9 Jam Berlari #TahuraTrailMarathon

Setelah menuntaskan misi Virgin Full Marathon di Pocari Sweat Run Bandung tahun 2019 kemarin, saya mulai memikirkan bagaimana rasanya lari Full Marathon pada trek trail. Seperti diketahui lari trail karakternya sangat berbeda dengan trek jalan raya (road). Banyak faktor yang membuat trek trail jauh lebih berat, misal permukaan tanah ga rata, bahkan cenderung bervariasi seperti jalan setapak, jalan tanah, jalan hutan, belum lagi elevasi yang biasanya lebih luar biasa daripada trek road. Tahura Trail Run 2020 merupakan kesempatan sempurna buat saya memecahkan telor Virgin Full Marathon (FM), iya FM 42K lari di jalur trail. Tahura Trail saya pilih karena memang tingkat kesulitan medan yang cenderung bersahabat dan lokasinya di kota Bandung, tentu memudahkan saya untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk menghadapi FM trail ini. 

Tahun ini adalah  ketiga kalinya saya ikut serta di event Tahura Trail. Tahun 2018 saya ikut kelas family 7K dan tahun 2019 saya ikut kelas HM (21K). Salah satu persiapan saya untuk FM ini adalah mengikuti event Cikole Forest Run, tepat sebulan sebelum event Tahura. Saya tidak mempersiapkan diri dengan latihan khusus untuk menghadapi lari FM ini karena kesibukan kantor yang lumayan padat di akhir 2019 dan awal tahun 2020.

Start lari FM dilakukan pada hari sabtu 18 januari 2020.  Sekitar 700an pelari FM start pukul 7:00 pagi. Jalur 3km awal langsung ketemu tanjakan elevasi lumayan, namun mayoritas adalah jalur aspal dan beton. Baru setelah lewat km 5 kita masuk ke jalan tanah yang tanjakanannya juga masih menggila. Saya berlari santai, dengan pace antara 8-10 menit/km, kadang kadang mencapai 17 menit/km kalo jalur sangat menanjak. Ada sekitar 4 WS sejak dari start sampai km 17.5

Di km17.5 pelari FM ketemu water station (WS) terakhir sebelum masuk hutan menuju ke km 30. Di sepanjang km 17.5-30 ini sama sekali tidak ada WS. Ditengah hujan tanjakan juga tidak lupa selalu hadir, jalan becek cenderung tidak bisa dilariin akibat hujan yang datang dan pergi hari itu. Beberapa parit dan sungat kecil juga harus kita lalui. Alhasil bagian bawah sepatu trail sudah penuh dengan tanah liat. Kaos kaki sampai ganti tiga kali karena air, pasir, dan tanah liat rebutan masuk ke sepatu. Akhirnya karena stok kaos kaki habis, saya terpaksa lari tidak pakai kaos kaki lagi. Saya melihat banyak peserta yang sudah mulai menyerah menaklukkan ganasnya jalur hutan tersebut, dan minta diangkut panitia,

Setelah mencapai km 30, perjalanan selanjutnya menuju finish di km 42 terasa sangat lama, walaupun jalur cenderung turunan , mungkin karena badan sudah sangat lelah. Kami berjalan dan berlari melewati perkampungan dan perkebunan penduduk di daerah maribaya – lembang.

Cut off time (COT) FM adalah 10 jam, jadi pelari harus bisa finish sebelum jam 17:00 sore. Kalo tidak bisa lebih cepat dari COT maka pelari dinyatakan Did Not Finish (DNF) dan diangkut oleh panitia. Saya mencapai garis finish pada pukul 15:59, jadi total saya berlari sejauh 9 jam kurang 1 menit. Ini rekor lari saya terlama, bahkan lebih lama dari perjalanan saya mudik Bandung-Malang yang hanya 8 jam di akhir tahun 2019. 

Saat berlari di tengah hutan saya juga sempat berpikir “ngapain saya ada disini”, kok mau maunya berlari berjam jam menyiksa diri. Tapi setelah menyelesaikan tantangan rasanya sangat memuaskan, bahwa saya bisa menyelesaikan tantangan mengalahkan kemalasan diri sendiri #gabolehmales. Oh ya .. entry blog ini ditulis 3 hari setelah menyelesaikan lari trail FM tersebut, saat ini saya sudah tidak merasakan sakit sakit atau pegal pegal lagi. Semuanya aman … ga sabar menunggu event trail selanjutnya 😉 ..

