Cerita ITB Ultra Marathon 2019

Senin 14 oktober 2019, kaki masih pegel pegel, badan masih lemes, ngantuknya masih di ubun ubun, rasanya pengen segera pulang kantor hari ini. Kemeriahan ITB Ultra Marathon 2019 11-13 oktober baru saja berakhir kemarin. Sepanjang 2 hari itu pula saya kecapean, kurang tidur, kebanyakan lari, tapi bahagia dan excited berlebihan gara gara bertemu dan berlari bersama temen temen seangkatan, temen alumni jurusan, dan juga temen sekantor.  Acara ITB UM ini adalah acara tahunan yang paling ditunggu tunggu alumni dan civitas academica ITB. Pada saat saya kuliah di tahun 90an, yang paling ditunggu tunggu saat itu adalah Pasar Seni ITB yang diadakan oleh rekan rekan FSRD. Acara ini berlangsung berlangsung 5 tahun sekali, jadi wajar kalo pada kangen. Nah ini ITB UM yang dilakukan setiap tahun malah gak kalah ngangeninnya. ITB UM merupakan ajang untuk bersilaturahmi, bekerja sama, berkompetisi, berkontribusi (lewat sumbangan), jadi sangat sayang untuk dilewatkan. Sebagai info ITB UM 2019 ini menempuh jarak 200km, meningkat dari tahun sebelumnya sejauh 160km.

Di ITB UM 2018 saya bergabung dengan 2 tim (angkatan dan alumni jurusan). Tahun ini saya lebih gila lagi, bergabung dengan 3 tim Relay 18 (R18), yaitu tim angkatan  (#90leRun), tim alumni jurusan (#GaneshaNumb3rs), dan tim kantor (#TeluRunners). Kenapa diborong begini, ini lebih karena saya orangnya ga bisa nolak diajak tim sana dan tim sini, alhasil saya harus buat strategi pemilihan etape sebaik mungkin sehingga bisa lari di tim 3 R18 tanpa merasa capek, atau cemas karena sudah waktunya lari di tim yang lain, padahal lari di tim yang ini belum selesai. Akhirnya setelah nego dengan Capt. masing masing tim, saya berhasil mendapatkan rute yang sangat optimal (thanks para Capt.). ITB UM 2019 saya berlari di etapa 1 / start bersama tim #90leRun, etape 9 bersama tim #GaneshaNumb3rs, dan terakhir etape 18 / finish bersama tim #TeluRunners.

Jumat tanggal 11 oktober setelah jumatan kami (Saya, Intan, dan Sopir) berangkat dari Bandung. Kami tidak mau pengalaman tahun 2018 terulang, yaitu dimana kami terjebak macet, ditambah mobil salah plat nomer genap,  sehingga mepet sampai ke tempat start di BNI Sudirman. Sebagai info Intan juga lari di leg 1 ini, sebagai runner1 dari #GaneshaNumb3rs bersama dengan Ones, temen satu tim saya juga di #90leRun. Kami sampai di tempat start jam 17:30 sore, padahal start baru akan dilakukan pada pukul 22:00. Gak apa apa, daripada datang mepet, lebih baik nyante dulu ngobrol haha hihi sana sini dengan pelari pelari lain, sambil foto foto dan makan makan. Sebagai pelari pertama di tim 90Brave #90leRun saya diharuskan mengambil gelang RFID untuk dibawa lari dan diteruskan ke pelari relay sesudah saya di WS1. Berikut beberapa foto sebelum start.

72790543 10157345474725202 3848734290028265472 n72625107 10157347058815202 6902618378658119680 n72146638 10157347058430202 2909835691590418432 n

Pukul 22:00 tepat start dimulai, saya langsung meluncur bareng dua pelari #GaneshaNumb3rs Intan dan Ones, perlahan kita mulai start dari belakang barisan dengan speed pelan. Emang kita janjian untuk berlari pace santai, eh tiba tiba entah mengapa kok kedua pelari numb3rs ini makin cepat aja, jadi saya mengimbangi speed mereka berdua, sambil nyusulin pelari pelari lain didepan. Kita menyusuri jalan Sudirman terus mengarah ke Thamrin. 1km pertama pace 8:03 menit/km, kemudian semakin cepat, sehingga mencapai pace 6:45 menit/km di km3, dan seterusnya berkisar di pace 6an. Saya lihat pelari numb3rs ini dikawal dua pemotor yang selalu mengikuti mereka, sedangkan pengawal #90leRun tidak kelihatan atau sedang mengawal pelari #90rjes (#90leRun ladies). Memang strategi numb3rs adalah dua pelari selalu bersama, tidak perduli pacenya. Jadi yang cepat ngikutin yang lambat, atau yang lambat harus mempercepat. Sedangkan tim #90leRun pelari dipersilahkan lari sesuai pace senyamannya, asal finish tidak melebihi COT (cut off time). Karena sudah ada pengawalan di pelari numb3rs, maka saya berlari lebih kencang lagi meninggalkan mereka berdua menuju finish di WS1. Berikut foto lari sepanjang etape 1 dan foto serah terima gelang RFID ke pelari 90Brave selanjutnya, Iskandar.

