Gimana Rasanya Menembus Jarak Full Marathon ?

Salah satu ultimate goal pelari amatir atau pelari hore macam saya adalah mampukan kita menembus jarak sakral yaitu jarak marathon (42,195km). Ada pelari yang mampu mencapainya kurang dari 1 tahun, atau 2 tahun, atau lebih sejak awal melakukan hobi lari muncul, dan bahkan ada juga yang tidak berani mencoba menembus jarak tersebut. Pertama kali saya lari adalah pada event ITB Ultra Marathon Oktober 2017 sebagai pelari hore kelas family 5km saja, jadi total saya berlari masih dibawah 2 tahun. Setelah mengikuti 5 kali race jarak Half Marathon (21,1km) akhirnya saya memberanikan naik kelas menuju jarak Marahon (atau sering disebut sebagai Full Marathon (FM)). Event yang saya dan intan pilih adalah event yang dilakukan di kota sendiri yaitu Bandung Pocari Sweat Run 2019 pada tanggal 28 juli 2019.

Persiapan khusus menjelang race marathon sendiri tidak ada, bahkan sehari sebelum marathon saya baru selesai mengikuti kegiatan konferensi di Malaysia, jadi kalo diliat persiapannya sih sebenernya tidak terlalu istimewa. Beberapa bulan yang lalu saya dan Intan sebenarnya sudah mencoba berlari jarak marathon pada salah satu sesi long run di weekend. Waktu itu kita mampu menempuh jarak marathon dengan susah payah, karena energi sudah habis pada saat melewati jarak 30km. Maka untuk persiapan kali ini, saya usahakan carbo loading sebanyak mungkin mulai beberapa hari sebelum pelaksanaan race.

Dan akhirnya kami berhasil menaklukkan jarak Marathon, kami sebagai pelari Virgin FM ini berhasil menyesaikan waktu 5 jam lebih (saya) dan intan selama 6 jam lebih. Tidak terlalu jelek untuk pelari pemula. Rata rata pace saya masih dikisaran 7,51 menit per km. Pada sesi latihan jarak marathon sebelumnya saya mendapatkan 8,02 menit per km. Ini merupakan pencapaian yang bagus karena saya bisa mempertahankan pace sepanjang jarak tersebut sakral pace 7. Saat race sendiri saya bilang ke Intan kalau saya akan memulai lebih cepat, makanya saya terpisah meninggalkan Intan, untung Intan lari santai ditemani temannya. Saya berlari konstan dengan pace 7 sampai kira kira di km 6, setelah itu saya menjadi lebih cepat ke pace 6 di km 8 sampai km 17, dan setelahnya saya turun menjadi pace 7 lagi sampai kira kira di km 25, nah selanjutnya saya melorot ke pace 8, bahkan beberapa kali menembus pace 9 karena kecapean.

Ada postingan saya di IG, pengalaman di km 35: 

“Km 35, menjelang pukul 10 pagi di jalan cihampelas bawah sebelum belokan ke wastukencana. Matahari sudah tinggi dan kemacetan jalan makin menjadi. Panas, capek, haus udah campur aduk rasanya membuat semangat lari semakin turun. Tiba tiba ngeliat kumpulan supporter di pinggir jalan lengkap dengan semprotan, gayung, dan air dingin untuk mengguyur para pelari.

Beberapa pelari enggan disiram air, mungkin takut earphone atau HPnya jadi rusak. Ga pake pikir panjang saya langsung minta diguyur air untuk mendinginkan kepala dan badan. Sayang fotonya hanya ada pas selesai diguyur air, tapi saya sertakan foto foto pelari lain yang kena guyur. Thanks to @ourstori.es yang mengcapture kemeriahan di spot ini. Foto foto yang keren.

Abis diguyur berasa air asin disekitar mulut, baru nyadar keringet campur air dingin… nikmat juga, nambah semangat menuju garis finish #pelaribandung #ceritaFM #virginFM #psbm2019 #gabolehmales #ayolari#marilari “

Tapi yang terpenting adalah NOW, I’m Officially Marathoner .. 

