Isu Rasialisme pada Kerusuhan di US

Kerusuhan yang terjadi di Amerika (Riot in USA) beberapa hari terakhir ini diduga karena isu rasial. Setelah ngubek ngubek percakapan di Twitter memang terbukti isu rasial merupakan isu dominan yang melatari demo di kota kota besar di US. Gerakan Black Lives Matter yang muncul sejak beberapa tahun belakangan menjadi semakin intense karena kejadian terbunuhnya George Floyd oleh polisi kulit putih di Mineapolis.  

50 tahun yang lalu US masih implementasi hukum segregasi, ini sudah menjadi budaya yang mengakar di masyarakatnya, tidak akan mudah dihilangkan begitu saja. Seperti di Indonesia, jaman diponegoro masyarakat kita sudah terkenal murah senyum, sampai sekarangpun (sudah ratusan tahun), kita tetap murah senyum. Ini menunjukkan bahwa 50 tahun itu masih terhitung sebentar untuk merubah budaya.

Anyway hasil discourse network analysis, diperoleh kata kata dominan berikut. Terdapat juga tweet dari Trump, namun tidak terlalu dominan, walaupun tweet Trump malah tidak “wise”, alias tidak membuat demo menjadi semakin reda. Bersyukur di Indonesia, kita tidak begitu. Warna ungu dan warna hijau merupakan kumpulan kata kata dominan. yang kata kata tidak dominan tidak saya tunjukkan. 

Screen Shot 2020 05 30 at 13 37 18

Mampir ke Gudangnya Data (Badan Pusat Statistik)

Sebagai orang data, maka salah satu cita cita utama adalah maen dan berdiskusi dengan lembaga pusat data, nah kalo di indonesia, lembaga resmi pemerintah itu namanya Badan Pusat Statistik (BPS). Seminggu sebelum pandemic covid19, yaitu tanggal 10 Maret 2020, saya diundang mas Tio (Setia Pramana, PhD) untuk sharing “Social Media Analytics” ke BPS.

Seharian saya berbagi mengenai fenomena, teori, dan praktek mencari pola pada data data yang berasal dari media sosial. BPS sangat memperhatikan implementasi Big Data dalam metodologi mereka, makanya mas Tio diangkat untuk meleverage keilmuan tersebut, dengan salah satu caranya mengundang beberapa narasumber untuk sharing, salah satunya saya. Pengalaman dan diskusi yang menyenangkan, thanks mas Tio.

89139982 10157811393410202 6172514156411879424 o

89656799 10157811393655202 5449853344417841152 o

89358227 10157811393840202 206713657810223104 o

89354542 10157811393550202 8832448202381721600 o

89273276 10157811394105202 1901241842796593152 o

89731603 10157811394265202 4041091942342197248 o

Expanding The View – Monitor LG29WK600

Salah satu efek pandemi covid19 adalah semakin lama durasi kita melakukan aktivitas dari rumah. Work From Home (WFH) membuat kita makin sering mantengin komputer (dan layar monitor) di rumah. Tercatat sehari hari mulai aktivitas meeting, riset, mengajar, administrasi, dan hiburan (nonton netflix, nonton youtube, dll) menggunakan komputer. Hal ini berakibat monitor yang ada di rumah jadi berasa sempit untuk memenuhi semua tuntutan aktivitas tersebut, yang tentu membutuhkan ruang kerja yang lebih luas, sehingga muncul kebutuhan buat saya untuk “expand” kemampuan monitor.

Saya pengguna macbook pro 2017, sehari hari menggunakan layar monitor lawas Dell S2340L (23inch) dan Samsung UA22H5000 (22inch). Meskipun dua monitor tersebut mumpuni, saya ngerasa viewnya makin lama makin kurang lebar, apalagi mata udah mulai sedikit sedikit nambah plusnya, oleh karenanya saya mulai hunting monitor lebar (atau super lebar). Pilihannya tidak terlalu banyak di Indonesia, tinggal milih super lebar flat atau super lebar curve. Layar curve harganya sudah tidak masuk ke budget sayangnya.