IMG 0552 edit kecil1570827667396IMG 0452 edited1570864586759OG1A5145 kecilIMG 0589 edited kecil

Beres fiinish di WS1 dan menyerahkan gelang ke pelari selanjutnya, Saya dan Intan langsung meninggalkan lokasi menuju ke Puncak. Malam itu kami berencana menginap di Palace Hotel Cipanas, tempat yang sama kami menginap di UM 2018 lalu. Hotel ini lokasinya 10km dari tempat saya start di leg 9 (Melrimba Garden) keesokan harinya. Jadi ceritanya saya salah perhitungan, saya mengira akan start di hotel Sanggabuana seperti tahun lalu, ternyata saya salah baca leg, jadinya hotel Sanggabuana tersebut adalah tempat saya finish, sedangkan startnya di Melrimba Garden. Perjalanan dini hari menuju puncak ternyata lebih macet dari tahun lalu, dan kami tiba di hotel pukul 03:00 dini hari.

Tanggal 12 oktober pukul 08:00 pagi kami sudah meluncur meninggalkan hotel menuju start leg 9 di WS 8 di Melrimba Garden. Kami sarapan di lokasi, sambil nyante nungguin pelari numb3rs leg 8 sampai. Saat itu, pelari numb3rs yang sedang berlari adalah pelari leg 5 yang berarti masih berlari di sekitaran kota Bogor. Dari Bogor menuju Melrimba Garden, elevasinya luar biasa, minimal 1000 meter, sehingga pelari akan memakan waktu lama untuk sampai ke WS8. Lokasi WS8 ini suasana sangat nyaman, seperti saat start, kami bertemu dengan banyak pelari lainnya, chit chat dan foto foto, termasuk bertemu dengan dua tim saya lainnya. Satu persatu pelaripun sudah mulai berlari, termasuk temen temen #90leRun dari total 7 pelari, tinggal 1 pelari yang belum berangkat, demikian juga pelari #TelURunners sudah berangkat bahkan lebih dulu dibanding tim #90leRun. Saya dan Adi, partner lari saya di numb3rs, harap harap cemas, kapan nih pelari numb3rs bakal sampai di WS8. Setelah berjam jam menunggu akhirnya kami berdua bisa start juga pada pukul 14:45. Berikut foto foto di WS8 Melrimba Garden, dan serah terima gelang RFID.

73513753 10157348084060202 6947670326440361984 n72684693 10157348083315202 5364764415876923392 n72743080 10157348083440202 3863874917330059264 n73022053 10157348083520202 952797726788026368 n

Berlari dari WS8 menuju WS9, pikiran saya tertuju kepada tim #TelURunners yang sudah start sejak jam 11:00 siang, saya sudah tertinggal 4 jam, saya khawatir kalo nanti giliran nanti lari di leg 18 tim ini, sayanya masih belum siap (atau masih capek). Oleh karena itu saya abaikan saran tim numb3rs untuk selalu lari berdua, pasangan saya Adi, pacenya sekitar 9 atau 10, jadi terlalu jauh bedanya dengan pace saya. Kebetulan saya tinggalkan HP ke Intan dengan tujuan nanti bisa motoin saya berlari. Namun Intan (dan mobil) ternyata ga bisa keluar dari lokasi Melrimba karena jalur  Puncak ditutup 1 arah. Saya berlari sendiri meninggalkan Adi, tanpa HP, sehingga lokasi live saya tidak terdeteksi. Pikiran saya hanya tertuju gimana finish ke WS9 secepat mungkin. Dan ini ternyata cukup membuat tim numb3rs kebingungan nyariin posisi saya. Saya akhirnya sampai di WS9 dalam jangka waktu 1 jam. phiuhh … akhirnya finish juga. Biasanya mobil menunggu pelari finish, ini saya malah kebalikan, saya finish lebih dulu dari mobil (Intan). Setelah beres di WS9, kamipun meluncur langsung menuju ke Kota Baru Parahyangan, karena disini Intan akan berlari di leg16, sementara saya bersiap untuk leg18. Oh ya ditengah perjalanan menuju Bandung, hujan cukup deras turun di Cianjur, saya langsung ngebayangin rekan rekan saya yang berlari dibawah guyuran hujan deras.