 

67467872 10157150303240202 1026184093513023488 n67298131 10157155536235202 5819104219864498176 n
67364935 10157159355150202 6182250774257467392 n67404501 10157150303540202 4248780914210897920 n67610469 10157150303570202 4716912790193831936 n67621602 10157155536070202 8330858393723994112 n67321536 10157155536185202 3763816271120957440 n68260769 10157155536035202 6710500196540743680 n67769093 10157159355085202 8479190483770277888 n67751074 10157150303415202 1392895883078533120 n67676137 10157150303085202 9036980368992894976 n67740890 10157155536315202 8126780888055808000 n67838016 2395596050530720 2177686240277561344 n68288006 1224076557779958 1601840316837527552 o

BNI UI Half Marathon 2019

BNI-UI Half Marathon 2019 adalah ajang lari yang diadakan di area kampus Universitas Indonesia, Depok. Tahun 2019 ini adalah kali pertama saya ikutan lomba ini, saya ambil race Half Marathon (HM). Acara diadakan tanggal 7 Juli 2019, kebetulan saya juga pas ada acara workshop summer school machine learning seminggu kedepannya (tanggal 8-12 juli) di kampus UI Depok, jadi saya mulai nginep dari tanggal 6 juni untuk mengikuti lomba lari ini dan sekaligus summer school.

Track lari di UI sangat nyaman, kenyamanan pertama adalah jalur yang rindang dan steril dari kendaraan, sehingga pelari bisa fokus berlari tanpa terlalu kuatir akan keselamatan. Peserta lari cukup banyak, mungkin sekitar 5000 an peserta. Kelas HM start pukul 5:30 pagi. Saya lari bareng dengan Intan (istri) dan mas awal (temen lari di bandung). Awalnya saya masih bareng Intan, dan mas awal sudah jauh di depan. Menjelang km 10 saya sudah jauh di depan Intan, walaupun di akhir lomba saya melambat, sehingga finish bareng juga. Saya finish 2 jam 40 menit, belum bisa mengalahkan rekor saya sebelumnya di 2 jam 30 menit.

Overall race ini sangat bagus penyelenggaraannya, dan tempatnyapun sangat nyaman. Apakah saya akan berlari lagi di race ini tahun depan? , sepertinya tidak sih, saya ingin mencoba race race lain yang belum pernah saya coba.

66091954 10157096209325202 7831100684970754048 n65921788 10157096209400202 2044572503556227072 n66142596 10157096209545202 6065275342791114752 n65835723 10157096209435202 3962472827981922304 n66183860 10157096209725202 749205423575269376 n66471864 10157096209780202 8982892737732804608 n

Cerita ITB Ultra Marathon 2018

Sehari menjelang #ITBUltraMarathon, saya dan ribuan alumni ITB deg degan sudah ga sabar menunggu dimulainya acara terheboh untuk kalangan alumni ITB ini. Pelari terlatih maupun amatir yang baru pertama kali lari tiba tiba demam latihan lari. Grup WA dipenuhi postingan setoran latihan lari, menunjukkan antusias alumni menyambut pesta “rakyat” ITB ini. Suporter atau Tim Support tidak kalah hebohnya menyiapkan kelengkapan esensial untuk pelari, berbagi tugas mendampingi pelari, koordinasi antar WS (Water Station), penginapan, dan lain lainnya.  Seperti yang saya ceritakan di blog H-7 #ITBUltraMarathon. Lomba ini akan menempuh jarak 170km, 24 jam berlari, start tanggal 12 oktober 2018 pukul 22:00, dan cut off time finish di kampus ITB tanggal 14 Oktober 2018 jam 10:00.

Hari jumat tanggal 12 Oktober 2018, perasaan sudah mulai gelisah di kantor pengen cepet pulang, rencananya jam 15:00, saya berangkat ke jakarta (naik mobil). Kami bertiga (saya, Intan, dan sopir) berangkat dengan tujuan lokasi start #ITBUltraMarathon di Graha BNI di Sudirman. Saya pelari leg 1 dari tim #GaneshaNumb3rs jadi emang harus start dari Graha BNI tersebut (nantinya finish di area Pasar Minggu(WS1)), start akan dimulai pukul 22:00. Sedangkan Intan ikut ke lokasi start untuk ketemu teman teman setimnya dari 93, foto banyak, sekaligus ikut acara pembukaan. Nantinya Intan akan berlari sebagai pelari leg 2 di tim 93 dengan jalur mulai dari Pasar Minggu (WS1) menuju Lenteng Agung (WS2). Jadi setelah saya start, Intan dan sopir akan bergerak ke WS1.

