Anak anak kecil TK/SD, remaja SMP/SMA, sampai orang dewasa  semuanya terlibat meramaikan acara dari pinggir jalan raya. Mirip sekali keramaiannya dengan Bali Marathon, walaupun suguhan atraksinya berbeda. Dihadapkan dengan banyaknya atraksi yang keren gini, maka kami tentu saja tidak bisa lari cepet, kami dikit dikit foto foto, lagian rugi juga kalo lari cepet cepet tanpa menikmati suguhan yang ditawarkan. Alhasil catatan waktu kami jauh dari ideal, lebih parah dari Bali Marathon yaitu 3 jam lebih sedikit untuk jarak 21K. 

Catatan penting di BorMar adalah panasnya luar biasa, rasanya malah lebih panas dari Bali Marathon. Sampai garis finish Intan sampai tiduran di rumput saking telernya. tapi overall event lari yang ambiancenya luar biasa. tidak lupa kami jepret jepret dulu di candi brorobudur sesudah lari. Saya rekomendasikan yang hobi lari, untuk sekali sekali mencoba ikutan race ini.

76913774 10157457815375202 4974496955485913088 n79379385 10157512194210202 4302873162560831488 o79527047 10157512194295202 8717584309982068736 o78153643 10157484808625202 7792174494423973888 o75572106 10157457816555202 4955757506367324160 n75412241 10157457815610202 8160160351678103552 n74566480 10157457816205202 3549892230804144128 n76769624 10157457815960202 4181492370254069760 n75348977 10157457817890202 2977547165271851008 n74701595 10157457818520202 83718516145913856 n77079443 10157457816735202 2576138864657694720 n