82902116 10157647138015202 4779708935797997568 o82605321 10157647138115202 7264254650751123456 o83118426 10157647138265202 1238432323490283520 o82797837 10157647138200202 4634408899389161472 o
83138664 10157647138545202 6629258807077765120 o84080412 10157647138320202 7160078904726650880 o

Lari Trail di Hutan Cikole

Cikole Forest Run diadakan pada akhir 2019 (tepatnya tanggal 8 Desember 2019). Lari 15K di tengah hutan ini adalah latihan pemanasan saya untuk ikut event lari trail Tahura Trail Run pada bulan januari 2020 yang mana kebetulan saya akan ambil kelas Full Marathon. Meskipun embel embel kelas 15K adalah Fun Run akan tetapi kalo dilihat elevasinya mengerikan juga (menurut level saya lho yah). Profil elevasinya bisa dilihat disini . Saya merasakan sendiri begitu start, kita langsung dihadapkan ke jalan setapak satu jalur langsung menuju elevasi tinggi ke arah gunung Tangkuban Prahu dari hutan Cikole. Jalan satu jalur ini membuat kita harus berlari agak kencang, supaya tidak menghambat lari pelari cepat dibelakang kita. Alhasil, 2-3 km pertama saya cukup kelelahan.

Sisa jalur yang dihadapi sangat indah dan menantang karena tidak seperti di tahura, jalur lari cikole ini hampir 80 persen berada di tengah hutan. Begitu tenaga diperas pada 3 km awal, selanjutnya saya mencoba berlari agak santai sampai foto foto, karena jalurnya sendiri sudah tidak sesempit jalur awal. Ada beberapa spot yang menarik sepanjang jalur lari, seperti ngarai kecil di tengah hutan, jalur trekking land rover, dan puncak bukit (saya ga tau namanya, tapi kota bandung keliatan sangat jelas dari sana).

Berikut foto foto selama acara tersebut. 

79356429 10157520831585202 997517076597833728 o79458365 10157520831970202 1468322724341350400 o78534868 10157520833060202 4103387917529907200 o73539170 10157520832365202 3638879005374939136 o79904745 10157520832750202 5730841349146542080 o78950939 10157520834590202 8061730296938102784 o80025834 10157520833645202 3127354121317777408 o79320379 10157520833335202 5446383247065874432 o

 

Borobudur Marathon 2019

Dari banyak event lari marathon di Indonesia, hanya sedikit yang bereputasi istimewa, salah satunya adalah Borobudur Marathon (BorMar), yang diadakan pada tanggal 17 november 2019. Saya dan Intan tentu tidak melewatkan kesempatan lari ini, padahal untuk mengikuti event ini peserta tidak cukup hanya bayar langsung bisa ikutan. BorMar adalah sedikit dari event lari Indonesia yang mengimplementasikan sistem ballot, seperti event event marathon terkenal di dunia. Jadi begitu kita daftar belum tentu kita mendapatkan kesempatan untuk lari, harus diundi dulu. Saya adalah salah satu pendaftar yang tidak beruntung karena tidak mendapatkan ballot, sedangkan Intan mendapatkan ballot lari untuk jarak 10K. Karena tidak kebagian ballot tersebut, maka saya berpikir ya sudah saya usah ikutan lari, tapi saya berencana tetap datang saat race day untuk menemani Intan, paling ga, saya ikutan motretin sambil menikmati keramaian acara.

1 bulan sebelum hari H, tiba tiba dari salah satu grup WA lari yang saya ikuti, muncul info kalau ada yang mau jual bib BorMar kelas 21K, tanpa pikir panjang saya langsung mengontak yang bersangkutan dan membelinya. Padahal ini bib untuk cewek, tapi ya sudah yang penting saya bisa ikutan lari, walaupun pake nama cewek :P. Semakin mendekati hari H, ternyata Intan mendapatkan tawaran dari temannya untuk membeli bib 21K. Kebetulan kita ingin berlari bareng sebagai #couplerunner di 21K, jadi Intan beli bib temennya (yang kebetulan nama cowok), jadi kami masing masing pake bib nama yang sesuai, Intan pake nama yang cewek, dan saya pake nama yang cowok untuk kelas 21K, walaupun bukan nama kami sebenarnya. Asyik, akhirnya jadi lari bareng walopun awalnya pesimis untuk bisa ikutan lari di BorMar 2019 ini.