Drama awal muncul, berangkat jam 15:00 dari Bandung ternyata sampai jam 21:00 masih belum masuk tol dalam kota Jakarta. Memang benar benar luar biasa kemacetan arah ke Jakarta. Tiba tiba saya tersadar kalo plat nomer mobil ganjil, sedangkan hari itu adalah tanggal genap. Wah, jadi yang pasti mobil tidak akan bisa ke lokasi start di Sudirman. Akhirnya diambil keputusan cepat, saya diturunkan di perempatan Kuningan-Mampang. Mobil langsung meluncur menuju ke WS1, sedangkan saya cari ojek menuju lokasi start. Jadi drama pertama Intan ga jadi mengikuti kemeriahan acara start, sedangkan saya harus mengejar waktu untuk bisa datang sebelum start dimulai pukul 22:00. Untungnya, saya bisa nyampe 15 menit sebelum start mulai gara gara tukang ojeg yang brillian ..

#GaneshaNumb3rs adalah tim lari alumni matematika ITB, di leg 1 ini saya berlari bareng Bachtiar (2004), beda umur 14 tahun dengan saya. Bachtiar adalah pemain bola ITB, fisik prima, dan tentu saja kuat larinya. Akan tetapi demi kita berlari dalam satu kelompok, dia rela mengurangi pacenya supaya bisa lari bareng. Leg 1 tidak sulit, jarak sekitar 12 km, dan tidak ada tanjakan berarti. Dengan dikawal senior di MA Pak Jarwo (1978) menggunakan sepeda lipat, kami berlari sambil PB (Photo Banyak), dikit dikit ambil foto. Berikut ini foto foto kami di sekitaran underpass mampang. By the way kaos #GaneshaNumb3rs keren ya warnanya nyala.

IMG 20181012 224240 2IMG 20181012 224450

dari foto candid oleh fotografer panitia dibawah ini diperlihatkan posisi, saya dan Bachtiar lari di depan, Pak Jarwo ngikutin dibelakang sambil dikit dikit nanya perlu minum gak. Kadang beliau kasih semangat “ayo pacenya bagus terusin pace segitu, tar lagi finish kok”, padahal dalam hati udah mulai ngos ngosan ngimbangin pace Bachtiar.

CROW0702  1

IMG 20181013 WA0001

penyerahan buff estafet dari pelari leg1 ke pelari leg 2 tim #GaneshaNumb3rs

Menurut website ini jarak dari start ke WS1 kami tempuh selama 1 jam 31 menit. Sesampai di WS1, maka buff (sebagai alat estafet) saya berikan ke pelari tim #GaneshaNumb3rs selanjutnya yaitu pelari leg 2 Ganda (1992) dan Jaya (2009). Sepanjang leg 1 ini, selain ngobrol dengan pelari pelari lain, saya juga ngobrol dan motoin (dan videoin) rekan rekan dari tim #90leRun, yaitu tim angkatan 90 ITB lintas jurusan. Ada Wine di Relay8 (menempuh 20an km), Votti, Santi, dan Bambang di Relays16. Nah di leg 2 ini juga Intan mulai berlari, jadi setelah selesai lari, saya dokumentasiin perjalanan lari Intan menuju ke WS2.

Di WS2 sambil menunggu Intan finish, saya ngobrol lagi dengan temen temen support dari #90leRun dan temen temen lainnya. Makanya acara ini sangat meriah, karena seperti ajang reuni yang berlangsung  2 hari terus menerus. Ketemuan teman seangkatan, beda angkatan, lintas jurusan. Tim support dan pelari yang belum atau sudah mendapatkan giliran berlari memberikan support ke yang berlari, masing masing menyemangati supaya tidak kalah dari tim lain. Padahal ini acara lari festival, tidak ada hadiahnya. Tapi ya dasar anak ITB, meskipun ga dilombakan, tetap aja sifat kompetitifnya sangat tinggi. Setelah Intan finish di WS2, maka acara ngobrol dengan teman teman harus diakhiri, karena malam itu kami harus segera menuju puncak, dimana besok saya akan lari di leg 10 tim #90leRun, saat itu waktu sudah menunjukkan jam 2 pagi. Beberapa foto di WS2 dibawah ini.