72309323 10157348083725202 9221042124470878208 n73053372 10157348083905202 6560948898423111680 n

Sampai Kota Baru Parahyangan, kami sempatkan pulang dulu ke rumah. Pak sopir sudah kami ijinkan pulang untuk istirahat. jam 22:00 pelari leg 16 dan 17 #TelURunners, Osa, Citra dan bu Ola udah siap di Mesjid Al Irsyad. Saya nyamper mereka bentar foto foto. Sekitar jam 01:00 dinihari bebarengan dengan pelari 17 menuju WS18, maka sayapun berangkat menuju WS18 di Cimahi. Saya start berlari dari WS17 ini jam 02:00 dini hari menuju tempat finish di Kampus ITB Ganesha. Di leg terakhir ini saya ditemani Capt. tim #TelURunners, pak Kemas. Untung saya ditemani, karena kalau tidak, saya benar benar berlari sendirian dini hari. Kami akhirnya finish pukul 03:05 dinihari tanggal 13 Oktober 2019. Pada saat saya lari di leg ini, Intan juga sedang lari di leg 16, jadi saya ga bisa nemanin dia dan dia juga ga bisa nemanin saya. Setelah finish saya dijemput Sandra, anak sulung saya, karena ga ada sopir lagi yang bisa jemput. Kami kembali lagi sampai di rumah pas adzan subuh. Berikut foto fotonya dan video saat saya masuk garis finish:

72205624 10157351480100202 924011872422723584 n
72383919 10157351480165202 287821984891404288 n

72386455 10157351481080202 1899830765651230720 n72422037 10157351480320202 6380920263264960512 n

di rumah saya ketiduran, padahal sudah ada janjian jam 06:30 pagi untuk melakukan Victory Run bersama tim tim saya di kampus ITB. Dengan sedikit memaksakan maka jam 07:00 pagi kami (Saya dan Intan) kembali ke kampus ITB. Saya lihat catatan finish tim tim saya #TelURunners finish pukul 03:05, #90Brave finish pukul 03:50, sedangkan tim numb3rs baru berangkat menuju finish pukul 06:00 pagi. Di kampus ITB kami merayakan pesta kebersamaan selama 3 hari terakhir, berfoto, berreuni, bersenda gurau, dan tidak lupa berharap kemeriahan tahun ini akan berulang lagi tahun depan. Semoga semakin banyak rekan rekan alumni yang terlibat dalam pesta ini.Secara khusus UM 2019 sangat seru, tidak kalah serunya dibanding UM tahun sebelumnya. Semoga kita masih bisa berkumpul bersama di ITB UM tahun depan. Berikut beberapa foto penutup saat kumpul bersama masing masing tim saya di Kampus ITB hari minggu pagi :

72646683 10157351610860202 5590101932350898176 n72209013 10157351610930202 6273182842595835904 n72187805 10157351481350202 9193230480357457920 n72642792 10157351611855202 1110971287716495360 n72442377 10157351610975202 8954637655425941504 n72162529 10157351611145202 6954659664160096256 n72759239 10157351611210202 3986114578541969408 n

71913274 10157351611370202 8062189647985377280 n

Big Bad Wolf

Big Bad Wolf adalah pameran (dan jualan) buku buku yang diambil dari sisa stok distributor internasional. Untuk pertama kalinya tanggal 6-16 september 2019 Big Bad Wolf diadakan di Bandung, tepatnya di Mason Pine, Kota Baru Parahyangan yang kebetulan lokasinya dekat rumah. Acara ini termasuk sukses dilaksanakan. Antusiasme pengunjung untuk menghadiri acara ini sangat membludak, padahal pameran sudah dibuka selama 24 jam pada periode tanggal tersebut. Saya datang sampai 3 kali, pertama belanja 12 buku, kedua belanja 8 buku, dan ketiga belanja 10 buku. Sepertinya acara seperti ini harus sering dilaksanakan, terlihat minat baca anak anak cukup besar, atau mungkin karena sulit mencari buku buku berkualitas di toko buku mainstream?. Oh ya harga buku buku yang dijual termasuk terjangkau. Berikut ini adalah buku buku yang saya (dan keluarga) beli. 

WhatsApp Image 2019 09 15 at 6 09 48 PM

Lab. SCBD goes to ICOICT 2019 Kualalumpur

Tahun 2019, tim Lab. SCBD kembali berpartisipasi di konferensi internasional ICOICT. Konferensi ICOICT ke 7 ini, kamu mempresentasikan 7 paper hasil penelitian. The 7th ICOICT dilaksanakan di hotel Federal di area Bukit Bintang, Kualalumpur pada tanggal 24-26 juli 2019. Momen istimewa karena baru pertama kali saya membawa rombongan tim sedemikian besar (9 orang) ke luar negeri. Berikut foto foto kami, fotonya tambah keren karena kami bawa kaos seragam tertulis SCBD :). See you on the next conference.

