Hecitc di Akhir Tahun

Menjelang akhir tahun kesibukan luar biasa menimpa saya, tapi bisa dibilang alhamdulilah masih dikasih kesibukan luar biasa ya. Beberapa riset dan project punya deadline di bulan desember 2020 ini, mungkin totalnya ada 10 parallel project/riset. Cukup wajar, mengingat tutup tahun anggaran semuanya ada di bulan desember. Jadi mohon maaf tidak bisa sering update blog seperti yang saya harapkan. Beberapa cerita penting yang rencananya saya tulis pun masih manteng di local draft :p .. okay semoga nanti ada waktu luang untuk menuliskannya sesudah badai deadline berlalu

tetap sehat semuanya ya..

7a0791d7fd1b468aa33ec9ea01d34eca

Mampir ke Gudangnya Data (Badan Pusat Statistik)

Sebagai orang data, maka salah satu cita cita utama adalah maen dan berdiskusi dengan lembaga pusat data, nah kalo di indonesia, lembaga resmi pemerintah itu namanya Badan Pusat Statistik (BPS). Seminggu sebelum pandemic covid19, yaitu tanggal 10 Maret 2020, saya diundang mas Tio (Setia Pramana, PhD) untuk sharing “Social Media Analytics” ke BPS.

Seharian saya berbagi mengenai fenomena, teori, dan praktek mencari pola pada data data yang berasal dari media sosial. BPS sangat memperhatikan implementasi Big Data dalam metodologi mereka, makanya mas Tio diangkat untuk meleverage keilmuan tersebut, dengan salah satu caranya mengundang beberapa narasumber untuk sharing, salah satunya saya. Pengalaman dan diskusi yang menyenangkan, thanks mas Tio.

89139982 10157811393410202 6172514156411879424 o

89656799 10157811393655202 5449853344417841152 o

89358227 10157811393840202 206713657810223104 o

89354542 10157811393550202 8832448202381721600 o

89273276 10157811394105202 1901241842796593152 o

89731603 10157811394265202 4041091942342197248 o

Project otak atik Discourse Network Analysis (DNA) Skala Besar pada Berita Global Coronavirus

DNA digunakan untuk mencari maksud/tujuan, agenda, motivasi, selain juga aktor advokasi, dan koalisi /persekongkolan (bisa yang tertulis pada dokumen, bisa dari debat verbal, dan bisa juga dari pidato). DNA merupakan kombinasi studi kualitatif analisa konten dan studi kuantitatif analisa struktur jejaring sosial (SNA) / aktor. Analisa kualitatif dokumen skala besar sangat sulit dilakukan, maka dari itu dimulai dari analisa kuantitatif dulu untuk menyaring/mereduksi dokumen menjadi topik topik penting menggunakan analisa jejaring teks.

Sumber data : https://blog.aylien.com/free-coronavirus-news-dataset/

Jumlah berita : 550.000 berita bahasa inggris

Durasi : 1 november 2019 – 5 april 2020

Topik / tema : berita yang berkaitan dengan coronavirus

Sumber : 400 media internasional

Ukuran file : 7.6 GB

Dari sumber berita diatas diperoleh jejaring teks sebesar 270.616 kata dan 14.277.297 hubungan antar kata tersebut, wow sangat besar jaringannya. Sepertinya butuh HPC atau pake kekuatan komputer cloud. Berhubung lagi WFH, sehingga ga bisa ke lab kampus, yah udah dikerjain perhitungannya di rumah pake modifan koding setengah inget setengah lupa pas disertasi dulu (python dan neo4J).

Topik 1 (kata dominan china-pandemic-public) : menceritakan bagaimana pandemic diawali di china, kemudian muncul anjuran social-distancing, karena ada isu dengan emergency-healthcare yang overload. yang menarik dari topik ini ada pola dibelakang yang tidak terlihat jelas (non-obvious), yaitu trump-political-law dan necessary-measures-serious-risk menunjukkan berita pernyataan trump menanggapi munculnya pandemic saat itu.

Topik 2 (kata dominan market-global-economy-business ) : isu ekonomi dominan pada topik ini sebagai akibat dari lockdown yang terjadi hampir diseluruh negara di dunia. ada dua klaster berdekatan america-shares-domestic dan investment-interest-expect menunjukan harapan iklim investasi di USA (growing) meskipun ada ancaman pandemic. selain itu terdapat klaster berita negatif, dengan kata decline-reduce aktivitas ekonomi yang berakibat unemployment, sayang kata tersebut tidak mencapai Top50 di topik ini.

