3 Publikasi Ilmiah di Masa Lockdown Covid19

Masa pandemi covid19 ini adalah masa yang tepat untuk berkarya, kita dimanjakan dengan banyaknya waktu untuk meneliti, merenung, dan menulis. Pada kondisi normal kita mungkin disibukkan dengan aktivitas meeting offline atau menghabiskan waktu dijalan untuk menuju satu tempat dari tempat lain. Saat ini, kita mengalami penghematan waktu cukup signifikan dalam melakukan pekerjaan sehari hari. Meskipun tetap prihatin dengan perkembangan virus corona, tapi kita tetap bisa berkarya maksimal, apalagi jika ditinjau dengan efisiensi waktu bekerja.
 
Selama lockdown 2 bulan ini, alhamdulilah ada 3 paper saya terbit di jurnal internasional bereputasi scopus. Lumayan jadi produktif. Paper tersebut adalah:
 
“Deciphering Social Opinion Polarization Towards Political Event using Topic Modelling and Dynamic Network Analysis”
Diterbitkan pada International Journal of Innovation , Creativity, and Change 
 
Screen Shot 2020 05 05 at 18 33 13
 
“Event-Based Dynamic Banking Network Exploration for Economic Anomaly Detection”
Diterbitkan pada Journal of Theoretical and Applied Information Technology
 
Screen Shot 2020 05 05 at 18 33 18
 
“Personality Measurement Design for Ontology based Platform using Social Media Text”
Diterbitkan pada Advance in Science, Technology and Engineering Systems Journal
 
Screen Shot 2020 05 05 at 18 33 22
 
 
Jangan lupa check repositori publikasi saya di https://telkomuniversity.academia.edu/AndryAlamsyah atau andryalamsyah.academia.edu

Expanding The View – Monitor LG29WK600

Salah satu efek pandemi covid19 adalah semakin lama durasi kita melakukan aktivitas dari rumah. Work From Home (WFH) membuat kita makin sering mantengin komputer (dan layar monitor) di rumah. Tercatat sehari hari mulai aktivitas meeting, riset, mengajar, administrasi, dan hiburan (nonton netflix, nonton youtube, dll) menggunakan komputer. Hal ini berakibat monitor yang ada di rumah jadi berasa sempit untuk memenuhi semua tuntutan aktivitas tersebut, yang tentu membutuhkan ruang kerja yang lebih luas, sehingga muncul kebutuhan buat saya untuk “expand” kemampuan monitor.

Saya pengguna macbook pro 2017, sehari hari menggunakan layar monitor lawas Dell S2340L (23inch) dan Samsung UA22H5000 (22inch). Meskipun dua monitor tersebut mumpuni, saya ngerasa viewnya makin lama makin kurang lebar, apalagi mata udah mulai sedikit sedikit nambah plusnya, oleh karenanya saya mulai hunting monitor lebar (atau super lebar). Pilihannya tidak terlalu banyak di Indonesia, tinggal milih super lebar flat atau super lebar curve. Layar curve harganya sudah tidak masuk ke budget sayangnya.

Setelah browsing sana dan sini akhirnya dapet monitor lebar dengan harga masuk akal, yaitu LG 29WK600 (29 inch) dengan harga 3.5 juta. Layar ini punya ukuran yang ajaib, dengan screen ratio 21:9, jadi kalo nonton film full screen maka garis hitam di bagian bawah dan atas layar akan hilang (nice). Kemudian untuk baca dokumen, montior ini bisa membuka 3 dokumen pdf  dijajarkan sekaligus dengan dengan zoom ratio 100%. Resolusi monitor ini adalah 2560×1080. Monitor ini juga menyertakan aplikasi bernama “OnScreen Control” agar kita bisa mengatur pembagian ruang di monitor secara efektif. Anyway saya seneng dengan monitor baru ini, jadi tambah semangat untuk WFH.

begini penampakannya. 