67315621 10157142953745202 31066817006927872 n67455588 10157138645505202 5770099506305564672 n67354480 10157138645570202 6551990258068619264 n67246502 10157138645680202 365182218567417856 n

Sertifikasi Internasional Big Data Analyst (Launching + Batch 1)

Setelah merintis lebih kurang setahun akhirnya saya dan tim Research Center Digital Business Ecosystem (RC DBE) berhasil menyelenggarakan Sertifikasi Internasional Big Data Analyst bekerja sama dengan TUV Rheinland. Proses paling lama pembentukan program ini adalah membuat materi yang memenuhi standard internasional mengenai keilmuan Big data Analyst. Output dari sertifikasi personal ini adalah individu yang mempunyai kemampuan untuk melakukan proses predictive analytics, membuat model predictive berdasarkan data terstruktur dan tidak terstruktur, mempunyai pemahaman dan mampu melakukan proses machine learning, kemampuan melakukan text analytics, analisa jejaring sosial, framework komputasi big data, computational modelling, serta artificial neural network dan deep learning.

Tanpa diduga respon pasar sangat bagus. Batch 1 dilaksanakan tanggal 15-19 Juli langsung fully booked, demikian juga untuk batch 2 yang akan dilaksanakan nanti bulan agustus, jadi pendaftar saat ini hanya bisa mendapatkan tempat di batch 3 dan seterusnya.

Launching acara sertifikasi ini dilakukan pada tanggal 15 Juli pagi, dihadiri rektor Universitas Telkom dan Direktur dari TUV Rheindland Indonesia. Berikut ini adalah foto fotonya

66635283 10157117950460202 1548982467858268160 o66980030 10157117950505202 7201925355207131136 o67163142 10157117950580202 2825727561781215232 o

Rangkaian acara sertifikasi berlangsung selama 4 hari (26 jam) penyampaian teori dan praktek mulai dari materi introduction, statistik, data mining, machine learning, SNA, text analytics, computation model, deep learning, dan big data computation. Berikut ini adalah suasana kelas pelatihan sertifikasi.

66687830 10157117950715202 5393105672407613440 oWhatsApp Image 2019 07 19 at 10 12 13 PMWhatsApp Image 2019 07 19 at 10 12 14 PM

Pada hari ke 5 dilaksanakan ujian sertifikasi secara online. Berikut ini suasana ujian dan wrap up perpisahan diakhir acara disertai foto bersama

WhatsApp Image 2019 07 19 at 10 15 57 PMWhatsApp Image 2019 07 19 at 10 15 57 PM 1WhatsApp Image 2019 07 19 at 10 15 57 PM 2

Tertulis di kaos peserta, “Big Data is not about Data” . Sampai jumpa di batch 2.

beberapa testimoni peserta

WhatsApp Image 2019 07 19 at 10 19 22 PMWhatsApp Image 2019 07 19 at 10 19 23 PMWhatsApp Image 2019 07 19 at 10 19 25 PMWhatsApp Image 2019 07 19 at 10 19 25 PM 1WhatsApp Image 2019 07 19 at 10 19 26 PMWhatsApp Image 2019 07 19 at 10 19 26 PM 1WhatsApp Image 2019 07 19 at 10 19 27 PM

 

 

 

 

 

 

 

 

Menularkan Semangat Big Data ke FEB UPI

Dalam banyak kesempatan saya sering menjelaskan mengenai pentingnya rekan rekan dosen dan peneliti dari keilmuan sosial untuk belajar Big Data. Tujuan utamanya agar lebih update dengan kemajuan perkembangan keilmuan, yang mungkin juga bisa diimplementasikan ke penelitian pada bidang keilmuan masing masing. Suatu saat saya dikontak oleh seorang dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pendidikan Indonesia (FEB UPI) untuk memberikan wawasan mengenai Big Data dalam bentuk pelatihan kedosen dosen di fakultas mereka. Setelah saya sanggupi, maka saya gerakkan tim lab Social Computing dan Big Data (SCBD) dan Research Center Digital Business Ecosystem (RC DBE) untuk merancang materi dan membuat pelatihan.

Pelatihan diadakan di lokasinya di Telkom Professional Certified Center (TPCC), gedung Magister Management FEB TelU, pada tanggal 24 April 2019. Karena ingin materi pelatihan lebih implementatif, maka materi yang kami (saya dan tim) bawakan adalah materi Social Media Analytics. Peserta sebanyak 20 orang dosen dosen FEB UPI. Secara umum peserta sangat antusias mendapatkan pengetahuan baru. Suasana kelas juga sangat aktif dengan banyaknya diskusi yang terjadi. Saya berharap semoga semangat Big Data benar benar menular dan diresapi para peserta. Berikut adalah foto foto suasana pelatihannya.