Topik 3 (kata dominan coronavirus-medical-health-infected-quarantine) : isu kesehatan dominan pada topik ini, termasuk berita kematian, dan upaya untuk mereduksi penyebarannya government-flight-suspended dan school-hospital-isolation. berita banyak memunculkan kondisi kesehatan pada beberapa kota/negara di dunia, seperti wuhan-london-italy-australia.

Topik 4 (kata dominan provided-mask-food-important) : fokus pada anjuran untuk pencegahan penyebaran virus dan menjaga daya tahan tubuh muncul dari kata kata distance-touch-directly, check-physical-app, keeping-healthy-sense-clean, dan wearing-protective-cover. Akhirnya ketemu 4 topik atau agenda utama yang dominan dari ratusan ribu berita diatas.

Analisa aktornya belum dilakukan, monggo yang berminat silahkan barengan ngulik dataset diatas. kalo dapat cerita menarik, kita jadikan publikasi ilmiah. cara analisanya aktornya bebas, barangkali ada yang mempunyai ide ide brilian untuk data skala besar tersebut, tapi jangan minta saya untuk ngajarin lho ya, biar ketemu cara yang berbeda (bahkan lebih baik mungkin).

Modularity0blacklogoModularity1blacklogoModularity2blacklogoModularity3blacklogo

NgeHost acara Masyarakat Artificial Intelligence Indonesia

Masyarakat Artificial Inteligence Indonesia atau Indonesian Artificial Intelligence Society (IAIS) merupakan komunitas AI yang sudah saya ikuti sejak 1 tahun terakhir. Untuk chapter Bandung sudah pernah diadakan acara virtual meetup, waktu itu hostnya di ITB, dengan menampilkan peneliti peneliti AI dari ITB. Setelah ITB, Telu didaulat untuk menjadi host virtual meetup tersebut. Saya dan bu Ade (Fak. Informatika) mulai menyiapkan acara termasuk mencari narasumber. Akhirnya kita ketemu 3 narasumber dan acara disepakati dilakukan tanggal 15 Mei 2020.

Setelah ngeHost acara ini, saya baru sadar bahwa Telu beruntung cukup banyak mempunyai peneliti peneliti canggih bidang AI. AI merupakan keilmuan masa depan, jadi sangat penting bagi Telu untuk membekali mahasiswanya dengan keilmuan keilmuan terkini.

Oh ya ternyata saya cukup enjoy menjadi seorang host (moderator dan time keeper), biasanya saya jadi narasumber , kali ini saya bertindak dalam sudut pandang payung, melihat tema secara global tapi tidak boleh keteteran dengan isu isu teknis yang dilemparkan oleh pemateri. Tidak mudah karena topik topik pemateri membutuhkan pengetahuan yang cukup untuk bisa memahaminya. Rekaman acara tersebut bisa dilihat di video berikut , seilahkan disimak pemaparan AI bidang audio video recognition, deep learning, dan AI pada bidang kesehatan.

3fc1dba4 fd2e 4887 b8aa 9e5a8b7c609f

91e8378d fbf3 4098 8cfa 95c0705cb6d4

481173b9 28cd 49fb 84e1 3ccb332d3493

Rekomendasi Buku Blockchain : Blockchain Revolution

Akhir akhir ini saya rajin membaca, berdiskusi, meneliti keilmuan terkait Blockchain bersama beberapa rekan peneliti dalam satu tim diskusi riset Blockchain. Hal ini berkaitan dengan program RC DBE yang akan mengadakan sertifikasi dan pelatihan Blockchain Technology Consultant. Blockchain adalah keilmuan yang sangat luas, melewati batas disiplin keilmuan tradisional. Beberapa domain berkaitan dengan bisnis, pemerintahan, IoT (smart city), kemasyarakatan, lingkungan, dan lain lain, tercakup dalam bidang yang dapat mengalami disrupsi / revolusi dengan adanya teknologi ini.

