Menularkan Semangat Big Data ke FEB UPI

Dalam banyak kesempatan saya sering menjelaskan mengenai pentingnya rekan rekan dosen dan peneliti dari keilmuan sosial untuk belajar Big Data. Tujuan utamanya agar lebih update dengan kemajuan perkembangan keilmuan, yang mungkin juga bisa diimplementasikan ke penelitian pada bidang keilmuan masing masing. Suatu saat saya dikontak oleh seorang dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pendidikan Indonesia (FEB UPI) untuk memberikan wawasan mengenai Big Data dalam bentuk pelatihan kedosen dosen di fakultas mereka. Setelah saya sanggupi, maka saya gerakkan tim lab Social Computing dan Big Data (SCBD) dan Research Center Digital Business Ecosystem (RC DBE) untuk merancang materi dan membuat pelatihan.

Pelatihan diadakan di lokasinya di Telkom Professional Certified Center (TPCC), gedung Magister Management FEB TelU, pada tanggal 24 April 2019. Karena ingin materi pelatihan lebih implementatif, maka materi yang kami (saya dan tim) bawakan adalah materi Social Media Analytics. Peserta sebanyak 20 orang dosen dosen FEB UPI. Secara umum peserta sangat antusias mendapatkan pengetahuan baru. Suasana kelas juga sangat aktif dengan banyaknya diskusi yang terjadi. Saya berharap semoga semangat Big Data benar benar menular dan diresapi para peserta. Berikut adalah foto foto suasana pelatihannya.

 

58684780 10156903371060202 4921318616047026176 o

58382148 10156903370855202 4490124356457857024 o

58629964 10156903371020202 6853437116173516800 o

58376829 10156903371110202 378936877102661632 o

58377437 10156903370660202 5257488566753165312 o

58375043 10156903370905202 2708075110325026816 o

 

58376801 10156903370595202 5388000674279587840 o

57649366 10156903370780202 2287358595253141504 o

57852581 10156903370725202 3008096022107783168 o

 

 

 

Publikasi Scopus Mei 2019

Update terakhir daftar publikasi Scopus saya adalah pada bulan Agustus 2018 . Setelah update tersebut, sebagian publikasi konferensi sepanjang tahun 2018 sudah pada muncul dalam daftar Scopus. Total saat ini terdapat 34 publikasi Scopus yang bisa dilihat pada halaman ini. Dari 34 publikasi tersebut, disitasi sebanyak 74 kali oleh 56 publikasi Scopus lainnya. Nilai h-index, yaitu ukuran produktivitas dan manfaat publikasi kepada peneliti lainnya (dalam bentuk sitasi). Nilai h-index dilihat dari publikasi yang paling banyak disitasi dan jumlah sitasi yang diperoleh dari publikasi lainnya. Nilai h-index publikasi saya adalah 5, termasuk bagus untuk jumlah publikasi yang masih sedikit. 

Selanjutnya motivasi saya adalah meningkatkan jumlah publikasi dengan lebih sering memasukkan publikasi penelitian ke jurnal internasional bereputasi (Scopus Q4, Q3, Q2, bahkan Q1), sambil tetap menjaga ritme produktivitas publikasi di prosiding konferensi terindeks Scopus. Saat ini setahun, produktivitas saya rata rata adalah sekitar 10-15 publikasi pada prosiding terindeks Scopus. Doakan semoga makin rajin 😉

 

Screenshot 20190510 214545

Pilpres dan Fanatisme (Film Sexy Killers)

Pilpres tinggal beberapa hari lagi. Generasi saya (X, Y dan generasi lebih tua) sibuk sekali berantem membela jagoannya masing masing. Sementara saya ditunjukan satu video / film dokumenter yang dibuat oleh WatchDog, berjudul Sexy Killers. Saya peroleh video ini dari anak saya yang dia juga peroleh dari lingkungan pertemanannya di generasi milenial. Saya malu sekali dengan generasi anak saya, generasi saya sangat naif melihat masing masing paslon sebagai “orang suci” yang tidak tahunya mereka termasuk aktor aktor utama dalam bisnis penambangan batubara untuk keperluan PLTU. Batubara yang murah sudah banyak merusak lingkungan ekosistem di Indonesia. Inikah yang kita wariskan ke anak kita ? 

Simak film lengkapnya disini (1,5 jam)

Mobil Cina Bernama Wuling Almaz

Berkomuter di kota besar seperti Bandung bukan merupakan hal yang nyaman dan efisien, apalagi jika kita tinggalnya di area Bandung coret. Kami sekeluarga berempat setiap hari mempunyai aktivitas di kota Bandung, sementara lokasi tinggal kami adalah sekitar 25-30 km di luar kota bandung, dimana jarak ini harus melewati jalan tol. Bisa dibayangkan bahwa kendaraan pribadi saat ini merupakan opsi terbaik dari semua pilihan yang ada, seperti naik bis, naik angkot, naik gojek, maupun naik grab. Apalagi lokasi sekolah anak anak, kantor saya, dan kantor istri berbeda semuanya. Kadang saya iri dengan rekan yang bisa bike to work ke kantor, jangankan naik sepeda, saya naik motor ke kantor (tidak melalui tol) itu membutuhkan waktu hampir 2 jam, jadi tidak efektif untuk mendukung pekerjaan. Kesimpulannya kebutuhan mobil bagi keluarga kami adalah keharusan.