 

58684780 10156903371060202 4921318616047026176 o

58382148 10156903370855202 4490124356457857024 o

58629964 10156903371020202 6853437116173516800 o

58376829 10156903371110202 378936877102661632 o

58377437 10156903370660202 5257488566753165312 o

58375043 10156903370905202 2708075110325026816 o

 

58376801 10156903370595202 5388000674279587840 o

57649366 10156903370780202 2287358595253141504 o

57852581 10156903370725202 3008096022107783168 o

 

 

 

Publikasi Scopus Mei 2019

Update terakhir daftar publikasi Scopus saya adalah pada bulan Agustus 2018 . Setelah update tersebut, sebagian publikasi konferensi sepanjang tahun 2018 sudah pada muncul dalam daftar Scopus. Total saat ini terdapat 34 publikasi Scopus yang bisa dilihat pada halaman ini. Dari 34 publikasi tersebut, disitasi sebanyak 74 kali oleh 56 publikasi Scopus lainnya. Nilai h-index, yaitu ukuran produktivitas dan manfaat publikasi kepada peneliti lainnya (dalam bentuk sitasi). Nilai h-index dilihat dari publikasi yang paling banyak disitasi dan jumlah sitasi yang diperoleh dari publikasi lainnya. Nilai h-index publikasi saya adalah 5, termasuk bagus untuk jumlah publikasi yang masih sedikit. 

Selanjutnya motivasi saya adalah meningkatkan jumlah publikasi dengan lebih sering memasukkan publikasi penelitian ke jurnal internasional bereputasi (Scopus Q4, Q3, Q2, bahkan Q1), sambil tetap menjaga ritme produktivitas publikasi di prosiding konferensi terindeks Scopus. Saat ini setahun, produktivitas saya rata rata adalah sekitar 10-15 publikasi pada prosiding terindeks Scopus. Doakan semoga makin rajin 😉

 

Screenshot 20190510 214545

Pilpres dan Fanatisme (Film Sexy Killers)

Pilpres tinggal beberapa hari lagi. Generasi saya (X, Y dan generasi lebih tua) sibuk sekali berantem membela jagoannya masing masing. Sementara saya ditunjukan satu video / film dokumenter yang dibuat oleh WatchDog, berjudul Sexy Killers. Saya peroleh video ini dari anak saya yang dia juga peroleh dari lingkungan pertemanannya di generasi milenial. Saya malu sekali dengan generasi anak saya, generasi saya sangat naif melihat masing masing paslon sebagai “orang suci” yang tidak tahunya mereka termasuk aktor aktor utama dalam bisnis penambangan batubara untuk keperluan PLTU. Batubara yang murah sudah banyak merusak lingkungan ekosistem di Indonesia. Inikah yang kita wariskan ke anak kita ? 

Simak film lengkapnya disini (1,5 jam)

Mobil Cina Bernama Wuling Almaz

Berkomuter di kota besar seperti Bandung bukan merupakan hal yang nyaman dan efisien, apalagi jika kita tinggalnya di area Bandung coret. Kami sekeluarga berempat setiap hari mempunyai aktivitas di kota Bandung, sementara lokasi tinggal kami adalah sekitar 25-30 km di luar kota bandung, dimana jarak ini harus melewati jalan tol. Bisa dibayangkan bahwa kendaraan pribadi saat ini merupakan opsi terbaik dari semua pilihan yang ada, seperti naik bis, naik angkot, naik gojek, maupun naik grab. Apalagi lokasi sekolah anak anak, kantor saya, dan kantor istri berbeda semuanya. Kadang saya iri dengan rekan yang bisa bike to work ke kantor, jangankan naik sepeda, saya naik motor ke kantor (tidak melalui tol) itu membutuhkan waktu hampir 2 jam, jadi tidak efektif untuk mendukung pekerjaan. Kesimpulannya kebutuhan mobil bagi keluarga kami adalah keharusan.

Entry blog ini merupakan lanjutan dari entry blog otomotif saya di tahun 2014 tentang review Suzuki Splash 2014, dan tahun 2016 tentang review Kia Sportage 2013. Tahun ini Splash sudah berusia 5 tahun, dengan odometer mencapai 95rb km, sedangkan sedangkan Sportage sudah berumur 6 tahun, dengan odometer 82rb km. Kami merasa perlu melakukan penyegaran, karena dengan jarak tempuh yang tinggi, kaki kaki dan goncangan mobil berasa tidak senyaman dahulu. Yang utama perlu diremajakan adalah Splash, sedangkan Sportage masih cukup enak untuk mobil seusianya, mungkin 2-3 tahun lagi kami akan remajakan juga. 

