Posisi Manajerial

Posisi manajerial atau struktural manajerial pada suatu organisasi adalah posisi inti (pemimpin / nahkoda) pada bidangnya masing masing untuk mendukung keberlangsungan operasional organisasi. Demikian juga pada organisasi pendidikan (kampus). Posisi manajerial tentunya bertolak belakang dengan posisi dosen biasa. Walaupun pengisi posisi tersebut biasanya diambil dari dosen biasa juga. Namun ada perbedaan signifikan adalah, dosen biasa hanya cukup memikirkan beban kerja pribadi, apakah aktivitasnya sudah memenuhi syarat minimal pada pengajaran, riset, dan pengabdian masyarakat. Tidak jarang beberapa dosen pandai mengatur waktu sehingga, mereka bisa berkarya lebih seperti mempunyai waktu untuk membuat riset lebih banyak, menulis buku, proyek pengabdian masyarakat dan lain sebagainya. Namun semua itu masih terpusat pada target pribadi. Bahkan mungkin malah banyak juga yang tidak tahu (tidak memperoleh informasi) mengenai kondisi strategis kampus, day to day atau month to month operation, karena aktivitas berpusat pada masing masing individu dosen. 

Jabatan manajerial membuat kita berpikir lebih luas (makro), membuat kebijaksanaan, menjalankan pelaksanaan kegiatan, melakukan pengawasan, dan evaluasi kegiatan berkerja sama dengan organ fungsi lain di kampus. Tujuannya adalah untuk pengembangan kampus dan “sustainibility”nya. Saya sendiri bukan orang yang belajar khusus mengenai organisasi, tapi rasanya saya bisa memperkirakan bagaimana caranya mendukung tujuan (visi dan misi) kampus. 

Tulisan ini berkaitan dengan kabar terbaru “agak mengejutkan” yang saya terima beberapa hari yang lalu, yaitu promosi untuk mengisi salah satu jabatan manajerial di kampus. Menjadi bagian dari manajemen bukan merupakan pekerjaan mudah. Akan terjadi perubahan paradigma, dari yang terbiasa prioritas kerja dosen biasa, sekarang saya harus berpikir lebih luas. Tugas saya di research center, yang artinya lebih banyak fokus kepada “enhance” aktivitas riset dalam bentuk kolaborasi, hibah, kemudian juga aplikasinya ke dalam dunia nyata. Salah satu output nyatanya adalah Non Tuition Fee. Cukup berat, tapi rasanya tidak perlu kuatir, karena potensi dosen di kampus cukup besar untuk mendukung hal hal diatas, tinggal dikondisikan saja.

Tapi sepertinya nanti saya tidak akan bisa sering sering untuk update blog seperti sebelumnya, but lets see ..

 

IMG 5653

Quora: Aplikasi Tanya Jawab Bahasa Indonesia

Penyedia layanan tanya jawab secara crowdsourcing sudah sejak lama ada. Quora adalah salah satunya. Aplikasi Tanya Jawab Crowdsourcing, tidak berbeda jauh dengan aplikasi penulisan katalog pengetahuan melalui crowdsourcing seperti Wikipedia. Crowdsourcing adalah mekanisme dimana netizen dengan cara demokratis bekerja sama secara peer untuk menghasilkan konten yang bagus. Mekanisme bisa berupa voting, dimana konten atau jawaban dengan voting terbanyak merupakan konten atau jawaban yang paling baik. Dengan mekanisme tersebut, maka konten atau jawaban melalui proses crowdsourcing akan konvergen menuju jawaban terbaik. 

Di Quora terdapat banyak sekali pertanyaan pertanyaan yang akhirnya juga bisa memperluas pengetahuan. Kita selain berpartisipasi memberikan jawaban, juga bisa bertanya mengenai segala hal, mulai hal hal yang ringan, sampai hal hal yang bersifat akademis atau filosofis yang lebih serius. Fitur yang menarik dari Quora terakhir ini adalah tersedianya layanan dalam bahasa Indonesia, sehingga hal ini sangat bagus untuk membantu mencerdaskan netizen Indonesia. Silahkan ditengok

Oh ya sebelum bisa mengakses Quora bahasa Indonesia, kita harus mendaftar dulu, mungkin ini masih sementara, selanjutnya rasanya kita akan otomatis bisa akses langsung fitur bahsa Indonesianya. Berikut contoh Quora bahasa Indonesia di Iphone. Selamat mencoba