Entry blog ini merupakan lanjutan dari entry blog otomotif saya di tahun 2014 tentang review Suzuki Splash 2014, dan tahun 2016 tentang review Kia Sportage 2013. Tahun ini Splash sudah berusia 5 tahun, dengan odometer mencapai 95rb km, sedangkan sedangkan Sportage sudah berumur 6 tahun, dengan odometer 82rb km. Kami merasa perlu melakukan penyegaran, karena dengan jarak tempuh yang tinggi, kaki kaki dan goncangan mobil berasa tidak senyaman dahulu. Yang utama perlu diremajakan adalah Splash, sedangkan Sportage masih cukup enak untuk mobil seusianya, mungkin 2-3 tahun lagi kami akan remajakan juga. 

Waktu itu pilihan pertama pengganti splash adalah Nissan Livina. Kami pilih Livina, karena terkenal empuk dan nyaman, walaupun tenaga pas pasan. Tapi kami tidak mau membeli mobil baru, karena rasanya sayang beli mobil baru, padahal Livina bekas lumayan banyak dengan harga yang relatif terjangkau. Saat hunting kami tidak tahu kalo Livina bakal keluar versi baru. Mencari Livina bekas yang bagus ternyata tidak mudah. Saya beberapa kali test drive, sering kali yang saya temukan bahwa pemilik Livina tidak merawat mobilnya di bengkel resmi dengan alasan beres mahal dan banyaknya bengkel alternatif di sekitar Bandung. Dari sini saya mulai ragu … tapi masih terus hunting Livina.

Suatu saat beberapa bulan kemudian (tepatnya akhir Januari 2019), masuk pesan WA dari sales Wuling (merk mobil cina), yang mengabarkan bakal ada SUV baru dari Wuling. Saya kenal sales ini karena saya pernah lihat pameran mobil MPV Wuling Cortez di suatu mall. Berbekal kepuasan saya akan mobil SUV semacam Sportage, maka saya bilang sales tersebut untuk mengabari jika sudah ada unit test drive Wuling SUV itu, yang ternyata bernama Almaz.

Saat tulisan ini dibuat pilihan SUV setara Sportage, dalam konteks value for money tidak ada yang cocok. Produk produk Honda (CRV dan HRV) saya coret, karena selain harganya mahal, dan berbekal pernah punya jazz dan freed, menurut saya Honda itu mahal dalam segala hal (servis, spare parts dll), dengan kata lain overprice. Produk Toyota (Fortuner dan Rush), sama sekali tidak meningkatkan gairah saya untuk beli mobil tersebut. Produk Chevrolet (Captiva dan Trax), saya agak suka, tapi ga rela untuk beli. Produk Mazda (CX5) saya suka banget, tapi harganya terlalu mahal, bahkan harga bekasnyapun masih luar biasa mahalnya.

Akhirnya hari yang ditunggu untuk testdrive Almaz pun datang. Saya sengaja ajak anak anak. Saya perhatikan ekspresi mereka. Tidak ada excitement saat test Livina atau beberapa mobil lainnya, tapi saat test Almaz langsung beda banget ekspresinya. Ya jelas beda karena Almaz pake head unit macam tablet ipad, terus ditambah panoramic roof, terus ditambah sound system infinity yang luar biasa jernih. Diluar itu space akomodasi Almaz  yang membuat saya langsung suka karena sangat lega, dan killer factornya adalah mesin Turbonya. Saya suka dengan tarikan mesin Turbo Almaz. Ini seperti kembaran Sportage saya tapi dengan mesin lebih kecil dan Turbo, jadi harusnya lebih irit, atau paling tidak menyamai Sportage, jadi saya tidak masalah dengan konsumsi BBM. Masih banyak sebenernya fitur fitur lain, tapi menurut saya yang lain lainnya itu nice to have lah. Killer factorsnya sudah saya sebutkan diatas.

Saya langsung pesen, padahal harga mobilnya belum ada …

Nunggu dua minggu setelah pemesanan baru harga resmi keluar, dan untungnya harganya masih terjangkau, jauh dibawah CRV, CX5, dan bahkan sama dengan mobil yang fiturnya dibawahnya (HRV, Trax). 

Sempet galau pemilihan warna, apakah pilih abu atau hitam, akhirnya saya pilih warna hitam, karena saya lihat warna item Almaz sangat keren, dan saya belum pernah punya mobil warna item. Akhirnya mobil dikirim awal Maret 2019.

Akang sales Wuling cerita kalau saya adalah pemakai Almaz nomer dua di Bandung. WOW, jadi inget dulu punya Yamaha NMax termasuk dalam pembeli pembeli awal juga.

Setelah seminggu dipake, kesan Almaz dibandingkan dengan Sportage ada 2, yaitu:  1). mesin biasa aja, 2). fitur luar biasa. Untuk nilai minusnya, mesin menurut saya biasa aja karena tenaganya ngepas untuk bermanuver di jalan tol dengan nyaman, serta adanya turbo lag namun dengan cerdik ditutupi oleh transmisi CVT yang halus. Kalau saya pake sportage dengan tenaga lebih besar  rasanya masih banyak tenaga tersimpan untuk bermanuver. FYI Sportage 166hp sedangkan Almaz hanya 140hp. Alangkah nikmatnya kalo misalkan tenaga Almaz ini dilebihkan sedikit, supaya juga sesuai dengan tampangnya yang macho. Selain itu transmisi manualnya tidak seresponsif di sportage. Untuk nilai plusnya menurut urutan prioritas saya adalah 1). panoramic roof, 2). head unit, 3). kelegaan kabin yang luar biasa, 4). sound sistem jempolan. 5). kamera 360.