Kembali ke bib Intan yang 10K, ternyata ada teman yang ingin pengen beli, luar biasa volume permintaan dan jual beli bib saat mendekati hari H ini. Untungnya yang membeli bib Intan tersebut berbaik hati juga untuk mengambil race pack kita di hari sabtu tanggal 16 November, karena hari sabtu itu pesawat kita dari bandung mengalami delay, jadi sampai penginapan di sekitaran borobudur sudah jam 9 malam. phew, untung race packnya sudah diambilkan.

Race day, kami bangun jam 3:30 pagi, jam 4 pagi kami sudah otw menuju garis start di pelataran Candi Borobudur.  Jaraknya sekitar 2km dari penginapan kami. Lumayan kami pemanasan lari lari kecil menuju garis start. Kami tidak mau pengalaman hadir start terlambat seperti di Bali Marathon 2019 terulang kembali, jadi berangkat lebih awal. Seperti yang bisa diduga, karena ini adalah salah satu race yang istimewa, maka pesertanya juga membludak.

Jalur 21K yang kami lalui cukup lumayan menantang, walaupun awalnya banyak jalur turunan, namun di tengah dan akhir malah justru banyak tanjakan. Sepanjang jalurpun kami banyak disuguhi atraksi tarian tradisional, modern, dan juga nyanyian / paduan suara dari penduduk desa yang dilewati jalur lari. Anak anak kecil TK/SD, remaja SMP/SMA, sampai orang dewasa  semuanya terlibat meramaikan acara dari pinggir jalan raya. Mirip sekali keramaiannya dengan Bali Marathon, walaupun suguhan atraksinya berbeda. Dihadapkan dengan banyaknya atraksi yang keren gini, maka kami tentu saja tidak bisa lari cepet, kami dikit dikit foto foto, lagian rugi juga kalo lari cepet cepet tanpa menikmati suguhan yang ditawarkan. Alhasil catatan waktu kami jauh dari ideal, lebih parah dari Bali Marathon yaitu 3 jam lebih sedikit untuk jarak 21K. 

Catatan penting di BorMar adalah panasnya luar biasa, rasanya malah lebih panas dari Bali Marathon. Sampai garis finish Intan sampai tiduran di rumput saking telernya. tapi overall event lari yang ambiancenya luar biasa. tidak lupa kami jepret jepret dulu di candi brorobudur sesudah lari. Saya rekomendasikan yang hobi lari, untuk sekali sekali mencoba ikutan race ini.

76913774 10157457815375202 4974496955485913088 n79379385 10157512194210202 4302873162560831488 o79527047 10157512194295202 8717584309982068736 o78153643 10157484808625202 7792174494423973888 o75572106 10157457816555202 4955757506367324160 n75412241 10157457815610202 8160160351678103552 n74566480 10157457816205202 3549892230804144128 n76769624 10157457815960202 4181492370254069760 n75348977 10157457817890202 2977547165271851008 n74701595 10157457818520202 83718516145913856 n77079443 10157457816735202 2576138864657694720 n 

 

Gimana Rasanya Menembus Jarak Full Marathon ?

Salah satu ultimate goal pelari amatir atau pelari hore macam saya adalah mampukan kita menembus jarak sakral yaitu jarak marathon (42,195km). Ada pelari yang mampu mencapainya kurang dari 1 tahun, atau 2 tahun, atau lebih sejak awal melakukan hobi lari muncul, dan bahkan ada juga yang tidak berani mencoba menembus jarak tersebut. Pertama kali saya lari adalah pada event ITB Ultra Marathon Oktober 2017 sebagai pelari hore kelas family 5km saja, jadi total saya berlari masih dibawah 2 tahun. Setelah mengikuti 5 kali race jarak Half Marathon (21,1km) akhirnya saya memberanikan naik kelas menuju jarak Marahon (atau sering disebut sebagai Full Marathon (FM)). Event yang saya dan intan pilih adalah event yang dilakukan di kota sendiri yaitu Bandung Pocari Sweat Run 2019 pada tanggal 28 juli 2019.