 

IMG 5525

Membiasakan Review Tempat Makan

Saya dan keluarga punya hobi cukup boros yaitu makan di luar, ini lebih karena saya dan istri sama sama sibuk dengan aktivitas sehari hari, sehingga tidak selalu punya waktu untuk masak. Solusi praktisnya adalah cari tempat makan diluar (makan di restoran). Di kota Bandung sendiri banyak sekali bertebaran tempat makan dalam berbagai ukuran, mulai cafe kecil sampe restoran besar, menu dan temanya pun bermacam macam, ada yang menjual kualitas masakan, dan ada juga yang hanya menjual suasana.

Kalo dilihat lihat sepertinya banyak juga profil keluarga seperti saya, yaitu suka makan di luar, namun hal yang menganggu adalah sulit mencari informasi tempat makan yang diinginkan. Beberapa ingin mencari tempat makan khas negara / daerah tertentu, beberapa ingin restoran khusus menu tertentu, beberapa hanya ingin tempat nongkrong (hanya mencari suasana, dan tidak perduli rasa), beberapa mencari tempat makan dengan harga terjangkau. Mencari informasi / review tempat makan bukan hal yang mudah, selama ini mencari ide tempat makan  tujuan biasanya diperoleh dari instagram, berupa promosi tempat dengan foto foto bagus, namun kurang berisi review tempat makan tersebut.

Saya hanya baru menemukan satu aplikasi untuk review tempat makan, yang rasanya perlu saya bagi, sehingga rekan rekan semua bisa menuliskan pengalaman / review mengenai suatu tempat makan. Aplikasinya bernama QRAVED. Aplikasi ini tersedia pada versi mobile untuk IOS dan Android. Saya rasa dengan banyaknya review yang dituliskan, maka kita bisa saling bertukar pengalaman mengenai rasa makanan, pelayanan, suasana, dan harga tempat makan tertentu. Saya membiasakan diri melakukan review tempat makan. By the way, saya tidak berafiliasi dengan aplikasi tersebut. Silahkan dicoba, kalau ada aplikasi / website review tempat makan lainnya, mohon diinfokan.

edit tanggal 9 juni 2018, saya baru tahu kalo kita juga bisa memberikan review lokasi di google, termasuk lokasi tempat makan. jadi bisa menambah pengetahuan baru 

 

 

IMG 5495

Diwawancara Radio PRFM tentang Big Data dan Politik

Salah satu rekan di Labtek Indie menanyakan ke saya: apakah saya bersedia mengisi acara talk show di Radio PRFM News mengenai pilkada. Kebetulan beberapa riset Big Data yang terakhir saya lakukan di lab. SCBD adalah mengenai kondisi politik di Indonesia menjelang tahun pemilu 2019. Tanpa pikir panjang saya langsung iyakan saja. Menurut saya ini adalah peluang untuk memperkenalkan metode Social Computing (kuantifikasi perilaku sosial) atau Computational Social Science sebagai alternatif atau pelengkap metode survei dan perhitungan cepat (quick count) sebagai metode legacy yang umum dilakukan pada pelaksanaan pemilihan umum (daerah) di Indonesia. Sebagai informasi Radio PRFM News adalah salah satu radio di Bandung yang konsisten memunculkan isu isu sosial masyarakat sebagai bahan kajian acara. Labtek Indie sendiri mempunyai program peningkatan awareness dan edukasi ke masyarakat luas, jadi kesediaan diwawancara mengisi talk show adalah untuk diseminasi pengetahuan dan membantu awareness masyarakat akan program riset Labtek Indie.  

Di beberapa negara maju eksploitasi data media sosial sudah wajar dilakukan dengan tujuan untuk menjalankan proses microtargeting, yaitu profiling demografi pemilih sampai sedetail mungkin, contohnya hobi, afiliasi partai politik, pekerjaan, lingkaran teman dekat dan lain sebagainya. Seperti pada umumnya aktivitas bisnis, terutama aktivitas marketing, microtargeting mengelompokkan pasar agar organisasi bisnis bisa menawarkan produk / program iklan dengan lebih akurat ke sasaran pasar. Ingat kasus Cambridge Analytica dan Facebook, sebagai salah satu contoh usaha microtargeting untuk kepentingan politik.