Photo 2020 04 07 20 00 43

Photo 2020 04 07 20 00 49

Photo 2020 04 07 20 00 52

Photo 2020 04 07 20 00 55

Screen Shot 2020 04 07 at 20 10 43  2

 

 

 

Work From Home karena Pandemic Corona

Sebenarnya banyak entry blog yang mengantri untuk dituliskan, akan tetapi kejadian luar biasa seminggu terakhir ini lebih pantas untuk dituliskan duluan. Berkenaan dengan Pandemik Corona Virus sejak akhir tahun 2019 di Cina, maka sejak tanggal 16 Maret 2020 ada himbauan dari pemerintah untuk bekerja dari rumah dalam upaya mensukseskan gerakan Social Distance, yang dipercaya efektif mencegah penularan virus Corona yang lebih luas. Tanda tanda gerakan ini sudah mulai saya rasakan sejak beberapa minggu sebelumnya, diantaranya adalah penundaan / cancel beberapa kegiatan yang melibatkan kumpulan massa. Beberapa acara dimana saya akan menjadi pengisi materi sudah memberitahukan untuk tidak meneruskan acara. Beberapa event lari besarpun sudah mulai melakukan hal yang sama. Akan tetapi saya dan Intan masih agak nyantai, karena event lari Binloop Ultra pada tanggal 14-15 Maret masih belum ditunda, dan kami masih sempat ikut race disana. Rencananya setelah race ini saya akan mengisi acara di Bogor tanggal 16-17 Maret, tiba tiba saya diinfokan kalau acara tersebut juga di tunda / cancel, walhasil saya kembali ke Bandung lagi. Begitu tiba di Bandung, dapat kabar kalau sekolah anak anak juga diliburkan, padahal si Sulung lagi ujian sekolah SMA. Berarti ini adalah suatu kejadian yang luar biasa. 

Secara beruntun beberapa info tentang penundaan acara saya terima, termasuk acara menguji sidang disertasi di IPB. Sekarang hampir semua lembaga, dan sekolah melakukan aktivitas dari rumah, bahkan kelas kelas pun diubah menjadi kelas online. Saya dan Intan melakukan kuliah online. Si bungsu yang masih SMP pun melakukan kegiatan belajar dengan teman teman dan gurunya secara online. Si sulung yang harusnya cepet lega karena ujian beres, malah sekarang jadi tertunda ujiannya. yah kita ambil hikmahnya aja. 

Salah satu hikmah yang diambil setelah hampir seminggu work from home (WFH) saya jadi makin banyak waktu untuk berolahraga (makin rajin olahraga). Si sulung jadi makin banyak waktu luang untuk menyalurkan hobinya memasak (mungkin punya minat jadi chef), sedangkan si bungsu tetep sibuk sekolah online dan les tari jarak jauh. WFH keliatannya mudah dan nyaman, tapi ternyata malah merepotkan, karena kita harus merubah ritme kerja kita.jadi batasnya terlalu tipis, kapan kerja dan kapan beristirahat, belum lagi godaan cemilan. Semoga pandemik corona ini cepat berlalu, amin. 

 

Photo 2020 03 20 18 35 42

9 Jam Berlari #TahuraTrailMarathon

Setelah menuntaskan misi Virgin Full Marathon di Pocari Sweat Run Bandung tahun 2019 kemarin, saya mulai memikirkan bagaimana rasanya lari Full Marathon pada trek trail. Seperti diketahui lari trail karakternya sangat berbeda dengan trek jalan raya (road). Banyak faktor yang membuat trek trail jauh lebih berat, misal permukaan tanah ga rata, bahkan cenderung bervariasi seperti jalan setapak, jalan tanah, jalan hutan, belum lagi elevasi yang biasanya lebih luar biasa daripada trek road. Tahura Trail Run 2020 merupakan kesempatan sempurna buat saya memecahkan telor Virgin Full Marathon (FM), iya FM 42K lari di jalur trail. Tahura Trail saya pilih karena memang tingkat kesulitan medan yang cenderung bersahabat dan lokasinya di kota Bandung, tentu memudahkan saya untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk menghadapi FM trail ini. 

