Bicara NFT di Siaran CNN Indonesia

Siang hari dikontak oleh redaktur CNN Indonesia, diminta untuk kasih opini dan memberikan pemahaman mengenai NFT (Non Fungible Token), suatu bagian dari teknologi blockchain yang biasa digunakan untuk mencatatkan kepemilikan suatu aset digital atau aset berbasis kripto (Crypto Asset). Kebetulan lagi ada fenomena artis terkenal Indonesia, Syahrini  sedang meluncurkan produk koleksi fashion berbasis NFT. Jadi timing untuk wawancara di channel TV CNN sangat tepat.

Malamnya langsung live, sambil saya ga bisa lihat anchornya, karena gambar video via zoom dan suara via telpon biasa, but show must go on

Salah satu yang sampaikan bahwa di era Metaverse sebentar lagi, interaksi sosial akan berjalan secara masif di Internet, dan kemungkinan internet ini akan berbasis Web3 dan Blockchain. Contohnya di industri game seperti Decentraland atau Sandbox sudah menjadi komunitas global, dimana bahkan tanah digital berupa aset kripto NFT dijual dengan harga sangat mahal, satu pixel tanah bisa mencapai puluhan juta rupiah. Jadi NFT sangat diperlukan sebagai sertifikat kepemilikan aset.

Rekaman acaranya ada di youtube

https://www.youtube.com/watch?v=I5OqQM9dBb8 

semoga bermanfaat

Screen Shot 2021 12 18 at 12 56 45Screen Shot 2021 12 18 at 13 09 05Screen Shot 2021 12 18 at 12 59 34269212474 10159441336340202 5922024050076877221 n

 

Web3 + Social Network + Metaverse + Crypto Space

Bagi generasi saya, internet saat ini (Internet generasi 2 / Web2) bekerja mirip dengan struktur di banyak organisasi saat ini, yaitu berbasis hirarki. Hirarki atau organisasi terpusat  (centralized) merupakan warisan revolusi industri mesin uap, dimana struktur ini berjalan sangat efektif untuk mengontrol kinerja dan arah organisasi dari jaman dulu sampai sekarang. Namun saat ini di tengah revolusi teknologi informasi dan komunikasi, kita mengalami demokratisasi dalam banyak hal. Kebebasan berpendapat, kemudahan berinteraksi, dan juga kemudahan membuat inovasi, termasuk new value creation (biasanya untuk membuat ide bisnis baru). Generasi Z dan seterusnya yang lahir saat Web2 sudah matang, merasa bahwa menyamakan struktur digital dengan struktur dunia nyata malah membuat banyak potensi yang hilang atau singkatnya struktur dunia digital harus memperbaiki kekurangan yang ada di dunia nyata. Desentralisasi otoritas merupakan kunci supaya interaksi digital bisa mencapai potensi maksimum. Internet yang mendukung desentralisasi disebut sebagai decentralized web atau Web3. Web3 diperkirakan menjadi kunci disrupsi sosial ekonomi masa depan.

Internet saat ini dikuasi oleh platform raksasa seperti Facebook, Google, Twitter, e-commerce, dan lain lainnya. Peran platform ini adalah sebagai penghubung/perantara antar shareholder: penjual dan pembeli, pencari dan pemberi kerja, pengguna medsos dan pengiklan, antar pencari jodoh, dan lain sebagainya. Otoritas terpusat dalam bentuk platform mengumpulkan data pengguna dalam skala besar untuk kemudian digunakan sebagai pendukung proses “matching” yang didukung oleh algoritma rekomendasi (recommender system). Model bisnis seperti ini banyak kita jumpai di sekitar kita.

Web3 memungkinkan pengguna terhubung secara peer-to-peer (P2P) tanpa memerlukan perantara. Dibutuhkan infrastuktur dan teknologi yang memungkinkan hubungan P2P tersebut terjadi, yang ternyata dipenuhi oleh teknologi Blockchain. Decentralized Apps (DApps), Decentralized Finance (DeFi) adalah contoh implementasi dari Web3. Web3 memungkinkan masyarakat digital untuk berpartisipasi lebih aktif, lebih demokratis, lebih efisien, lebih murah, tidak bias, lebih punya kontrol terhadap data pribadi dibandingkan dengan Web2. Manfaatnyapun sangat besar seperti inklusi keuangan, mengurangi digital gap, kesempatan berinovasi, memperoleh pendidikan murah, dan lain lainnya.

Kalo kita lihat bagaimana kekuatan suara publik di media sosial (social network) saat ini, bayangkan potensi yang diperoleh jika social network tersebut berjalan diatas Web3, tentu akan semakin luar biasa perannya dalam revolusi sosial, ekonomi, politik, dan berbagai bidang lainnya untuk menjadi pengawas otoritas seperti negara, perusahaan, dan entitas lainnya. Social network berbasis blockchain dengan dilengkapi dengan sistem reputasi yang sulit direkayasa membuat suara publik menjadi lebih bermakna dibandingkan dengan sistem pada Web2 saat ini, yang dipenuhi dengan akun bot, berita hoax, dan berbagai rekayasa lainnya. 

Saat metaverse digulirkan oleh Facebook, banyak orang mengeryitkan dahi, belum memahami apa untungnya dan bagaimana arah masa depan dari media sosial yang kita kenal saat ini. Metaverse memungkinkan kita semakin intens terhubung, mengaburkan batas virtual dan dunia nyata. Saat sebagian besar aktivitas sosial ekonomi berjalan diatas ruang virtual, maka semakin banyak nilai ekonomi yang bisa kita buat dan dapatkan. Pengalaman berinteraksi virtual menjadi kunci masa depan social network.  Dunia tanpa batas, P2P, jejaring sosial manusia dalam skala global memerlukan mekanisme untuk bertukar nilai (mata uang maupun aset), maka disini peran aset kripto (cryptoasset) atau mata uang kripto (cryptocurrency) sangat penting. Metaverse dan teknologi bBockchain membentuk entitas yang kita sebut sebagai ruang kripto (crypto space).

Sedikit sintesa saya, bagaimana pendapat anda ?. .. silahkan tulis di komentar …

Metaverse

sumber gambar : https://economictimes.indiatimes.com/