Setelah browsing sana dan sini akhirnya dapet monitor lebar dengan harga masuk akal, yaitu LG 29WK600 (29 inch) dengan harga 3.5 juta. Layar ini punya ukuran yang ajaib, dengan screen ratio 21:9, jadi kalo nonton film full screen maka garis hitam di bagian bawah dan atas layar akan hilang (nice). Kemudian untuk baca dokumen, montior ini bisa membuka 3 dokumen pdf  dijajarkan sekaligus dengan dengan zoom ratio 100%. Resolusi monitor ini adalah 2560×1080. Monitor ini juga menyertakan aplikasi bernama “OnScreen Control” agar kita bisa mengatur pembagian ruang di monitor secara efektif. Anyway saya seneng dengan monitor baru ini, jadi tambah semangat untuk WFH.

begini penampakannya. 

Photo 2020 04 07 20 00 43

Photo 2020 04 07 20 00 49

Photo 2020 04 07 20 00 52

Photo 2020 04 07 20 00 55

Screen Shot 2020 04 07 at 20 10 43  2

 

 

 

Work From Home karena Pandemic Corona

Sebenarnya banyak entry blog yang mengantri untuk dituliskan, akan tetapi kejadian luar biasa seminggu terakhir ini lebih pantas untuk dituliskan duluan. Berkenaan dengan Pandemik Corona Virus sejak akhir tahun 2019 di Cina, maka sejak tanggal 16 Maret 2020 ada himbauan dari pemerintah untuk bekerja dari rumah dalam upaya mensukseskan gerakan Social Distance, yang dipercaya efektif mencegah penularan virus Corona yang lebih luas. Tanda tanda gerakan ini sudah mulai saya rasakan sejak beberapa minggu sebelumnya, diantaranya adalah penundaan / cancel beberapa kegiatan yang melibatkan kumpulan massa. Beberapa acara dimana saya akan menjadi pengisi materi sudah memberitahukan untuk tidak meneruskan acara. Beberapa event lari besarpun sudah mulai melakukan hal yang sama. Akan tetapi saya dan Intan masih agak nyantai, karena event lari Binloop Ultra pada tanggal 14-15 Maret masih belum ditunda, dan kami masih sempat ikut race disana. Rencananya setelah race ini saya akan mengisi acara di Bogor tanggal 16-17 Maret, tiba tiba saya diinfokan kalau acara tersebut juga di tunda / cancel, walhasil saya kembali ke Bandung lagi. Begitu tiba di Bandung, dapat kabar kalau sekolah anak anak juga diliburkan, padahal si Sulung lagi ujian sekolah SMA. Berarti ini adalah suatu kejadian yang luar biasa. 

Secara beruntun beberapa info tentang penundaan acara saya terima, termasuk acara menguji sidang disertasi di IPB. Sekarang hampir semua lembaga, dan sekolah melakukan aktivitas dari rumah, bahkan kelas kelas pun diubah menjadi kelas online. Saya dan Intan melakukan kuliah online. Si bungsu yang masih SMP pun melakukan kegiatan belajar dengan teman teman dan gurunya secara online. Si sulung yang harusnya cepet lega karena ujian beres, malah sekarang jadi tertunda ujiannya. yah kita ambil hikmahnya aja. 

Salah satu hikmah yang diambil setelah hampir seminggu work from home (WFH) saya jadi makin banyak waktu untuk berolahraga (makin rajin olahraga). Si sulung jadi makin banyak waktu luang untuk menyalurkan hobinya memasak (mungkin punya minat jadi chef), sedangkan si bungsu tetep sibuk sekolah online dan les tari jarak jauh. WFH keliatannya mudah dan nyaman, tapi ternyata malah merepotkan, karena kita harus merubah ritme kerja kita.jadi batasnya terlalu tipis, kapan kerja dan kapan beristirahat, belum lagi godaan cemilan. Semoga pandemik corona ini cepat berlalu, amin. 