Tahun ini adalah  ketiga kalinya saya ikut serta di event Tahura Trail. Tahun 2018 saya ikut kelas family 7K dan tahun 2019 saya ikut kelas HM (21K). Salah satu persiapan saya untuk FM ini adalah mengikuti event Cikole Forest Run, tepat sebulan sebelum event Tahura. Saya tidak mempersiapkan diri dengan latihan khusus untuk menghadapi lari FM ini karena kesibukan kantor yang lumayan padat di akhir 2019 dan awal tahun 2020.

Start lari FM dilakukan pada hari sabtu 18 januari 2020.  Sekitar 700an pelari FM start pukul 7:00 pagi. Jalur 3km awal langsung ketemu tanjakan elevasi lumayan, namun mayoritas adalah jalur aspal dan beton. Baru setelah lewat km 5 kita masuk ke jalan tanah yang tanjakanannya juga masih menggila. Saya berlari santai, dengan pace antara 8-10 menit/km, kadang kadang mencapai 17 menit/km kalo jalur sangat menanjak. Ada sekitar 4 WS sejak dari start sampai km 17.5

Di km17.5 pelari FM ketemu water station (WS) terakhir sebelum masuk hutan menuju ke km 30. Di sepanjang km 17.5-30 ini sama sekali tidak ada WS. Ditengah hujan tanjakan juga tidak lupa selalu hadir, jalan becek cenderung tidak bisa dilariin akibat hujan yang datang dan pergi hari itu. Beberapa parit dan sungat kecil juga harus kita lalui. Alhasil bagian bawah sepatu trail sudah penuh dengan tanah liat. Kaos kaki sampai ganti tiga kali karena air, pasir, dan tanah liat rebutan masuk ke sepatu. Akhirnya karena stok kaos kaki habis, saya terpaksa lari tidak pakai kaos kaki lagi. Saya melihat banyak peserta yang sudah mulai menyerah menaklukkan ganasnya jalur hutan tersebut, dan minta diangkut panitia,

Setelah mencapai km 30, perjalanan selanjutnya menuju finish di km 42 terasa sangat lama, walaupun jalur cenderung turunan , mungkin karena badan sudah sangat lelah. Kami berjalan dan berlari melewati perkampungan dan perkebunan penduduk di daerah maribaya – lembang.

Cut off time (COT) FM adalah 10 jam, jadi pelari harus bisa finish sebelum jam 17:00 sore. Kalo tidak bisa lebih cepat dari COT maka pelari dinyatakan Did Not Finish (DNF) dan diangkut oleh panitia. Saya mencapai garis finish pada pukul 15:59, jadi total saya berlari sejauh 9 jam kurang 1 menit. Ini rekor lari saya terlama, bahkan lebih lama dari perjalanan saya mudik Bandung-Malang yang hanya 8 jam di akhir tahun 2019. 

Saat berlari di tengah hutan saya juga sempat berpikir “ngapain saya ada disini”, kok mau maunya berlari berjam jam menyiksa diri. Tapi setelah menyelesaikan tantangan rasanya sangat memuaskan, bahwa saya bisa menyelesaikan tantangan mengalahkan kemalasan diri sendiri #gabolehmales. Oh ya .. entry blog ini ditulis 3 hari setelah menyelesaikan lari trail FM tersebut, saat ini saya sudah tidak merasakan sakit sakit atau pegal pegal lagi. Semuanya aman … ga sabar menunggu event trail selanjutnya 😉 ..

