G30S – 2017

Menjelang peringatan peristiwa G30S tahun 2017 terjadi banyak kegaduhan di Indonesia, tiba tiba muncul isu anti PKI dan lain lainnya yang tidak pernah muncul tahun tahun sebelumnya. Kelompok kelompok dan politisi oposisi pemerintah saat ini keliatan jelas berusaha menggoreng isu ini untuk “ganggu” konsentrasi penguasa / pemerintah. Sebelumnya muncul isu presiden Jokowi dituduh antek PKI, gara gara kerja sama ekonomi dengan Cina, padahal memang sekarang Cina adalah raksasa ekonomi dunia, dalam konteks ekonomi wajar negara kita kerjasama dengan yang punya banyak modal. 

Film klasik G30S yang wajib kita tonton pada saat orde baru merupakan film penuh kontroversi. Film ini digugat karena tidak sesuai dengan fakta dan mengkultuskan individu. Isu nobar film ini menjelang peringatan tahunan G30S menjadi menu sehari hari, bahkan panglima TNI pun mewajibkan anggotanya untuk nobar film ini, walaupun banyak yang mencibir isi film klasik ini yang tidak sesuai fakta. Maka kemudian rakyat bingung, jadi yang betul yang mana. Bahkan presiden jokowi menyarankan untuk membuat film ini dalam versi kekinian, walaupun tidak spesifik maksudnya versi kekinian itu seperti apa ..

Joshua Oppenheimer sutradara Amerika-Inggris diam diam telah membuat 2 film berkaitan peristiwa 65-66 di Indonesia, yaitu Act of Killing (Jagal) dan Look of Silence (Senyap). Kedua film ini mencerahkan dan mencerdaskan kita dalam memahami peristiwa yang terjadi saat itu. Film ini banyak mendapatkan penghargaan, karena dibawakan dengan metoda saintifik seperti film film dokumenter wahid tingkat dunia. Walaupun begitu film ini malah ditolak sebagai materi nobar oleh beberapa pihak, padahal setelah sekian tahun kita di cuci otak oleh orde baru, saat ini adalah saat yang tepat untuk bangsa kita belajar. Saya tidak akan cerita detail kedua film tersebut, filmnya bisa kita lihat bebas dan gratis di youtube. monggo !!. 

Sabtu pagi tanggal 30 september 2017, saya baca baca berita terkait peringatan G30S dan ternyata cukup pusing karena banyaknya berita dan ragam isu yang diusung. Akhirnya saya nyalakan mesin crawling twitter jam 8 pagi, kemudian saya tinggal weekendan, selanjutnya mesin crawling saya matikan jam 3 sore. Hasilnya saya bisa lihat topik dominan apa saja yang dibahas mengenai G30S dan aktor aktor siapa aja yang dominan pada topik tersebut.

Topik terdiri dari isu isu nobar film G30S beserta saran untuk menonton film joshua sebagai film pelengkap / pendamping film klasik tersebut. Saran untuk kita lebih pintar memahami peristiwa sejarah sehingga tidak mudah diperalat untuk kepentingan politik. Ada juga topik mengenai cerita sejarah dari saksi langsung maupun tidak langsung peristiwa tersebut. Juga topik beberapa politikus yang ikut nyemplung ambil muka dari peringatan peristiwa ini.

Akun dominan adalah @majalahhistoria yang banyak menceritakan kejadian sejarah peristiwa tersebut beserta analisanya, akun @tirtoid yang mirip dengan akun diatas, dan beberapa selebtwit seperti budiman soedjatmiko dan indra pilliang

berikut screenshotnya!!

akun akun dominan

kata kata dominan dan hubungan antar kata

wordcloud

Perlunya Code Literacy

Code Literacy atau Coding Literacy merupakan keahlian yang penting saat ini. Tidak peduli  orang teknik, orang sosial, seniman, dokter, penulis atau apapun juga. Saya selalu melakukan “provokasi” tentang pentingnya belajar membaca dan menulis code ke mahasiswa saya, walaupun mayoritas mereka adalah orang orang ilmu sosial. Saya tekankan bahwa technopreneur, pengusaha pengusaha yang membuat layanan semacam twitter, dropbox, facebook, dll, mereka adalah orang yang mempunyai kemampuan membuat code.