IMG 20181013 005657

dengan tim #GaneshaNumb3rs

IMG 20181013 WA0027

dengan tim #90leRun

IMG 20181013 011354

Intan dan tim 93

Malam itu (atau tepatnya pagi itu) kami menginap di Palace Hotel Cipanas. Hotel ini terletak 1 km sebelum lokasi WS9 di Hotel Sanggabuana. Kami sampai di hotel pukul 3:30 pagi, mandi, tidur bentar, tapi jam 7 pagi saya mulai kelaperan, butuh sarapan segera. Walopun lupa pesen hotelnya tanpa sarapan, saya tetap maksain sarapan di hotel, demi supaya kuat melahap rute leg 10 sejauh 16km  (antara WS9 dan WS10 di Cianjur). Sarapan satu porsi 110 ribu, lumayan juga, kalau ga karena lari, mendingan saya cari bubur pinggir jalan sekitar situ. Abis makan, istirahat bentar, sekitar pukul 11 siang saya udah standby di WS9. Beberapa pelari tim cepat seperti GEA dan PATRA udah start, tapi pelari sebelum saya di #90leRun yaitu Teguh (MS) belum keliatan juga. Menjelang pukul 13:00 saya ketemu dengan Akbar (KI), yang nantinya akan berlari di rute yang sama dengan saya. Namun di tim #90leRun ini pelari tidak harus berlari bersama seperti tim #GaneshaNumb3rs, jadi pada saat saya start pukul 13:09, tidak bareng dengan pelari yang serute dengan saya lainnya yaitu Zaki start 13:28, dan Akbar start pukul 14:20. Foto di WS9.

IMG 20181013 123814

Ketemu runner #GaneshaNumb3rs leg 10, Rangga dan Dadang

IMG 20181013 125344

bersama Akbar, sama sama nungguin pelari leg 9 yang ga nyampe nyampe. Kaos lari tim #90leRun keren khan

IMG 20181013 131047

akhirnya Teguh datang juga, berpindah deh estafet buff ke saya untuk saya bawa ke WS 10 di Cianjur

Leg 10 (antara WS9-WS10) adalah leg terpanjang untuk relay 16 di #ITBUltraMarathon ini, selain dikasih panjang, rute leg ini sangat menantang karena turunan tajam. Perlu diketahui lari di turunan tajam di kondisi jalan raya bukan hal yang mudah. Pilihannya adalah lari tidak di rem, atau lari ditahan yang akhirnya memperberat kerja kaki sehingga rentan cidera. Akhirnya saya pilih opsi pertama, lari di turunan tanpa di tahan, diikutin aja gravitasinya. Di rute ini saya berlari kurang lebih dua jam, dibawah panas matahari yang lagi galak galaknya. Lumayan sekali rute ini menguras energi (dan juga cairan tubuh). Kebetulan tim support #90leRun beberapa kena macet, sehingga sepanjang rute ini saya berlari sendiri tanpa tim support mengiringi. Pada suatu titik, saya merasa suhu badan mulai panas (dehidrasi) .. gawat nih pikir saya karena bisa sewaktu waktu badan  jadi ngadat. Kalo ga salah waktu itu di km 13. Akhirnya saya mampir ke Indomaret, lumayan bisa ngadem di ruangan AC bentar dan beli sebotol air mineral untuk mengguyur kepala. Sekitar 10 menit saya berhenti di  Indomaret sebelum melanjutkan lari.

Sampai di WS10 saya disambut Anton, pelari yang akan melanjutkan rute saya, Sinta pelari yang akan melanjutkan rute Akbar, dan Praherdian tim support #90leRun yang sudah siap dengan segala perlangkapan dan juga refreshment di mobilnya semacam pocari, mizuno, hydrococo, dan ga lupa nasi bungkus ayam bakar cianjur. Sekitar sejam di WS10 Akbar belum sampai juga, sementara Sinta sudah gelisah karena tidak segera start lari, padahal hari sudah menjelang sore banget. Kalo ga salah perlengkapan lari malam Sinta tidak lengkap saat itu. Kemudian kami dapat kabar kalau Akbar mengalami kram di jalan, wah saya jadi nyesel meninggalkan dia lari sendirian, soalnya saya selalu bawa semprotan anti kram kemana mana di tas hydrobag saya. Kalau saja waktu itu larinya bareng, mungkin Akbar tidak akan terhambat finish ke WS10. Di rute ini saya juga sempat nyalip Raja, pelari super cepat R8 dari tim 93, ternyata Raja cedera, makanya saya agak heran bisa nyalip Raja. :D. Di WS10, Intan masih nunggu sebentar Raja masuk finish, setelah finish, kita langsung meluncur dari Cianjur menuju rumah di KBP (dan juga lokasi WS14), supaya nantinya Intan siap berlari untuk #GaneshaNumb3rs mulai dari WS15 di Cimahi menuju kampus ITB.