Persiapan khusus menjelang race marathon sendiri tidak ada, bahkan sehari sebelum marathon saya baru selesai mengikuti kegiatan konferensi di Malaysia, jadi kalo diliat persiapannya sih sebenernya tidak terlalu istimewa. Beberapa bulan yang lalu saya dan Intan sebenarnya sudah mencoba berlari jarak marathon pada salah satu sesi long run di weekend. Waktu itu kita mampu menempuh jarak marathon dengan susah payah, karena energi sudah habis pada saat melewati jarak 30km. Maka untuk persiapan kali ini, saya usahakan carbo loading sebanyak mungkin mulai beberapa hari sebelum pelaksanaan race.

Dan akhirnya kami berhasil menaklukkan jarak Marathon, kami sebagai pelari Virgin FM ini berhasil menyesaikan waktu 5 jam lebih (saya) dan intan selama 6 jam lebih. Tidak terlalu jelek untuk pelari pemula. Rata rata pace saya masih dikisaran 7,51 menit per km. Pada sesi latihan jarak marathon sebelumnya saya mendapatkan 8,02 menit per km. Ini merupakan pencapaian yang bagus karena saya bisa mempertahankan pace sepanjang jarak tersebut sakral pace 7. Saat race sendiri saya bilang ke Intan kalau saya akan memulai lebih cepat, makanya saya terpisah meninggalkan Intan, untung Intan lari santai ditemani temannya. Saya berlari konstan dengan pace 7 sampai kira kira di km 6, setelah itu saya menjadi lebih cepat ke pace 6 di km 8 sampai km 17, dan setelahnya saya turun menjadi pace 7 lagi sampai kira kira di km 25, nah selanjutnya saya melorot ke pace 8, bahkan beberapa kali menembus pace 9 karena kecapean.

Ada postingan saya di IG, pengalaman di km 35:

“Km 35, menjelang pukul 10 pagi di jalan cihampelas bawah sebelum belokan ke wastukencana. Matahari sudah tinggi dan kemacetan jalan makin menjadi. Panas, capek, haus udah campur aduk rasanya membuat semangat lari semakin turun. Tiba tiba ngeliat kumpulan supporter di pinggir jalan lengkap dengan semprotan, gayung, dan air dingin untuk mengguyur para pelari.

Beberapa pelari enggan disiram air, mungkin takut earphone atau HPnya jadi rusak. Ga pake pikir panjang saya langsung minta diguyur air untuk mendinginkan kepala dan badan. Sayang fotonya hanya ada pas selesai diguyur air, tapi saya sertakan foto foto pelari lain yang kena guyur. Thanks to @ourstori.es yang mengcapture kemeriahan di spot ini. Foto foto yang keren.

Abis diguyur berasa air asin disekitar mulut, baru nyadar keringet campur air dingin… nikmat juga, nambah semangat menuju garis finish #pelaribandung #ceritaFM #virginFM #psbm2019 #gabolehmales #ayolari#marilari “

 

Tapi yang terpenting adalah NOW, I’m Officially Marathoner ..

67467872 10157150303240202 1026184093513023488 n67298131 10157155536235202 5819104219864498176 n
67364935 10157159355150202 6182250774257467392 n67404501 10157150303540202 4248780914210897920 n67610469 10157150303570202 4716912790193831936 n67621602 10157155536070202 8330858393723994112 n67321536 10157155536185202 3763816271120957440 n68260769 10157155536035202 6710500196540743680 n67769093 10157159355085202 8479190483770277888 n67751074 10157150303415202 1392895883078533120 n67676137 10157150303085202 9036980368992894976 n67740890 10157155536315202 8126780888055808000 n67838016 2395596050530720 2177686240277561344 n68288006 1224076557779958 1601840316837527552 o

BNI UI Half Marathon 2019

BNI-UI Half Marathon 2019 adalah ajang lari yang diadakan di area kampus Universitas Indonesia, Depok. Tahun 2019 ini adalah kali pertama saya ikutan lomba ini, saya ambil race Half Marathon (HM). Acara diadakan tanggal 7 Juli 2019, kebetulan saya juga pas ada acara workshop summer school machine learning seminggu kedepannya (tanggal 8-12 juli) di kampus UI Depok, jadi saya mulai nginep dari tanggal 6 juni untuk mengikuti lomba lari ini dan sekaligus summer school.

Track lari di UI sangat nyaman, kenyamanan pertama adalah jalur yang rindang dan steril dari kendaraan, sehingga pelari bisa fokus berlari tanpa terlalu kuatir akan keselamatan. Peserta lari cukup banyak, mungkin sekitar 5000 an peserta. Kelas HM start pukul 5:30 pagi. Saya lari bareng dengan Intan (istri) dan mas awal (temen lari di bandung). Awalnya saya masih bareng Intan, dan mas awal sudah jauh di depan. Menjelang km 10 saya sudah jauh di depan Intan, walaupun di akhir lomba saya melambat, sehingga finish bareng juga. Saya finish 2 jam 40 menit, belum bisa mengalahkan rekor saya sebelumnya di 2 jam 30 menit.