Banyak buku dan course yang menawarkan pengetahuan tentang Blockchain, namun satu buku yang menurut saya sangat bagus, sebagai pengetahuan awal tentang bagaimana implementasi dan use case dari teknologi Blockchain, bagaimana teknologi ini bisa membawa perubahan fundamental dan revolusioner terhadap sistem otoritas pusat yang ada di dunia saat ini. Sebelum masuk ke pengetahuan teknis implementasi dan pengembangan teknologi Blockchain, sebaiknya buku ini dibaca dulu Bukunya adalah Blockchain Revolution : How The Technology Behind Bitcoin is Changing Money, Business, and The World. Saya rekomendasikan Buku karya duo ayah anak Don dan Alex Tapscott Ini.

81EmFfHo9CL

Kekerenan buku ini bisa dilihat pada daftar isi berikut :

PART I: Say You Want a Revolution

CHAPTER 1: The Trust Protocol
In Search of the Trust Protocol
How This Worldwide Ledger Works
A Rational Exuberance for the Blockchain
Achieving Trust in the Digital Age
Return of the Internet
Your Personal Avatar and the Black Box of Identity
A Plan for Prosperity
Promise and Peril of the New Platform

CHAPTER 2: Bootstrapping the Future: Seven Design Principles of the Blockchain Economy
The Seven Design Principles
1. Networked Integrity
2. Distributed Power
3. Value as Incentive
4. Security
5. Privacy
6. Rights Preserved
7. Inclusion
Designing the Future

PART II: Transformations

CHAPTER 3: Reinventing Financial Services
A New Look for the World’s Second-Oldest Profession
The Golden Eight: How the Financial Services Sector Will Change
From Stock Exchanges to Block Exchanges
Dr. Faust’s Blockchain Bargain
The Bank App: Who Will Win in Retail Banking
Google Translate for Business: New Frameworks for Accounting and Corporate Governance
Reputation: You Are Your Credit Score
The Blockchain IPO
The Market for Prediction Markets
Road Map for the Golden Eight

CHAPTER 4: Re-architecting the Firm: The Core and the Edges
Building ConsenSys
Changing the Boundaries of the Firm
Determining Corporate Boundaries

CHAPTER 5: New Business Models: Making It Rain on the Blockchain
bAirbnb Versus Airbnb
Global Computing: The Rise of Distributed Applications
The DApp Kings: Distributed Business Entities
Autonomous Agents
Distributed Autonomous Enterprises
The Big Seven: Open Networked Enterprise Business Models
Hacking Your Future: Business Model Innovation

CHAPTER 6: The Ledger of Things: Animating the Physical World
Power to the People
The Evolution of Computing: From Mainframes to Smart Pills
The Internet of Things Needs a Ledger of Things
The Twelve Disruptions: Animating Things
The Economic Payoff
The Future: From Uber to SUber
Hacking Your Future for a World of Smart Things

CHAPTER 7: Solving the Prosperity Paradox: Economic Inclusion and Entrepreneurship
A Pig Is Not a Piggy Bank
The New Prosperity Paradox
Road Map to Prosperity
Remittances: The Story of Analie Domingo
Blockchain Humanitarian Aid
Safe as Houses? The Road to Asset Ownership
Implementation Challenges and Leadership Opportunities

CHAPTER 8: Rebuilding Government and Democracy
Something Is Rotten in the State
High-Performance Government Services and Operations
Empowering People to Serve Selves and Others
The Second Era of Democracy
Blockchain Voting
Alternative Models of Politics and Justice
Engaging Citizens to Solve Big Problems
Wielding Tools of Twenty-first-Century Democracy

CHAPTER 9: Freeing Culture on the Blockchain: Music to Our Ears
Fair Trade Music: From Streaming Music to Metering Rights
Artlery for Art Lovers: Connecting Artists and Patrons
Privacy, Free Speech, and Free Press on the Blockchain
Getting the Word Out: The Critical Role of Education
Culture on the Blockchain and You

PART III: Promise and Peril

CHAPTER 10: Overcoming Showstoppers: Ten Implementation Challenges
1. The Technology Is Not Ready for Prime Time
2. The Energy Consumed Is Unsustainable
3. Governments Will Stifle or Twist It
4. Powerful Incumbents of the Old Paradigm Will Usurp It
5. The Incentives Are Inadequate for Distributed Mass Collaboration
6. The Blockchain Is a Job Killer
7. Governing the Protocols Is Like Herding Cats
8. Distributed Autonomous Agents Will Form Skynet
9. Big Brother Is (Still) Watching You
10. Criminals Will Use It
Reasons Blockchain Will Fail or Implementation Challenges?