IMG 20181019 WA0098

serah terima estafet buff di WS10 ke Anton yang akan dia bawa ke WS11 dengan gaya #90leRun

IMG 20181013 152518

dengan Praherdian dan Sinta di WS10

 

Perjalanan balik ke Bandung macet banget, terutama menjelang WS11 di daerah Ciranjang bahkan kecepatan pelari melebihi kecepatan mobil berjalan. Kita mulai panik jangan jangan ga keburu nanti start di WS15. Tadinya ingin mampir  dan ingin kasih salam ke rekan rekan di WS11, namun akibat dari macet kami jadi kurang semangat mampir. Selepas WS11 jalanan lumayan kosong sampai WS!2 di masjid Rajamandala, disini kami juga tidak mampir (walaupun pengen), tetap dengan alasan mengejar waktu, takut kalo masih ada macet di Citatah. WS13 di Citatah pas area tanjakan jadi kagok mau mampir, akhirnya kami juga bablas jalan terus. Sampai di rumah kami istirahat sekitar 2 jam, karena kurang istirahat dari malam sebelumnya. Pukul 21:00, kami menuju WS14 yang tepat didepan perumahan kami di KBP. menyapa beberapa rekan dari tim #GaneshaNumb3rs, #90leRun, dan juga tim 93.

IMG 20181013 231323

tim support #GaneshaNumb3rs setelah Marbun dan Roga masuk WS14 untuk digantikan Hamzah dan Zulfikli

Setelah Hamzah dan Zulfikli start dari WS14 sekitar pukul 11 malam, maka saya nganterin Intan pake motor ke WS15. Strategi #GaneshaNumb3rs adalah malam itu adalah finish sekaligus. Sedangkan strategi tim #90leRun adalah pelari malam itu berakhir di WS15, baru besok pagi jam 6 pagi dilanjutkan pelari terakhir ke garis finish di kampus ITB. Kebetulan di tim #90leRun pelari terakhir adalah Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil (Emil), jadi akan ada semacam penyambutan dan publikasi tambahan untuk tim #90leRun. Malam itu saya nemenin / ngikutin Intan dan Suhe sebagai pelari terakhir menuju garis finish. Sesampai di Jl. Pasteur, ada Jaya yang juga ikutan berlari. Menjelang finish puluhan anggota tim #GaneshaNumb3rs sudah menunggu di Jl.Ganesha, kami masuk finish sambil bernyanyi, jadi inget masa ospek dulu … #GaneshaNumb3rs memasuki finish dalam waktu 27 jam 42 menit, pada pukul 1:42 dini hari.

IMG 20181014 002838

penyerahan estafet buff di WS15 anatara Hamzah dan Zulkifli ke Intan dan Suhe

WhatsApp Image 2018 10 19 at 06 04 33

di WS15 bareng Rolly pelari #90leRun yang baru finish dan Ayi dari tim support

IMG 20181014 012018

Jaya bergabung dengan Intan dan Suhe

IMG 20181014 013146IMG 20181014 020331

Usai pesta bergembira dan berfoto di garis finish, kamipun akhirnya bubar. Besok pagi adalah acara puncak #ITBUltraMarathon dengan acara fun run dan victory run. Sepanjang perjalanan pulang ke KBP, saya masih ketemu banyak pelari sekitar jam 2-3 malam masih berlari menuju garis finish atau ke WS15. Benar benar terdoktrinasi karena apa yah, sampai mau berkorban lari dini hari seperti itu. Saya dan Intan nyampe rumah jam 3 pagi, langsung ketiduran. Keesokan harinya tim #90leRun seharusnya ngumpul jam 6 pagi di WS15 untuk berlari bersama Ridwan Kamil menuju ITB. Namun saya tetap ketiduran dan ketinggalan kehebohan acara tersebut. Eksposure dari media sangat kencang, dan saya tidak ada foto satupun 😦 … hehehe ya sudah lah gak apa apa, namanya juga udah kecapean dan ketiduran. Anyway see you again #ITBUltraMarathon 2019.

Ada teman saya bilang UM ini adalah acara lari paling berat karena untuk lari peserta harus pernah kuliah di ITB dan harus lulus … dipikir pikir bener juga, makanya acara ini sangat penting buat keluarga ITB sendiri.

IMG 20181019 WA0055

foto monumental #90leRun, dimana saya ga ikutan gara gara ketiduran ..

Virgin HM di Pocari Sweat Run 2018

HM adalah Half Marathon, atau jarak berlari sepanjang 21,1km. Sebagai salah seorang penggemar lari, setiap milestone jarak yang ditempuh merupakan hal yang akan selalu dikenang. Bagaimana perjuangan berlari mengalahkan hambatan jarak. Milestone pertama adalah jarak 5km atau disebut sebagai 5K. Pada umumnya lomba lari yang diadakan kategori 5K ini biasanya paling rame, dan diisi umumnya para pemula. Setelah 5K, maka milestone berikutnya adalah 10K, saya beberapa kali mengikuti lomba lari di kategori ini, sehingga saya merasa sudah seharusnya naik kelas menjadi HM. Sesudah HM adalah FM (Full Marathon) dengan jarak 42,195km. Jarak yang melebihi FM, biasanya dinamakan dengan Ultra Marathon.