Overall race ini sangat bagus penyelenggaraannya, dan tempatnyapun sangat nyaman. Apakah saya akan berlari lagi di race ini tahun depan? , sepertinya tidak sih, saya ingin mencoba race race lain yang belum pernah saya coba.

66091954 10157096209325202 7831100684970754048 n65921788 10157096209400202 2044572503556227072 n66142596 10157096209545202 6065275342791114752 n65835723 10157096209435202 3962472827981922304 n66183860 10157096209725202 749205423575269376 n66471864 10157096209780202 8982892737732804608 n

Event Lari Harus Cepat – 80 mins to 10K

Dari berbagai event lari yang biasanya kami (saya dan istri) ikuti, umumnya hanya berdasarkan perhitungan jarak saja. Misal event lari jarak 5km (5K), 10km (10K), 21,1km (Half Marathon / HM), ataupun 42,2km (Full Marathon / FM). Biasanya pula pada lomba lomba tersebut ditetapkan waktu maksimal untuk menyelesaikan lomba yang disebut sebagai Cut Off Time (COT), misalkan untuk 5K COT nya adalah 90 menit, sedangkan 10K 150 menit, dan seterusnya. Nah kali ini kami mengikuti lomba yang cukup unik, yaitu lomba lari menyelesaikan jarak 10K dengan COT 80 menit, nama lombanya adalah 80minsto10 yang diadakan oleh Run.ID, salah satu event organizer lari yang cukup ternama. Kalo dihitung kecepatan paling lambat untuk bisa menyelesaikan lomba ini adalah 8 menit per kilometer. Lewat dari 80 menit, maka tidak akan mendapatkan medali finisher maupun kaos finisher.

Dengan requirement cukup tinggi maka tentu saja peserta tidak sebanyak lomba lomba lari pada umumnya. Dan para pesertanya pun tergolong pelari pelari cepat. Lomba ini diadakan di Alam Sutra, Tangerang, yang terkenal dengan trekldatar tanpa tanjakan. Benar saja, saat kami mulai start dan berlari, pelari pelari lain sangat cepat melewati kami, tidak terasa kamipun dalam beberapa km awal sudah masuk kedalam rombongan pelari agak terakhir. Akhirnya kamipun berhasil menyelesaikan jarak 10K dengan sukses dibawah COT. Catatan waktu saya adalah 66 menit (dengan kecepatan 6.33 menit per kilometer), sedangkan istri 68 menit, masih 10 menit lebih cepat dari COT. Berikut foto foto kami di lomba tersebut.

58441276 10156911674340202 2767102031284928512 o58916969 10156911674190202 6936425775641919488 o58419355 10156911674495202 6145533592765202432 o58383009 10156911674595202 8037576981413363712 n

58383623 10156911674740202 1431883367103594496 o58787537 10156911674920202 3172297449377103872 o

Tahura Trail 2019

Tahura Trail Run adalah salah satu kegiatan lari yang terkenal di Indonesia, kegiatan ini dilaksanakan di area kawasan Taman Hutan Raya Dago Bandung. Gelaran tahunan ini berkelas internasional, dengan peserta datang dari berbagai manca negara. Lari trail adalah lari melalui jalan tanah (setapak, berbatu, yang penting bukan jalan aspal). Tahura Trail Run rute larinya melalui sepanjang kawasan hutan dan pegunungan di Bandung Utara. Tahura Trail Run 2019 ini merupakan kali kedua saya bertisipasi, setelah sebelumnya pada tahun 2018. Saat itu saya ajak keluarga lengkap untuk lari trail  di kelas family 7K.

Tahun 2019 ini, Tahura Trail Run dilaksanakan pada tanggal 20-21 Januari 2019. Kami (saya hanya berdua dengan Intan) ikut kelas trail 21K. Gelaran ini diselenggarakan selama dua hari. Hari pertama khusus untuk kelas Full Marathon  (42K) dan Half Marathon (21K). Hari kedua kelas 17K, 10K, dan kelas family (7K). Kondisi lari hari pertama jauh dari ideal, karena malam sebelumnya kawasan Bandung Utara diguyur hujan deras, alhasil medannya berubah menjadi becek dan basah. 