Waktu itu pilihan pertama pengganti splash adalah Nissan Livina. Kami pilih Livina, karena terkenal empuk dan nyaman, walaupun tenaga pas pasan. Tapi kami tidak mau membeli mobil baru, karena rasanya sayang beli mobil baru, padahal Livina bekas lumayan banyak dengan harga yang relatif terjangkau. Saat hunting kami tidak tahu kalo Livina bakal keluar versi baru. Mencari Livina bekas yang bagus ternyata tidak mudah. Saya beberapa kali test drive, sering kali yang saya temukan bahwa pemilik Livina tidak merawat mobilnya di bengkel resmi dengan alasan beres mahal dan banyaknya bengkel alternatif di sekitar Bandung. Dari sini saya mulai ragu … tapi masih terus hunting Livina.

Suatu saat beberapa bulan kemudian (tepatnya akhir Januari 2019), masuk pesan WA dari sales Wuling (merk mobil cina), yang mengabarkan bakal ada SUV baru dari Wuling. Saya kenal sales ini karena saya pernah lihat pameran mobil MPV Wuling Cortez di suatu mall. Berbekal kepuasan saya akan mobil SUV semacam Sportage, maka saya bilang sales tersebut untuk mengabari jika sudah ada unit test drive Wuling SUV itu, yang ternyata bernama Almaz.

Saat tulisan ini dibuat pilihan SUV setara Sportage, dalam konteks value for money tidak ada yang cocok. Produk produk Honda (CRV dan HRV) saya coret, karena selain harganya mahal, dan berbekal pernah punya jazz dan freed, menurut saya Honda itu mahal dalam segala hal (servis, spare parts dll), dengan kata lain overprice. Produk Toyota (Fortuner dan Rush), sama sekali tidak meningkatkan gairah saya untuk beli mobil tersebut. Produk Chevrolet (Captiva dan Trax), saya agak suka, tapi ga rela untuk beli. Produk Mazda (CX5) saya suka banget, tapi harganya terlalu mahal, bahkan harga bekasnyapun masih luar biasa mahalnya.

Akhirnya hari yang ditunggu untuk testdrive Almaz pun datang. Saya sengaja ajak anak anak. Saya perhatikan ekspresi mereka. Tidak ada excitement saat test Livina atau beberapa mobil lainnya, tapi saat test Almaz langsung beda banget ekspresinya. Ya jelas beda karena Almaz pake head unit macam tablet ipad, terus ditambah panoramic roof, terus ditambah sound system infinity yang luar biasa jernih. Diluar itu space akomodasi Almaz  yang membuat saya langsung suka karena sangat lega, dan killer factornya adalah mesin Turbonya. Saya suka dengan tarikan mesin Turbo Almaz. Ini seperti kembaran Sportage saya tapi dengan mesin lebih kecil dan Turbo, jadi harusnya lebih irit, atau paling tidak menyamai Sportage, jadi saya tidak masalah dengan konsumsi BBM. Masih banyak sebenernya fitur fitur lain, tapi menurut saya yang lain lainnya itu nice to have lah. Killer factorsnya sudah saya sebutkan diatas.

Saya langsung pesen, padahal harga mobilnya belum ada …

Nunggu dua minggu setelah pemesanan baru harga resmi keluar, dan untungnya harganya masih terjangkau, jauh dibawah CRV, CX5, dan bahkan sama dengan mobil yang fiturnya dibawahnya (HRV, Trax). 

Sempet galau pemilihan warna, apakah pilih abu atau hitam, akhirnya saya pilih warna hitam, karena saya lihat warna item Almaz sangat keren, dan saya belum pernah punya mobil warna item. Akhirnya mobil dikirim awal Maret 2019.

Akang sales Wuling cerita kalau saya adalah pemakai Almaz nomer dua di Bandung. WOW, jadi inget dulu punya Yamaha NMax termasuk dalam pembeli pembeli awal juga.

Setelah seminggu dipake, kesan Almaz dibandingkan dengan Sportage ada 2, yaitu:  1). mesin biasa aja, 2). fitur luar biasa. Untuk nilai minusnya, mesin menurut saya biasa aja karena tenaganya ngepas untuk bermanuver di jalan tol dengan nyaman, serta adanya turbo lag namun dengan cerdik ditutupi oleh transmisi CVT yang halus. Kalau saya pake sportage dengan tenaga lebih besar  rasanya masih banyak tenaga tersimpan untuk bermanuver. FYI Sportage 166hp sedangkan Almaz hanya 140hp. Alangkah nikmatnya kalo misalkan tenaga Almaz ini dilebihkan sedikit, supaya juga sesuai dengan tampangnya yang macho. Selain itu transmisi manualnya tidak seresponsif di sportage. Untuk nilai plusnya menurut urutan prioritas saya adalah 1). panoramic roof, 2). head unit, 3). kelegaan kabin yang luar biasa, 4). sound sistem jempolan. 5). kamera 360.

