Education 4.0

Banyak artikel dan riset yang menunjukkan teknologi menganggu / merubah secara revolusioner suatu proses, termasuk proses bisnis dan proses hubungan sosial. Industry 4.0 atau revolusi industri 4.0 menunjukkan bagaimana teknologi merubah secara drastis praktek bisnis dari industri. Di bidang lain juga kita kenal ada Health 4.0, dan juga Education 4.0 yang jadi bahasan di entry blog ini. 

Saya diundang menjadi narasumber pada acara seminar Education 4.0 yang dihadiri oleh kepala sekolah SD, SMP, SMA / SMK. Para kepala sekolah ini merupakan garis depan pendidikan dasar dan menengah generasi masa depan bangsa. Sebagai dosen, saya sering menghadapi mahasiswa yang tidak berkarakter, dalam konteks tidak tahu tujuan / maunya apa, tidak tahu passionnya, tidak terlibat dalam diskusi di kelas, tidak kritis, bahkan beberapa tidak jujur (fair). Nah, kalau kita runut ulang, perilaku perilaku tersebut muncul karena karakter tersebut kurang dipentingkan di pendidikan sekolah dasar dan menengah.

Education 4.0 adalah konsep yang menunjukkan bahwa dengan kemajuan teknologi, siswa sebagai pusat pembelajaran mempunyai kemampuan untuk mengakses materi pembelajaran, dan menerapkannya ke industri dalam bentuk magang, atau melakukan riset berkolaborasi dengan peneliti lain. Untuk itu diperlukan karakter yang kuat agar siswa mampu memanfaatkan teknologi yang ada.

Pada kepala sekolah tersebut, saya tekankan perlunya pendidikan holistik, yaitu pendidikan yang menitik beratkan kepada nilai siswa sebagai manusia. Siswa paham peran diri dalam ekosistemnya, memahami efek positif dan negatif dari setiap tindakan terhadap lingkungan, baik hubungan antar manusia maupun hubungan dengan lingkungan (menjaga kebersihan lingkungan, tidak membuang sampah  sembarangan, dll).

Walaupun bukan seorang ahli pendidikan, saya bercerita berdasarkan pengalaman mendidik anak yang pernah bersekolah dasar di sekolah holistik kemudian sekarang masuk ke SMA negeri dan pengalaman mengajar mahasiswa. Pengalaman praktis ini banyak bermanfaat untuk para kepala sekolah. Saya ceritakan anak saya sekarang di SMA Negeri mempunyai karakter yang lebih kuat dibanding teman temannya, karena mereka selama ini berkutat ke pendidikan akademis saja, sehingga nilainya bagus dan bisa masuk ke SMA Negeri favorit. Pendidikan karakter banyak diabaikan. Menurut saya ini adalah masalah terbesar bangsa kita. Hal ini sudah terpotret dari karakter mahasiswa dan juga nantinya karakter lulusan (generasi muda pada umumnya)

Saya juga bercerita pentingnya siswa mempunyai karakter yang kuat (kritis, jujur, logis, dan obyektif), karena di masa depan mereka akan bersaing dengan otomatisasi (tenaga robot), sehingga jika memiliki keunikan maka mereka akan dengan mudah akan tergantikan oleh robot (otomatisasi)

 

57097016 10156870491085202 1739220528041820160 o

berikut ini adalah materi presentasi saya

Antara Pendidikan dan Kemampuan Berbicara ‘tidak’ Bertele tele

Problem krusial bangsa kita adalah ketidakmampuan berbicara singkat, jelas, padat dan terstruktur. Saya adalah orang teknik, dimana sehari hari 50 persen waktu saya bergaul dengan orang orang sosial dan 50 persen lagi bergaul dengan orang orang teknik. Terdapat perbedaan yang signifikan dan saling bertolak belakang dalam berbicara/berpendapat diantara kedua kelompok besar ini. Orang orang sosial (di lingkungan saya), sebagian besar mengemukakan pendapat secara panjang lebar, seperti mendongeng/storytelling, terkadang repetitif, dan sering bertele tele sehingga sulit ditelaah dimana letak esensi pendapatnya karena tidak fokus. Sedangkan orang orang teknis di lingkungan saya cenderung sebaliknya, tapi kadang kadang terlalu terpaku dengan rules, ngotot dengan asumsi mereka sendiri, sehingga kurang luwes.