Review pemakaian seminggu ini mungkin belum terlalu akurat, nanti saya akan update lagi kalo ada pengalaman pengalaman baru. Secara keseluruhan, menimbang nilai plus dan minusnya, menurut saya Almaz sangat sangat worth to have. Saat saya beli Almaz tidak ada mobil sekelasnya yang mempunyai value for money lebih baik dari Almaz. Ada sih merk DFSK, tapi kok ga minat ya .. Oh ya konsumsi BBM mungkin belum optimal, saat ini saya memperoleh nilai 1:10 – 1:13 … lumayan irit 🙂

 

IMG 20190312 194159

  

Relaunch Asosiasi Ilmuwan Data Indonesia

Pada bulan November 2016, kami para founder bersama sama mendeklarasikan berdirinya Asosiasi Ilmuwan Data Indonesia (AIDI), cerita lengkapnya ada di entry blog ini. Seiring berjalannya waktu, dan bersamaan kesibukan antar founder, sehingga AIDI belum bisa membuka pendaftaran anggota baru. Untungnya kami diberikan kesempatan untuk relaunch AIDI dan membuka pendaftaran anggota baru pada tanggal 5 februari 2019 di Jogjakarta.

Mimpi AIDI adalah mengawal kedaulatan data Indonesia. Data sebagai komoditas strategis, maka AIDI mencakup keilmuan yang luas, contohnya seperti big data, machine learning, artificial intelligence, computational linguistic, statistik, bioinformatics, sampai juga ke keilmuan sosial seperti bisnis, politik, dan komunikasi

Sambutan saya pada relaunch AIDI ini adalah sebagai berikut :

Asosiasi Ilmuwan Data Indonesia atau disingkat AIDI atau dalam bahasa inggris adalah Indonesia Data Scientist Society adalah suatu perkumpulan stakeholder yang terdiri dari individu, komunitas, dan perusahaan yang berkepentingan dan peduli pada perkembangan keilmuan data, serta implementasi dari manfaat data tersebut.  AIDI secara resmi dideklarasikan pada bulan november 2016, mendapatkan ijin dari Kementrian Hukum dan HAM pada tahun 2017. Di awal tahun 2019 ini, baru terbentuk kepengurusan harian AIDI dalam acara re-launch yang diselenggarakan di Jogja, 5 Februari 2019.

AIDI dibangun dengan semangat kebersamaan antara para pemimpin dan pakar dari stakeholder yang bergerak di ekosistem yang berhubungan dengan Data Science dan Data Analytic untuk mencari sebuah wadah yang dapat menyatukan suara.  Misi dari AIDI adalah Membangun Ekosistem Data Science Indonesia yang Bermanfaat, Aman, Sejahtera, Berdaya-saing dan Berkesinambungan untuk mendukung kedaulatan data Indonesia. Seperti kita ketahui Data adalah komoditas strategis bangsa, yang mempunyai nilai  mencakup banyak kepentingan dan melewati batas berbagai ilmu pengetahuan.  

Salah satu aktivitas yang dicanangkan oleh AIDI adalah berpartisipasi dalam pembuatan regulasi atau peraturan perundangan terkait dengan Data sebagai komoditas strategis, karena regulasi atau peraturan perundangan akan membentuk dan mengatur arah IIndustri yang melibatkan Data Science dan Data Analytics di masa mendatang. Masih banyak regulasi yang akan dibutuhkan untuk mengatur Industri jasa Data Mining ataupun Analytics, di mana Industri harus berperan dan terlibat memberikan masukan, pandangan dan saran agar Data Science bisa bermanfaat bagi masyarakat Indonesia. Tercipta iklim industri dan ekosistem yang mendukung kemandirian dan berkelanjutan. 

Sampai saat ini tercatat ada 350 anggota AIDI, yang terdiri dari berbagai bidang keahlian seperti machine learning, artificial intelligence, big data, data mining / data analytics, computational language, statistika, bioinformatics bahkan bidang non teknis seperti bisnis, politik, dan komunikasi. Dengan keberagaman latar belakang keilmuan yang dimiliki anggotanya, diharapkan AIDI mempunyai kapabilitas tinggi dalam bersinergi dan berkarya untuk kepentingan pembangunan Indonesia.

Terdapat beberapa aktivitas yang berafiliasi dengan AIDI, diantaranya adalah Workshop, Seminar, Kompetisi, dan Eksibisi National Data Days, Konferensi Ilmiah ICODIS (International Conference on Data and Information Science) dan ICADEIS (Internasional Conference on Advacement in Data Science, E-Learning, and Information Systems), Sertifikasi Internasional Big Data Analitik, Konferensi Big Data Indonesia, idBigData Meetup, dan lain lain

Sedangkan beberapa komunitas yang terlibat dalam pembentukan AIDI serta mempunyai afiliasi aktivitas dengan AIDI adalah Data Science Indonesia, Tau-data Indonesia, Komunitas Big Data Indonesia, Lab. Social Computing dan Big Data, Machine Learning ID, dan R Indonesia. Beberapa Industri yang terlibat dalam inisiasi dan kepengurusan AIDI adalah Solusi247, NoLimit, Mediawave, Zamrud Technology, dan Bahasa Kita.