Sebagai acara untuk memecahkan virgin HM, saya pilih Pocari Sweat Run 2018, tanggal 22 juli 2018. Alasan pemilihan acara ini adalah karena timingnya pas aja. Sebelum acara ini, saya sudah mengikuti lomba 10K di Persib Run dan Wanadri Trail Run. Sementara untuk latihan rutin mingguan, lari jarak 10K sudah sering saya lakukan, sehingga keingginan naik kelas pun muncul. 

Saya dan istri mendaftar HM. Banyak rekan rekan kami yang mendaftar event ini, karena ini event yang lumayan terkenal, bahkan konon tiketnya pun habis hanya dalam waktu 2 hari saja. Beberapa hari menjelang lomba karena kesibukan kantor dan lain sebagainya, saya bahkan belum sempat latihan. Sepanjang latihan lari yang pernah dilakukan, saya hanya pernah mencapai jarak HM selama dua kali, itupun sudah lama sekali. Tapi saya santai saja, memang saya berencana untuk lari dengan pace santai, ini lebih karena sadar kemampuan diri juga. 

Pada hari lomba, kami sampai di tempat start di depan gedung sate. Kami sampai pukul 5 kurang 10 pagi, tidak lama kemudian pukul 5 pas peserta FM sudah berangkat start. Giliran HM start pukul 5.10. Area start penuh banget, sampai bergerak pun susah. Katanya peserta HM ini sebanyak 2500 orang. wah pantas saja sampai berdesak desakan begini. 10km pertama jalur yang diambil adalah dari gedung sate menuju jembatan pasopati menuju jalan pasteur kemudian kembali lagi menuju mesjid pusdai. Jarak 10km selanjutnya lebih banyak melewati jalan jalan kecil dan rindang disekitar jalan riau, sebelum akhirnya finish lagi di depan gedung sate.

Selama lomba saya merasa kuat saja, mungkin karena pace yang saya ambil tidak terlalu cepat. Banyaknya tersedia pos minum pocari / mineral water memberikan energi tambahan pada saat kita sudah kehabisan tenaga. Saya berlari konstan sampai km 15. Setelahnya kecepatan mulai menurun, rasanya kaki berat sekali, namun bukan karena sakit. Pace saya yang awalnya sekitar 7, kemudian turun menjadi 8 atau 9. Sementara istri sudah tertinggal jauh dibelakang sejak km 8.

Akhirnya pas km 19 kaki udah ga bisa kompromi, jadi saya berhenti saja, sambil menunggu istri, karena pengen juga finish bareng (dan dapet fotonya). Saya menunggu cukup lama, sekitar 15-20 menit baru ketemu dengan istri saya dan kemudian berlari bersama menuju finish. Istri saya yang tidak berhenti sejak awal sudah mulai kelelahan, sedangkan saya sudah merasa segar, sehingga yang terjadi adalah saya sedikit menyeret istri menuju finish, biar difotonya bagus …hihihihi..

Akhirnya kami finish bersama. HM dalam waktu 2 jam 45 menit. lumayan lah untuk pemula. dan saya bahagia berhasil melewati satu milestone yaitu kategori lomba HM. 

Sampai jumpa di next HM atau bahkan FM

berikut ini foto fotonya

IMG 9240

IMG 9241

IMG 9252

IMG 3575

IMG 5036

IMG 9180

IMG 9181

Tips Lari

Saat ini kita lihat banyak sekali penduduk perkotaan yang punya hobi lari. Banyak juga rekan rekan saya yang pengen bisa ikutan lari namun terkendala oleh beberapa hal. Wajar bagi seorang pemula mempunyai hambatan untuk memulai lari. Sering diutarakan para ahli bahwa dalam berlari yang paling berat adalah langkah pertama, apakah itu langkah pertama kali memulai usaha berlari ataupun bagi yang sudah berpengalaman, beberapa kilometer awal biasanya merupakan bagian terberat dari proses berlari secara keseluruhan, karena tubuh perlu penyesuaian. Setelah lewat 1-2 km awal, biasanya lari menjadi jauh lebih ringan dan lebih cepat.