Di era dimana peluang dan persaingan bisnis sangat besar, maka kemampuan menciptakan apps dalam waktu singkat akan sangat membantu mempersingkat jalur ide menjadi realitas serta meningkatkan nilai kompetitif diri sendiri. Katalisator kita untuk selalu berpikir secara berurut menurut kaidah algoritma dan berpikir logis. Jadiiii ….. Yuk belajar Ngoding !!!. Berikut ini dua video yang bisa menginspirasi dari code.org yaitu Code – The New Literacy dan What Most School Dont Teach

Statistik vs Data Mining

Selama bertahun tahun statistik merupakan alat bantu yang ‘handal’ bagi para ilmuwan. Statistik sudah ada sejak abad 19 dan berdasarkan formulasi dasar matematika untuk menguji generalisasi dari hipotesa ‘sedikit’ data sample terhadap populasi yang diteliti. Selama bertahun tahun pula statistik berhadapan dengan isu mengenai terlalu sedikitnya data yang tersedia, sehingga kita harus mampu mengambil kesimpulan global dari sedikit data tersebut dengan tingkat kepercayaan yang tinggi, isu ini juga diakibatkan karena jaman dahulu mencari data ukuran besar itu mahal. Statistik mempunyai ciri khas mengkonfirmasi dugaan, data numerik, dan hanya menyelesaikan masalah terstruktur. Demikian juga dibidang bisnis dan ilmu sosial, pada umumnya masalah disederhanakan sedemikian rupa sehingga bisa diukur secara statistik.

Data Mining merupakan alat untuk menemukan pengetahuan di dalam data berdasarkan pola yang ada di dalam data tersebut. Data Mining muncul baru akhir akhir ini, seiring dengan tersedianya data berukuran besar di internet dan sosial media. Data Mining dalam skala besar disebut juga sebagai Big Data, karena fungsinya sama yaitu memperoleh pengetahuan dari data, kemudian dibuat modelnya untuk memprediksi, mengoptimasi dan membantu pengambilan keputusan bisnis. Data Mining menyediakan banyak algoritma untuk menangani data komples dalam menyelesaikan persoalan kompleks (contohnya jumlah variabel data yang banyak).

Jelas, Data Mining mempunyai sedikit keunggulan karena mampu melakukan ‘prediksi’ dibandingkan dengan statistik yang hanya melakukan ‘konfirmasi’ hipotesa. Sayangnya di Indonesia, Data Mining merupakan ‘domain’ dari orang orang IT. Rekan rekan dari ilmu sosial/bisnis jarang sekali menggunakan alat ini, padahal data data dari sosial media sungguh berlimpah dan sangat banyak pertanyaan pertanyaan dalam bisnis yang bisa dibantu dengan alat ini.

Ringkasan lengkap Statistik vs Data Mining saya lampirkan dalam slide di http://www.slideshare.net/andrybrewok/data-mining-vs-statistics

konten lokal

pernahkah anda merasa susahnya mencari konten indonesia ( dalam artian berbahasa indonesia, produk/jasa yang dibuat atau ada di indonesia ). konten lokal memang sesuatu hal yang kita rasakan sangat penting, selain sebagai pemberdayaan akses internet biar tidak banyak akses situs situs luar negeri (hemat biaya dan lebih cepat aksesnya) dan juga supaya informasi yang kita dapatkan relevan dengan apa yang ada disekitar kita.

sebagai contoh saya ketik kata kunci “review suzuki apv” di google.co.id kita akan mendapatkan hasil pencarian yang tidak banyak membantu kita untuk mendapatkan review yang berkualitas dan akurat tentang produk ini. padahal mobil ini adalah salah satu mobil yang populer dan banyak kita temui di jalanan, bagaimana bisa kita tidak menemukan hasil yang komprehensif dan memuaskan dari hasil pencarian kita ?

disini kita mulai merasakan kurangnya konten lokal, dari hasil pencarian diatas kita hampir semua hasil adalah review dari situs jual beli mobil, yang notabene bukan merupakan review obyektif dari pengguna dan lebih banyak menulis ulang spek mobil dari brosur. hal seperti ini yang sering membuat saya dan beberapa rekan frustasi dalam mencari informasi lokal di web. beberapa contoh yang lainnya adalah pencarian info sekolah, tempat pariwisata, sejarah indonesia, transportasi, dan lain lainnya.

“but things get any better” — situasi konten lokal bertambah baik akhir akhir ini, twitter dengan zillions practical information seperti @infobdg @TMCPoldaMetro @AdaDiskon maupun hashtag #lalulintas dan yang lainnya. review produk baik peorangan maupun komunitas, games lokal, geotagging commerce (jualan berdasarkan lokasi pembeli/market), blog dan juga komunitas komunitas baru lainnya (terutama komunitas hobi) yang terbentuk dari internet.

situasi yang sangat menyenangkan tentunya jika semua informasi apapun tentang sekitar kita bisa kita cari dengan mudah, mari ngeblog, mari perkaya wikipedia, mari kita isi twitter dengan info info yang berguna. dalam hal konten more is much better than less . tentunya yang saya tuliskan diatas adalah konten positif bukan konten negatif apalagi konten konten kreatif-curang yang sempet heboh beberapa saat yang lalu diprotes oleh banyak pengguna mobile phone.