82902116 10157647138015202 4779708935797997568 o82605321 10157647138115202 7264254650751123456 o83118426 10157647138265202 1238432323490283520 o82797837 10157647138200202 4634408899389161472 o
83138664 10157647138545202 6629258807077765120 o84080412 10157647138320202 7160078904726650880 o

Lari Trail di Hutan Cikole

Cikole Forest Run diadakan pada akhir 2019 (tepatnya tanggal 8 Desember 2019). Lari 15K di tengah hutan ini adalah latihan pemanasan saya untuk ikut event lari trail Tahura Trail Run pada bulan januari 2020 yang mana kebetulan saya akan ambil kelas Full Marathon. Meskipun embel embel kelas 15K adalah Fun Run akan tetapi kalo dilihat elevasinya mengerikan juga (menurut level saya lho yah). Profil elevasinya bisa dilihat disini . Saya merasakan sendiri begitu start, kita langsung dihadapkan ke jalan setapak satu jalur langsung menuju elevasi tinggi ke arah gunung Tangkuban Prahu dari hutan Cikole. Jalan satu jalur ini membuat kita harus berlari agak kencang, supaya tidak menghambat lari pelari cepat dibelakang kita. Alhasil, 2-3 km pertama saya cukup kelelahan.

Sisa jalur yang dihadapi sangat indah dan menantang karena tidak seperti di tahura, jalur lari cikole ini hampir 80 persen berada di tengah hutan. Begitu tenaga diperas pada 3 km awal, selanjutnya saya mencoba berlari agak santai sampai foto foto, karena jalurnya sendiri sudah tidak sesempit jalur awal. Ada beberapa spot yang menarik sepanjang jalur lari, seperti ngarai kecil di tengah hutan, jalur trekking land rover, dan puncak bukit (saya ga tau namanya, tapi kota bandung keliatan sangat jelas dari sana).

Berikut foto foto selama acara tersebut. 

79356429 10157520831585202 997517076597833728 o79458365 10157520831970202 1468322724341350400 o78534868 10157520833060202 4103387917529907200 o73539170 10157520832365202 3638879005374939136 o79904745 10157520832750202 5730841349146542080 o78950939 10157520834590202 8061730296938102784 o80025834 10157520833645202 3127354121317777408 o79320379 10157520833335202 5446383247065874432 o

 

2019 Indonesian Actuarial Conference

Seiring dengan perkembangan implementasi Data Science dalam berbagai bidang industri, maka banyak industri dan profesi yang berpacu untuk memperkaya kemampuan sumber daya manusianya akan kemampuan atas keilmuan ini, salah satunya di industri asuransi ada persatuan profesi Persatuan Aktuaris Indonesia (PAI).  Setelah tahun lalu mengundang saya sebagai narasumber di acara PAI Regional Seminar dan awal tahun 2019 ini di workshop Claim Data Behavior Analysis , kali ini mereka kembali mengundang saya sebagai narasumber dalam acara 2019 3rd Indonesian Actuarial Conference, pada tanggal 18 Oktober 2019. Dalam kesempatan ini saya membawakan topik yang berbeda dari sebelumnya yang lebih banyak bicara teknis, kali ini materi saya lebih bersifat global yaitu tema “Business, Technology, and Market Changes in Industry 4.0”.

Seperti yang saya tulis di post sebelumnya, Aktuaris adalah profesi yang unik, mereka adalah orang orang yang mempunyai kemampuan matematis, terutama simulasi dan permodelan resiko yang sangat kuat. Tentu saja jika dihadapkan dengan pekerjaan yang membutuhkan kemampuan analitik yang kuat, seperti Data Scientist, maka tidak akan menjadi masalah besar bagi mereka. Sayangnya, banyak aktuaris yang belum terbiasa / belum paham dengan data analytics, machine learningm bahkan konsep artificial intelligence. Karena saya membawakan materi yang bersifat global, saya lebih banyak memberikan gambaran umum / vision, dan future impact untuk industri asuransi secara umum. Oh ya tidak lupa dalam acara ini saya bertemu dengan rekan rekan alumni MA tentunya.