CHAPTER 11: Leadership for the Next Era
Who Will Lead a Revolution?
The Blockchain Ecosystem: You Can’t Tell the Players Without a Roster
A Cautionary Tale of Blockchain Regulation
The Senator Who Would Change the World
Central Banks in a Decentralized Economy
Regulation Versus Governance
A New Framework for Blockchain Governance
A New Agenda for the Next Digital Age
The Trust Protocol and You

3 Publikasi Ilmiah di Masa Lockdown Covid19

Masa pandemi covid19 ini adalah masa yang tepat untuk berkarya, kita dimanjakan dengan banyaknya waktu untuk meneliti, merenung, dan menulis. Pada kondisi normal kita mungkin disibukkan dengan aktivitas meeting offline atau menghabiskan waktu dijalan untuk menuju satu tempat dari tempat lain. Saat ini, kita mengalami penghematan waktu cukup signifikan dalam melakukan pekerjaan sehari hari. Meskipun tetap prihatin dengan perkembangan virus corona, tapi kita tetap bisa berkarya maksimal, apalagi jika ditinjau dengan efisiensi waktu bekerja.
 
Selama lockdown 2 bulan ini, alhamdulilah ada 3 paper saya terbit di jurnal internasional bereputasi scopus. Lumayan jadi produktif. Paper tersebut adalah:
 
“Deciphering Social Opinion Polarization Towards Political Event using Topic Modelling and Dynamic Network Analysis”
Diterbitkan pada International Journal of Innovation , Creativity, and Change 
 
Screen Shot 2020 05 05 at 18 33 13
 
“Event-Based Dynamic Banking Network Exploration for Economic Anomaly Detection”
Diterbitkan pada Journal of Theoretical and Applied Information Technology
 
Screen Shot 2020 05 05 at 18 33 18
 
“Personality Measurement Design for Ontology based Platform using Social Media Text”
Diterbitkan pada Advance in Science, Technology and Engineering Systems Journal
 
Screen Shot 2020 05 05 at 18 33 22
 
 
Jangan lupa check repositori publikasi saya di https://telkomuniversity.academia.edu/AndryAlamsyah atau andryalamsyah.academia.edu

Expanding The View – Monitor LG29WK600

Salah satu efek pandemi covid19 adalah semakin lama durasi kita melakukan aktivitas dari rumah. Work From Home (WFH) membuat kita makin sering mantengin komputer (dan layar monitor) di rumah. Tercatat sehari hari mulai aktivitas meeting, riset, mengajar, administrasi, dan hiburan (nonton netflix, nonton youtube, dll) menggunakan komputer. Hal ini berakibat monitor yang ada di rumah jadi berasa sempit untuk memenuhi semua tuntutan aktivitas tersebut, yang tentu membutuhkan ruang kerja yang lebih luas, sehingga muncul kebutuhan buat saya untuk “expand” kemampuan monitor.

Saya pengguna macbook pro 2017, sehari hari menggunakan layar monitor lawas Dell S2340L (23inch) dan Samsung UA22H5000 (22inch). Meskipun dua monitor tersebut mumpuni, saya ngerasa viewnya makin lama makin kurang lebar, apalagi mata udah mulai sedikit sedikit nambah plusnya, oleh karenanya saya mulai hunting monitor lebar (atau super lebar). Pilihannya tidak terlalu banyak di Indonesia, tinggal milih super lebar flat atau super lebar curve. Layar curve harganya sudah tidak masuk ke budget sayangnya.

Setelah browsing sana dan sini akhirnya dapet monitor lebar dengan harga masuk akal, yaitu LG 29WK600 (29 inch) dengan harga 3.5 juta. Layar ini punya ukuran yang ajaib, dengan screen ratio 21:9, jadi kalo nonton film full screen maka garis hitam di bagian bawah dan atas layar akan hilang (nice). Kemudian untuk baca dokumen, montior ini bisa membuka 3 dokumen pdf  dijajarkan sekaligus dengan dengan zoom ratio 100%. Resolusi monitor ini adalah 2560×1080. Monitor ini juga menyertakan aplikasi bernama “OnScreen Control” agar kita bisa mengatur pembagian ruang di monitor secara efektif. Anyway saya seneng dengan monitor baru ini, jadi tambah semangat untuk WFH.

begini penampakannya. 