Diskusi dengan kang Basith sebagai pembawa acara berjalan seru, beliau menanyakan mengenai beberapa hal, antara lain: 1. Bagaimana memanfaatkan data media sosial untuk kepentingan politik dan bisnis, 2. Perbandingan metode survei (termasuk perhitungan cepat) dengan metode Big Data, 3. Pembahasan perubahan pola interaksi manusia karena kemajuan teknologi, 4. Apakah kemajuan teknologi berpengaruh besar terhadap proses politik di Indonesia, 5. Opini mengenai random sampling yang dilakukan lembaga riset Charta Politika yang menggunakan sampel “hanya” sebesar 2000 orang, 6. Cara pengumpulan data dan penjelasan singkat mengenai metode Big Data yang saya usulkan.

Pendengar siaran radio juga diajak untuk berdiskusi melalui telepon, twitter, dan sms. Pertanyaan paling menarik menurut saya adalah mengenai akurasi metoda quick count (perhitungan cepat) dengan menggunakan jumlah sampel terbatas dibandingkan dengan metoda usulan saya. Pertanyaan ini bukan pertanyaan yang bisa dijawab secara sederhana mana yang lebih unggul, karena banyak faktor yang berpengaruh pada metode Big Data, diantaranya yang paling penting adalah kualitas data. Namun hasil metode Big Data ini bisa menjadi pelengkap / verifikasi dari metode legacy dan juga tentunya metode Big Data lebih cepat dan lebih murah, seiring kemajuan teknologi.  Tantangan dalam berdiskusi dengan khalayak umum seperti di radio, adalah saya harus bisa menjelaskan dengan bahasa awam agar supaya mudah dipahami. Semoga kemarin pada pendengar radio tidak kesulitan memahami ide yang saya sampaikan.

Berikut foto fotonya:

 

33156243 10156113101665202 8816779869628137472 n

33135315 10156113102140202 5984036100811784192 n33098191 10156113102000202 9154226117110923264 n33089695 10156113101815202 6617659208512831488 n33076828 10156113102205202 5004784768504561664 n

Lari Pagi Hari Saat Puasa, Siapa Takut?

Pada saat bulan puasa, kita cenderung menghemat tenaga agar supaya bisa bertahan puasa seharian, dengan indikasi badan masih kuat pada saat menjelang berbuka puasa. Banyak yang cenderung melakukan olah raga (termasuk lari) pada saat menjelang berbuka atau malam hari. Saya berhitung tentang hal ini, saya tahu batas kekuatan badan saya. Jadi harusnya kita akan kuat berlari kalau asupan karbohidrat berlimpah, kemudian berlari dengan kecepatan rendah, agar supaya heart rate rendah. Heart rate rendah mencegah keluar tenaga berlebih (tak terkontrol). Menurut saya ini hanya masalah optimasi dan kontrol penggunaan tenaga aja, agar supaya tenaga cukup untuk beraktivitas seharian.

Pagi ini dengan kondisi badan ga enak karena kebanyakan makan pada saat berbuka puasa kemarin, ditambah ngemil malam hari, terus makan sahur super nikmat, jadinya porsi over. Semua faktor tersebut berkontribusi terhadap kenaikan berat badan sebesar 1kg dari berat normal. Penambahan berat bikin badan lemes dan otot kaku, jadinya saya putusin lari pagi tapi dengan kecepatan sedikit dipelankan. Kecepatan (pace) normal saya antara 6-7 menit/km, saya targetkan turun menjadi 8-9 menit/km.

Akhirnya pukul 7 pagi saya mulai berlari sepanjang 10km, dengan pace 7,44 menit/km. Ternyata perhitungan saya cukup akurat, saya tidak merasa capek dan keringat tidak keluar berlebih, namun otot tetap berlatih. Di akhir lari, saya tidak merasa kelelahan, malah badan berasa jauh lebih segar. Dapet bonus pula berat badan turun 2kg hehehe.

Sore ini rencananya saya ngabuburit nonton bioskop, sepertinya dengan kesibukan tersebut, rasanya ga akan kepikir rasa haus dan lapar yang mungkin muncul akibat aktivitas lari pagi ini. Ayo guys, mari lari, jangan males gerak ya !!

berikut foto foto pagi ini ..