Review pemakaian seminggu ini mungkin belum terlalu akurat, nanti saya akan update lagi kalo ada pengalaman pengalaman baru. Secara keseluruhan, menimbang nilai plus dan minusnya, menurut saya Almaz sangat sangat worth to have. Saat saya beli Almaz tidak ada mobil sekelasnya yang mempunyai value for money lebih baik dari Almaz. Ada sih merk DFSK, tapi kok ga minat ya .. Oh ya konsumsi BBM mungkin belum optimal, saat ini saya memperoleh nilai 1:10 – 1:13 … lumayan irit 🙂

 

IMG 20190312 194159

  

Relaunch Asosiasi Ilmuwan Data Indonesia

Pada bulan November 2016, kami para founder bersama sama mendeklarasikan berdirinya Asosiasi Ilmuwan Data Indonesia (AIDI), cerita lengkapnya ada di entry blog ini. Seiring berjalannya waktu, dan bersamaan kesibukan antar founder, sehingga AIDI belum bisa membuka pendaftaran anggota baru. Untungnya kami diberikan kesempatan untuk relaunch AIDI dan membuka pendaftaran anggota baru pada tanggal 5 februari 2019 di Jogjakarta.

Mimpi AIDI adalah mengawal kedaulatan data Indonesia. Data sebagai komoditas strategis, maka AIDI mencakup keilmuan yang luas, contohnya seperti big data, machine learning, artificial intelligence, computational linguistic, statistik, bioinformatics, sampai juga ke keilmuan sosial seperti bisnis, politik, dan komunikasi

Sambutan saya pada relaunch AIDI ini adalah sebagai berikut :

Asosiasi Ilmuwan Data Indonesia atau disingkat AIDI atau dalam bahasa inggris adalah Indonesia Data Scientist Society adalah suatu perkumpulan stakeholder yang terdiri dari individu, komunitas, dan perusahaan yang berkepentingan dan peduli pada perkembangan keilmuan data, serta implementasi dari manfaat data tersebut.  AIDI secara resmi dideklarasikan pada bulan november 2016, mendapatkan ijin dari Kementrian Hukum dan HAM pada tahun 2017. Di awal tahun 2019 ini, baru terbentuk kepengurusan harian AIDI dalam acara re-launch yang diselenggarakan di Jogja, 5 Februari 2019.

AIDI dibangun dengan semangat kebersamaan antara para pemimpin dan pakar dari stakeholder yang bergerak di ekosistem yang berhubungan dengan Data Science dan Data Analytic untuk mencari sebuah wadah yang dapat menyatukan suara.  Misi dari AIDI adalah Membangun Ekosistem Data Science Indonesia yang Bermanfaat, Aman, Sejahtera, Berdaya-saing dan Berkesinambungan untuk mendukung kedaulatan data Indonesia. Seperti kita ketahui Data adalah komoditas strategis bangsa, yang mempunyai nilai  mencakup banyak kepentingan dan melewati batas berbagai ilmu pengetahuan.  

Salah satu aktivitas yang dicanangkan oleh AIDI adalah berpartisipasi dalam pembuatan regulasi atau peraturan perundangan terkait dengan Data sebagai komoditas strategis, karena regulasi atau peraturan perundangan akan membentuk dan mengatur arah IIndustri yang melibatkan Data Science dan Data Analytics di masa mendatang. Masih banyak regulasi yang akan dibutuhkan untuk mengatur Industri jasa Data Mining ataupun Analytics, di mana Industri harus berperan dan terlibat memberikan masukan, pandangan dan saran agar Data Science bisa bermanfaat bagi masyarakat Indonesia. Tercipta iklim industri dan ekosistem yang mendukung kemandirian dan berkelanjutan. 

Sampai saat ini tercatat ada 350 anggota AIDI, yang terdiri dari berbagai bidang keahlian seperti machine learning, artificial intelligence, big data, data mining / data analytics, computational language, statistika, bioinformatics bahkan bidang non teknis seperti bisnis, politik, dan komunikasi. Dengan keberagaman latar belakang keilmuan yang dimiliki anggotanya, diharapkan AIDI mempunyai kapabilitas tinggi dalam bersinergi dan berkarya untuk kepentingan pembangunan Indonesia.