 

Photo 2020 03 20 18 35 42

2019 Indonesian Actuarial Conference

Seiring dengan perkembangan implementasi Data Science dalam berbagai bidang industri, maka banyak industri dan profesi yang berpacu untuk memperkaya kemampuan sumber daya manusianya akan kemampuan atas keilmuan ini, salah satunya di industri asuransi ada persatuan profesi Persatuan Aktuaris Indonesia (PAI).  Setelah tahun lalu mengundang saya sebagai narasumber di acara PAI Regional Seminar dan awal tahun 2019 ini di workshop Claim Data Behavior Analysis , kali ini mereka kembali mengundang saya sebagai narasumber dalam acara 2019 3rd Indonesian Actuarial Conference, pada tanggal 18 Oktober 2019. Dalam kesempatan ini saya membawakan topik yang berbeda dari sebelumnya yang lebih banyak bicara teknis, kali ini materi saya lebih bersifat global yaitu tema “Business, Technology, and Market Changes in Industry 4.0”.

Seperti yang saya tulis di post sebelumnya, Aktuaris adalah profesi yang unik, mereka adalah orang orang yang mempunyai kemampuan matematis, terutama simulasi dan permodelan resiko yang sangat kuat. Tentu saja jika dihadapkan dengan pekerjaan yang membutuhkan kemampuan analitik yang kuat, seperti Data Scientist, maka tidak akan menjadi masalah besar bagi mereka. Sayangnya, banyak aktuaris yang belum terbiasa / belum paham dengan data analytics, machine learningm bahkan konsep artificial intelligence. Karena saya membawakan materi yang bersifat global, saya lebih banyak memberikan gambaran umum / vision, dan future impact untuk industri asuransi secara umum. Oh ya tidak lupa dalam acara ini saya bertemu dengan rekan rekan alumni MA tentunya.

72899499 10157368493640202 8330319920789192704 o74356886 10157368493700202 2431510909026304000 o75231763 10157368494115202 3114329770431610880 o73524615 10157368493575202 4486420715964203008 o74595538 10157368493910202 8256100132840275968 o

73013117 10157368493820202 7775946982698254336 o

Bicara Komputasi Psikologi di UI

Tantangan atau provokasi atau racun yang sering saya lontarkan ke rekan rekan di keilmuan sosial adalah bagaimana mereka bisa mengeser kebiasaan melakukan risetnya dengan menggunakan data yang tersedia melimpah di internet. Computational Propaganda adalah salah satu contoh proyek akademis yang menggunakan data jejaring sosial atau jejak digital untuk kepentingan politis / propaganda. Kampanye, manipulasi, penyebaran informasi pada media sosial bisa diukur dengan mudah. Kunci utama proses yang murah, cepat, dan eksperimen secara real time membuat metodologi komputasi ini lebih disukai daripada metode legacy yang sudah well established. Namun secara hasil belum tentu metode berdasarkan komputasi ini akan lebih akurat. Namun yang jelas bisa mendukung hasil yang cepat dan lebih murah.

Psikologi adalah salah satu bidang yang saya minati, bahkan salah satu hibah yang saya peroleh dari kemenristekditi di tahun 2019-2020 ini adalah mengenai pengukuran kepribadian manusia berdasarkan jejak postingan yang ditinggalkan di media sosial. Riset ini membutuhkan pemetaan kata kata bahasa Indonesia tidak baku ke dalam 5 sifat dasar manusia berdasarkan Big Five Personality . Dalam melakukan verifikasi kata kata tersebut dan membuat model ontologinya, saya dibantu oleh dosen Psikologi Universitas Indonesia, Dr. Fivi Nurwianti. Sedikit banyak saya menjerumuskan beliau ke penelitian Computational Cognition / Psychology  hihihi. Setelah setahun melakukan riset (hasil riset akan saya publish di entry blog lain), maka gantian saya diundang Dr. Fivi untuk mengisi kuliah kapita selekta magister psikologi UI.