Tulisan Big Data di Koran Pikiran Rakyat

Sudah sekian lama tidak menulis di media massa, akhirnya pada tanggal 23 April 2018 tulisan saya bersama dengan bu Lia Yuldinawati muncul di koran Pikiran Rakyat. Judul tulisan ini adalah “Di Era Big Data Internet Menjadi Kebutuhan Mendasar”. Tulisan ini menggambarkan bagaimana Big Data dapat diimplementasikan dalam segala lini kehidupan masyarakat untuk mendapatkan gambaran akurat mengenai gejolak sosial yang ada. Selama ini saya punya hardcopy artikelnya jadi belum sempet saya tuliskan di blog, tapi berkat bantuan rekan rekan dari Labtek Indie akhirnya saya mendapatkan softcopy tulisan tersebut. Monggo silahkan di klik gambar di bawah ini (ukuran 6 MB) untuk membaca artikelnya.

Image uploaded from iOS31144055 10156048637080202 7372322053127628631 n31143894 10156048637110202 6074305054173965283 n

PRO vs KONTRA TOPIK POLITIK #2019GantiPresiden #DiaSibukKerja

Hashtag #2019GantiPresiden sangat ramai beberapa saat yang lalu di Twitter. Hal ini merefreksikan kampanye yang dilakukan sekelompok masyarakat dalam aktivitas online maupun offline. Untuk aktivitas offline, Inget kasus di Car Free Day jakarta pada tanggal 29 April 2018, dimana terjadi kampanye dua kelompok yang bertentangan #2019GantiPresiden untuk yang kontra JKW dan #DiaSibukKerja untuk yang pro JKW. Gerakan ini cukup jadi trending topic di Twitter, menunjukkan studi kasus dinamika polarisasi opini masyarakat Indonesia. Sebetulnya saya bukan peneliti politik, tapi karena ingin melihat dinamika polarisasi tersebut, maka studi kasus yang paling ramai (mewakili) adalah di bidang politik, apalagi menjelang pemilu 2019. 

Periode pengumpulan data adalah 27 April – 5 Mei 2018. Topik pro dan kontra JKW untuk maju lagi di pilpres 2019 dengan hashtag sebagai berikut : 

Kontra : #2019gantipresiden #2019presidenbaru #gantipresidenyuk #gantipresiden #gantipresiden2019 #asalbukanjkw #2019gantirezim #2019wajibgantipresiden #2019asalbukanjokowi

Pro : #jokowi2periode #JKW2P #jokowipresiden2019 #2019tetapjokowi #jokowisekalilagi #rakyatmaujokowi2019 #jokowiduaperiode #salam2jari #ogah2019gantipresiden #diasibukkerja

Diperoleh: Data Kontra sebanyak 373885 Tweets dan Data Pro sebanyak 63267 Tweets. Dari jumlah data udah keliatan gerakan ganti presiden lebih ramai daripada yang pengen presidennya tetap. Dari analisa lebih dalam juga diperoleh bahwa kepadatan kelompok kontra jauh diatas kelompok pro, yang artinya percakapan lebih banyak terjadi antar sebarang aktor yang menjadi anggota masing masing opini. 

Dari pengelompokan percakapan masing masing opini, diperoleh kelompok terbesar berwarna ungu, sedangkan kedua terbesar berwarna hijau. Setelah menghilangkan banyak aktor tidak penting, akhirnya diperoleh aktor aktor inti (masing masing 100 aktor di tiap kelompok) yang jadi penggerak masing masing kelompok. Lihat gambar untuk kumpulan aktor inti ini. 

Apakah hasil ini bisa dipercaya?, paling tidak ini menjadi indikasi. Saya sih percaya mayoritas masih diam (belum menuliskan opininya).

Analisa teks dan pencarian topik tidak jadi dilakukan, komputernya keburu sibuk dipake riset yang lain 😛 ..

Contrascreenshot

Semesta percakapan kontra JKW

Proscreenshot

Semesta percakapan pro JKW

Contra1stcom

Komunitas kontra JKW terbesar

Contra2com

Komunitas kontra JKW terbesar ke 2

Pro1stcommunity

Komunitas pro JKW terbesar

Pro2community

Komunitas pro JKW terbesar ke 2

Publikasi 5 Paper di ICOICT 2018

ICOICT singkatan dari International Conference on Information and Communication Technology.  Di tahun 2018, konferensi ini dilaksanakan di kampus Universitas Telkom pada tanggal 3-5 Mei 2018. Kali ini tim lab kami mengirimkan 7 paper, namun yang diterima 5 paper. Menurut saya wajar juga ada yang ditolak, ga lucu nanti konferensinya kalau ada nama dominan (kebanyakan paper).  5 paper sudah merupakan rekor jumlah paper saya terbanyak yang diterima dalam satu konferensi yang terindeks scopus. Tema konferensi tahun ini sangat menarik yaitu “Connecting Sensors, Machines, and Societies” .. ini mencakup banyak bidang keilmuan ICT seperti Big Data, IoT, Security, dan lain lain. 