Saya hobi berlari sejak 6 bulan yang lalu. Lari bagi saya adalah suatu bentuk terapi untuk membuat badan dan pikiran menjadi segar dalam menghadapi aktivitas sehari hari. Lari adalah olah raga paling murah, dibandingkan olah raga saya sebelumnya yaitu bersepeda dan berenang. Kalau saya flashback 6 bulan yang lalu, saya inget betul untuk berlari 100 meter aja saya ngos ngosan, bahkan kalah larinya dibanding anak saya. Saat ini saya mempunyai target yang menurut saya cukup moderat, yaitu berlari sekitar 20-30km per minggu, tidak perduli itu dalam 1,2,3, atau bahkan dalam 4 kali lari. Tapi level saya sebenernya jauh dari pelari canggih, jarak terjauh yang pernah saya tempuh dalam sekali lari non stop hanya 16km, dan waktu terlama berlari adalah 2 jam. Belum pernah lebih dari itu. 

Banyak temen teman dekat saya menanyakan bagaimana sampai bisa berlari cepat (dan jauh) seperti standard saya tersebut. Nah saya coba share tipsnya, walaupun pelari amatiran saya tetap share pengalaman saya, mungkin bisa bermanfaat dan mungkin tidak cocok juga buat yang lain. 

1. Bertahap

Mulai dari jarak pendek dan kecepatan pelan, jangan memaksakan diri untuk lari cepat. Yang terpenting heart rate (HR) tidak melebihi target maksimum usia, patokan maksimum HR itu adalah 220-usia, sebagai contoh untuk yang berusia 40 tahun maka maksimum HRnya adalah 180. Dengan HR yang tidak terlalu tinggi maka badan tidak cepat lelah. Saya malah menargetkan HR max sekitar 20 persen dibawah HR max umur saya.

2. Jangan Berhenti

Tips paling penting menurut saya adalah pada saat berlari, kemudian merasa diri tidak kuat (nafas tersengal yang artinya HR tinggi), usahakan untuk tidak berhenti lari tapi perlambat kecepatan lari sampai HR turun kembali. Cara ini menurut saya sangat efektif untuk meningkatkan ketahanan lari. Dan menjadi semacam pencapaian sendiri buat pelari, bahwa hari ini bisa berlari sejauh jarak tertentu tanpa berhenti.

3. Baju, Celana, dan Sepatu Lari yang memadai.

Saya sering melihat pelari pemula memakai perlengkapan lari ala kadarnya, meskipun terlihat sepele, ternyata hal ini menurut saya berpengaruh besar. Memakai kaos yang menyerap keringat dan ringan, kemudian celana pendek khusus lari yang pendek dan longgar, serta sepatu khusus lari ternyata membuat usaha lari kita menjadi jauh lebih ringan. Saya inget dulu punya banyak kaos bola untuk gaya gayaan yang hampir tidak pernah saya pakai, karena kurang nyaman dipakai harian, eh ternyata kaos bola itu malah enak dipakai buat lari.

Untuk sepatu saya sudah mencoba beberapa merk mulai dari adidas, skechers, dan yang terakhir hoka one one, merk terakhir ini saya cocok sekali sampai beli 2 pasang. Walaupun harganya mahal (karena import) dan bentuknya jelek (sol tebal) ternyata sepatu ini bisa meredam hentakan kaki ke tanah secara baik, membuat saya tidak mudah pegal, dan melindungi dari cidera selama berlari. Kalo ada diskon gede sepatu merk ini, saya dengan senang hati akan borong :P..

4. Jam Tangan / Gelang Lari

Penting digunakan untuk memonitor HR kita selama berlari.  Dua alat ini menyediakan informasi HR selama kita berlari. Untuk pemula biasanya ritme HR belum stabil jadi perlu sering sering ngecek atau pasang alarm untuk mengingatkan kita jika HR melebihi batas. Semakin sering lari, biasanya HR semakin stabil dan tidak perlu sering dicek.

Manfaat lain dari dua alat ini adalah sebagai tracker lari (jarak, waktu, dan pace / speed), ada yang sudah include GPS dan ada yang tidak. Untuk yang tidak include GPS, umumnya pairing dengan handphone sebagai pemandu GPS, gelang Mi Band adalah salah satu contoh dari alat ini, harga gelang ini cukup murah sekitar 350 ribu. Kekurangan dari alat ini adalah handphone harus dibawa bawa pada saat lari, dan setting trackernya biasanya tidak instant (perlu beberapa waktu sebelum kita lari, dan ini kadang kadang menjengkelkan). 