Beberapa ilmuwan yang terlibat di AIDI antara lain adalah dari Telkom University, Universitas Padjajaran, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, LIPI, BPPT, Politeknik Statistika, dan Universitas Widyatama.

Demikian dapat kami sampaikan sekilas mengenai AIDI. kami berharap AIDI bisa menjadi wadah bertemu dan kolaborasi bersama antar ilmuwan data dalam berbagai bidang untuk membuat solusi untuk kepentingan bangsa. untuk itu  kami mengajak rekan rekan semua untuk bergabung di AIDI. 

Untuk bergabung bisa mendaftar pada tautan di bawah ini. 

2019 02 14 22 36 11

51231751 10156722442250202 619563343279030272 n51510822 10156722442305202 5379348316632907776 n51342227 10156722442600202 763510641083285504 n51838878 10156722442465202 833664250349092864 n

Tahura Trail 2019

Tahura Trail Run adalah salah satu kegiatan lari yang terkenal di Indonesia, kegiatan ini dilaksanakan di area kawasan Taman Hutan Raya Dago Bandung. Gelaran tahunan ini berkelas internasional, dengan peserta datang dari berbagai manca negara. Lari trail adalah lari melalui jalan tanah (setapak, berbatu, yang penting bukan jalan aspal). Tahura Trail Run rute larinya melalui sepanjang kawasan hutan dan pegunungan di Bandung Utara. Tahura Trail Run 2019 ini merupakan kali kedua saya bertisipasi, setelah sebelumnya pada tahun 2018. Saat itu saya ajak keluarga lengkap untuk lari trail  di kelas family 7K.

Tahun 2019 ini, Tahura Trail Run dilaksanakan pada tanggal 20-21 Januari 2019. Kami (saya hanya berdua dengan Intan) ikut kelas trail 21K. Gelaran ini diselenggarakan selama dua hari. Hari pertama khusus untuk kelas Full Marathon  (42K) dan Half Marathon (21K). Hari kedua kelas 17K, 10K, dan kelas family (7K). Kondisi lari hari pertama jauh dari ideal, karena malam sebelumnya kawasan Bandung Utara diguyur hujan deras, alhasil medannya berubah menjadi becek dan basah. 

Start dimulai pukul 5 pagi, kami berlari dengan pace santai, namun di rute awal sudah disuguhi beberapa rute jalan menanjak yang cukup dahsyat, sehingga mau ga mau kami sudah kehabisan nafas lari saat jarak lari masih dibawah 5K. Setelah tanjakan rute berubah ke jalan tanah (persawahan) di lereng bukit dan area perkebunan sayuran penduduk. Jalur ini cukup nyaman, walaupun sempat terjadi antrian karena sempitnya jalur sehingga kami kesulitan menyalip pelari di depan kami yang berlari lambat.

Jalur berganti ke berlari di dalam hutan, beberapa area hutan cukup tebal sehingga matahari tidak bisa menembus masuk. Dalam suasana agak gelap karena kekurangan cahaya, kami beberapa kali jatuh terpeleset, untung tanahnya sangat empuk, sehingga kami terhindar dari cedera. Beberapa kali pula kami srodotan, sliding jatuh meluncur mengikuti alur tanah. Kalau biasanya saya lari 21K di jalan raya membutuhkan waktu selama 2,5 jam sampai 3 jam, maka lari trail 21K membutuhkan waktu hampir 6 jam. Kami mencapai finish tepat 5 menit sebelum COT (Cut Off Time). Alhamdulilah bisa dapet medali finisher 🙂

Berikut foto fotonya dari gelaran Tahura Trail Run 2019

50853162 10156679638720202 1206485901476102144 o50423328 10156679640475202 1613217152628686848 o50299937 10156686409740202 7416018050299723776 n50127086 10156679641400202 501557802561437696 o50681595 10156698607820202 4320129181514989568 o50269983 10156679642145202 5559287285758820352 o50307112 10156679639220202 60581681941184512 o

 

 

Bromo Marathon 2018

[latepost] blog entry yang sangat sangat telat, karena event larinya sendiri pada tanggal 23 september 2018, tapi baru sempat dituliskan sekarang. Kami (saya dan istri) mendaftar di ajang lari Bromo Marathon 2018. Sebenernya kami iseng juga mendaftar di event ini, alasannya karena kami ketinggalan pendaftaran beberapa event lari besar di bulan bulan selanjutnya seperti 2XU, jakarta marathon,  borobudur marathon, maupun bali marathon.

