Mendeley Tempat Penyimpanan Hasil Publikasi Peneliti

Bagi seorang peneliti, salah satu permasalahan terbesar adalah pada pengaturan paper, baik paper hasil publikasi sendiri ataupun paper orang lain yang digunakan sebagai referensi. Saya sendiri sering kewalahan dengan banyaknya paper hasil unduhan yang saya simpan. Sehingga sering kejadian beberapa paper diunduh ulang beberapa kali. Peneliti yang mempunyai jumlah paper banyak pun, sering kewalahan dalam melakukan inventarisasi papernya sendiri. Saya biasanya meletakkan hasil publikasi dan informasi pendukungnya pada Academia dan ResearchGate (tidak semua). Sejak beberapa saat saya mencari alat atau layanan untuk mempermudah mengatur publikasi riset, saya menginginkan alat atau layanan untuk pengaturan file publikasi pada komputer sekaligus publikasinya di web dalam bentuk web portofolio.

Mendeley ternyata mempunyai layanan seperti yang saya perlukan. Walaupun layanan mereka berbayar, tapi mereka menyediakan layanan gratis sampai dengan ruang penyimpanan 2GB, selebihnya kita harus membayar.  Tersedia aplikasi desktop / mobile dengan kemampuan drag and drop file pdf / doc. Pengaturan informasi  dokumen seperti author, abstract, keyword. Untuk beberapa paper yang terindeks scopus, abstract dan keterangan lainnya otomatis sudah terisikan.  Yang paling utama adalah fitur sinkronisasi dokumen pada desktop / mobile ke halaman web pribadi pada mendeley, sehingga memudahkan peneliti untuk update konten publikasi pada halaman web pribadinya.

Silahkan dicoba dan semoa bermanfaat

 

Screen Shot 2018 02 08 at 06 56 38

tampilan web pribadi

Screen Shot 2018 02 08 at 07 03 04  2

tampilan aplikasi desktop

scopus oh scopus

Sebagai dosen dan peneliti, mempublikasikan hasil penelitiani di jurnal / konferensi  yang terindeks scopus merupakan suatu prestasi sendiri. Memang publikasi hasil penelitian idealnya bisa dimana aja, cuman dengan hasil publikasi terindeks scopus maka visibilitas hasil riset kita akan ‘lebih’ mendunia. Di kampus saya kebetulan scopus saat ini masih menjadi salah satu komponen tolak ukur ‘keberhasilan’ penelitan dosen. Sayangnya scopus belum terlalu global ke semua bidang keilmuan. Pada beberapa keilmuan sosial, ilmu dasar (seperti matematika, dll), desain, hukum, ekonomi dan lain lain punya tolak ukur keberhasilan sendiri di domain mereka dan belum tentu diwadahi oleh scopus. Jika kita berada di keilmuan IT atau engineering lainnya maka barulah indeks scopus berasa penting, dan kebetulan saya berada di keilmuan tersebut, jadi terindeks scopus merupakan pilihan yang logis buat saya.

Selain scopus, ada pengukuran lain untuk melihat kesuksesan seorang peneliti, yaitu pengukuran h-index , dimana yang diukur adalah produktivitas dan impact dari sitasi paper. Pengukuran ini rasanya lebih masuk akal, karena kalo sebelumnya peneliti akan memasukkan paper sebanyak banyaknya dengan harapan disitasi sebanyak mungkin. Jumlah publikasi dan sitasi ini yang jadi ukuran, tapi tidak pernah dibandingkan dengan jumlah total publikasi yang dilakukannya.

Anyway kabar terbaru di akhir tahun 2015 ini adalah ada beberapa paper yang saya (dan team) submit ke beberapa jurnal berindeks scopus. Diantaranya adalah : satu paper sudah diterima di jurnal JATIT dan akan publish di januari 2016,  satu paper di jurnal AMS , satu paper yang lain di submit ke jurnal bisnis UGM GamaIJB dan jurnal ini membutuhkan waktu 5-6 bulan untuk proses reviewnya, dan yang terakhir satu paper sudah diterima di jurnal ke JPCS dan terbit di 2016. 

Kalo melihat apa yang saya lakukan ternyata saya masih dalam tahap masukin sebanyak banyaknya paper ke scopus, dan belum masuk ke tahap kedewasaan menjadi peneliti yaitu cukup memperhatikan h-index saja … masih mikir kapan level saya naik ya ? ..

