Isu Rasialisme pada Kerusuhan di US

Kerusuhan yang terjadi di Amerika (Riot in USA) beberapa hari terakhir ini diduga karena isu rasial. Setelah ngubek ngubek percakapan di Twitter memang terbukti isu rasial merupakan isu dominan yang melatari demo di kota kota besar di US. Gerakan Black Lives Matter yang muncul sejak beberapa tahun belakangan menjadi semakin intense karena kejadian terbunuhnya George Floyd oleh polisi kulit putih di Mineapolis.  

50 tahun yang lalu US masih implementasi hukum segregasi, ini sudah menjadi budaya yang mengakar di masyarakatnya, tidak akan mudah dihilangkan begitu saja. Seperti di Indonesia, jaman diponegoro masyarakat kita sudah terkenal murah senyum, sampai sekarangpun (sudah ratusan tahun), kita tetap murah senyum. Ini menunjukkan bahwa 50 tahun itu masih terhitung sebentar untuk merubah budaya.

Anyway hasil discourse network analysis, diperoleh kata kata dominan berikut. Terdapat juga tweet dari Trump, namun tidak terlalu dominan, walaupun tweet Trump malah tidak “wise”, alias tidak membuat demo menjadi semakin reda. Bersyukur di Indonesia, kita tidak begitu. Warna ungu dan warna hijau merupakan kumpulan kata kata dominan. yang kata kata tidak dominan tidak saya tunjukkan. 

Screen Shot 2020 05 30 at 13 37 18

Mampir ke Gudangnya Data (Badan Pusat Statistik)

Sebagai orang data, maka salah satu cita cita utama adalah maen dan berdiskusi dengan lembaga pusat data, nah kalo di indonesia, lembaga resmi pemerintah itu namanya Badan Pusat Statistik (BPS). Seminggu sebelum pandemic covid19, yaitu tanggal 10 Maret 2020, saya diundang mas Tio (Setia Pramana, PhD) untuk sharing “Social Media Analytics” ke BPS.

Seharian saya berbagi mengenai fenomena, teori, dan praktek mencari pola pada data data yang berasal dari media sosial. BPS sangat memperhatikan implementasi Big Data dalam metodologi mereka, makanya mas Tio diangkat untuk meleverage keilmuan tersebut, dengan salah satu caranya mengundang beberapa narasumber untuk sharing, salah satunya saya. Pengalaman dan diskusi yang menyenangkan, thanks mas Tio.

89139982 10157811393410202 6172514156411879424 o

89656799 10157811393655202 5449853344417841152 o

89358227 10157811393840202 206713657810223104 o

89354542 10157811393550202 8832448202381721600 o

89273276 10157811394105202 1901241842796593152 o

89731603 10157811394265202 4041091942342197248 o

Melawan Korupsi dengan Big Data – KPK Goes to Campus

Pada suatu hari di awal Oktober 2019, saya dikontak oleh mbak Ajeng dari OpenLibrary (Perpustakaan Pusat Tel-U), beliau meminta saya untuk menjadi pengisi pada acara kolaborasi dengan KPK terkait penggunaan Big Data untuk pemberantasan dan pencegahan korupsi. Walaupun secara intensif belum pernah melakukan riset tentang hal ini, namun salah satu penelitian awal saya menggunakan metoda network analysis untuk deteksi financial fraud (penelitian tahun 2013). Berbekal pengetahuan tersebut, saya menyanggupi permintaan mbak Ajeng, sambil berpikir bahwa ini sekaligus merupakan kesempatan untuk memperdalam pengetahuan tentang aplikasi Big Data di bidang pencegahan korupsi. Acaranya dijadwalkan dilaksanakan pada tanggal 29 Oktober 2019. 

Saya baru tahu kalau KPK sedang rajin melakukan kampanye peningkatan kepedulian publik mengenai bahaya korupsi. Edukasi atau awareness ini terutama juga menyasar lingkungan kampus, yang notabene merupakan tempat menempa calon pemimpin masa depan bangsa. Jadi edukasi terus menerus mengenai bahaya korupsi harus semakin digaungkan melalui beberapa kegiatan. OpenLibrary Tel-U sudah menyiapkan satu area yang disebut sebagai KPK Corner untuk menjadi tempat pembelajaran mengenai fenomena korupsi. Pada tanggal 29 Oktober 2019 tersebut, selain menghadirkan acara seminar juga sekaligus diikuti acara launching KPK Corner di Telkom University.