Setelah mengalami penundaan jadwal beberapa kali, karena susah nyocokin waktu, akhirnya tanggal 11 november saya berangkat ke kampus UI Depok. Materi yang saya bawakan di kelas S2 tersebut adalah “Social Computing : Understanding Human Behavior”. Saya bicara mengenai dasar dasar pengukuran perilaku manusia menggunakan data online, dan juga bicara mengenai riset yang saya dan Dr. Fivi lakukan. Di kelas siang itu saya rasa lumayan banyak mahasiswa yang merasa terprovokasi, terbukti beberapa dari mereka weekend itu melanjutkan ikut acara Social Media Analytics yang diadakan di kampus Telkom University untuk melanjutkan implementasi racun yang sudah ditanamkan ke level selanjutnya yaitu, bagaimana mengambil data di media sosial dan bagaimana melakukan analisanya.

Semoga tetap terprovokasi dan teracuni dengan pendekatan komputasi ini.

76602197 10157439888855202 4781043734324183040 o75371714 10157439888050202 8584565590822223872 o75481895 10157439888550202 4022248859957723136 o75316054 10157439887980202 4016431515733852160 o75422293 10157439888125202 3083520024397217792 o

World Bank Event – Artificial Intelligence

World Bank mempunyai kegiatan rutin berupa sharing knowledge yang dinamakan INSPIRE, dengan mengundang pakar pakar untuk berbagi dan berdiskusi mengenai isu isu kekinian berkenaan tugas utama terkait dengan visi Sustainable Development Goals (SDG) di Indonesia dari pandangan berbagai aspek yang berbeda. Pada tanggal 30 September 2019, saya diundang sebagai salah satu narasumber acara INSPIRE yang topik besarnya adalah : Artificial Intelligence (AI) Promises and Pitfalls for Development. Saya diminta membawakan sudut pandang akademik dengan topik khusus tentang : AI – Disruptions on Society. 

Moderator dan narasumber yang dihadirkan pada acara ini sangat kompeten di bidangnya. Bahkan beberapa sudah saya kagumi karena prestasi / nama besarnya. Moderator acara ini adalah bu Vivi (staf ahli bappenas). Narasumbernya antara lain adalah bu Shinta Bubu, mbak Maesy Angelina (PulseLab), mas Meidy Fitranto (CEO Nodeflux). Bu Shinta dari Bubu.com saya sudah kenal namanya dari dulu, tapi belum pernah bertemu, dan ketemu pertama kali dalam satu panggung di acara ini, bu Shinta membicarakan tentang kondisi market dan talent bidang AI di Indonesia berdasarkan pengalaman beliau membimbing (inkubasi) startup sekaligus sebagai investor.

Saya sangat terkesan dengan Nodeflux, salah satu perusahaan perintis implementasi AI di Indonesia, oleh karenanya ketemu langsung dengan CEO nya mas Meidy merupakan hal yang luar biasa, mas Meidy menceritakan bagaimana Nodeflux membantu pengembangan AI di Indonesia, baik di industri dan pemerintahan. Meskipun hanya sempat mengobrol sebentar diatas panggung, saya senang karena bisa membuka peluang inisiasi riset bersama antara Nodeflux dan kampus Telkom.

Pulselab diwakili oleh salah satu peneliti handalnya yaitu Mbak Maesy, beliau menceritakan bagaimana UN PulseLab melaksanakan program program kemasyarakatan dengan pendekatan AI. Sangat banyak pekerjaan PulseLab yang kelihatannya tidak langsung berhubungan dengan teknologi, namun terbantu dengan implementasi AI tersebut. Oh ya, salah satu pengunjung acara ini adalah bapak selebritis teknologi, pak Onno Purbo, saya belum pernah berkenalan dengan beliau, namun pernah menghadiri salah satu talks beliau. saya sangat mengagumi ide ide cemerlang beliau. Kehadiran beliau membuat acara diskusi semakin menarik, dan dapat bonus kenalan langsung.

Sungguh hari itu mendapatkan pengalaman dan pembelajaran yang menyenangkan.

