Tidak Perlu Pamer Dukungan ke Capres

Menjelang pilpres tahun depan timeline medsos saya sudah dipenuhi dengan dukungan teman teman ke salah satu pasangan capres. Saya sedikit banyak paham, dukungan di timeline itu mungkin sama saja maksudnya dengan saya pamer foto foto saya liburan. Namun jika ditelaah lebih jauh, kita ini hanya punya pasangan 2 capres, kalo ga pilih nomer 01 ya pilih nomer 02, demikian sebaliknya. Saya lihat temen temen saya mulai terpolarisasi tajam, ini juga alasan saya males pasang status soal pilpres, ga masang aja udah panas, apa saya mau ikut ikutan manas manasin?

Satu hal yang saya pelajari, jarang sekali temen temen medsos yang pintar belum punya pilihan calon. Jadi mengurangi juga manfaat posting di medsos, yaitu siapa tahu bisa menarik orang yang belum punya pilihan mendukung pilihan yang diberikan.

Memang saya beberapa kali sempat tergoda posting tentang pilpres, tapi kemudian mikir lagi gimana perasaan temen saya yang pilihannya lain, sehingga akhirnya saya ga jadi posting. Menurut saya posting dukungan kurang gitu bermanfaat dalam kondisi masyarakat kita yang gampang panas begini. Sebaiknya sih kita cari info netral sendiri sendiri aja, menetapkan pilihan, tanpa perlu pamer …. itu kalo saya lho .. 😛 ..

 

sumber gambar : google

Tentang Pilkada 2015 : Studi Evolusi dan Dinamika Percakapan Online

Pada akhir tahun 2015 diselenggarakan Pemilihan Umum Daerah (Pilkada) untuk memilih kepala daerah tingkat 1 dan 2 secara serentak di berbagai wilayah di Indonesia. Komunitas DSI (Data Science Indonesia) dan Perludem (Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi) mengadakan beberapa studi/riset mengenai Pilkada tersebut. Partner riset saya (Jaka dan Adib) mengajak untuk membuat penelitian mengenai penyebaran informasi Pilkada di media sosial, tujuannya adalah melihat gaung pesta demokrasi ini di kalangan masyarakat Indonesia. Twitter adalah pilihan yang masuk akal, karena pada saat itu ramai sekali tweet tweet mengenai Pilkada.

Blog entry ini sebenarnya sangat terlambat, hal ini dikarenakan saya sendiri lupa pernah mengadakan penelitian ini, karena hasil penelitian waktu itu disampaikan di suatu acara di forum terbuka (dipresentasikan oleh Jaka dan Adib) dan tidak ditulis dalam bentuk jurnal, sehingga saya tidak mempunyai bukti pernah melakukan riset ini. Maka dari itu, blog entry ini akan menjadi pengingat mengenai riset pilkada yang pernah saya lakukan.

Data tweet diambil selama 6 hari (3-9 desember 2015) dengan jumlah tweet mencapai 900 ribu tweets. Jaringan percakapan dibagi menjadi masa selama kampanye, masa tenang, dan hari pelaksanaan pilkada. 

Penelitian kami membahas apa yang mengenerate percakapan di media sosial, bagaimana berita pilkada menyebar, dan bagaimana mengukur penyebaran berita tersebut. Presentasi lengkap dari Jaka bisa dilihat di Link ini (slideshare)

 

 

Screen Shot 2016 06 25 at 12 38 56 AM

 

NewImage

NewImage

 

 

 

Game Theory pada Pemilu 2014

Sesudah deklarasi pasangan capres/cawapres kemarin, di grup whatsapp dan BBM kawan kawan lama saya lagi seru adu argumentasi untuk menentukan pasangan mana yang terbaik. Sebagian memilih pasangan PS/HR dan sebagian memilih JW/JK. Kedudukan sama kuat, masing masing pihak menjelaskan nilai plus dan minus masing masing pasangan calon (yang tidak akan saya bahas disini). Fenomena ini sangat seru karena menurut saya kedua calon berimbang, nilai plus dan minusnya sama sama kuat. Sampai akhirnya kita tidak bisa mengambil kesimpulan siapa pemenangnya. Saya jadi ingat ilmu ‘game theory’ (definisi) dimana kita akan berusaha mencapai hasil optimal berdasarkan hambatan hambatan yang kita punyai, jadi sebelum memutuskan kita akan punya beberapa skenario untuk dipilih. Setiap skenario mempunyai strategi dan kerugian/keuntungan yang sudah didefiniskan dengan jelas. Demikian juga dalam pilpres 2014 ini, kita ingin memilih salah satu calon yang memberikan keuntungan terbesar dan kerugian terkecil.

‘Game theory’ yang merupakan cabang ilmu matematika, dan banyak dipakai di ilmu ekonomi/bisnis, politik, perilaku, biologi, ilmu komputer dan lain lain. Tujuan dari teori ini adalah memperoleh kondisi berimbang (equilibrium) antar pemain, sehingga masing masing pihak mengalami kerugian yang sedikit dan keseimbangan ini bersifat relatif, belum tentu ada di titik tengah antar kedua pemain (tergantung bobot masing masing pemain). Kondisi imbang suara di dalam contoh kecil grup whatsapp dan BBM saya, menunjukkan kedua pasangan calon mencapai kondisi equilibrium, yang merupakan solusi terbaik dari masing masing pihak. Proses ‘game theory’ juga terlihat pada pembentukan koalisi, dimana didalamnya akan penuh negosiasi, dukungan akan diberi imbalan dalam bentuk tertentu, apakah jabatan mentri atau yang lain. Hal yang naif bukan, kalo kita anggap dukungan itu tidak ada timbal balik apapun …hehe ..

‘Game theory’ bisa meramalkan apa yang terjadi ke depan, termasuk hubungan presiden terpilih dengan parlemen (DPR) (lihat website ini) dengan bantuan model komputer kita bisa membuat skenario berdasarkan latar belakang DPR yang didominasi oposisi partai pemenang pilpres. Dugaan saya presiden akan susah bergerak, tapi untuk melihat jawaban pastinya, kita bisa melakukan simulasi tentang hal ini, hayo siapa yang tertarik mensimulasikannya ? .. 😀