Kami berangkat sehari sebelumnya event, nyubuh naik pesawat dari Bandung kemudian mendarat di Juanda Surabaya. Begitu sampai kami langsung cari sarapan, nasi rawon adalah makanan pertama yang saya cari, sambil menunggu panitia yang menyediakan shuttle untuk menuju Desa Tosari, Kabupaten Pasuruan, di area lereng Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru. Shuttle berangkat tepat pukul 10 pagi, dan sampai di Tosari sekitar pukul 14. Setelah cek in di penginapan rumah rumah penduduk di sekitar desa Tosari, kami langsung menuju ke kawasan hotel Plataran untuk mengambil race pack (RPC). Oh ya lomba kali ini kami hanya mengikuti kelas 10km, saya sendiri merasa beruntung tidak mengambil rute lebih jauh, karena saat itu lutut sedang cedera. 

Selesai urusan RPC, kami sewa motor untuk melihat sunset disekitar Pananjakan. berikut ini adalah foto foto sore itu (RPC di Plataran dan perjalanan ke Pananjakan). 

42304114 10156409313405202 2641323218236866560 n42344881 10156409313615202 2333978579760578560 n42281435 10156409313835202 2814353672337620992 n

Pulang dari Panjakan matahari sudah terbenam, kami mencari makan malam di rumah rumah penduduk, lumayan dapatnya nasi sayur lodes, sambal, tempe dan ikan asin. Selanjutnya kami beristirahat lebih awal menyiapkan tenaga untuk lari besok subuh.

Saya persingkat ceritanya saja langsung ke kesan berlari di event bromo marathon ini: Event ini cukup keren, dan pesertanyapun dari manca negara, menunjukkan bahwa event ini adalah event bergengsi, ditambah udara super segar membuat lomba lari ini sangat menyenangkan. Kelas yang ambil (jarak 10km) cukup menantang, komposisinya 50% trail dan 50% jalan aspal.  Untuk trail rute yang diambil sangat indah, di lereng bukit perkebunan warga. Sayangnya rute tersebut tidak melalui lereng bromo secara langsung. Yang melalui lereng bromo hanya di kelas Full Marathon. 

Berikut foto foto kami berlari di  Bromo Marathon:

42422353 10156411300860202 4471492307291471872 n42410259 10156411567615202 7596705164073893888 n42356605 10156411564905202 2144117321352871936 n42322677 10156411704040202 5119154645175894016 n42823299 10156424446440202 5005446790468599808 n

 

 

 

Penyimpanan Publikasi di Academia

Sudah sejak beberapa tahun yang lalu, Academia.edu merupakan pilihan saya untuk menyimpan hasil karya / publikasi ilmiah saya dan rekan rekan lab. Pemilihan Academia karena platform ini cukup sederhana dan mudah diakses oleh rekan rekan yang tidak mempunyai latar belakang akademis. Academia sendiri bukan merupakan tempat penyimpanan ideal, bahkan menurut saya tidak ada tempat penyimpanan publikasi yang benar benar sesuai dengank einginan saya.  Beberapa tempat lainnya dimana saya ikutan daftar adalah adalah Researchgate, Arxiv.org, dan Mendeley. Menurut saya ketiganya tidak sesederhana Academia sebagai  tempat “hanya” untuk penyimpanan. Kalau ada masukan yang lain mohon dikasih tahu ya.

Sudah sejak beberapa lama juga Academia menyediakan layanan berbayar.  Saya selalu berusaha untuk tidak berbayar, karena kebutuhan saya yang sederhana untuk penyimpanan saja. Namun berhubung jumlah publikasi sudah mencapai angka 50an lebih, maka mau tidak mau saya mulai melirik layanan berbayar Academia, terutama layanan web nya. Akhirnya saya pun berlangganan, sambil melihat lihat apakah layanan ini bisa membantu atau memberikan, Nanti kita lihat selama setahun kedepan. Anyway alamat web academia saya adalah:

https://andryalamsyah.academia.edu/

Tampilannya cukup simpel tapi cukup bagus ya .. 

Screen Shot 2018 11 25 at 19 09 00  2Screen Shot 2018 11 25 at 19 09 12  2Screen Shot 2018 11 25 at 19 09 22  2

National Data Days 2018

Tanggal 19 November 2018 dilaksanakan acara National Data Days 2018 di Telkom University. Acara ini merupakan rangkaian beberapa acara meliputi seminar, workshop, kompetisi, dan eksibisi. Namun pada tahun 2018 ini acara eksibisi ditiadakan. NDD 2018 merupakan acara NDD ketiga yang dilakukan sejak pertama kali tahun 2016 bernama Data Science Days (DSD). Info tentang acara 2016 disini, sedang NDD 2017 ada disini . Acara tahun ini diadakan oleh HMBTI, FEB, RC DBE dan yang paling penting adalah Lab. SCBD yang setiap tahun secara rutin menyumbangkan konten untuk workshop. Tahun ini Lab. SCBD mengirimkan 4 peneliti untuk menyampaikan materi workshop.  