Start dimulai pukul 5 pagi, kami berlari dengan pace santai, namun di rute awal sudah disuguhi beberapa rute jalan menanjak yang cukup dahsyat, sehingga mau ga mau kami sudah kehabisan nafas lari saat jarak lari masih dibawah 5K. Setelah tanjakan rute berubah ke jalan tanah (persawahan) di lereng bukit dan area perkebunan sayuran penduduk. Jalur ini cukup nyaman, walaupun sempat terjadi antrian karena sempitnya jalur sehingga kami kesulitan menyalip pelari di depan kami yang berlari lambat.

Jalur berganti ke berlari di dalam hutan, beberapa area hutan cukup tebal sehingga matahari tidak bisa menembus masuk. Dalam suasana agak gelap karena kekurangan cahaya, kami beberapa kali jatuh terpeleset, untung tanahnya sangat empuk, sehingga kami terhindar dari cedera. Beberapa kali pula kami srodotan, sliding jatuh meluncur mengikuti alur tanah. Kalau biasanya saya lari 21K di jalan raya membutuhkan waktu selama 2,5 jam sampai 3 jam, maka lari trail 21K membutuhkan waktu hampir 6 jam. Kami mencapai finish tepat 5 menit sebelum COT (Cut Off Time). Alhamdulilah bisa dapet medali finisher 🙂

Berikut foto fotonya dari gelaran Tahura Trail Run 2019

50853162 10156679638720202 1206485901476102144 o50423328 10156679640475202 1613217152628686848 o50299937 10156686409740202 7416018050299723776 n50127086 10156679641400202 501557802561437696 o50681595 10156698607820202 4320129181514989568 o50269983 10156679642145202 5559287285758820352 o50307112 10156679639220202 60581681941184512 o

 

 

Bromo Marathon 2018

[latepost] blog entry yang sangat sangat telat, karena event larinya sendiri pada tanggal 23 september 2018, tapi baru sempat dituliskan sekarang. Kami (saya dan istri) mendaftar di ajang lari Bromo Marathon 2018. Sebenernya kami iseng juga mendaftar di event ini, alasannya karena kami ketinggalan pendaftaran beberapa event lari besar di bulan bulan selanjutnya seperti 2XU, jakarta marathon,  borobudur marathon, maupun bali marathon.

Kami berangkat sehari sebelumnya event, nyubuh naik pesawat dari Bandung kemudian mendarat di Juanda Surabaya. Begitu sampai kami langsung cari sarapan, nasi rawon adalah makanan pertama yang saya cari, sambil menunggu panitia yang menyediakan shuttle untuk menuju Desa Tosari, Kabupaten Pasuruan, di area lereng Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru. Shuttle berangkat tepat pukul 10 pagi, dan sampai di Tosari sekitar pukul 14. Setelah cek in di penginapan rumah rumah penduduk di sekitar desa Tosari, kami langsung menuju ke kawasan hotel Plataran untuk mengambil race pack (RPC). Oh ya lomba kali ini kami hanya mengikuti kelas 10km, saya sendiri merasa beruntung tidak mengambil rute lebih jauh, karena saat itu lutut sedang cedera. 

Selesai urusan RPC, kami sewa motor untuk melihat sunset disekitar Pananjakan. berikut ini adalah foto foto sore itu (RPC di Plataran dan perjalanan ke Pananjakan). 

42304114 10156409313405202 2641323218236866560 n42344881 10156409313615202 2333978579760578560 n42281435 10156409313835202 2814353672337620992 n

Pulang dari Panjakan matahari sudah terbenam, kami mencari makan malam di rumah rumah penduduk, lumayan dapatnya nasi sayur lodes, sambal, tempe dan ikan asin. Selanjutnya kami beristirahat lebih awal menyiapkan tenaga untuk lari besok subuh.

Saya persingkat ceritanya saja langsung ke kesan berlari di event bromo marathon ini: Event ini cukup keren, dan pesertanyapun dari manca negara, menunjukkan bahwa event ini adalah event bergengsi, ditambah udara super segar membuat lomba lari ini sangat menyenangkan. Kelas yang ambil (jarak 10km) cukup menantang, komposisinya 50% trail dan 50% jalan aspal.  Untuk trail rute yang diambil sangat indah, di lereng bukit perkebunan warga. Sayangnya rute tersebut tidak melalui lereng bromo secara langsung. Yang melalui lereng bromo hanya di kelas Full Marathon. 