Paper yang kami presentasikan tahun ini cukup beragam topiknya. Hal ini menunjukkan keragaman studi lab kami (Lab. Social Computing and Big Data). Saya pribadi sangat senang dengan keberagaman topik paper paper yang kami tampilkan, terus terang saya menyukai semua topik yang dibawakan, masing masing punya keunikan, kesulitan, dan kontribusi yang cukup signifikan. 5 Paper yang dipresentasikan berdasarkan urutan presentasi adalah:

1. Artificial Neural Network for Predicting Indonesia Stock Exchange Composite using Macroeconomic Variables (CoAuthor bersama Asri Nurfathi)

2. Finding Pattern in Dynamic Network Analysis (CoAuthor bersama Made Kevin Bratawisnu dan Puput Hari Sanjani)

3. Dynamic Large Scale Data on Twitter using Sentiment Analysis and Topic Modeling, Case Study Uber (CoAuthor bersama Wirawan Rizkika, Ditya Dwi Nugroho, Farhan Renaldi, dan Siti Saadah)

4. Social Network Performance Analysis and Content Engagement of Indonesia E-Commerce, Case Study Tokopedia and Bukalapak (CoAuthor bersama Afrillia Utami)

5. Ontology Modelling Approach for Personality Measurement based on Social Media Activity (CoAuthor bersama M. Rizqy dan Darin Dindi)

Sebagai bonus, paper kami yang berjudul Finding Pattern in Dynamic Network Analysis yang dipresentasikan oleh Made Kevin mendapatkan penghargaan sebagai paper terbaik. suatu pencapaian yang membanggakan. Congrat untuk kerja keras dari semua anggota lab yang terlibat dalam ICOICT 2018. Paper paper kami nantinya bisa diakses kalau sudah terindeks di IEEE, namun apabila ada kebutuhan mendesak bisa kontak saya, nanti saya kirim via japri ..

Sampai bertemu di ICOICT 2019.

Berikut foto foto dari acara tersebut.

 

IMG 3653

foto full team di ICOICT 2018 kecuali Darin, Puput, dan Bu Tisa

IMG 3654

IMG 3655

IMG 3656

IMG 3657

IMG 3658

31890704 10156073853675202 9101392878294269952 n

Ga Percaya Indonesia Cantik ? Datang Aja ke Raja Ampat

Pada suatu kesempatan saya mengikuti konferensi ilmiah di kota Sorong, Papua Barat. Bersama rombongan dosen dosen muda yang mayoritas adalah dosen ITB. Konferensi di Papua merupakan hal yang spesial karena secara geografis lokasinya jauh, akan tetapi masyarakat lokal membutuhkan kegiatan akademis seperti workshop atau konferensi ilmiah seperti ini. Konferensi ini diadakan oleh Forum Peneliti Muda Indonesia (ForMIND). Setelah seharian wokshop dan seminar, besoknya dilanjutkan dengan perjalanan berkunjung ke Raja Ampat yang terkenal sebagai surga tersembunyinya Indonesia.

Raja Ampat merupakan kepulauan yang terletak di sebelah barat utara kota Sorong. Daerah ini memang sedang jadi primadona pariwisata Indonesia. Dari kota Sorong, Raja Ampat bisa dicapai menggunakan kapal boat selama 2 jam menuju Pulau Pianemo. Di Pianemo kita bisa melihat pemandangan Raja Ampat dan sekitar dari ketinggian bukit yang ada. Oh ya sepanjang perjalanan pulang dan pergi ke Pulau Pianemo, kami beberapa kali berhenti mencari spot bagus untuk snorkeling. Sebelum kembali ke Sorong, kami juga mampir ke Pulau Waigeo, Pulau terbesar di kawasan Raja Ampat, ngobrol dan mancing bersama penduduk setempat.