Beberapa waktu kemudian saya juga baru tahu kalo salah satu pembicara tamu adalah mas Ismail Fahmi, yang sangat terkenal dengan analisa jejaring sosial mengenai politik. Wah ini kesempatan pertama kali saya sepanggung dengan beliau, setelah sekian lama hanya berhubungan via FB aja. Mas Ismail Fahmi, banyak menggunakan metode SNA (Selain metode lainnya seperti sentiment analysis) dalam melakukan analisa analisanya. Ini mirip sekali dengan keilmuan yang saya pelajari, makanya kami banyak berkomunikasi via FB. Oh ya beliau juga satu grup di WA grup AIDI. Saya ditugasi oleh panitia untuk membawakan materi pencegahan dan pemberantasan korupsi berdasarkan sudut pandang akademik. Total ada 4 pembicara yang hadir, yaitu dari pimpinan KPK, mas Ismail Fahmi dari Drone Emprit, saya, dan mas Paku Utama dari Wikratama Utama.

Berikut foto foto pada acara tersebut: 

74602079 10157401241770202 6444551805778001920 o74320245 10157401241910202 6182365192186232832 o74156707 10157401241960202 4970359755223597056 o74353444 10157401242310202 2314780093127327744 o75580244 10157401242405202 4745439868484583424 o

foto foto saya di panggung

75233936 10157401241710202 6496295377031921664 o

bersama mas Ismail Fahmi di KPK Corner 

74346784 10157401242185202 5696960280588713984 o

dapet bingkisan buku Membaca Indonesia dari mas Ismail Fahmi

74342707 10157401242245202 8925105885500407808 o

seluruh permbicara dan moderator 

74211381 10157401242015202 2853311027167100928 o73226352 10157382859135202 2434633195631673344 o

poster acara

 

Pelaksaan dan Testimoni Sertifikasi Internasional Big Data Analyst

Pada saat entry blog ini ditulis, program Sertifikasi Big Data Analyst sudah berjalan sebanyak 4 batch. Sebelumnya, saya pernah menuliskan entry blog mengenai peluncuran program sertifikasi tersebut disini , sekaligus pelaksanaan batch 1 pada tanggal 15 Juni 2019. Program ini akan berlangsung tiap bulan. Beberapa peserta sertifikasi berasal dari akademisi, industri, dan pemerintahan sudah banyak yang menjadi alumni dari program sertifikasi ini. Tercatat dari akademisi adalah dosen dan mahasiswa dari ITB, UGM, Unpad, Unair, dan TelU sendiri. Dari industri atau bisnis tercatat dari Telkom, Telkomsel, BNI, Bank Mandiri, INKA, Indonesia Power, Kalla Group, dan lain lain  Sedangkan dari pemerintahan tercatat dari Kemenkeu, Kemenperin, dan BPPT.

Berikut foto foto dari tiap batch dan testimoni dapat dilihat dibawah ini:

Batch 2

69466594 10157215482625202 2710598090078814208 n69445601 10157215482535202 6173340890371719168 n68891814 10157215482805202 1561411643651391488 n69002006 10157215482420202 5234280899947790336 n69252036 10157215482460202 3910887122545934336 n

Batch 3

70437113 10157268711345202 3414205477960024064 n70244067 10157268711435202 7022539745372667904 n

Batch 4

71790100 10157344959355202 4502942218201333760 n

Testimoni peserta sampai Batch 2

70091189 10157250079970202 915671982236762112 n70841106 10157250080100202 2959649422369095680 n

Lab. SCBD goes to ICOICT 2019 Kualalumpur

Tahun 2019, tim Lab. SCBD kembali berpartisipasi di konferensi internasional ICOICT. Konferensi ICOICT ke 7 ini, kamu mempresentasikan 7 paper hasil penelitian. The 7th ICOICT dilaksanakan di hotel Federal di area Bukit Bintang, Kualalumpur pada tanggal 24-26 juli 2019. Momen istimewa karena baru pertama kali saya membawa rombongan tim sedemikian besar (9 orang) ke luar negeri. Berikut foto foto kami, fotonya tambah keren karena kami bawa kaos seragam tertulis SCBD :). See you on the next conference.