72899499 10157368493640202 8330319920789192704 o74356886 10157368493700202 2431510909026304000 o75231763 10157368494115202 3114329770431610880 o73524615 10157368493575202 4486420715964203008 o74595538 10157368493910202 8256100132840275968 o

73013117 10157368493820202 7775946982698254336 o

Borobudur Marathon 2019

Dari banyak event lari marathon di Indonesia, hanya sedikit yang bereputasi istimewa, salah satunya adalah Borobudur Marathon (BorMar), yang diadakan pada tanggal 17 november 2019. Saya dan Intan tentu tidak melewatkan kesempatan lari ini, padahal untuk mengikuti event ini peserta tidak cukup hanya bayar langsung bisa ikutan. BorMar adalah sedikit dari event lari Indonesia yang mengimplementasikan sistem ballot, seperti event event marathon terkenal di dunia. Jadi begitu kita daftar belum tentu kita mendapatkan kesempatan untuk lari, harus diundi dulu. Saya adalah salah satu pendaftar yang tidak beruntung karena tidak mendapatkan ballot, sedangkan Intan mendapatkan ballot lari untuk jarak 10K. Karena tidak kebagian ballot tersebut, maka saya berpikir ya sudah saya usah ikutan lari, tapi saya berencana tetap datang saat race day untuk menemani Intan, paling ga, saya ikutan motretin sambil menikmati keramaian acara.

1 bulan sebelum hari H, tiba tiba dari salah satu grup WA lari yang saya ikuti, muncul info kalau ada yang mau jual bib BorMar kelas 21K, tanpa pikir panjang saya langsung mengontak yang bersangkutan dan membelinya. Padahal ini bib untuk cewek, tapi ya sudah yang penting saya bisa ikutan lari, walaupun pake nama cewek :P. Semakin mendekati hari H, ternyata Intan mendapatkan tawaran dari temannya untuk membeli bib 21K. Kebetulan kita ingin berlari bareng sebagai #couplerunner di 21K, jadi Intan beli bib temennya (yang kebetulan nama cowok), jadi kami masing masing pake bib nama yang sesuai, Intan pake nama yang cewek, dan saya pake nama yang cowok untuk kelas 21K, walaupun bukan nama kami sebenarnya. Asyik, akhirnya jadi lari bareng walopun awalnya pesimis untuk bisa ikutan lari di BorMar 2019 ini.

Kembali ke bib Intan yang 10K, ternyata ada teman yang ingin pengen beli, luar biasa volume permintaan dan jual beli bib saat mendekati hari H ini. Untungnya yang membeli bib Intan tersebut berbaik hati juga untuk mengambil race pack kita di hari sabtu tanggal 16 November, karena hari sabtu itu pesawat kita dari bandung mengalami delay, jadi sampai penginapan di sekitaran borobudur sudah jam 9 malam. phew, untung race packnya sudah diambilkan.

Race day, kami bangun jam 3:30 pagi, jam 4 pagi kami sudah otw menuju garis start di pelataran Candi Borobudur.  Jaraknya sekitar 2km dari penginapan kami. Lumayan kami pemanasan lari lari kecil menuju garis start. Kami tidak mau pengalaman hadir start terlambat seperti di Bali Marathon 2019 terulang kembali, jadi berangkat lebih awal. Seperti yang bisa diduga, karena ini adalah salah satu race yang istimewa, maka pesertanya juga membludak.