Acara dibuka oleh ibu wakil rektor bidang riset dan kemahasiswaan, dilanjutkan oleh acara seminar yang diisi oleh dua pembicara dari LIPI, yaitu Dr. Didi (Big Data Security) dan Dr. Hilman (Machine Learning). Pada saat yang bersamaan secara parallel berlangsung penjurian final kompetisi dengan peserta antara lain IPB, ITS, UI, UGM, UNISSULA, Poltek Statistika, dan TelU sendiri. Setelah makan siang acara dilanjutkan oleh workshop oleh Samuel Chan (algorit.ma) yang kemudian diteruskan oleh workshop oleh peneliti peneliti lab scbd. Acara ditutup dengan pengumuman pemenang kompetisi.

berikut foto fotonya

46488405 10156540978545202 7438683722297114624 n

IMG 20181119 102448 498

IMG 20181119 123122 815

IMG 20181119 134932

IMG 20181119 145723

IMG 20181119 145812

IMG 20181119 145917

IMG 20181119 145955

IMG 20181119 150027

IMG 20181119 181532 558

IMG 20181112 193918 457

 

 

Cerita ITB Ultra Marathon 2018

Sehari menjelang #ITBUltraMarathon, saya dan ribuan alumni ITB deg degan sudah ga sabar menunggu dimulainya acara terheboh untuk kalangan alumni ITB ini. Pelari terlatih maupun amatir yang baru pertama kali lari tiba tiba demam latihan lari. Grup WA dipenuhi postingan setoran latihan lari, menunjukkan antusias alumni menyambut pesta “rakyat” ITB ini. Suporter atau Tim Support tidak kalah hebohnya menyiapkan kelengkapan esensial untuk pelari, berbagi tugas mendampingi pelari, koordinasi antar WS (Water Station), penginapan, dan lain lainnya.  Seperti yang saya ceritakan di blog H-7 #ITBUltraMarathon. Lomba ini akan menempuh jarak 170km, 24 jam berlari, start tanggal 12 oktober 2018 pukul 22:00, dan cut off time finish di kampus ITB tanggal 14 Oktober 2018 jam 10:00.

Hari jumat tanggal 12 Oktober 2018, perasaan sudah mulai gelisah di kantor pengen cepet pulang, rencananya jam 15:00, saya berangkat ke jakarta (naik mobil). Kami bertiga (saya, Intan, dan sopir) berangkat dengan tujuan lokasi start #ITBUltraMarathon di Graha BNI di Sudirman. Saya pelari leg 1 dari tim #GaneshaNumb3rs jadi emang harus start dari Graha BNI tersebut (nantinya finish di area Pasar Minggu(WS1)), start akan dimulai pukul 22:00. Sedangkan Intan ikut ke lokasi start untuk ketemu teman teman setimnya dari 93, foto banyak, sekaligus ikut acara pembukaan. Nantinya Intan akan berlari sebagai pelari leg 2 di tim 93 dengan jalur mulai dari Pasar Minggu (WS1) menuju Lenteng Agung (WS2). Jadi setelah saya start, Intan dan sopir akan bergerak ke WS1.

Drama awal muncul, berangkat jam 15:00 dari Bandung ternyata sampai jam 21:00 masih belum masuk tol dalam kota Jakarta. Memang benar benar luar biasa kemacetan arah ke Jakarta. Tiba tiba saya tersadar kalo plat nomer mobil ganjil, sedangkan hari itu adalah tanggal genap. Wah, jadi yang pasti mobil tidak akan bisa ke lokasi start di Sudirman. Akhirnya diambil keputusan cepat, saya diturunkan di perempatan Kuningan-Mampang. Mobil langsung meluncur menuju ke WS1, sedangkan saya cari ojek menuju lokasi start. Jadi drama pertama Intan ga jadi mengikuti kemeriahan acara start, sedangkan saya harus mengejar waktu untuk bisa datang sebelum start dimulai pukul 22:00. Untungnya, saya bisa nyampe 15 menit sebelum start mulai gara gara tukang ojeg yang brillian ..

#GaneshaNumb3rs adalah tim lari alumni matematika ITB, di leg 1 ini saya berlari bareng Bachtiar (2004), beda umur 14 tahun dengan saya. Bachtiar adalah pemain bola ITB, fisik prima, dan tentu saja kuat larinya. Akan tetapi demi kita berlari dalam satu kelompok, dia rela mengurangi pacenya supaya bisa lari bareng. Leg 1 tidak sulit, jarak sekitar 12 km, dan tidak ada tanjakan berarti. Dengan dikawal senior di MA Pak Jarwo (1978) menggunakan sepeda lipat, kami berlari sambil PB (Photo Banyak), dikit dikit ambil foto. Berikut ini foto foto kami di sekitaran underpass mampang. By the way kaos #GaneshaNumb3rs keren ya warnanya nyala.

IMG 20181012 224240 2IMG 20181012 224450

dari foto candid oleh fotografer panitia dibawah ini diperlihatkan posisi, saya dan Bachtiar lari di depan, Pak Jarwo ngikutin dibelakang sambil dikit dikit nanya perlu minum gak. Kadang beliau kasih semangat “ayo pacenya bagus terusin pace segitu, tar lagi finish kok”, padahal dalam hati udah mulai ngos ngosan ngimbangin pace Bachtiar.

CROW0702  1

IMG 20181013 WA0001

penyerahan buff estafet dari pelari leg1 ke pelari leg 2 tim #GaneshaNumb3rs

Menurut website ini jarak dari start ke WS1 kami tempuh selama 1 jam 31 menit. Sesampai di WS1, maka buff (sebagai alat estafet) saya berikan ke pelari tim #GaneshaNumb3rs selanjutnya yaitu pelari leg 2 Ganda (1992) dan Jaya (2009). Sepanjang leg 1 ini, selain ngobrol dengan pelari pelari lain, saya juga ngobrol dan motoin (dan videoin) rekan rekan dari tim #90leRun, yaitu tim angkatan 90 ITB lintas jurusan. Ada Wine di Relay8 (menempuh 20an km), Votti, Santi, dan Bambang di Relays16. Nah di leg 2 ini juga Intan mulai berlari, jadi setelah selesai lari, saya dokumentasiin perjalanan lari Intan menuju ke WS2.