67315621 10157142953745202 31066817006927872 n67455588 10157138645505202 5770099506305564672 n67354480 10157138645570202 6551990258068619264 n67246502 10157138645680202 365182218567417856 n

Sertifikasi Internasional Big Data Analyst (Launching + Batch 1)

Setelah merintis lebih kurang setahun akhirnya saya dan tim Research Center Digital Business Ecosystem (RC DBE) berhasil menyelenggarakan Sertifikasi Internasional Big Data Analyst bekerja sama dengan TUV Rheinland. Proses paling lama pembentukan program ini adalah membuat materi yang memenuhi standard internasional mengenai keilmuan Big data Analyst. Output dari sertifikasi personal ini adalah individu yang mempunyai kemampuan untuk melakukan proses predictive analytics, membuat model predictive berdasarkan data terstruktur dan tidak terstruktur, mempunyai pemahaman dan mampu melakukan proses machine learning, kemampuan melakukan text analytics, analisa jejaring sosial, framework komputasi big data, computational modelling, serta artificial neural network dan deep learning.

Tanpa diduga respon pasar sangat bagus. Batch 1 dilaksanakan tanggal 15-19 Juli langsung fully booked, demikian juga untuk batch 2 yang akan dilaksanakan nanti bulan agustus, jadi pendaftar saat ini hanya bisa mendapatkan tempat di batch 3 dan seterusnya.

Launching acara sertifikasi ini dilakukan pada tanggal 15 Juli pagi, dihadiri rektor Universitas Telkom dan Direktur dari TUV Rheindland Indonesia. Berikut ini adalah foto fotonya

66635283 10157117950460202 1548982467858268160 o66980030 10157117950505202 7201925355207131136 o67163142 10157117950580202 2825727561781215232 o

Rangkaian acara sertifikasi berlangsung selama 4 hari (26 jam) penyampaian teori dan praktek mulai dari materi introduction, statistik, data mining, machine learning, SNA, text analytics, computation model, deep learning, dan big data computation. Berikut ini adalah suasana kelas pelatihan sertifikasi.

66687830 10157117950715202 5393105672407613440 oWhatsApp Image 2019 07 19 at 10 12 13 PMWhatsApp Image 2019 07 19 at 10 12 14 PM

Pada hari ke 5 dilaksanakan ujian sertifikasi secara online. Berikut ini suasana ujian dan wrap up perpisahan diakhir acara disertai foto bersama

WhatsApp Image 2019 07 19 at 10 15 57 PMWhatsApp Image 2019 07 19 at 10 15 57 PM 1WhatsApp Image 2019 07 19 at 10 15 57 PM 2

Tertulis di kaos peserta, “Big Data is not about Data” . Sampai jumpa di batch 2.

beberapa testimoni peserta

WhatsApp Image 2019 07 19 at 10 19 22 PMWhatsApp Image 2019 07 19 at 10 19 23 PMWhatsApp Image 2019 07 19 at 10 19 25 PMWhatsApp Image 2019 07 19 at 10 19 25 PM 1WhatsApp Image 2019 07 19 at 10 19 26 PMWhatsApp Image 2019 07 19 at 10 19 26 PM 1WhatsApp Image 2019 07 19 at 10 19 27 PM

 

 

 

 

 

 

 

 

Menularkan Semangat Big Data ke FEB UPI

Dalam banyak kesempatan saya sering menjelaskan mengenai pentingnya rekan rekan dosen dan peneliti dari keilmuan sosial untuk belajar Big Data. Tujuan utamanya agar lebih update dengan kemajuan perkembangan keilmuan, yang mungkin juga bisa diimplementasikan ke penelitian pada bidang keilmuan masing masing. Suatu saat saya dikontak oleh seorang dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pendidikan Indonesia (FEB UPI) untuk memberikan wawasan mengenai Big Data dalam bentuk pelatihan kedosen dosen di fakultas mereka. Setelah saya sanggupi, maka saya gerakkan tim lab Social Computing dan Big Data (SCBD) dan Research Center Digital Business Ecosystem (RC DBE) untuk merancang materi dan membuat pelatihan.

Pelatihan diadakan di lokasinya di Telkom Professional Certified Center (TPCC), gedung Magister Management FEB TelU, pada tanggal 24 April 2019. Karena ingin materi pelatihan lebih implementatif, maka materi yang kami (saya dan tim) bawakan adalah materi Social Media Analytics. Peserta sebanyak 20 orang dosen dosen FEB UPI. Secara umum peserta sangat antusias mendapatkan pengetahuan baru. Suasana kelas juga sangat aktif dengan banyaknya diskusi yang terjadi. Saya berharap semoga semangat Big Data benar benar menular dan diresapi para peserta. Berikut adalah foto foto suasana pelatihannya.