Jalur 21K yang kami lalui cukup lumayan menantang, walaupun awalnya banyak jalur turunan, namun di tengah dan akhir malah justru banyak tanjakan. Sepanjang jalurpun kami banyak disuguhi atraksi tarian tradisional, modern, dan juga nyanyian / paduan suara dari penduduk desa yang dilewati jalur lari. Anak anak kecil TK/SD, remaja SMP/SMA, sampai orang dewasa  semuanya terlibat meramaikan acara dari pinggir jalan raya. Mirip sekali keramaiannya dengan Bali Marathon, walaupun suguhan atraksinya berbeda. Dihadapkan dengan banyaknya atraksi yang keren gini, maka kami tentu saja tidak bisa lari cepet, kami dikit dikit foto foto, lagian rugi juga kalo lari cepet cepet tanpa menikmati suguhan yang ditawarkan. Alhasil catatan waktu kami jauh dari ideal, lebih parah dari Bali Marathon yaitu 3 jam lebih sedikit untuk jarak 21K. 

Catatan penting di BorMar adalah panasnya luar biasa, rasanya malah lebih panas dari Bali Marathon. Sampai garis finish Intan sampai tiduran di rumput saking telernya. tapi overall event lari yang ambiancenya luar biasa. tidak lupa kami jepret jepret dulu di candi brorobudur sesudah lari. Saya rekomendasikan yang hobi lari, untuk sekali sekali mencoba ikutan race ini.

76913774 10157457815375202 4974496955485913088 n79379385 10157512194210202 4302873162560831488 o79527047 10157512194295202 8717584309982068736 o78153643 10157484808625202 7792174494423973888 o75572106 10157457816555202 4955757506367324160 n75412241 10157457815610202 8160160351678103552 n74566480 10157457816205202 3549892230804144128 n76769624 10157457815960202 4181492370254069760 n75348977 10157457817890202 2977547165271851008 n74701595 10157457818520202 83718516145913856 n77079443 10157457816735202 2576138864657694720 n 

 

Bicara Komputasi Psikologi di UI

Tantangan atau provokasi atau racun yang sering saya lontarkan ke rekan rekan di keilmuan sosial adalah bagaimana mereka bisa mengeser kebiasaan melakukan risetnya dengan menggunakan data yang tersedia melimpah di internet. Computational Propaganda adalah salah satu contoh proyek akademis yang menggunakan data jejaring sosial atau jejak digital untuk kepentingan politis / propaganda. Kampanye, manipulasi, penyebaran informasi pada media sosial bisa diukur dengan mudah. Kunci utama proses yang murah, cepat, dan eksperimen secara real time membuat metodologi komputasi ini lebih disukai daripada metode legacy yang sudah well established. Namun secara hasil belum tentu metode berdasarkan komputasi ini akan lebih akurat. Namun yang jelas bisa mendukung hasil yang cepat dan lebih murah.

Psikologi adalah salah satu bidang yang saya minati, bahkan salah satu hibah yang saya peroleh dari kemenristekditi di tahun 2019-2020 ini adalah mengenai pengukuran kepribadian manusia berdasarkan jejak postingan yang ditinggalkan di media sosial. Riset ini membutuhkan pemetaan kata kata bahasa Indonesia tidak baku ke dalam 5 sifat dasar manusia berdasarkan Big Five Personality . Dalam melakukan verifikasi kata kata tersebut dan membuat model ontologinya, saya dibantu oleh dosen Psikologi Universitas Indonesia, Dr. Fivi Nurwianti. Sedikit banyak saya menjerumuskan beliau ke penelitian Computational Cognition / Psychology  hihihi. Setelah setahun melakukan riset (hasil riset akan saya publish di entry blog lain), maka gantian saya diundang Dr. Fivi untuk mengisi kuliah kapita selekta magister psikologi UI.

Setelah mengalami penundaan jadwal beberapa kali, karena susah nyocokin waktu, akhirnya tanggal 11 november saya berangkat ke kampus UI Depok. Materi yang saya bawakan di kelas S2 tersebut adalah “Social Computing : Understanding Human Behavior”. Saya bicara mengenai dasar dasar pengukuran perilaku manusia menggunakan data online, dan juga bicara mengenai riset yang saya dan Dr. Fivi lakukan. Di kelas siang itu saya rasa lumayan banyak mahasiswa yang merasa terprovokasi, terbukti beberapa dari mereka weekend itu melanjutkan ikut acara Social Media Analytics yang diadakan di kampus Telkom University untuk melanjutkan implementasi racun yang sudah ditanamkan ke level selanjutnya yaitu, bagaimana mengambil data di media sosial dan bagaimana melakukan analisanya.