Berikut foto foto kami berlari di  Bromo Marathon:

42422353 10156411300860202 4471492307291471872 n42410259 10156411567615202 7596705164073893888 n42356605 10156411564905202 2144117321352871936 n42322677 10156411704040202 5119154645175894016 n42823299 10156424446440202 5005446790468599808 n

 

 

 

Lari 1000km di Tahun 2018

Selama ini aktivitas lari (dan baru baru aja aktivitas bersepeda) selalu tercatat di aplikasi Strava. Pada akhir tahun 2018 ini, Strava membuat summary aktivitas berolahraga kita selama tahun 2018 dalam bentuk video. Tidak terasa ternyata selama setahun ini saya sudah berlari sejauh 1121km , selama 142 jam, atau kalau dihitung berlari sebanyak 121 hari selama setahun. Jauh juga yah larinya, bisa sampai ke ujung timur pulau jawa nih. Apakah tahun 2019 saya mampu menempuh jarak lebih jauh (km)?, waktu olahraga lebih lama (jam) ?, atau bahkan lebih rajin olahraga (hari) ?. lets see …

video dari Strava ada di bawah ini

Palembang Kota Panas tapi Keren

Palembang itu panas, semua juga pasti setuju. Namun Palembang itu kota yang keren menurut saya, apalagi melihat jalur monorail yang membelah kota, sehingga menjadikan perjalanan dari ujung ke ujung kota menjadi sangat efisien. Saya yang domisili di Bandung jadi sangat iri dengan dengan keberadaan alat transportasi masal tersebut. Kunjungan perdana saya ke Palembang ini memang sangat singkat. Hanya 3 hari itupun 1,5 harinya dipenuhi dengan jadwal acara kantor. Bahkan sayapun ga sempat naik monorailnya. Beberapa rekan kantor yang sudah mencoba monorail komentarnya angkutan ini sangat nyaman dan cepat. Lagi lagi saya ngiler ..

Saya ga sempat nyicipin monorail karena saya memilih peruntungan mencoba berlari di suhu kota yang panas. Kebeneran ada rekan kantor yang antusias untuk berlari bersama sore itu. Lumayan jadi saya ada teman lari. Kami start lari pukul 4 sore, pada saat yang bersamaan rekan rekan lain memilih mencicipi naik monorail. Kami menginap di Wyndham hotel, jaraknya sekitar 5.5 km dari jembatan ampera. Tujuan lari adalah mengunjungi ikon kota Palembang tersebut dengan rute pulang pergi, jadi total jarak 11km. Kesimpulan saya lari 11km di palembang mungkin sama beratnya dengan lari 21km di Bandung. Hawa panas membuat badan jadi cepat lelah, kecepatan lari juga melambat, tubuh berjuang untuk tetap mempunyai tenaga dan tidak dehidrasi hanya untuk jarak 11km saja. 

Selain suhu, beberapa titik di kota Palembang, apalagi menjelang dekat jembatan ampera, lalu lintas sangat padat. Beberapa ruas trotoar sudah dijajah oleh sepeda motor, sehingga pelari tidak mempunyai ruang untuk lari. Alhasil kami berjalan saja disela sela puluhan motor yang jalan di trotoar. Beberapa orang menyarankan saya untuk mengunjungi benteng kutobesar, sekitar 2 km sesudah jembatan ampera dari arah kami lari, namun setelah berfoto di jembatan, kami sadar kalau tenaga kami sudah mau habis, jadi harus simpan tenaga untuk lari pulang menuju hotel. Semoga lain kali bisa lebih banyak yang dikunjungi. tidak lupa kami juga mampir ke kompleks fasilitas olahraga Jakabaring fasilitas olahraga yang dibangun sejak SEA games 2011. 

Saya merasa kalo kita biasa lari dengan suhu seperti di Palembang, maka lari di suhu Bandung akan membuat lari kita menjadi kencang. Palembang boleh juga sebagai tempat latihan, sambil mencicipi pempek candy atau vico, celimpungan, martabah HAR, mie celor dll … hmm jadi laper deh

45320349 10156508877875202 4508721637863981056 o

lari di jembatan ampera

45506160 10156513216020202 3015474561173946368 n

ga lupa foto bareng pak de jokowi di bandara