71690022 10157336695970202 8732475996684419072 o71105386 10157314248220202 6768724495487205376 o72781737 10157336696450202 5753818281718841344 o71676262 10157336696365202 666373281305067520 o72941183 10157336696225202 5615088076394070016 o72347788 10157336696295202 3373519519052988416 o71911503 10157336696575202 2411331211344478208 o

Melawan Korupsi dengan Big Data – KPK Goes to Campus

Pada suatu hari di awal Oktober 2019, saya dikontak oleh mbak Ajeng dari OpenLibrary (Perpustakaan Pusat Tel-U), beliau meminta saya untuk menjadi pengisi pada acara kolaborasi dengan KPK terkait penggunaan Big Data untuk pemberantasan dan pencegahan korupsi. Walaupun secara intensif belum pernah melakukan riset tentang hal ini, namun salah satu penelitian awal saya menggunakan metoda network analysis untuk deteksi financial fraud (penelitian tahun 2013). Berbekal pengetahuan tersebut, saya menyanggupi permintaan mbak Ajeng, sambil berpikir bahwa ini sekaligus merupakan kesempatan untuk memperdalam pengetahuan tentang aplikasi Big Data di bidang pencegahan korupsi. Acaranya dijadwalkan dilaksanakan pada tanggal 29 Oktober 2019. 

Saya baru tahu kalau KPK sedang rajin melakukan kampanye peningkatan kepedulian publik mengenai bahaya korupsi. Edukasi atau awareness ini terutama juga menyasar lingkungan kampus, yang notabene merupakan tempat menempa calon pemimpin masa depan bangsa. Jadi edukasi terus menerus mengenai bahaya korupsi harus semakin digaungkan melalui beberapa kegiatan. OpenLibrary Tel-U sudah menyiapkan satu area yang disebut sebagai KPK Corner untuk menjadi tempat pembelajaran mengenai fenomena korupsi. Pada tanggal 29 Oktober 2019 tersebut, selain menghadirkan acara seminar juga sekaligus diikuti acara launching KPK Corner di Telkom University.

Beberapa waktu kemudian saya juga baru tahu kalo salah satu pembicara tamu adalah mas Ismail Fahmi, yang sangat terkenal dengan analisa jejaring sosial mengenai politik. Wah ini kesempatan pertama kali saya sepanggung dengan beliau, setelah sekian lama hanya berhubungan via FB aja. Mas Ismail Fahmi, banyak menggunakan metode SNA (Selain metode lainnya seperti sentiment analysis) dalam melakukan analisa analisanya. Ini mirip sekali dengan keilmuan yang saya pelajari, makanya kami banyak berkomunikasi via FB. Oh ya beliau juga satu grup di WA grup AIDI. Saya ditugasi oleh panitia untuk membawakan materi pencegahan dan pemberantasan korupsi berdasarkan sudut pandang akademik. Total ada 4 pembicara yang hadir, yaitu dari pimpinan KPK, mas Ismail Fahmi dari Drone Emprit, saya, dan mas Paku Utama dari Wikratama Utama.

Berikut foto foto pada acara tersebut: 

74602079 10157401241770202 6444551805778001920 o74320245 10157401241910202 6182365192186232832 o74156707 10157401241960202 4970359755223597056 o74353444 10157401242310202 2314780093127327744 o75580244 10157401242405202 4745439868484583424 o

foto foto saya di panggung

75233936 10157401241710202 6496295377031921664 o

bersama mas Ismail Fahmi di KPK Corner 

74346784 10157401242185202 5696960280588713984 o

dapet bingkisan buku Membaca Indonesia dari mas Ismail Fahmi

74342707 10157401242245202 8925105885500407808 o

seluruh permbicara dan moderator 

74211381 10157401242015202 2853311027167100928 o73226352 10157382859135202 2434633195631673344 o

poster acara

 