Semoga tetap terprovokasi dan teracuni dengan pendekatan komputasi ini.

76602197 10157439888855202 4781043734324183040 o75371714 10157439888050202 8584565590822223872 o75481895 10157439888550202 4022248859957723136 o75316054 10157439887980202 4016431515733852160 o75422293 10157439888125202 3083520024397217792 o

World Bank Event – Artificial Intelligence

World Bank mempunyai kegiatan rutin berupa sharing knowledge yang dinamakan INSPIRE, dengan mengundang pakar pakar untuk berbagi dan berdiskusi mengenai isu isu kekinian berkenaan tugas utama terkait dengan visi Sustainable Development Goals (SDG) di Indonesia dari pandangan berbagai aspek yang berbeda. Pada tanggal 30 September 2019, saya diundang sebagai salah satu narasumber acara INSPIRE yang topik besarnya adalah : Artificial Intelligence (AI) Promises and Pitfalls for Development. Saya diminta membawakan sudut pandang akademik dengan topik khusus tentang : AI – Disruptions on Society. 

Moderator dan narasumber yang dihadirkan pada acara ini sangat kompeten di bidangnya. Bahkan beberapa sudah saya kagumi karena prestasi / nama besarnya. Moderator acara ini adalah bu Vivi (staf ahli bappenas). Narasumbernya antara lain adalah bu Shinta Bubu, mbak Maesy Angelina (PulseLab), mas Meidy Fitranto (CEO Nodeflux). Bu Shinta dari Bubu.com saya sudah kenal namanya dari dulu, tapi belum pernah bertemu, dan ketemu pertama kali dalam satu panggung di acara ini, bu Shinta membicarakan tentang kondisi market dan talent bidang AI di Indonesia berdasarkan pengalaman beliau membimbing (inkubasi) startup sekaligus sebagai investor.

Saya sangat terkesan dengan Nodeflux, salah satu perusahaan perintis implementasi AI di Indonesia, oleh karenanya ketemu langsung dengan CEO nya mas Meidy merupakan hal yang luar biasa, mas Meidy menceritakan bagaimana Nodeflux membantu pengembangan AI di Indonesia, baik di industri dan pemerintahan. Meskipun hanya sempat mengobrol sebentar diatas panggung, saya senang karena bisa membuka peluang inisiasi riset bersama antara Nodeflux dan kampus Telkom.

Pulselab diwakili oleh salah satu peneliti handalnya yaitu Mbak Maesy, beliau menceritakan bagaimana UN PulseLab melaksanakan program program kemasyarakatan dengan pendekatan AI. Sangat banyak pekerjaan PulseLab yang kelihatannya tidak langsung berhubungan dengan teknologi, namun terbantu dengan implementasi AI tersebut. Oh ya, salah satu pengunjung acara ini adalah bapak selebritis teknologi, pak Onno Purbo, saya belum pernah berkenalan dengan beliau, namun pernah menghadiri salah satu talks beliau. saya sangat mengagumi ide ide cemerlang beliau. Kehadiran beliau membuat acara diskusi semakin menarik, dan dapat bonus kenalan langsung.

Sungguh hari itu mendapatkan pengalaman dan pembelajaran yang menyenangkan.

71690022 10157336695970202 8732475996684419072 o71105386 10157314248220202 6768724495487205376 o72781737 10157336696450202 5753818281718841344 o71676262 10157336696365202 666373281305067520 o72941183 10157336696225202 5615088076394070016 o72347788 10157336696295202 3373519519052988416 o71911503 10157336696575202 2411331211344478208 o