Di WS2 sambil menunggu Intan finish, saya ngobrol lagi dengan temen temen support dari #90leRun dan temen temen lainnya. Makanya acara ini sangat meriah, karena seperti ajang reuni yang berlangsung  2 hari terus menerus. Ketemuan teman seangkatan, beda angkatan, lintas jurusan. Tim support dan pelari yang belum atau sudah mendapatkan giliran berlari memberikan support ke yang berlari, masing masing menyemangati supaya tidak kalah dari tim lain. Padahal ini acara lari festival, tidak ada hadiahnya. Tapi ya dasar anak ITB, meskipun ga dilombakan, tetap aja sifat kompetitifnya sangat tinggi. Setelah Intan finish di WS2, maka acara ngobrol dengan teman teman harus diakhiri, karena malam itu kami harus segera menuju puncak, dimana besok saya akan lari di leg 10 tim #90leRun, saat itu waktu sudah menunjukkan jam 2 pagi. Beberapa foto di WS2 dibawah ini.

IMG 20181013 005657

dengan tim #GaneshaNumb3rs

IMG 20181013 WA0027

dengan tim #90leRun

IMG 20181013 011354

Intan dan tim 93

Malam itu (atau tepatnya pagi itu) kami menginap di Palace Hotel Cipanas. Hotel ini terletak 1 km sebelum lokasi WS9 di Hotel Sanggabuana. Kami sampai di hotel pukul 3:30 pagi, mandi, tidur bentar, tapi jam 7 pagi saya mulai kelaperan, butuh sarapan segera. Walopun lupa pesen hotelnya tanpa sarapan, saya tetap maksain sarapan di hotel, demi supaya kuat melahap rute leg 10 sejauh 16km  (antara WS9 dan WS10 di Cianjur). Sarapan satu porsi 110 ribu, lumayan juga, kalau ga karena lari, mendingan saya cari bubur pinggir jalan sekitar situ. Abis makan, istirahat bentar, sekitar pukul 11 siang saya udah standby di WS9. Beberapa pelari tim cepat seperti GEA dan PATRA udah start, tapi pelari sebelum saya di #90leRun yaitu Teguh (MS) belum keliatan juga. Menjelang pukul 13:00 saya ketemu dengan Akbar (KI), yang nantinya akan berlari di rute yang sama dengan saya. Namun di tim #90leRun ini pelari tidak harus berlari bersama seperti tim #GaneshaNumb3rs, jadi pada saat saya start pukul 13:09, tidak bareng dengan pelari yang serute dengan saya lainnya yaitu Zaki start 13:28, dan Akbar start pukul 14:20. Foto di WS9.

IMG 20181013 123814

Ketemu runner #GaneshaNumb3rs leg 10, Rangga dan Dadang

IMG 20181013 125344

bersama Akbar, sama sama nungguin pelari leg 9 yang ga nyampe nyampe. Kaos lari tim #90leRun keren khan

IMG 20181013 131047

akhirnya Teguh datang juga, berpindah deh estafet buff ke saya untuk saya bawa ke WS 10 di Cianjur

Leg 10 (antara WS9-WS10) adalah leg terpanjang untuk relay 16 di #ITBUltraMarathon ini, selain dikasih panjang, rute leg ini sangat menantang karena turunan tajam. Perlu diketahui lari di turunan tajam di kondisi jalan raya bukan hal yang mudah. Pilihannya adalah lari tidak di rem, atau lari ditahan yang akhirnya memperberat kerja kaki sehingga rentan cidera. Akhirnya saya pilih opsi pertama, lari di turunan tanpa di tahan, diikutin aja gravitasinya. Di rute ini saya berlari kurang lebih dua jam, dibawah panas matahari yang lagi galak galaknya. Lumayan sekali rute ini menguras energi (dan juga cairan tubuh). Kebetulan tim support #90leRun beberapa kena macet, sehingga sepanjang rute ini saya berlari sendiri tanpa tim support mengiringi. Pada suatu titik, saya merasa suhu badan mulai panas (dehidrasi) .. gawat nih pikir saya karena bisa sewaktu waktu badan  jadi ngadat. Kalo ga salah waktu itu di km 13. Akhirnya saya mampir ke Indomaret, lumayan bisa ngadem di ruangan AC bentar dan beli sebotol air mineral untuk mengguyur kepala. Sekitar 10 menit saya berhenti di  Indomaret sebelum melanjutkan lari.