Konferensi Digital Diplomacy Kementrian Luar Negeri

Kementrian Luar Negeri Indonesia atau Ministry of Foreign Affair (MFA) dalam rangka menghadapi era disrupsi Industry 4.0 mengadakan acara Regional Conference on Digital Diplomacy 2019 (RCDD 2019). Acara RCDD 2019 ini diadakan pada tanggal 10-11 September 2019 dengan tema “Digital Diplomacy: Challenges and Opportunities”.  Konferensi ini menjadi wadah bagi para pakar di bidang diplomasi digital, yang berasal dari lembaga think tank, kementrian, lembaga terkait, dan akademisi untuk saling bertukar pikiran. Terdapat 16 negara peserta yang diwakili oleh pejabat setingkat menteri yaitu: Australia, Brunei Darussalam, Kamboja, Republik Rakyat Tiongkok, India, Indonesia, Jepang, Republik Korea, Laos, Malaysia, Myanmar, Selandia Baru, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.

Acara dibuka oleh Menteri luar negeri RI, ibu Retno Marsudi, kemudian dilanjutkan dengan sesi l, yaitu debat terbuka dari 16 perwakilan negara sahabat, dengan tema “Upaya Mengatasi Tantangan dan Memanfaatkan Kesempatan pada Diplomasi Digital”. Sesi 2, dilanjutkan diskusi panel dengan tema “Peran Diplomasi Digital dalam Situasi Krisis”. Sesi 3 adalah diskusi panel dengan tema “Pemanfaatan Teknologi Digital untuk Mencapai Tujuan Diplomasi dalam Pembangunan Ekonomi”. Selain acara diskusi panel, di RCDD 2019 itu juga terdapat eksibisi dari pelaku bisnis di Indonesia, terutama bisnis startup / unicorn.

Saya menjadi salah satu pembicara diskusi panel sesi 2, bersama dengan duta besar jepang untuk Indonesia, Mr. Ishii, yang merupakan salah satu selebgram saat ini. Mdm Xiuping, mantan duta besar Cina untuk ASEAN, Mr. Buttigieg, mewakili DFAT Australia, Ibu Rahimah dari Facebook Indonesia, dan Moderator Mdm. Usher dari Pulse Lab Jakarta. Pembicara lain berbicara mengenai pengalaman dalam menghadapi krisis, sedangkan saya sebagai satu satunya wakil dari akademisi, membawakan metode untuk mengukur, memprediksi, dan menanggulangi berita palsu pada saat krisis.

Screen Shot 2019 10 24 at 19 49 52

Digital Diplomacy merupakan hal yang sangat baru buat saya, bukan bidang yang biasa saya tekuni selama melakukan penelitian, namun karena faktor kemampuan melakukan proses Data Analytics yang membuat saya bisa bercerita banyak mengenai Digital Diplomacy dari sudut interpretasi data yang ada selama ini. Saya sangat menikmati pengalaman baru ini, berbicara dan berdiskusi tentang hal yang baru, bertemu orang orang baru, dan memperluas kekayaan pengetahuan saya. Terima kasih Kemenlu yang sudah mengundang saya dalam acara keren ini.

69856100 10157261586170202 563582357290876928 n 169850761 10157261586430202 3819122556401614848 n70877445 10157261587085202 3165662364854910976 n70371606 10157261586895202 8660251049245802496 n70365181 10157261586545202 6109052570049708032 n69909919 10157261586690202 2985428571993931776 n69758070 10157261586790202 5067592849822842880 n70791592 10157261587150202 6795083165049290752 n

Cerita Bali Marathon 2019

Salah satu gelaran marathon yang paling terkenal di Indonesia adalah Maybank Bali Marathon (MBM), selain gelaran marathon lainnya seperti Pocari Sweat Bandung Marathon (PSBM), Borobudur Marathon (BorMar), dan juga Jakarta Marathon (JakMar). MBM 2019 diadakan pada hari minggu tanggal 8 september 2019. Saya dan Intan emang sudah lama pengen ngerasain suasana lari di MBM yang kondang itu. Kami bersama dengan temen temen Intan di angkatan 93 menyewa villa di daerah pantai Sanur. Saya dan Intan berangkat dari Bandung, hari jumat tanggal 6 september, dan terpaksa harus ke bandara Kertajati untuk naik pesawat ke Bali. Berangkat jam 02:00 dini hari, untuk mengejar pesawat jam 06:00 pagi, akhirnya kami berdua tiba di Bali jumat pagi sekitar pukul 10:00 pagi, kami merupakan orang  pertama check in ke villa yang disewa.