Photo 2020 04 07 20 00 43

Photo 2020 04 07 20 00 49

Photo 2020 04 07 20 00 52

Photo 2020 04 07 20 00 55

Screen Shot 2020 04 07 at 20 10 43  2

 

 

 

2019 Indonesian Actuarial Conference

Seiring dengan perkembangan implementasi Data Science dalam berbagai bidang industri, maka banyak industri dan profesi yang berpacu untuk memperkaya kemampuan sumber daya manusianya akan kemampuan atas keilmuan ini, salah satunya di industri asuransi ada persatuan profesi Persatuan Aktuaris Indonesia (PAI).  Setelah tahun lalu mengundang saya sebagai narasumber di acara PAI Regional Seminar dan awal tahun 2019 ini di workshop Claim Data Behavior Analysis , kali ini mereka kembali mengundang saya sebagai narasumber dalam acara 2019 3rd Indonesian Actuarial Conference, pada tanggal 18 Oktober 2019. Dalam kesempatan ini saya membawakan topik yang berbeda dari sebelumnya yang lebih banyak bicara teknis, kali ini materi saya lebih bersifat global yaitu tema “Business, Technology, and Market Changes in Industry 4.0”.

Seperti yang saya tulis di post sebelumnya, Aktuaris adalah profesi yang unik, mereka adalah orang orang yang mempunyai kemampuan matematis, terutama simulasi dan permodelan resiko yang sangat kuat. Tentu saja jika dihadapkan dengan pekerjaan yang membutuhkan kemampuan analitik yang kuat, seperti Data Scientist, maka tidak akan menjadi masalah besar bagi mereka. Sayangnya, banyak aktuaris yang belum terbiasa / belum paham dengan data analytics, machine learningm bahkan konsep artificial intelligence. Karena saya membawakan materi yang bersifat global, saya lebih banyak memberikan gambaran umum / vision, dan future impact untuk industri asuransi secara umum. Oh ya tidak lupa dalam acara ini saya bertemu dengan rekan rekan alumni MA tentunya.

72899499 10157368493640202 8330319920789192704 o74356886 10157368493700202 2431510909026304000 o75231763 10157368494115202 3114329770431610880 o73524615 10157368493575202 4486420715964203008 o74595538 10157368493910202 8256100132840275968 o

73013117 10157368493820202 7775946982698254336 o

Bicara Komputasi Psikologi di UI

Tantangan atau provokasi atau racun yang sering saya lontarkan ke rekan rekan di keilmuan sosial adalah bagaimana mereka bisa mengeser kebiasaan melakukan risetnya dengan menggunakan data yang tersedia melimpah di internet. Computational Propaganda adalah salah satu contoh proyek akademis yang menggunakan data jejaring sosial atau jejak digital untuk kepentingan politis / propaganda. Kampanye, manipulasi, penyebaran informasi pada media sosial bisa diukur dengan mudah. Kunci utama proses yang murah, cepat, dan eksperimen secara real time membuat metodologi komputasi ini lebih disukai daripada metode legacy yang sudah well established. Namun secara hasil belum tentu metode berdasarkan komputasi ini akan lebih akurat. Namun yang jelas bisa mendukung hasil yang cepat dan lebih murah.

Psikologi adalah salah satu bidang yang saya minati, bahkan salah satu hibah yang saya peroleh dari kemenristekditi di tahun 2019-2020 ini adalah mengenai pengukuran kepribadian manusia berdasarkan jejak postingan yang ditinggalkan di media sosial. Riset ini membutuhkan pemetaan kata kata bahasa Indonesia tidak baku ke dalam 5 sifat dasar manusia berdasarkan Big Five Personality . Dalam melakukan verifikasi kata kata tersebut dan membuat model ontologinya, saya dibantu oleh dosen Psikologi Universitas Indonesia, Dr. Fivi Nurwianti. Sedikit banyak saya menjerumuskan beliau ke penelitian Computational Cognition / Psychology  hihihi. Setelah setahun melakukan riset (hasil riset akan saya publish di entry blog lain), maka gantian saya diundang Dr. Fivi untuk mengisi kuliah kapita selekta magister psikologi UI.