Sampai di WS10 saya disambut Anton, pelari yang akan melanjutkan rute saya, Sinta pelari yang akan melanjutkan rute Akbar, dan Praherdian tim support #90leRun yang sudah siap dengan segala perlangkapan dan juga refreshment di mobilnya semacam pocari, mizuno, hydrococo, dan ga lupa nasi bungkus ayam bakar cianjur. Sekitar sejam di WS10 Akbar belum sampai juga, sementara Sinta sudah gelisah karena tidak segera start lari, padahal hari sudah menjelang sore banget. Kalo ga salah perlengkapan lari malam Sinta tidak lengkap saat itu. Kemudian kami dapat kabar kalau Akbar mengalami kram di jalan, wah saya jadi nyesel meninggalkan dia lari sendirian, soalnya saya selalu bawa semprotan anti kram kemana mana di tas hydrobag saya. Kalau saja waktu itu larinya bareng, mungkin Akbar tidak akan terhambat finish ke WS10. Di rute ini saya juga sempat nyalip Raja, pelari super cepat R8 dari tim 93, ternyata Raja cedera, makanya saya agak heran bisa nyalip Raja. :D. Di WS10, Intan masih nunggu sebentar Raja masuk finish, setelah finish, kita langsung meluncur dari Cianjur menuju rumah di KBP (dan juga lokasi WS14), supaya nantinya Intan siap berlari untuk #GaneshaNumb3rs mulai dari WS15 di Cimahi menuju kampus ITB.

IMG 20181019 WA0098

serah terima estafet buff di WS10 ke Anton yang akan dia bawa ke WS11 dengan gaya #90leRun

IMG 20181013 152518

dengan Praherdian dan Sinta di WS10

 

Perjalanan balik ke Bandung macet banget, terutama menjelang WS11 di daerah Ciranjang bahkan kecepatan pelari melebihi kecepatan mobil berjalan. Kita mulai panik jangan jangan ga keburu nanti start di WS15. Tadinya ingin mampir  dan ingin kasih salam ke rekan rekan di WS11, namun akibat dari macet kami jadi kurang semangat mampir. Selepas WS11 jalanan lumayan kosong sampai WS!2 di masjid Rajamandala, disini kami juga tidak mampir (walaupun pengen), tetap dengan alasan mengejar waktu, takut kalo masih ada macet di Citatah. WS13 di Citatah pas area tanjakan jadi kagok mau mampir, akhirnya kami juga bablas jalan terus. Sampai di rumah kami istirahat sekitar 2 jam, karena kurang istirahat dari malam sebelumnya. Pukul 21:00, kami menuju WS14 yang tepat didepan perumahan kami di KBP. menyapa beberapa rekan dari tim #GaneshaNumb3rs, #90leRun, dan juga tim 93.

IMG 20181013 231323

tim support #GaneshaNumb3rs setelah Marbun dan Roga masuk WS14 untuk digantikan Hamzah dan Zulfikli

Setelah Hamzah dan Zulfikli start dari WS14 sekitar pukul 11 malam, maka saya nganterin Intan pake motor ke WS15. Strategi #GaneshaNumb3rs adalah malam itu adalah finish sekaligus. Sedangkan strategi tim #90leRun adalah pelari malam itu berakhir di WS15, baru besok pagi jam 6 pagi dilanjutkan pelari terakhir ke garis finish di kampus ITB. Kebetulan di tim #90leRun pelari terakhir adalah Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil (Emil), jadi akan ada semacam penyambutan dan publikasi tambahan untuk tim #90leRun. Malam itu saya nemenin / ngikutin Intan dan Suhe sebagai pelari terakhir menuju garis finish. Sesampai di Jl. Pasteur, ada Jaya yang juga ikutan berlari. Menjelang finish puluhan anggota tim #GaneshaNumb3rs sudah menunggu di Jl.Ganesha, kami masuk finish sambil bernyanyi, jadi inget masa ospek dulu … #GaneshaNumb3rs memasuki finish dalam waktu 27 jam 42 menit, pada pukul 1:42 dini hari.

IMG 20181014 002838

penyerahan estafet buff di WS15 anatara Hamzah dan Zulkifli ke Intan dan Suhe

WhatsApp Image 2018 10 19 at 06 04 33

di WS15 bareng Rolly pelari #90leRun yang baru finish dan Ayi dari tim support

IMG 20181014 012018

Jaya bergabung dengan Intan dan Suhe

IMG 20181014 013146IMG 20181014 020331

Usai pesta bergembira dan berfoto di garis finish, kamipun akhirnya bubar. Besok pagi adalah acara puncak #ITBUltraMarathon dengan acara fun run dan victory run. Sepanjang perjalanan pulang ke KBP, saya masih ketemu banyak pelari sekitar jam 2-3 malam masih berlari menuju garis finish atau ke WS15. Benar benar terdoktrinasi karena apa yah, sampai mau berkorban lari dini hari seperti itu. Saya dan Intan nyampe rumah jam 3 pagi, langsung ketiduran. Keesokan harinya tim #90leRun seharusnya ngumpul jam 6 pagi di WS15 untuk berlari bersama Ridwan Kamil menuju ITB. Namun saya tetap ketiduran dan ketinggalan kehebohan acara tersebut. Eksposure dari media sangat kencang, dan saya tidak ada foto satupun 😦 … hehehe ya sudah lah gak apa apa, namanya juga udah kecapean dan ketiduran. Anyway see you again #ITBUltraMarathon 2019.

Ada teman saya bilang UM ini adalah acara lari paling berat karena untuk lari peserta harus pernah kuliah di ITB dan harus lulus … dipikir pikir bener juga, makanya acara ini sangat penting buat keluarga ITB sendiri.

IMG 20181019 WA0055

foto monumental #90leRun, dimana saya ga ikutan gara gara ketiduran ..