58684780 10156903371060202 4921318616047026176 o

58382148 10156903370855202 4490124356457857024 o

58629964 10156903371020202 6853437116173516800 o

58376829 10156903371110202 378936877102661632 o

58377437 10156903370660202 5257488566753165312 o

58375043 10156903370905202 2708075110325026816 o

58376801 10156903370595202 5388000674279587840 o

57649366 10156903370780202 2287358595253141504 o

57852581 10156903370725202 3008096022107783168 o

Math & Big Data

Suatu hari saya dikontak oleh himpunan mahasiswa matematika (Himatika) dari salah satu perguruan tinggi swasta (PTS) di Bandung Utara, yaitu Universitas Islam Bandung (Unisba). Mereka berencana mengadakan seminar yang idenya adalah bertanya belajar matematika itu untuk apa, atau dipermudah dengan bahasan peran matematika dalam dunia kerja. Karena saya lulusan matematika dan kebetulan menggeluti bidang yang lagi hype yaitu Big Data, maka saya diminta tolong untuk mengisi acara seminar tersebut.

Biasanya permintaan mengisi acara seminar tidak serta merta saya terima, tetapi kali ini karena temanya Math & Big Data maka saya tertarik untuk mengisinya dan share beberapa pengalaman saya. Bahasan materi lebih kearah menyadarkan para mahasiswa bahwa kuantifikasi fenomena, pembuatan model, machine learning, ketersediaan data dalam skala besar, ternyata membutuhkan peran ilmu matematika, baik dalam hal logika, formulasi, abstraksi, dan verifikasi. Profesi Data Scientist merupakan jembatan untuk mewujudkan hal tersebut.

Acara diadakan pada hari sabtu tanggal 16 februari 2019. Beberapa dosen Unisba juga ikut serta hadir, serta mengajukan pertanyaan, diantaranya adalah bagaimana membuat lulusan matematika ini mempunyai ketrampilan atau skill yang bisa langsung diaplikasikan ke dunia kerja. Bagaimana susunan kurikulum yang baik untuk adopsi kebutuhan tersebut. Saya menjawab sebaiknya diberikan porsi SKS yang cukup besar (sekitar 12-15 SKS) bagi mahasiswa untuk mengambil matakuliah peminatan dari jurusan luar, sehingga mahasiswa matematika mendapatkan sebagian skill dunia kerja sesuai dengan peminatan profesi yang nanti mereka inginkan. 

Karakteristik orang matermatika adalah sibuk dengan dunianya sendiri, tanpa mengetahui ilmu yang mereka miliki itu sebenarnya dibutuhkan banyak oleh masyarakat luas. Kemampuan abstraksi, menurunkan formula, berpikir logis (deduktif dan induktif), merupakan kemampuan yang sangat dibutuhkan di dunia kerja. Dunia kerja tidak hanya melulu mengenai ketrampilan atau skill tapi juga pemahaman mendalam tentang suatu domain. 

Beberapa foto dari acara tersebut

52460344 10156747525190202 6297495724745555968 n51960792 10156747525210202 492616256176783360 n51747281 10156747525305202 5919647295434915840 n52586331 10156747525260202 3617584875348951040 o52846898 10156747525335202 6589775026696749056 n

Pertama Kali ke Mabes POLRI

Kalau baca berita berita baik tentang politik maupun hiburan tentang artis, sering sekali menyinggung atau menyebutkan Mabes Polri. Bayangan saya selama ini Mabes Polri itu adalah tempat yang tidak mungkin saya datangi. Lah iya, saya belum bisa membayangkan ada urusan apa saya sampai harus ke kantor tersebut. Kecuali memang saya aktif di dunia jurnalistik, hukum, atau memang menjadi terdakwa (audzubilah) . Eh ndilalah, ternyata Pak Hendro (salah satu senior di ITB dan Telkom University) yang kenal dengan salah satu perwira di Mabes Polri. Beliau ngajak saya untuk presentasi (menjadi narasumber) tentang Big Data, terutama di Divisi Humas Polri. Hal ini menarik bagi saya, karena melihat perkembangan teknologi dan kejahatan cyber yang marak, termasuk hoax, maka personil Polri pun butuh upgrade pengetahuan tentang Big Data, Social Media Analytics, dan Security.  