Satu catatan yang menarik dari snorkling di Raja Ampat, adalah orang lokal lumayan cerewet memperingatkan kita untuk tidak menginjak karang. Selama pengalaman saya snorkling di Karimun Jawa, Gili Trawangan, Pulau Belitung, dan Pahawang Lampung, tidak pernah rasanya dicerewetin guide atau penduduk lokal tentang karang. Oh ya menurut penelitian karena pemanasan global dunia, membuat laut menjadi lebih asam dari sebelumnya, yang berakibat saat ini terumbu karang menjadi lebih rapuh dan gampang rusak. Walaupun kunjungan singkat, tapi saya sangat terkesan dengan Raja Ampat, suatu saat nanti saya bisa kembali untuk sengaja berlibur dengan keluarga.

Berikut ini adalah foto fotonya

22789189 10155573378435202 4473515980535523794 n

22789044 10155573375860202 4320368276975292896 n

22788935 10155573375870202 8516333978566355723 n

22788835 10155573426495202 2399534056098268904 n

22853340 10155573378570202 1400067681445633542 n

22859679 10155571441255202 5491912419816257917 o

Tips Lari

Saat ini kita lihat banyak sekali penduduk perkotaan yang punya hobi lari. Banyak juga rekan rekan saya yang pengen bisa ikutan lari namun terkendala oleh beberapa hal. Wajar bagi seorang pemula mempunyai hambatan untuk memulai lari. Sering diutarakan para ahli bahwa dalam berlari yang paling berat adalah langkah pertama, apakah itu langkah pertama kali memulai usaha berlari ataupun bagi yang sudah berpengalaman, beberapa kilometer awal biasanya merupakan bagian terberat dari proses berlari secara keseluruhan, karena tubuh perlu penyesuaian. Setelah lewat 1-2 km awal, biasanya lari menjadi jauh lebih ringan dan lebih cepat.

Saya hobi berlari sejak 6 bulan yang lalu. Lari bagi saya adalah suatu bentuk terapi untuk membuat badan dan pikiran menjadi segar dalam menghadapi aktivitas sehari hari. Lari adalah olah raga paling murah, dibandingkan olah raga saya sebelumnya yaitu bersepeda dan berenang. Kalau saya flashback 6 bulan yang lalu, saya inget betul untuk berlari 100 meter aja saya ngos ngosan, bahkan kalah larinya dibanding anak saya. Saat ini saya mempunyai target yang menurut saya cukup moderat, yaitu berlari sekitar 20-30km per minggu, tidak perduli itu dalam 1,2,3, atau bahkan dalam 4 kali lari. Tapi level saya sebenernya jauh dari pelari canggih, jarak terjauh yang pernah saya tempuh dalam sekali lari non stop hanya 16km, dan waktu terlama berlari adalah 2 jam. Belum pernah lebih dari itu. 

Banyak temen teman dekat saya menanyakan bagaimana sampai bisa berlari cepat (dan jauh) seperti standard saya tersebut. Nah saya coba share tipsnya, walaupun pelari amatiran saya tetap share pengalaman saya, mungkin bisa bermanfaat dan mungkin tidak cocok juga buat yang lain. 

1. Bertahap

Mulai dari jarak pendek dan kecepatan pelan, jangan memaksakan diri untuk lari cepat. Yang terpenting heart rate (HR) tidak melebihi target maksimum usia, patokan maksimum HR itu adalah 220-usia, sebagai contoh untuk yang berusia 40 tahun maka maksimum HRnya adalah 180. Dengan HR yang tidak terlalu tinggi maka badan tidak cepat lelah. Saya malah menargetkan HR max sekitar 20 persen dibawah HR max umur saya.

2. Jangan Berhenti

Tips paling penting menurut saya adalah pada saat berlari, kemudian merasa diri tidak kuat (nafas tersengal yang artinya HR tinggi), usahakan untuk tidak berhenti lari tapi perlambat kecepatan lari sampai HR turun kembali. Cara ini menurut saya sangat efektif untuk meningkatkan ketahanan lari. Dan menjadi semacam pencapaian sendiri buat pelari, bahwa hari ini bisa berlari sejauh jarak tertentu tanpa berhenti.