Logoscopus

 

Pelajaran Perjuangan Saintis Mencari Partikel Tuhan

Saya baru saja menonton film Particle Fever (2013), yaitu sebuah film dokumentasi tentang perjuangan para saintis (dalam hal ini fisikawan) dalam usaha pencarian partikel tuhan (Higgs Boson). Seiring dengan dibukanya fasilitas eksperimen Large Hadron Collider (LHA) di CERN, Swiss, maka untuk pertama kalinya para fisikawan bisa melakukan eksperimen dalam skala yang tidak pernah dilakukan sebelumnya. Laboratorium LHA dibangun selama beberapa dekade dan melibatkan ribuan saintis, dengan fungsi inti untuk menabrakan partikel dengan kecepatan tinggi untuk memperoleh partikel baru, dalam hal ini partikel tuhan

Fisikawan terbagi menjadi dua, yaitu fisikawan teoritis yang pekerjaannya adalah merumuskan fenomena alam semesta dalam bentuk persamaan matematika dan fisikawan eksperimentalis yang pekerjaannya melakukan eksperimen untuk membuktikan teori teori yang dikonstruksi oleh fisikawan teoritis dan menjawab pertanyaan pertanyaan alam semesta dalam bentuk eksperimen. Fisikawan teoritis berfikir abstrak, berandai andai berdasarkan aturan / hukum fisika, sedangkan fisikawan eksperimentalis akan berusaha mewujudkan teori dan abstrak abstrak tersebut supaya menjadi hukum fisika yang kuat. LHA adalah fasilitas eksperimen yang sangat besar dan kompleks, karena mencoba merekonstruksi apa yang terjadi di alam semesta, terutama pada saat penciptaannya (Big Bang) 

Beberapa fisikawan teoritis membuat teori 40 tahun lalu (partikel tuhan diperkenalkan Higgs pada tahun 60an) dan baru bisa dibuktikan melalui eksperimen pada tahun 2012. Bisa dibayangnya “moment of truth” nya adalah apakah teori mereka bisa dikonfirmasi dengan petunjuk fenomena kearah yang benar atau bahkan sebaliknya fenomena tidak sesuai dengan hipotesis mereka, sehingga hasil kerja puluhan tahun hilang tidak berharga. Beberapa fisikawan yang muda, merasa sangat beruntung karena eksperimen skala besar ini terjadi pada saat mereka sedang giat berkarya. Anyway pada akhir film, ditunjukkan partikel tuhan akhirnya ditemukan, tapi penemuan ini malah membuat banyak pertanyaan lainnya. Semoga pertanyaan pertanyaan tersebut akan segera terjawab, dengan di upgradenya kemampuan laboratorium LHA beberapa tahun kedepan, sehingga meningkatkan kemampuan eksperimen para fisikawan.

Kalau melihat kehidupan para saintis ini sangat mengasyikkan, saya kagum dengan orang orang dengan passion yang besar, terutama dalam bidang ilmu pengetahuan. Ini memacu saya untuk berbuat lebih banyak, karena masih banyak pertanyaan (di bidang saya) yang butuh dijawab, dan itu kewajiban saya untuk mencari jawabannya. 

ParticleFever poster small

rush blood to the head (deadline)

beberapa hari kemarin saya ngerasain ‘rush blood to the head’ , ini bukan judul albumnya coldplay, tapi ketegangan karena beberapa deadline berdekatan. seperti yang pernah saya tulis di postingan sebelumnya, saya sedang mengikuti pelatihan PEKERTI atau singkatan dari peningkatan ketrampilan dasar teknik instruksional, atau kata lainnya kita para dosen diajarkan bagaimana merancang materi perkuliahan buat mahasiswa. pelatihan ini sangat bermanfaat, terutama sebelumnya kalo mau bikin materi kuliah selalu berdasarkan asumsi dari dosen, disini banyak proses yang dilakukan sebelum akhirnya jadilah materi kuliah untuk mahasiswa. di pelatihan ini kita diberikan tugas yang lumayan berat, dan karena beratnya akhirnya beres at the last minute padahal gak pake sks lho sistem kebut semalam. oh yah pelatihan ini berlangsung tiap weekend selama 4 kali, jadi lumayan juga perjuangannya ijin ke keluarga :p

pada saat yang hampir bersamaan, beda 2 hari sesudah deadline pekerti, saya juga harus mengumpulkan draft buku yang saya tulis untuk bahan ajar mata kuliah ‘mobile content development’. selama ini saya cuman punya bayangan apa aja yang akan saya tulis di buku, tapi belum pernah sama sekali menuliskannya, akhirnya dalam waktu 48 jam with barely sleeping ngetik mulai dari nol, bisa juga menyelesaikan draft 4 bab dari buku tersebut sebanyak 48 halaman. goshhhhh !!! lewat deadline hari senin siang terasa lega banget, langsung bayar utang kurang tidur 😀

seminggu ini berasa tenang sekali, saya bisa otak atik website photography saya dan nambah upload beberapa foto disana. tapi deadline besar udah menunggu di pertengahan januari. final version dari buku yang saya tulis harus beres tanggal 15 januari, yang artinya 8 bab lagi. dan juga 2 penelitian harus beres akhir januari, padahal semuanya masih berupa konsep di kepala dan belum dikerjakan sama sekali.

jadi dosen peneliti sama aja ama jadi photographer, sama juga ama memimpin proyek IT, kita gak perlu ngantor kerja administrasi sana sini yang penting kerjaan beres pas deadline, yah bener deadline, itu adalah kata yang paling akrab di telinga saya. saya gak jauh beda ama mahasiswa, setiap saat ketemu deadline. mari beresin deadline …. Semangattt