Yang sudah include GPS contohnya adalah Jam Garmin, dengan fitur GPS maka kita tidak memerlukan hape selama berlari. Saya pake Garmin dan terbukti handal. Harga yang sudah include GPS biasanya jauh lebih mahal dibandingkan dengan non-GPS. Keunggulan adalah setting tracker untuk siap berlari sangat cepat, begitu status GPS ready  (biasanya cukup butuh waktu 1-2 detik) kita bisa langsung lari. 

5. Musik (earphone).

Ini adalah perlengkapan opsional menurut saya. Dulu saat pertama kali lari, saya belum menemukan nikmatnya berlari, sehingga memerlukan musik sebagai pengalih perhatian. Distraksi ini terbukti berhasil karena saya bisa berlari jauh tanpa memikirkan jarak. Namun semakin lama berlari ternyata saya merasa tidak membutuhkan distraksi musik ini, sekarang malah lebih nyaman dengerin suara nafas sendiri yang sedang ngos ngosan, atau dengerin suara semilir angin. Lagian berlari sambil pake earphone di jalan raya sangat berbahaya dan rawan kecelakaan. Jadi saya sarankan kalau tidak benar benar butuh sebaiknya tidak usah pake earphone.

6. Sering Sering Ikut Event Lari

Ikut lomba tidak harus untuk kompetitif tapi untuk refreshing, karena saat ikut lomba kita sudah ga repot lagi mikirin rute, ada makanan / minuman tersedia, dapat medali, ketemu temen temen, selfie dan ngobrol dengan temen temen. Malah kadang kadang lari di lomba lebih ke acara sosialisasi, karena toh lari seriusnya sudah sering kita lakukan diluar lomba.  Di event lari kita juga bisa mengukur kemampuan diri kita. Tapi kalo mau ikut lomba untuk kompetitif yah silahkan saja 🙂

Demikian tips dari saya, sebenernya ada beberapa tips lain soal postur berlari, tapi saya rasa informasi ini bisa digoogle, karena postur lari saya juga belum tentu bener. Btw, semoga tips diatas bisa membantu rekan rekan

salam dari pelari amatiran, salam lari dan tetap semangat

 

Cara Supaya Kuat Lari Jarak Jauh

foto :http://kuncihidupsehat.blogspot.co.id/2014/01/cara-supaya-kuat-lari-jarak-jauh-ini.html

Kebawa Demam Lari tapi Susah Naik Kelas

sudah sekitar sebulan terakhir saya lagi keranjingan lari. hobi yang sangat telat, kenapa ga dari dulu dulu, padahal yang ngajakin banyak banget. terus terang dulu saya baru lari 100 meter nafas udah abis, bahkan sering diketawain istri yang larinya lebih lambat tapi tahan jarak jauh, sedangkan saya sering “gaspol” di awal lari tapi cepet abis bensin duluan

lihat temen temen bisa lari 1km tanpa henti, saya terkagum kagum. bahkan ada yang dulunya persis kaya saya, tapi sekarang bisa lari 5km (5K) tanpa henti. akhirnya saya coba dengan kecepatan yang lebih lambat, dan ternyata bisa juga 1km, 2km, dan sampai 5km tanpa henti. prosesnya tentu ga langsung, perlu beberapa kali lari sampai akhirnya bisa 5K tanpa henti.

kebetulan saya beli gelang murah (mi band) untuk monitor langkah perhari dan heartrate. jadi kalo ada hari dimana saya ga memenuhi target 8000 langkah, rasanya kok jadi ga enak, sehingga mau ga mau dipaksakan lari buat memenuhi target. sekarang target saya tiap 2 hari sekali harus lari 5K. so far, target ini bisa terpenuhi.

jarak terjauh yang bisa saya capai nonstop adalah 7K. pace selalu di sekitar 8 menit an per km, ada satu dua kali bisa mencapai pace 7 koma sekian menit pada kondisi luar biasa. saya perhatiin kecepatan dan kenyamanan lari berbanding lurus dengan kesiapan tubuh. saat badan kurang siap, maka lari jadi berat. kurang siap biasanya terjadi kalo lari sore hari pulang kantor, dimana badan belum sempat istirahat atau minum yang cukup. kalo larinya pagi sebelum berangkat kantor biasanya lari berasa nyaman, dan seringnya saya bisa merasakan meditasi dari lari yang nyaman.

sekarang targetnya mau naik kelas, yaitu meningkatkan pace atau menambah jarak menjadi 10K, doakan semoga bisa tercapai dengan nyaman (bukan tercapai dengan maksa)

kalau sudah naik kelas nanti saya tulis entry blog lagi ..