3. Baju, Celana, dan Sepatu Lari yang memadai.

Saya sering melihat pelari pemula memakai perlengkapan lari ala kadarnya, meskipun terlihat sepele, ternyata hal ini menurut saya berpengaruh besar. Memakai kaos yang menyerap keringat dan ringan, kemudian celana pendek khusus lari yang pendek dan longgar, serta sepatu khusus lari ternyata membuat usaha lari kita menjadi jauh lebih ringan. Saya inget dulu punya banyak kaos bola untuk gaya gayaan yang hampir tidak pernah saya pakai, karena kurang nyaman dipakai harian, eh ternyata kaos bola itu malah enak dipakai buat lari.

Untuk sepatu saya sudah mencoba beberapa merk mulai dari adidas, skechers, dan yang terakhir hoka one one, merk terakhir ini saya cocok sekali sampai beli 2 pasang. Walaupun harganya mahal (karena import) dan bentuknya jelek (sol tebal) ternyata sepatu ini bisa meredam hentakan kaki ke tanah secara baik, membuat saya tidak mudah pegal, dan melindungi dari cidera selama berlari. Kalo ada diskon gede sepatu merk ini, saya dengan senang hati akan borong :P..

4. Jam Tangan / Gelang Lari

Penting digunakan untuk memonitor HR kita selama berlari.  Dua alat ini menyediakan informasi HR selama kita berlari. Untuk pemula biasanya ritme HR belum stabil jadi perlu sering sering ngecek atau pasang alarm untuk mengingatkan kita jika HR melebihi batas. Semakin sering lari, biasanya HR semakin stabil dan tidak perlu sering dicek.

Manfaat lain dari dua alat ini adalah sebagai tracker lari (jarak, waktu, dan pace / speed), ada yang sudah include GPS dan ada yang tidak. Untuk yang tidak include GPS, umumnya pairing dengan handphone sebagai pemandu GPS, gelang Mi Band adalah salah satu contoh dari alat ini, harga gelang ini cukup murah sekitar 350 ribu. Kekurangan dari alat ini adalah handphone harus dibawa bawa pada saat lari, dan setting trackernya biasanya tidak instant (perlu beberapa waktu sebelum kita lari, dan ini kadang kadang menjengkelkan). 

Yang sudah include GPS contohnya adalah Jam Garmin, dengan fitur GPS maka kita tidak memerlukan hape selama berlari. Saya pake Garmin dan terbukti handal. Harga yang sudah include GPS biasanya jauh lebih mahal dibandingkan dengan non-GPS. Keunggulan adalah setting tracker untuk siap berlari sangat cepat, begitu status GPS ready  (biasanya cukup butuh waktu 1-2 detik) kita bisa langsung lari. 

5. Musik (earphone).

Ini adalah perlengkapan opsional menurut saya. Dulu saat pertama kali lari, saya belum menemukan nikmatnya berlari, sehingga memerlukan musik sebagai pengalih perhatian. Distraksi ini terbukti berhasil karena saya bisa berlari jauh tanpa memikirkan jarak. Namun semakin lama berlari ternyata saya merasa tidak membutuhkan distraksi musik ini, sekarang malah lebih nyaman dengerin suara nafas sendiri yang sedang ngos ngosan, atau dengerin suara semilir angin. Lagian berlari sambil pake earphone di jalan raya sangat berbahaya dan rawan kecelakaan. Jadi saya sarankan kalau tidak benar benar butuh sebaiknya tidak usah pake earphone.

6. Sering Sering Ikut Event Lari

Ikut lomba tidak harus untuk kompetitif tapi untuk refreshing, karena saat ikut lomba kita sudah ga repot lagi mikirin rute, ada makanan / minuman tersedia, dapat medali, ketemu temen temen, selfie dan ngobrol dengan temen temen. Malah kadang kadang lari di lomba lebih ke acara sosialisasi, karena toh lari seriusnya sudah sering kita lakukan diluar lomba.  Di event lari kita juga bisa mengukur kemampuan diri kita. Tapi kalo mau ikut lomba untuk kompetitif yah silahkan saja 🙂

Demikian tips dari saya, sebenernya ada beberapa tips lain soal postur berlari, tapi saya rasa informasi ini bisa digoogle, karena postur lari saya juga belum tentu bener. Btw, semoga tips diatas bisa membantu rekan rekan

salam dari pelari amatiran, salam lari dan tetap semangat

 

Cara Supaya Kuat Lari Jarak Jauh

foto :http://kuncihidupsehat.blogspot.co.id/2014/01/cara-supaya-kuat-lari-jarak-jauh-ini.html