Berangkat nyubuh naik kereta dari Bandung, kami berdua sampai agak telat di kantor Divisi Humas Polri Jl. Trunojoyo, acara sudah dibuka oleh Kadivhumas Irjen Pol Setyo Wasisto, saat kami datang beliau tengah memberikan sambutannya. Saya langsung duduk di depan bersebelahan dengan narasumber satu lagi selain saya yaitu Dr. Pratama Persadha. Saya menjadi pembicara kedua sesudah beliau. Selanjutnya acara berlangsung seru karena diskusi dan tanya jawab berlangsung ramai antara narasumber dan peserta. Peserta adalah para perwira dan PNS di lingkungan divhumas Polri. 

Dari acara ini saya jadi mengerti tingkat pemahaman aparatur polri mengenai teknologi, khususnya Big Data masih belum merata. Perlu pendampingan atau pelatihan sehingga mampu menggunakan alat dan metodologi untuk melakukan aktivitas Social Media Analytics. Dari sisi awareness Polri sangat sadar bahwa kemampuan memahami dan ekstrasi informasi di media sosial secara cepat dan akurat merupakan hal yang krusial dalam mendukung tugas mereka sehari hari. Semoga nanti saya nanti bisa terus berkontribusi memberikan pendampingan dalam proses pembelajaran tersebut.

44807320 10156478866885202 7485191711237341184 n44683146 10156478866735202 4138724181137162240 n44772662 10156478866800202 635368728439029760 n44625081 10156478867020202 2980176664509546496 n44557869 10156478866965202 3705593196240175104 n

 

#FinTechNite Big Data is a Game Changer

Financial Technology (FinTech) merupakan area bisnis yang sangat menggoda rasa ingin tahu banyak praktisi maupun akademisi. Bidang ini berpeluang besar untuk berkembang secara eksponensial. Belum adanya regulasi dari pemerintah dan keniscayaan bahwa TIK menjadi dasar untuk melakukan aktivitas finansial, membuat FInTech menjadi pilihan yang penting, terutama untuk generasi milenial yang selalu ingin kepraktisan dalam segala hal. Urusan perbankan, seperti antri di teller, atau menunggu di customer service untuk membuka rekening sudah bukan jamannya lagi. Demikian juga aktivitas investasi, peminjaman, dan lain sebagainya.

Tanggal 27.09.2018 (tanggal pas saya ulang tahun), saya diundang ke acara #FinTechNite yang diadakan oleh UnionSpace (suatu coworking space) dan BizNet gio (bisnis cloud computing dari Biznet). Tema acara ini adalah “Big Data is a Game Changer”. Seperti biasa, saya diundang dalam kapasitas sebagai narasumber tidak jauh dari tema Big Data dan Data Analytics. Narasumber lainnya adalah Mas Hendra, seorang data scientist dari Bukalapak, dan Mbak Maria dari Tiket.com. Peserta yang hadir kebanyakan anak anak muda yang antusias belajar tentang FinTech dan Big Data. Suasana tempat FintechSpace dari UnionSpace juga cukup cozy untuk sharing dan berdiskusi secara Informal. Oh ya di acara ini sekaligus jadi ajang reunian saya dengan mantan mahasiswa alumni Lab. Social Computing dan Big Data (SCBD) yang kebanyakan bekerja di Jakarta, juga temen kuliah, dan beberapa temen kantor lama. 

Hari itu saya pulang balik Bandung-Jakarta-Bandung, sesuatu hal yang jarang saya lakukan. Berangkat dari Bandung pukul 2 siang, sampai Jakarta jam 5 sore, jam 7 acaranya, dan jam 10 malem saya sudah balik ke stasiun Gambir untuk naik kereta jam 11 malam. Kenapa saya harus maksa balik malem itu juga, ini karena besok pagi saya harus menjadi moderator acara kuliah umumnya Pak Gubernur Jawa Barat, Kang Emil yang berbicara tentang Smart City, di acara Bandung ICT Expo. Postingan tentang acara ini nanti disambung di entry blog terpisah. 

43024841 10156434772655202 4924678457293537280 n

43045085 10156434772735202 254210747653947392 n

43178788 10156434772805202 7888599834523860992 n

43131563 10156434772875202 2853261669402935296 o

43112855 10156434773020202 4352718091981946880 o

43066082 10156434773365202 8702337944880414720 o

43053698 10156434773110202 2948205138411520000 o

42961468 10156434773470202 6010670172266823680 o

42982614 10156434772950202 1915122627341451264 o

43016006 10156434773220202 8437799183859056640 o