Terdapat beberapa aktivitas yang berafiliasi dengan AIDI, diantaranya adalah Workshop, Seminar, Kompetisi, dan Eksibisi National Data Days, Konferensi Ilmiah ICODIS (International Conference on Data and Information Science) dan ICADEIS (Internasional Conference on Advacement in Data Science, E-Learning, and Information Systems), Sertifikasi Internasional Big Data Analitik, Konferensi Big Data Indonesia, idBigData Meetup, dan lain lain

Sedangkan beberapa komunitas yang terlibat dalam pembentukan AIDI serta mempunyai afiliasi aktivitas dengan AIDI adalah Data Science Indonesia, Tau-data Indonesia, Komunitas Big Data Indonesia, Lab. Social Computing dan Big Data, Machine Learning ID, dan R Indonesia. Beberapa Industri yang terlibat dalam inisiasi dan kepengurusan AIDI adalah Solusi247, NoLimit, Mediawave, Zamrud Technology, dan Bahasa Kita.

Beberapa ilmuwan yang terlibat di AIDI antara lain adalah dari Telkom University, Universitas Padjajaran, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, LIPI, BPPT, Politeknik Statistika, dan Universitas Widyatama.

Demikian dapat kami sampaikan sekilas mengenai AIDI. kami berharap AIDI bisa menjadi wadah bertemu dan kolaborasi bersama antar ilmuwan data dalam berbagai bidang untuk membuat solusi untuk kepentingan bangsa. untuk itu  kami mengajak rekan rekan semua untuk bergabung di AIDI. 

Untuk bergabung bisa mendaftar pada tautan di bawah ini. 

2019 02 14 22 36 11

51231751 10156722442250202 619563343279030272 n51510822 10156722442305202 5379348316632907776 n51342227 10156722442600202 763510641083285504 n51838878 10156722442465202 833664250349092864 n

Tahura Trail 2019

Tahura Trail Run adalah salah satu kegiatan lari yang terkenal di Indonesia, kegiatan ini dilaksanakan di area kawasan Taman Hutan Raya Dago Bandung. Gelaran tahunan ini berkelas internasional, dengan peserta datang dari berbagai manca negara. Lari trail adalah lari melalui jalan tanah (setapak, berbatu, yang penting bukan jalan aspal). Tahura Trail Run rute larinya melalui sepanjang kawasan hutan dan pegunungan di Bandung Utara. Tahura Trail Run 2019 ini merupakan kali kedua saya bertisipasi, setelah sebelumnya pada tahun 2018. Saat itu saya ajak keluarga lengkap untuk lari trail  di kelas family 7K.

Tahun 2019 ini, Tahura Trail Run dilaksanakan pada tanggal 20-21 Januari 2019. Kami (saya hanya berdua dengan Intan) ikut kelas trail 21K. Gelaran ini diselenggarakan selama dua hari. Hari pertama khusus untuk kelas Full Marathon  (42K) dan Half Marathon (21K). Hari kedua kelas 17K, 10K, dan kelas family (7K). Kondisi lari hari pertama jauh dari ideal, karena malam sebelumnya kawasan Bandung Utara diguyur hujan deras, alhasil medannya berubah menjadi becek dan basah. 

Start dimulai pukul 5 pagi, kami berlari dengan pace santai, namun di rute awal sudah disuguhi beberapa rute jalan menanjak yang cukup dahsyat, sehingga mau ga mau kami sudah kehabisan nafas lari saat jarak lari masih dibawah 5K. Setelah tanjakan rute berubah ke jalan tanah (persawahan) di lereng bukit dan area perkebunan sayuran penduduk. Jalur ini cukup nyaman, walaupun sempat terjadi antrian karena sempitnya jalur sehingga kami kesulitan menyalip pelari di depan kami yang berlari lambat.

Jalur berganti ke berlari di dalam hutan, beberapa area hutan cukup tebal sehingga matahari tidak bisa menembus masuk. Dalam suasana agak gelap karena kekurangan cahaya, kami beberapa kali jatuh terpeleset, untung tanahnya sangat empuk, sehingga kami terhindar dari cedera. Beberapa kali pula kami srodotan, sliding jatuh meluncur mengikuti alur tanah. Kalau biasanya saya lari 21K di jalan raya membutuhkan waktu selama 2,5 jam sampai 3 jam, maka lari trail 21K membutuhkan waktu hampir 6 jam. Kami mencapai finish tepat 5 menit sebelum COT (Cut Off Time). Alhamdulilah bisa dapet medali finisher 🙂

Berikut foto fotonya dari gelaran Tahura Trail Run 2019

50853162 10156679638720202 1206485901476102144 o50423328 10156679640475202 1613217152628686848 o50299937 10156686409740202 7416018050299723776 n50127086 10156679641400202 501557802561437696 o50681595 10156698607820202 4320129181514989568 o50269983 10156679642145202 5559287285758820352 o50307112 10156679639220202 60581681941184512 o