Begitu checkin ya leyeh leyeh enjoy villa. Sebelum leyeh leyeh kami koordinasi pemilihan kamar via WA (karena yang lain akan nyampe jumat malem dan sabtu pagi). Kami terdiri dari 7 orang dan ada 3 kamar, yang berpasangan hanya saya dan Intan saja. Villa yang kami sewa keren banget, namanya Ellora Villas. Saya sampai ketiduran karena keasyikan leyeh leyeh di kursi males di depan kolam renang. Hari jumat itu kami bersantai saja seharian, paling keluar untuk cari makan. Hari sabtu keesokan harinya, dengan personil yang sudah lengkap, kami pergi ke tempat pengambilan race pack (RPC) yang lokasinya lumayan jauh dari villa kami, yaitu  di Taman Bhagawan, Nusa Dua. Oh ya tidak lupa sebelum pergi sabtu pagi tersebut, kami sempat melakukan tappering run sejauh 5km di sepanjang pantai Sanur. Di lokasi RPC, lokasi sangat ramai, banyak booth sponsor, tempat nongkrong dan juga DJ yang memainkan musik musik asoy untuk joget… mulai deh beberapa dari kami ga bisa nahan untuk ikutan joget. Hari sabtu ini diakhiri dengan hunting ice cream gelato di Seminyak dan melihat matahari terbenam, terus sesegera mungkin kembali ke villa untuk tidur lebih awal.

70009162 10157250814840202 5594367298732294144 n69543703 10157253068710202 5346526644708311040 o69914896 10157253069340202 421911692801212416 o69547583 10157253069565202 1956364827462991872 o69975444 10157253068975202 187647129752174592 o

Hari H, kami berangkat jam 03:00 pagi menuju lokasi start MBM 2019 di Bali Safari Marine Park. Tidak terduga mendekati lokasi, jalanan macet sekali, sehingga kami tertahan, sampai menjelang start kelas HM pukul 05:00 WITA. Pukul 04:45 kami terpaksa turun dari mobil dan berlari sepanjang kurang lebih 3km an untuk menuju garis start. Seperti diduga maka kami telat start sekitar lebih kurang 5 menit. Tapi yah lari diteruskan saja mengejar barisan depan kita yang sudah start duluan.

Melihat banyak sekali atraksi di sepanjang rute lari, maka saya dan Intan berlari dengan speed santai. Kami melihat penari, masyarakat desa, termasuk anak anak sekolah yang menyambut kami di sepanjang jalur rute berlari. Banyaknya atraksi tersebut, membuat kami sedikit sedikit berhenti untuk ambil foto foto. Suasana yang sangat keren, sayang kalau tidak di foto foto. Alhasil kami menyelesaikan HM ini dalam waktu 3 jam, atau 30 menit lebih lambat dari durasi saya biasa berlari jarak HM.

70206760 10157255673505202 1325570746000343040 n70281552 10157255673620202 7993368311804985344 n70262147 10157255675120202 3837201130312433664 n71082500 10157255674745202 3071077628694757376 n70365180 10157255675740202 7945350521601130496 n69763600 10157255673795202 8411882754194538496 n69716389 10157255675040202 3555145937879826432 n69660926 10157255674455202 2528477595394113536 n69536053 10157255674015202 6423874072278466560 n

Kami puas mengikuti MBM2019, atmosfer lombanya sangat menyenangkan, semoga kami bisa kembali di MBM2020. Foto menjelang garis finish.

70684900 10157266471290202 1001271762777800704 n70449717 10157266471350202 4090922848695091200 o69876966 10157266471420202 4005207494879084544 o

Dan ini berpose dengan medali, sesudah finish.

69614843 10157255675385202 577281245675782144 n69877987 10157255674150202 7376448636860760064 n