Setelah mengalami penundaan jadwal beberapa kali, karena susah nyocokin waktu, akhirnya tanggal 11 november saya berangkat ke kampus UI Depok. Materi yang saya bawakan di kelas S2 tersebut adalah “Social Computing : Understanding Human Behavior”. Saya bicara mengenai dasar dasar pengukuran perilaku manusia menggunakan data online, dan juga bicara mengenai riset yang saya dan Dr. Fivi lakukan. Di kelas siang itu saya rasa lumayan banyak mahasiswa yang merasa terprovokasi, terbukti beberapa dari mereka weekend itu melanjutkan ikut acara Social Media Analytics yang diadakan di kampus Telkom University untuk melanjutkan implementasi racun yang sudah ditanamkan ke level selanjutnya yaitu, bagaimana mengambil data di media sosial dan bagaimana melakukan analisanya.

Semoga tetap terprovokasi dan teracuni dengan pendekatan komputasi ini.

76602197 10157439888855202 4781043734324183040 o75371714 10157439888050202 8584565590822223872 o75481895 10157439888550202 4022248859957723136 o75316054 10157439887980202 4016431515733852160 o75422293 10157439888125202 3083520024397217792 o

World Bank Event – Artificial Intelligence

World Bank mempunyai kegiatan rutin berupa sharing knowledge yang dinamakan INSPIRE, dengan mengundang pakar pakar untuk berbagi dan berdiskusi mengenai isu isu kekinian berkenaan tugas utama terkait dengan visi Sustainable Development Goals (SDG) di Indonesia dari pandangan berbagai aspek yang berbeda. Pada tanggal 30 September 2019, saya diundang sebagai salah satu narasumber acara INSPIRE yang topik besarnya adalah : Artificial Intelligence (AI) Promises and Pitfalls for Development. Saya diminta membawakan sudut pandang akademik dengan topik khusus tentang : AI – Disruptions on Society. 

Moderator dan narasumber yang dihadirkan pada acara ini sangat kompeten di bidangnya. Bahkan beberapa sudah saya kagumi karena prestasi / nama besarnya. Moderator acara ini adalah bu Vivi (staf ahli bappenas). Narasumbernya antara lain adalah bu Shinta Bubu, mbak Maesy Angelina (PulseLab), mas Meidy Fitranto (CEO Nodeflux). Bu Shinta dari Bubu.com saya sudah kenal namanya dari dulu, tapi belum pernah bertemu, dan ketemu pertama kali dalam satu panggung di acara ini, bu Shinta membicarakan tentang kondisi market dan talent bidang AI di Indonesia berdasarkan pengalaman beliau membimbing (inkubasi) startup sekaligus sebagai investor.

Saya sangat terkesan dengan Nodeflux, salah satu perusahaan perintis implementasi AI di Indonesia, oleh karenanya ketemu langsung dengan CEO nya mas Meidy merupakan hal yang luar biasa, mas Meidy menceritakan bagaimana Nodeflux membantu pengembangan AI di Indonesia, baik di industri dan pemerintahan. Meskipun hanya sempat mengobrol sebentar diatas panggung, saya senang karena bisa membuka peluang inisiasi riset bersama antara Nodeflux dan kampus Telkom.

Pulselab diwakili oleh salah satu peneliti handalnya yaitu Mbak Maesy, beliau menceritakan bagaimana UN PulseLab melaksanakan program program kemasyarakatan dengan pendekatan AI. Sangat banyak pekerjaan PulseLab yang kelihatannya tidak langsung berhubungan dengan teknologi, namun terbantu dengan implementasi AI tersebut. Oh ya, salah satu pengunjung acara ini adalah bapak selebritis teknologi, pak Onno Purbo, saya belum pernah berkenalan dengan beliau, namun pernah menghadiri salah satu talks beliau. saya sangat mengagumi ide ide cemerlang beliau. Kehadiran beliau membuat acara diskusi semakin menarik, dan dapat bonus kenalan langsung.

Sungguh hari itu mendapatkan pengalaman dan pembelajaran yang menyenangkan.

71690022 10157336695970202 8732475996684419072 o71105386 10157314248220202 6768724495487205376 o72781737 10157336696450202 5753818281718841344 o71676262 10157336696365202 666373281305067520 o72941183 10157336696225202 5615088076394070016 o72347788 10157336696295202 3373519519052988416 o71911503 10157336696575202 2411331211344478208 o