Dari contoh kecil lingkungan saya diatas, sebenernya bisa dibayangkan kondisi umum bangsa kita. Mungkin hitungannya malah lebih parah, karena setahu saya jumlah orang teknik itu kalah jauh dibandingkan dengan orang sosial. Jadi kesimpulan kasar bangsa kita suka sekali berbicara / berpendapat secara bertele tele dan tidak terstruktur. Bukan maksud saya membeda bedakan atau rasis, tadinya saya tidak terlalu ‘aware’ dengan perbedaan diatas sampai akhirnya saya mengalaminya sendiri. Kondisi ini sudah merambah ke banyak aspek dalam kehidupan masyarakat kita, mulai dari bisnis, politik, kenegaraan sampai juga ke akademisi.

Pada saat saya kuliah di luar negeri, saya ingat sering diomeli pembimbing saya, karena argumen saya yang kurang terstruktur, padahal saya lulusan matematika. Saya amati disana kemampuan berbicara logis dan terstuktur sudah dipunyai anak anak kecil setara SD, karena rangsangan pendidikan dasar mereka yang membuat mereka secara tidak sadar sudah mengaplikasikam logika matematik sejak dini. Di Indonesia malah sebaliknya, pendidikan kita didominasi oleh menghapal, jadinya saya bertanya tanya apakah ada korelasi antara kualitas pendidikan dengan kemampuan berbicara yang baik ?, apakah ada faktor lain yang membuat kita perlu berbicara bertele-tele, padahal dipersingkatpun bisa ? apakah karena memang ketidakmampuan kita membuat summary cepat atau mengkonstruksi kata kunci ? dan pertanyaan pertanyaan lainnya? #mikir

Fenomena Belajar Bertanya

Seminggu yang lalu saya ikut berpartisipasi pada kegiatan ‘anak bertanya pakar menjawab’ berkunjung ke sebuah sekolah dasar . Informasi tentang gerakan ini bisa dilihat di twitter @anakbertanya atau di website www.anakbertanya.com. Konsep gerakan ini adalah menampung pertanyaan dari anak anak kemudian mencarikan pakar untuk menjawabnya. Kalo kita perhatikan pertanyaan dari anak anak itu sangat kaya, imajinasi luas tanpa batas, mereka tidak ragu ragu untuk menyampaikan pertanyaannya. Sering kita temui di pendidikan indonesia malah sebaliknya murid yang pandai adalah murid yang mampu menjawab pertanyaan gurunya, tidak ada apresiasi kepada murid yang memberikan / mengkonstruksi pertanyaan yang baik kepada guru. Macam macam pertanyaan anak anak ini sangat luar biasa, jika ingin tahu jenis jenis pertanyaan tersebut silahkan kunjungi ke kedua link diatas.

Setiap hari saya berkecimpung dengan mahasiswa di kampus. Pengamatan saya mayoritas mahasiswa itu sulit sekali bertanya, terlalu apriori, pre-judgement, takut disalahkan, takut dicap bodoh, takut ketahuan kalo tidak mengerti, dan lain lainnya. Jarang sekali pertanyaan mahasiswa yang substantial ke konseptual, ide, komprehensif, ataupun pengamatan yang multidimensi. Padahal menurut saya seharusnya mereka bisa, mahasiswa di negara lain atau setingkat SMA sudah mampu melontarkan pertanyaan kritis ke arah substansi subyek pembahasan. Sebaliknya di kita, mahasiswa hanya bertanya pada level ‘kulit’, belum lagi kalo ada pertanyaan bagus dan berisi di ‘ cie ..cie ..’ in rekan rekannya.

Saya setuju dengan pendapat kesalahan ada pada sistem pendidikan dasar kita, walaupun faktor budaya juga berpengaruh. Terus bagaimana dengan mahasiswa saat ini dan generasi saya yang sudah ‘terlanjur’ kejeblos salah didik ?. Mari jangan sampai kita anak anak yang menjadi generasi masa depan negara kita mengalami nasib yang sama. Sebisa mungkin kita bantu memuaskan rasa ingin tahu mereka, dengan menjawab pertanyaan mereka, menstimulus rasa ingin tahu mereka, dan mengajak berdiskusi dengan baik. Mulailah dari anak anak disekitar kita untuk generasi masa depan Indonesia yang lebih baik.